
"Huhuhuhu... Huhuhu.. Mama.. Mama," suara tangis Rico yang berada di depan pintu panti asuhan untuk mencari kedua orang tuanya. Anak yang berusia dua tahun yang tidak mengetahui apa-apa harus menanggung akibat semuanya.
Suhu udara malam hari yang dingin, membuat Nadia tidak bisa menahan air mata, melihat Rico anak yang dia lahirkan harus berpisah dengan cara yang seperti ini. Dengan perasaan sebagai ibu kandungnya, Nadia berusaha melangkah sedikit demi sedikit mengikuti kata hatinya.
"Nadia!" teriak Randy mencegah apa yang akan dia lakukan.
"Aku tidak bisa meninggalkan Rico sendiri disini, hiks. Hiks, Aku akan bawa dia bersama ku," ujar nadia dengan isak tangis dan melepaskan pegangan randy.
"Jangan sembrono, kita harus tega," balas randy mencegah nadia.
"Tidak... Aku tidak bisa, aku harus ambil dia," kata nadia yang berusaha meninggalkan randy dan melangkah menuju ke arah anak kandungnya.
Selangkah dia maju, terdengar suara seorang wanita yang membuka pintu, dan melihat Rico berada di depannya.
"Om Swastiastu, siapa yang meletakkan anak kecil disini," ucap wanita itu dengan logat bahasa daerah Bali. Wanita itu mencari-cari sesuatu di balik baju atau selimut Rico, tapi tidak mendapatkan apa-apa, dan akhirnya wanita itu membawanya masuk kedalam rumah.
Nadia terkejut apa yang sudah terjadi, secara tidak sadar dia sebagai ibu kandungnya sudah meninggalkan luka untuk anaknya yang masih berumur dua tahun. Mata nadia menatap dengan berlinang, wanita itu membawa anaknya? Dia tidak bisa melihat anaknya lagi, untuk berapa lama? Apa yang sudah aku lakukan tadi, sudah berdampak buruk pada Rico? Bisakah waktu aku putar kembali? Tunggu mama nak, mama pasti kembali untuk menjemputmu?.
Randy menyeret Nadia, yang hampir membuat orang lain melihat mereka berdua. Di dalam taxi,
Nadia seperti orang yang terpuruk, dia mengalami depresi, pikiran dan hatinya melayang ke mana-mana, beberapa jam yang lalu dia masih bisa memeluk anaknya, tapi sekarang kosong, hampa, tidak punya harapan. Rasa penyesalan juga menyelimuti, menyesal atas apa yang sudah dia lakukan.
Nadia menyenderkan kepala di bahu kiri Randy, menangisi semua yang dia perbuat, menangisi atas kebodohannya.
"Besok kita akan melakukan perjalanan ke Lombok, aku rasa kita akan aman disana," usul randy. Nadia hanya diam membisu tanpa berkata iya atau tidak, pikirannya kosong seketika.
Taxi itu berhenti di salah satu rumah yang terlihat jauh di atas bukit, Randy berusaha membawa Nadia melewati daerah seperti belantara hutan. Kaki melewati batu dan ranting yang tajam tidak membuat Randy terhenti.
Rumah kecil layaknya seperti gubuk dan decikan suara pintu sudah hampir rapuh terdengar seperti suara horor. Udara yang semakin dingin membuat randy dan nadia membutuhkan tempat yang bisa menghangatkan tubuh mereka yang terasa mengigil. Pelarian yang mereka lakukan saat ini akan membutuhkan waktu yang lama untuk terlepas dari jeratan hukum karena apa yang sudah terjadi tidak bisa terulang lagi.
__ADS_1
Randy menyalakan lampu senter handphone, melihat sekeliling yang terlihat gelap, meja, sofa atau ranjang juga tidak ada, hanya potongan-potongan kayu dan perapian di tengah ruangan.
"Randy, aku takut, tempat apa ini, dingin dan gelap," tanya Nadia dengan ekpresi ketakutan.
"Stttt. Jangan takut aku disini," timpal Randy dengan memeluk Nadia dan duduk bersebelahan, bersender di sebelah perapian yang sudah menyala untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Randy, darimana kamu tahu tempat seperti ini?" tanya nadia dengan memutar dua bola matanya melihat sekeliling ruangan yang terbuat dari kayu, terdapat celah lubang kecil seperti orang yang sedang mengintip yang membuat tubuh nadia lebih dekat dengan Randy.
"Waktu kita pernah bertengkar, aku ingin pergi menghindar agar tidak berlarut-larut. Aku pergi tidak tahu kemana, terus aku menemukan tempat ini untuk berfikir, saat sore hari aku kembali," balas Randy dan menceritakan semua.
"Randy, maaf kan aku yang cemburu, posesif terhadapmu, dan semua yang aku lakukan kepadamu dan Rico," timpal Nadia dengan mendekat wajah ke suaminya.
"Sttt... Sttt... Aku paham, tidurlah aku akan menjagamu," ujar Randy yang berusaha mendekatkan kepala nadia ke bahunya.
Nadia berusaha untuk memejamkan mata, tapi hati dan pikirannya kepada anaknya. Di tegah ruang yang gelap, nadia melihat rico yang sedang menangis memanggilnya mama. Dengan kakinya yang kecil, dia bangkit dari duduk, melangkah sedikit demi sedikit dan tiba-tiba terjatuh lagi. Nadia berusaha meraih tangan Rico, tapi semakin mendekat, tangan Nadia semakin jauh untuk meraihnya, ingin memegang tangan mungilnya tapi tidak bisa. Pelarian ini membuat hubungan ibu dan anak secara tidak sengaja terputus.
"Rico!" lanjut Nadia yang terbangun dari tidur.
"Aku rindu Rico, aku ingin bertemu dengannya, Randy," pungkas nadia yang terbangun dari mimpi buruknya.
"Kita akan bertemu dengannya, tenanglah," lanjut Randy dengan memeluk.
Tapi tidak dengan Nadia, pikirannya sudah kalut, seperti ada set** yang menghinggap di tubuhnya, sepanjang hari Nadia tidak bisa memejamkan mata sedikitpun, meskipun dia berusaha memejamkan mata, tapi pikirannya masih ke mana-mana.
*******
Bukti yang di dapat Andreas dari Resto American Caffe sudah masuk filenya. Dan anak buahnya sudah menggeledah apartemen tapi tidak mendapatkan apa-apa, semua barang-barang tidak ada yang di bawa. Hanya saja, salah satu anak buahnya memberitahu ada sebuah foto yang ditemukan dan terlihat ada seorang bayi yang di gendong.
"...iya... Cari anak itu, pasti mereka membawanya," perintah Andreas yang menuju ke ruang pelacak satelit.
__ADS_1
"Untuk semua orang yang sudah memposting peristiwa yang terjadi, harus di hack," lanjut perintah Andreas tegas tanpa boleh ada bantahan sedikitpun.
"Jangan ada informasi yang tersebar. Polisi jangan ada yang tahu!" lanjut Andreas berucap seperti seorang mafia.
File video CCTV yang di dapat Andreas di putar ulang untuk mengetahui bukti selanjutnya.
Ada sebuah mobil hitam yang memutar balik arah jalan menuju ke arah Anna yang sedang berjalan menghampiri elang.
"Cari mobil hitam itu, cepat!". Bergegaslah anak buah Andreas dengan sigap.
" Siap Tuan!" jawab anak buahnya dengan serentak. Tidak sampai dua jam anak buahnya memberikan informasi.
Andreas malajukan mobil menuju ke danau, tempat mobil hitam itu di tenggelam kan.
Helikopter yang di kirim Andreas menemukan posisi mobil dan berhasil di angkat. Semua anak buahnya berusaha untuk menemukan bukti-bukti yang ada di dalam mobil.
"Tuan ada orang yang melihat mereka, menuju ke arah bukit," kata anak buahnya dengan berbisik.
"Temukan mereka hidup atau mati!" perintah Andreas dengan lantang.
Seluruh anak buah Andreas mengikuti perintah, sekitar sepuluh orang bergegas, menuju ke bukit untuk menemukan keberadaan Randy dan nadia. Dan sepuluh lagi memeriksa bukti-bukti yang memberatkan mereka.
Satu helikopter lagi memasuki area danau. Elang mendapat kabar dari Andreas sudah menemukan bukti mobil hitam itu.
Andreas melihat dari jauh Elang yang turun dari helikopter untuk menemuinya.
"Elang, ada barang bukti obat yang pasti membuatmu terkejut melihatnya, dan juga ada cerita tentang siapa dia," urai Andreas memperlihatkan bukti-bukti itu kepada Elang.
"Sudah kau temukan keberadaan randy," tanya Elang.
__ADS_1
"Hmm," jawab singkat Andreas tanpa basa- basi.
"Mobil hitam ini bukti kejahatan mereka ," pungkas Andreas.