
Di sudut ruang makan, Bu Laras sedikit kuatir dengan keadaan putrinya yang mendapatkan musibah. Langkah kaki Bu Laras menuju ke kamar anak laki-laki nya. "Hanif, mama mau ke Bali. Mau melihat keadaan Anna di sana?"ucap bu laras dengan sedikit kuatir.
"Anna sudah besar ma. Dia bisa menjaga dirinya sendiri," balas hanif yang tidak ingin ibunya terlalu mencemaskan keadaan anna.
"Tapi handphone dan dompetnya hilang. Untung dia langsung telpon mama, jadi kartu banknya sudah mama blokir," ucap laras yang bersikeras ingin menyusul. Bagaimanapun sebagai orang tua, mempunyai rasa kuatir terhadap putrinya meskipun sudah dewasa.
"Daripada mama jauh-jauh kesana, aku nanti hubungi Mela, biar dia yang jaga Anna," pungkas Hanif. Bu Laras pun mengangguk tanda setuju dengan keputusan Hanif.
"Oh iya, bagaimana dengan Mela?" tanya bu laras yang penasaran dengan hati anaknya itu.
"Bagaimana apanya?" jawab hanif yang sedikit heran dengan pertanyaan ibunya.
"Mela sepertinya menaruh hati padamu, mama melihat dari sorot mata, kamunya yang acuh," ucap bu laras dengan penuh keyakinan.
"Ma! Keadaan hanif seperti ini, Mela wanita normal. Dia berhak bahagia dengan orang lain," kata-kata ketidakpercayaan diri hanif.
"Tapi, bundanya Mela setuju kalau kamu dengan anaknya," pungkas bu laras yang tidak suka melihat anaknya mempunyai rasa tidak percaya diri.
Hanif pun sedikit terdiam dan merenung dengan keadaan cacatnya. "Kaki hanif lumpuh ma, hanif tidak bisa bertanggungjawab sepenuhnya kepada Mela. Biarkan Mela bahagia dengan yang lain, karena usia Mela masih muda, seumuran dengan anna, dia berhak bahagia dengan pria normal, tidak dengan hanif yang seperti ini," jawab hanif.
"Ya sudah. Jika itu keputusan mu, mama tidak menjodohkan mu, tapi kaki lumpuh mu itu bukan berarti tidak bisa diobati, kata dokter kamu bisa berjalan asalkan kamu punya tekad dan pikiranmu ingin sembuh." Bu Laras memegang pundak hanif dengan melangkah menuju ke luar pintu dan meninggalkan hanif yang setiap hari selalu bekerja di depan komputer.
Angka-angka saham yang naik turun membuat hanif terobsesi, saat perusahaannya diambang kebangkrutan karena di khianati teman seprofesi yang sekaligus sahabat, pengkhianatan tunangannya sendiri, dan keadaanya yang lumpuh, hanya angka-angka itulah yang membuat hanif terus maju.
Ibunya meminta hanif untuk mengelola bisnis keluarga tapi hanif tidak menginginkannya. Dia ingin menutup diri untuk bersosialisasi dengan dunia luar. Jika bukan karena bujuk rayu mama dan Anna, hanif tidak akan mau ikut ke acara wisuda waktu itu. Dikarenakan perkataan ibunya tadi, hanif berusaha untuk berdiri dari kursi roda, dan berusaha untuk melangkahkan kaki menuju ke meja kerja. Ada sedikit niat di hati untuk bisa berjalan lagi, karena kata dokter, dirinya masih punya peluang untuk sembuh.
Terbesit di pikirannya. "jika aku bersama Mela, aku tidak mau membuatnya malu karena keadaan fisikku," tekad hanif, sebenarnya dia menaruh hati dengan gadis yang di sebutkan ibunya.
Sandaran tangan kursi, membantu hanif berjalan seperti seorang bayi yang sedang menggerakkan sedikit demi sedikit kakinya untuk melangkah. Sesaat dia menikmati kebagaiannya, tiba-tiba dia terjatuh terkungkarap, sendi-sendi kakinya tidak bisa menopang dan kepalan tangan memukul-mukul lantai tempat dia terjatuh seakan tidak ada harapan untuknya kembali pulih.
"Aaaaaa," teriak hanif dalam hati yang merasakan dirinya seperti tidak berharga.
__ADS_1
Usaha yang akan di lakukan dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil yang baik. Jika hanif memiliki semangat untuk maju dan sembuh. Tapi sayang, untuk saat ini hanif belum mempunyai semangat seperti itu.Di ruang keluarga, Bu Laras mencoba menelpon temannya Dewi yang ada di Bali.
Bu laras : "Hallo Assalamu'alaikum, bagaimana kabarmu?" sapanya dengan sopan.
Bu Dewi : "waalaikumsalam, aku baik dong Ras, ada apa telpon? Oh ya, Anna sudah sampai ke Bali belum?" jawab dengan nada bahagia yang mendengar teman baik menelpon.
Bu Laras : "Karena itulah aku menelpon mu? Handphone dan dompet anna hilang entah kemana? Dia memang sedikit ceroboh?" penjelasannya.
Bu Dewi : "tapi dia sudah berada di hotel kan? Aku akan telpon karyawan ku yang berada disana, Anak ku juga lagi ada di Hotel karena ada bisnis dengan relasi dari Australia, tenang saja Ras, Anna akan baik-baik saja jika sudah berada di hotel," ucapnya memberikan keyakinan.
Bu Laras : "baiklah jika kamu sudah bicara seperti itu, hatiku sedikit lega," ucap dengan mengelus dada sebagai tanda syukur.
Bu Dewi : "tenang Ras, Anna baik-baik saja, kalau boleh kirimin aku foto Anna, agar aku bisa memerintah karyawan ku yang disana untuk menjaganya?" pungkasnya.
Bu Laras : "Terimakasih. Salam juga untuk Wijaya semoga kalian semua sehat selalu," ucap syukur laras.
Bu Dewi : "amin, sama kamu juga harus sehat," perkataan membalas doa temannya itu. Bu Laras menutup panggilan telpon "haaa.." dengan nafas panjang yang sedikit lega.
Di sisi lain, rumah yang luas dan mewah bak istana dalam kerajaan dogeng, dengan rooftop yang mempunyai helipad, halaman yang mempunyai bukit golf, dan karyawan-karyawan yang memiliki tugas pekerjaanya masing-masing.
Wijaya dan Dewi duduk di salah satu sudut kamar mewahnya. Mereka berdua adalah orang tua Elang, hanya elang anak satu-satunya atau bisa di sebut anak semata wayang, dan dulu saat Elang berusia hampir empat tahun. Bisnis Wijaya sedang di ambang masalah.
Hotel warisan kakek elang mengalami pelaporan hukum karena saudara tiri dari Wijaya menginginkan harta warisan itu jatuh ke tangan nya. Berbagai upaya saudara tirinya itu untuk bisa menjatuhkan Wijaya agar hancur sehancur-hancurnya hingga terpuruk ke jurang kemiskinan.
Beruntung Wijaya bertemu dengan Kris dan Laras kedua orang tua Anna dan Hanif, yang tidak hanya seperti teman tapi juga seperti saudara.
Tidak ada rasa curiga di hati Kris saat memberikan modal uang kepada Wijaya untuk membantu membangun hotel yang baru. Sudah bertahun-tahun Wijaya tidak bertemu dengan mereka, karena Wijaya dan dewi berimigrasi ke Bali.
Selama dua puluh tiga tahun Wijaya mencari keberadaan keluarga Kris tapi tidak menemukan keberdaaan mereka.
Baru satu tahun yang lalu. Saat itu Dewi dan teman-teman organisasi makan di Restoran yang Laras kelola di jakarta, saat itulah silaturahmi mereka terjalin kembali.
__ADS_1
Tidak ada niat buruk atau jahat di hati Wijaya dan Dewi maupun sebaliknya dengan Kris dan Laras mereka ikhlas membantu temannya itu tanpa meminta imbalan apapun meskipun Wijaya sudah sukses.
Dalam pandangan author niat baik akan berbalas dengan kebaikan. Di saat Wijaya dan Dewi sukses, Tuhan juga memberikan kesuksesan kepada Kris dan Laras di waktu yang bersamaan.
"Dew, lebih baik kamu telpon elang. Dia sudah di hotel apa belum? Karena hari senin Mr. Hugh akan ke Bali," pinta Wijaya saat keluar dari mandi. Dewi yang tidak mendengarkan suaminya berbicara, karena sedang asyik memperhatikan layar handphone nya.
"Ma...ma..." panggil Wijaya, tapi tidak di dengar.
"Dew.. dew...! " Lanjut wijaya yang sedikit meninggi dengan menepuk bahu istrinya.
"Aduh pa, jangan teriak-teriak dong memanggilnya," ucap dewi yang kaget dan sedikit sewot.
" Papa berkali-kali panggil tidak denger, ada apa?" tanya Wijaya kepada istri.
" Pa, lihatin dech foto anna, cantik ya," jawab dewi dengan memperlihatkan foto anna di handphone.
"Kalau yang ini, siapa yang memakai kacamata?" tanya Wijaya dengan menunjuk foto yang lain.
" Ini juga Anna pa, kata laras wajah Anna dulu memakai kacamata, gigi behel dan sedikit gemuk." Dengan menscroll gambar yang lain dewi memperlihatkan foto Anna
"kalau yang ini tidak pake kacamata dan badannya sudah tidak gemuk lagi, kelihatan cantik, dan imut ya pa?" ucap dewi yang melanjutkan percakapan dengan suaminya.
"Apapun keadaannya. Jika dia seorang gadis yang baik, aura kebaikan nya itu akan membuat dia terlihat cantik," kata bijak Wijaya.
"Iya itu benar, hatiku lebih ke Anna pa, daripada Sandra mantan pacar Elang yang dulu," ucap dewi yang sedikit cemberut.
"Mimpi apa Elang itu, bisa bertemu dengan Sandra, yang tidak tulus mencintainya," lanjut ucap dewi.
" Sudahlah, itu semua pengalaman untuk Elang, kegagalan bukan berarti kesedihan, dia akan bertemu jodohnya," ucap Wijaya yang sedang merebahkan badannya di ranjang untuk beristirahat. Dewi yang berada di sebelah Wijaya masih melihat foto Anna, dia merasakan jika Anna akan berjodoh dengan Elang.
"Besok aku ke hotel, aku mau perkenalkan Elang dengan Anna, jika pun Laras tidak menyetujui perjodohan ini, akan aku bujuk," ucap dewi dengan senyum bahagia
__ADS_1
Kecantikan dari dalam atau inner beuty itulah yang terpenting, setebal apapun make up mu dan seglowing apapun wajahmu, jika kamu memiliki hati dan tingkah laku yang buruk aura kecantikan itu tidak akan keluar. Kamu akan terlihat seperti biasa saja, tidak ada yang spesial dalam dirimu.