
"Apa yang dilakukan paman Hendry sekarang?" sela Elang dengan melipat kedua tangannya di atas dada.
"Di tunggu saja, masih belum ada informasi," pungkas Andreas.
"Yang terpenting papa dan mama jangan sampai tahu hal ini, dendam tidak bisa terbayarkan," sahut elang dengan mengingat kejadian waktu dia masih kecil.
"Obat yang kita temukan sudah membuktikan kejahatan Hendrik," pungkas Andreas.
Andreas mengerti apa yang di katakan elang. Ingatan yang buruk tidak mau terlintas lagi ada di pikirannya. Elang juga mempunyai rasa trauma saat pamannya melakukan sesuatu yang buruk dengannya dan itu menyisakan sakit.
"Untuk masalah Randy, aku serahkan kepadamu," kata elang yang bergegas meninggalkan lokasi.
Suara baling helikopter yang memekakkan telinga, membawa Elang kembali ke Anna.
Tanpa bertele-tele Andreas melaju kan mobil menuju lokasi pelarian Randy, dengan di ikuti sebagian anak buahnya.
****
Suara angin yang menghembus ranting-ranting pohon seolah-olah seperti sebuah bayangan orang yang melambai, celah-celah lubang yang berada di dinding tembok yang terbuat dari kayu seakan-akan seperti sepasang mata yang mengawasi setiap gerak-gerik, Nadia yang melihat berusaha untuk memejamkan mata dan menutup telinga dengan kedua telapak tangan yang selalu memanggil namanya, mencoba menenangkan diri tapi suara itu masih terdengar, kadang-kadang jelas, terkadang samar.
"Randy... Randy," panggil Nadia berbisik dengan menepuk bahu.
"Randy... Randy," panggil Nadia sedikit lantang.
Randy yang mendengar suara penggilan Nadia, mencoba untuk membuka mata.
"Nadia, kenapa kamu?" tanya Randy yang melihat Nadia ketakutan.
"Sepertinya ada orang di luar? Aku mendengar suara-suara aneh," jawab Nadia dengan memeluk bahu Randy dengan erat.
"Tenanglah tidak ada siapa-siapa," kata Randy yang mencoba menenangkan hati Nadia.
"Sebentar lagi pagi, kemasi barang-barangmu, kita akan naik kapal, kita berangkat ke lombok, pasti di sana aman," tutur Randy dengan mengarahkan planning selanjutnya.
Nadia dengan ekspresi yang linglung tidak fokus pada apa yang di katakan Randy, membuatnya semakin yakin ada hal yang aneh pada dirinya.
"Nadia tatap mataku. ayo! kita harus berangkat," ajak Randy dengan memegang tangannya.
__ADS_1
Matahari manampakkan sinar ufuk, ajakkan Randy membuat lamunan nadia membuyar, mengikuti langkah yang sama, menyusuri batu dan ranting, menuruni bukit di antara semak-semak rumput yang panjang.
Langkah kaki randy terhenti yang di ikuti nadia dari belakang, jalan mereka terhalang oleh beberapa pria berjas hitam membawa pistol yang mengarah kepada mereka.
"Randy, siapa mereka?" tanya nadia.
Randy yang mendengar pertanyaan nadia hanya diam membisu tidak tahu harus menjawab apa, karena dia juga tidak mengetahui siapa mereka semua.
Ekspresi Nadia seketika berubah disaat melihat mereka semua membawa pistol. Karena dia tidak mau di bunuh, terbayang wajah anaknya di pelepuk mata. "Aku ingin bertemu Rico, aku tidak mau mati?" batin nadia.
Nadia berusaha untuk melangkah mundur yang ingin menghindar dari pria-pria yang dia tidak kenal.
Selangkah demi selangkah nadia mencoba untuk menghindar dari arahan pistol. Tetapi bunyi petikkan pistol terdengar tepat di telinganya.
"Randy!" jerit nadia ketakutan.
Dengan air muka datar, anak buah Andreas tidak memperdulikan jenis kelamin meskipun korban mereka seorang wanita atau pria, bagi mereka, perintah itu hal utama.
Terdengar suara helikopter yang menerbangkan ranting-ranting dengan hembusan angin kencangnya, memekak kan telinga sehingga membuat pandangan menjadi samar-samar. Terlihat Nadia mengenali seseorang yang turun dari helikopter.
"Andreas?" tanya heran nadia.
"Nadia, siapa pria itu!" tanya Randy dengan nada tinggi.
Nadia sadar, apa yang dia katakan akan membuat Randy marah, dia hanya menjawab pertanyaannya dengan menggelengkan kepala.
"Saya Andreas, seseorang yang pernah akrab dengan wanita yang anggun seperti Nadia," sapanya yang berusaha mendekat ke arah Nadia. Dengan mengecup punggung telapak tangan dan memeluk agar terlihat mesra di lihat Randy.
"Aku menunggumu di tempat janji, sehingga aku mencarimu," bisik Andreas di telinga nadia saat memeluk.
Nadia yang mendapatkan perlakuan mesra andreas, menerima nya dengan sedikit lega.
"Andreas, tolong kita? Siapa orang-orang itu? Andreas aku ingin bertemu dengan anakku? tolonglah?" berondong pertanyaan nadia yang berbisik mengiba dengan diliputi rasa takut dan dipresi.
Andreas yang mendengarnya berbisik lirih. "Tenanglah, aku kesini untuk mempertemukan kamu dengan anakmu, apa yang kamu lakukan tidak akan terjerat hukum, percayalah," ucap Andreas menyakinkan Nadia yang dipresi akan semuanya.
Randy yang tidak terima istrinya di perlakukan mesra seperti itu, mencoba untuk menghajar Andreas.
__ADS_1
" Brengsek kau! Siapa kau! Kurang ajar !" cerca Randy yang kedua tangannya sudah terpegang erat tidak bisa berkutik oleh anak buah Andreas.
Dengan senyum sinis, Andreas menghampiri Randy yang menahan emosi dan berbisik di telinganya.
Apa yang ingin di katakan Andreas kepada Randy?
"Dasar brengsek, siapa kau! Akan ku hajar kau!" teriak Randy sekali lagi, dan tiba-tiba terduduk setengah berdiri terisak menangis pilu.
Nadia yang melihat tidak tahu apa yang di katakan Andreas kepada Randy, kenapa prilakunya bisa langsung berubah.
"Randy... Ran," sapa Nadia yang penasaran apa yang terjadi. Suara pelatuk pistol berbunyi di belakangnya tidak diperdulikan karena pandangannya tertuju pada Randy.
Andreas mengangkat tangan kiri ke arah anak buahnya agar mengendurkan pengawasan.
Nadia berusaha mendekati Randy yang terisak menangis, "Ran.. Randy," sapa nadia sekali lagi dengan memegang pipinya.
"Kita akan bebas, Andreas akan membantu kita, kita tidak perlu berpisah dengan Rico, aku masih bisa memeluknya. Randy, percayalah dengan Andreas aku mengenalnya," ucap nadia yang berusaha menyakinkan hati Randy.
Kata-kata yang di ucapkan nadia membuat darah Randy mendidih, wajahnya sudah merah padam, tidak bisa terbujuk dengan kata-kata.
"Dasar gundik, wanita murahan ! PRAK!" cerca Randy tiada henti dan melayangkan tamparan yang sangat pedas di terima nadia.
Randy yang tiba-tiba berdiri dan berusaha mencekik leher nadia, memantulkan tubuhnya di batang pohon hingga kepala bagian belakang nadia terbentur keras. Nadia tidak bisa menahan serangan Randy yang tiba-tiba, nafasnya mulai melemah karena cekik kan randy.
Nadia berusaha meronta dengan memukul mukul badan dan tangan Randy yang berusaha membunuhnya.
"Ra.. Ra.. Ra-ndy," ucap Nadia terbatah-batah karena pegangan Randy yang sangat kuat di leher.
Akhirnya Nadia kesulitan bernafas dan tenaganya melemah, terkulai tak berdaya, jatuh di antara tumpukkan ranting dan daun pohon yang gugur.
Randy yang melihat tubuh istrinya terjatuh tanpa ada perlawanan menambah ke binggungan di hatinya. Emosi nya telah membunuh istrinya sendiri.
"Nadiaaa... Nadiaaa, sadarlah maaf kan aku, nadiaaa...Kita akan bertemu Rico, bangun... Bangun nadia! Aaaaaa...." jeritan dan kata-kata Randy membuatnya menyesal akan semua yang sudah dia lakukan.
Tidak ada waktu yang bisa terulang lagi, apapun yang di lakukan tidak bisa membalikkan keadaan.
Randy mengalami goncangan hidup atas semua yang dia lakukan, dia telah membunuh istrinya dan tanpa di sadari dia juga membunuh anna dengan menyakiti hatinya, dan juga membunuh kehidupan anaknya sendiri yang seharusnya dia peluk, dia lindungi tapi terenggut oleh kebodohan dan kejahatannya, dan terlintas di dalam ingatan kejahatan-kejahatan yang pernah dia lakukan.
__ADS_1
Andreas bergegas meninggalkan peristiwa yang memilukan itu. Tapi tidak dengan hatinya, Andreas tersenyum sinis. Apa yang dia lakukan saat ini, adalah permainan yang sangat cantik, tanpa harus mengotori tangan sendiri.
Anak buah Andreas membopong tubuh nadia, dan membawa Randy yang tergoncang. Tidak ada ekspresi apa-apa yang terlihat di wajah anak buahnya, mereka seperti robot yang hanya mematuhi perintah, tidak punya rasa empati sedikitpun.