Ada Cinta Yang Lain

Ada Cinta Yang Lain
Membuat Geram


__ADS_3

Di pusat perkantoran Kawasan Civic Bali. Beban pekerjaan Randy yang menumpuk, membuat randy stres bukan kepalang, apalagi hubungannya dengan Anna yang terus meminta kejelasan membuat Randy semakin tertekan. 


"Hai bro, gak pulang, lanjut lembur," tanya teman sekantor Randy yang sedang menepuk bahu kanannya. Mata Randy yang sedikit sayup karena cahaya komputer yang setiap hari di depannya. 


"Sebentar lagi," jawab Randy


"Aku cabut dulu ya!" lanjut temannya menyapa


Randy harus menyelesaikan pekerjaan input data dengan cepat, agar bisa merebahkan sedikit badannya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh lima menit, hari sudah mulai malam dan sebagian karyawan sudah pulang. Randy mempercepat tangan dan menahan pandangan matanya agar tetap on. 


Suara notifikasi handphone nya berbunyi. Tapi Randy acuh dan kembali untuk menyelesaikan pekerjaan sehingga beban untuk dia besok sedikit berkurang. Dengan bekerja, Randy sedikit menghilangkan tuntutan kanan kiri yang membuat telinganya sedikit memanas. Pas jam sembilan malam Randy keluar dari kantor, rokok yang ada di saku kemeja dia keluarkan satu batang untuk di hisap sampai tulang rahangnya terlihat, agar rasa penat yang dia rasakan keluar dari kepalanya. 


Mobil hitam buatan Jepang yang bertulisakan VVT-I melaju dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan laju kendaraan lain. Dengan badan yang lelah Randy masuk ke apartemen yang dia sewa setiap bulan hampir 5 juta rupiah, cicilan mobil 5 juta, tagihan kartu kredit, belum kebutuhan sehari-hari dan tuntuan ini itu, sedangkan gajinya setiap bulan hanya 8 juta sebagai karyawan biasa.


Dia mendapatkan semuanya dari Anna, semenjak dia di Bali, Anna yang menunjang ekonominya. Kehidupan di Bali hampir sama dengan di Jakarta, harga barang dan kebutuhan pokok hampir sama mahalnya. 


Pintu apartemen terbuka, cahaya redup ruang tengah membuat Randy melepaskan atribut pakaian kerjanya untuk langsung menuju ke kamar mandi dan membasuh mukanya yang terlihat leleh. 


Randy melihat pantulan wajahnya di cermin wastafel, mengingat perkataannya di telpon bersama Anna waktu itu. "Dasar wanita udik, menyusahkan saja! jika Anna meminta menikah, bagaimana ini? Aku tidak bisa melepaskannya, dan aku juga tidak bisa menikahinya? Ha! Dasar! apa aku putus saja dengannya, tapi tidak bisa," gumam hati Randy dengan menggosok bagian depan rambutnya. Sekilas ingatan Randy menuju ke tiga tahun yang lalu. Saat dia mengantarkan Anna pulang, Hanif mengetahui hubungan mereka berdua, menyelidiki tingkah laku Randy dengan diam-diam. 


Dalam sudut pandang hanif, dia melihat Randy hanya memanfaatkan adiknya. Karena adiknya masih lugu, wajah polos yang tidak tahu tentang make up, penampilan yang seadanya, badan yang tidak langsing, dengan behel dan kacamata yang ada di wajahnya. Siapapun tidak ingin menjalin hubungan dengan adiknya kecuali pria itu mempunyai maksud lain. Saat berada di diskotik dengan sedikit mabuk, Randy yang menikmati musik Dj bersama teman-teman kampusnya.


Tiba-tiba hanif datang melayangkan kepalan tangan dan memukul randy secara bertubi-tubi tanpa memperhatikan kerumunan orang-orang sekitar yang memandang mereka. Randy yang tidak terima membalas pukulan hanif yang secara tidak langsung mereka berdua beradu otot, tidak ada satu orang pun melarai mereka. Hingga para satpam datang dan memegang kedua tangan mereka berdua, untuk membuang mereka keluar pintu. Hanif mencoba berdiri dari tempatnya terjatuh, menghampiri Randy yang jatuh terduduk, dan mengangkat leher jaket Randy. 


"Jauhin adikku! jika kamu tidak mau berurusan denganku!"ucap hanif dengan nada mengancam. Dan berlalu pergi meninggalkan Randy yang masih memendam amarah. 

__ADS_1


"Dasar, brengsek! Suatu saat akan aku balas! ". Amarah Randy yang ingin dia lampiaskan ke tembok. Karena kejadian itu, Randy tidak terima akan perlakuan hanif. Dia membalas hanif dengan membuat kakinya menjadi lumpuh, kecelakaan yang dia buat seolah-olah tanpa di sengaja, dan di satu sisi, Randy tidak bisa melepaskan Anna bukan karena cinta tapi karena Anna penyelamat ekonomi untuknya. Anna tidak mengetahui bahwa kecelakan yang terjadi pada hanif adalah perbuatannya. Bagi Randy, Anna adalah wanita yang bodoh karena menyukai dan setia. Tapi dengan kebodohan Anna itu dia tidak kekurangan sedikitpun, dia bisa menikmati hidup. 


"Tok.. Tok," suara pintu kamar mandi terketuk


"Iya sebentar." Randy yang selesai membasuh mukanya dan berganti pakaian membuka pintu kamar mandi untuk menuju ke dapur. Cacing-cacing di perutnya sudah mulai bernyanyi. Tapi di urungkan karena melihat tubuh ramping dan elok yang ada di depan mata. 


!


"Mas, makanannya sudah aku hangatkan, kalau lapar sudah ada di meja makan," ucap Nadia istri Randy. 


Randy yang menghampiri Nadia di dapur dan mengecup keningnya dengan lembut. Bibirnya mulai berjalan ke arah bibir nadia, sehingga dua bibir itu saling bertemu dengan lidah-lidah yang saling beradu mesra yang membuat suara kecupan yang lirih itu terdengar "cup".


"Nanti saja, aku makannya. Sekarang aku ingin memakan yang lain" bisik Randy di telinga nadia yang membuatnya tergelitik. Bibir Randy menggeliat di leher jenjang Nadia dan setiap bibirnya mengecup daerah-daerah sensitif yang membuat Nadia tidak bisa mengontrol birahi Randy yang tidak terkendali. Dengan membalas kecupan Randy, Nadia berbisik "Nanti Rico bangun."


" Biarkan dia bangun, dia tahu kalau papanya ingin memakan mamanya dahulu," jawab Randy dengan membopong tubuh Nadia ke kamar. Desahan hangat yang mereka lakukan membuat ranjang tidak bisa menahan gerakan mereka. Wanita manis berambut panjang yang dinikahi  Randy dua tahun yang lalu, pernikahan yang di lakukan di Bali yang di hadiri oleh kedua keluarga. 


"Mas, susu Rico tinggal sedikit, untuk besok sudah tidak ada," seru Nadia. Seketika itu tubuh Randy berbalik untuk membelakangi Nadia yang sedang menggendong anaknya.Tubuh Randy seakan menolak untuk bertanggungjawab memenuhi kehidupan keluarga. 


Sekilas banyangan Anna muncul di dalam pikirannya, dia scroll handphone yang dia kunci dengan fingerprint, sehingga Nadia tidak mengetahui apapun. Tangannya mengecek saldo mbanking di bank yang berwarna biru laut, saldo yang terlihat masih empat puluh lima ribu rupiah. 


Randy menjambak rambutnya merasakan pusing yang ada di kepalanya "kenapa Anna belum transfer, pasti dia masih marah!" gumam Randy di hati. Dia mencoba untuk menghubungi Anna tapi tidak aktif, dan dia mencoba chat whatsapp nya masih centang satu. 


"Aaaaaaaa," teriak Randy dalam hati. Nadia yang melihat, merasa gelagat suaminya aneh saat ini. 


"Ada apa mas, aneh sekali kamu?" tanya Nadia yang sedang menyisir rambut panjangnya di cermin setelah menidurkan Rico. 

__ADS_1


Dengan lingerie hitam itu. Anna melengak-lenggok di depan cermin, merasakan tubuhnya yang masih ramping dan wajahnya yang masih glowing meskipun sudah mempunyai anak. 


" Mas! Skincare ku sudah habis, Aku cantik kan juga untukmu mas, masa kamu mau melihat istrinya kucel, dan jelek!" seru Nadia yang seakan menyindir keadaan Randy. 


Randy yang masih menatap layar handphone nya, merasa kuatir, kecewa, jengkel, dan bingung karena Anna sampai sekarang belum bisa untuk di hubungi sedangkan dia sudah mendengar tuntunan ini-itu dari Nadia. 


"Mas... Mas! dengerin aku gak sih!" seru nadia dengan nada tinggi. 


"Apa!" jawab Randy dengan sedikit membentak. Nadia seketika terperanjat kaget, dengan nada bicara Randy. 


"Ooohh gitu ya mas! Sekarang kamu membentak aku! Oke. Fine!" teriak Nadia yang tidak terima di bentak oleh Randy. 


Randy yang turun dari ranjang langsung menghampiri Nadia dan memeluk pinggang rampingnya. Dengan nada manja, Randy berusaha meredam emosi Nadia. 


"Jangan marah gitu dong, gitu saja ko marah, kalau marah kan kelihatan tambah cantik, bikin aku membara lagi." Randy yang berusaha mengecup bibirnya sekali lagi agar emosi istrinya terkontrol. 


"Tapi janji ya, jangan membentak aku lagi," jawab Nadia dengan manja, dan membalas pelukan dan kecupan Randy. 


Randy mengangkat tubuh nadia di punggung perutnya dan memeluk mesra. Menikmati wangi tubuh seorang wanita yang membuatnya tergila-gila. 


"Mas, jangan lupa besok kartu kredit nya di tinggal ya," bisik nadia di telinga. 


"Heem, " jawab Randy cuek. Sambil mengecup-ngecup bibir nadia. 


"Aku ingin, membeli tas herm** keluaran terbaru," lanjut nadia yang mendorong tubuh randy ke samping. Dan berjalan menuju ke meja untuk membuka dompet Randy dan mengambil dua kartu kreditnya. Nadia tidak mengetahui kebutuhan sosialitanya juga di tunjang oleh Anna. Randy berusaha menutupi keadaan ekonominya yang lemah itu dengan caranya. 

__ADS_1


"Bu. Vannya sudah membeli tas merek itu, kemaren dia pamer dan sekarang lagi trand di antara perkumpulan, semua orang punya," lanjut cerita nadia. 


Mendengar cerita nadia. Seketika badan Randy membelakanginya, dengan posisi tidur miring tangan Randy menscrrol layar ponsel untuk membaca pesan dari gadis lain yang akan menjadi mangsanya. 


__ADS_2