
Anna yang tidak bisa menahan tubuhnya yang gemater masih terlihat jelas dari raut wajahnya.
Di apartemen tempat tinggal elang. Ada dua pelayan yang sedang mengobati lukanya.
Dengan air muka yang gelisah anna tidak bisa merasakan ketenangan, suara tembakkan masih terdengar di telinga.
"Anna," sapa elang dengan posisi melipat kedua lututnya di lantai, memegang kedua tangan Anna.
"Semua sudah ber akhir, tidak akan terjadi apa-apa," ucap elang berusaha menenangkan hatinya.
"Elang, jangan tinggalkan aku. Kamu sudah berjanji, jangan ada hal yang seperti itu lagi," jawab Anna dengan memeluk lembut tubuh elang.
"Hemm.. Aku janji," tutur elang dengan yakin.
Datangnya masa lalu, membawa kekecewaan, kebencian, dendam dan ketakutan.
*******
Mela melakukan video call dengan Anna tapi tidak tersambung.
"Anna tidak bisa di hubungi kak," keluh mela memandang hanif duduk di sofa.
"Kita akan menemui Anna. Setelah perkembangan ku mulai membaik," balas hanif cuek sambil membaca buku.
Mela dan hanif sudah melakukan pernikahan secara agama di Masjid Ibnu Batutah Nusa dua Bali. Di saksikan oleh bu laras dan bunda Mela. Pernikahan sederhana tapi membuat mereka berdua bahagia.
Pernikahan seperti ini yang di impikan oleh mela, bukan pernikahan mewah yang syarat akan pamer kekayaan, melainkan pernikahan sederhana yang syarat akan kebahagiaan.
Setelah pernikahan, hanif menyewa apartemen untuk ditinggali sementara selama dua bulan sempai rumah impian mereka selasai di perbaiki.
Dengan uang hasil permainan sahamnya, hanif berencana membuka cabang restoran di Ubud untuk memperluas usaha keluarga.
Apa yang di lakukan hanif, mela selalu mensupport selama itu untuk kebaikan.
"Kak, apa yang terjadi dengan Anna. perasaanku was-was," keluh kesah mela kuatir keadaan sahabatnya.
"Nanti aku akan telpon elang, aku percaya elang akan menjaga anna dengan baik," sanggah hanif.
"Sudahlah kak, jangan baca terus, istrinya lagi kuatir ko jawabnya santai saja," celoteh mela dengan merajuk.
"Terus aku harus bagaimana," jawab hanif yang tersenyum melihat wajah cemberut istrinya.
"Tau ah!" jawab mela masih merajuk dengan beranjak dari tempat duduk.
"Sini dulu lah." Hanif berusaha menarik tangan mela hingga jatuh terduduk di sofa.
Menggeser posisi duduk hingga memeluk tubuh istrinya, merangkul, dan mengecup kening. "Gitu aja, Ngambek. Sudah sholat belum."
__ADS_1
"Sudah, kan tadi sholat berjama'ah. Gimana sih," sahut mela dengan menyikut lengan mengenai dada hanif.
"Aduh..!" canda hanif dengan berpura-pura menahan sakit di dada.
"Kakak, tidak apa-apa kan," resah mela memegang dada hanif yang terkena sikutnya.
Hanif mengecup kecil bibir istrinya. Yang membuat mela tersenyum kecil.
"Apaan sih, istri lagi marah ko malah di cium," sela mela.
"Kan biar hilang marahnya," jawab hanif.
"Mela mau ke teras dulu, geser ah!" seru mela dengan dongkol.
Hanif menaruh sepenggal bacaannya di meja. Menarik Mela untuk duduk di pengkuan.
Dengan wajah yang merona mela mununduk malu. Hanif mencium ujung rambut istrinya yang hitam terurai.
"Hari ini malam jumat loh, masa malam-malam gini sendirian di teras. Kalau tiba-tiba ada sesuatu yang terbang bagaimana," goda hanif yang berhasil membuat Mela ketakutan dan memeluk tubuhnya dengan penuh takut.
Pelukkan erat Mela menggetarkan hati hanif. Dengan menyibakkan rambut panjangnya ke samping. Mencium lembut pangkal lehernya yang jenjeng membuat Mela tergelitik geli. Malam yang semakin dingin membuat tubuh mereka berdua terasa hangat. Sofa lembut menjadi saksi keromantisan.
Pagi ini dokter zain mengatakan hanif pulih 90%. Untuk sisa kepulihannya, hanif bisa melakukannya sendiri tanpa tingkat dan tanpa kursi roda.
Senyum sumrigah terpancar dari wajah Mela. Dan ucapan syukur terlontar dari bibir hanif. Sekarang, tanpa tongkat hanif bisa berjalan seperti orang normal.
"Mel, bagaimana kalau kita makan malam di resto ini," ajak hanif dengan menujuk salah satu restoran yang berada di sebelahnya.
Resto flamboyan dengan pesona
"Hmmm, boleh. Hari ini Mela juga tidak masak, lagi malas," sanggah Mela dengan ceriah.
Resto Flamboyan dengan pesona interior senyaman rumah sendiri dan memberikan kesan outdoor yang asri dan hijau membuat betah yang singgah.
"Hemmm, lumayan kak. Bisa jadi inspirasi desain restoran kita nanti," ucap mela saat pertama kali memasuki ruangan.
"Dapat aja idenya," cubit kecil hanif di hidung mela.
Setelah menikmati makan siang. Mela melihat dari jauh etalase cake. Sepertinya Strawbery Short Cake, enak banget. Entahlah, kenapa akhir-akhir ini aku ingin makan yang manis -manis.
"Kak..." panggil Mela lirih.
"Hemm," jawab hanif yang mesih menikmati santapannya.
__ADS_1
"Itu..." tunjuk Mela ke arah belakang hanif.
Hanif yang penasaran menoleh ke arah belakangnya. Hanif tidak mengerti apa yang di tunjuk oleh Mela. Tapi dia melihat ada seorang wanita yang dia kenal sedang berdiri di depan etalase kasir untuk memesan birthday cake.
Wanita berambut pirang ikal, dress span berwarna navi, sepatu high heels, terlihat dari belakang, hanif seperti mengenal wanita itu apalagi saat dia berdiri dengan posisi menyamping. Alya! Hanif terasa gugup, dia berbalik posisi menghadap Mela yang masih asyik memandang ke depan.
"Ko diam, aku pengen strawberry short cake," rengek Mela yang tidak bisa memendung keinginannya.
"Harus sekarang ya," tanya hanif heran.
"Ko gitu, ya harus sekarang dong. Ayolah kak," rengek Mela semakin menjadi.
Hanif mencoba menoleh ke belakang, ternyata Alya, sudah tidak ada di sana.
"Iya, aku kesana," jawab hanif yang tidak tahan mendengar regekkan istrinya.
Hanif menunggu di depan etalase saat petugas mengambil pesananya.
"Permisi bli, apa kartu saya tertinggal di sini?" wanita itu menghampiri meja kasir.
Hanif tidak bisa mengontrol rasa kecewa masa lalunya, dan sekarang wanita itu berada di depan dia.
"Terimakasih ya bli," ucap Alya dengan berbalik badan.
"Maaf kak. Ini pesanan kakak untuk strawberry short cake nya," ucap petugas kasir kepada hanif yang diam terpaku.
Alya menoleh melihat pria di belakang yang menatap dia seolah pria itu mengenal dirinya.
"Oh iya. Berapa?" hanif berjalan kedepan mengeluarkan dompet.
"Hanif... " sapa Alya yang tercengang melihat hanif sudah bisa berjalan lagi tanpa kursi roda dan sekarang terlihat bersemangat.
"Hemm," jawab hanif dingin.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Alya gugup dan berusaha mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Tapi hanif menolak dengan memasukkan tangan kanannya di dalam saku celana. "Baik," ucap simple hanif.
Dari kejauhan Mela melihat dan menghampiri seorang wanita yang sedang berbicara dengan suaminya.
"Senang berkenalan dengan anda," jawab Mela menyela dengan menggandeng lengan suaminya.
Hanif terkejut memandang Mela tiba-tiba berada di samping. "Dia istriku," ucap hanif tersenyum.
"Oh. Senang berkenalan dengan anda juga. Saya Alya teman dekat hanif, dulu kami satu kampus dan satu perusahaan bersama, sebelum gulung tikar dan kecelakaan," balas Alya cerita panjang dengan sedikit menyindir.
Hanif menelan ludah dalam, karena ucapan Alya yang begitu dalam.
__ADS_1