Ada Cinta Yang Lain

Ada Cinta Yang Lain
Kapal Pesiar


__ADS_3

Sinar indah manik matamu


Membutakan mata hati


Membisukan jiwa


Gelap sudut mataku


Memudarkan cahaya


Meredupkan kesedihan


Menerima cintamu


Memberiku makna


Mewarnai dunia


"Thank you for everything elang, you have filled the void in my heart."


Anna membisikkin kata puisi di telinga elang. Dengan senyum dan mata yang berbinar, elang melihat dan mendengarnya sudah cukup membuatnya bahagia, karena cintanya sudah terbalaskan. 


Dengan melingkarkan tangan di pinggang, Anna mendapatkan pelukkan hangat, yang menuntunnya menuju cahaya kebahagiaan. 


Hari hari Anna di lewatkan tanpa kesedihan. Perkembangan kesehatan dan mentalnya berangsur-angsur membaik, elang selalu berada di sisi dan memberikan kejutan-kejutan yang membuatnya selalu tersenyum dan tertawa.


 


Suatu hari, Anna memandang keluar jendela di saat mentari memberikan cahaya di sudut kamar,


Anna merasakan elang yang berada di belakang, berusaha menutup mata dengan kedua telapak tangannya, "Anna," sapa elang berbisik di telinga. 


"Meskipun, kamu menutupnya. Cahaya mataku tetap akan gelap," jawab Anna membalikkan badan dan tersenyum menyambut kedatangan elang. 


"Maafkan aku, aku hanya berusaha memberikan kejutan," kata maaf elang, yang menempelkan dahinya ke dahi Anna. 


Anna memberikan maafnya dengan senyum, memegang pipi seorang pria yang bertulang rahang kuat. 


"Nanti malam, aku akan membawamu mengelilingi luatan, ikutlah dengan Andreas, senangkan hatimu. Aku menunggumu disana,"  ucap elang lirih memegang tangan Anna. 

__ADS_1


"Hmm. Kejutan apalagi yang akan kamu berikan padaku."


"Jika di ceritakan. Bukan kejutan namanya," bisik elang lirih yang membuat teliga Anna tergelitik. 


Royal Carribea Cruises akan membuat sejarah, suatu moment yang akan mengukir indah cinta mereka berdua dan juga sesuatu hal yang tidak terlupakan. 


Malam yang membuat hati elang berdegup. Aku akan melamarnya malam ini. Dengan setelan tuxedo hitam, elang terlihat kharismatik, dia mempersiapkan segalahnya agar terlihat sempurna. 


Sebuah mobil Sedan audi membawa Anna melewati pelabuhan Marina Prier Singapura. Pakaian party dress berwarna merah maroon, hijab outfit, membuat dia terlihat anggun.


Anna melangkahkan kaki nya dengan hati yang berdegup. Kejutan apa yang di persipkan elang, apa dia mau melamarku? Tidak. Anna belum sanggup jika menerima lamaran elang. Ingin rasanya melangkah mundur, tapi tangan elang sudah menyambut kedatangannya. 


Dengan alunan suara biola, Cruises Ship membawa mereka mengelilingi luatan dengan suasana romantis. Candle light dinner adalah rencana awal elang untuk mempersiapkan semua. 


"Anna, mungkin ini terlalu cepat," ucap elang dengan gugup. "Tapi aku ingin memberimu sesuatu, aku harap kamu menerimanya," lanjutnya dengan membuka kotak kecil merah, mengeluarkan cincin dan ingin melingkarkan ke jari manis Anna. 


Karena rasa tidak percaya diri Anna menampik pemberian cincin elang. "Aku tidak bisa. Maaf kan aku."


"Apa yang membuatmu tidak bisa menerimanya?" tanya elang yang sudah mempersipkan pertanyaan ini jauh di pikirannya. 


"Elang, aku buta. Bagaimana aku bisa menjadi istrimu. Melihat diriku sendiri di cermin saja aku tidak sanggup. Apalagi menjadi bagian dalam hidupmu, hatimu akan sakit melihat diriku yang seperti ini, lihatlah aku elang. Aku rendah," sanggah Anna dengan ketidak percayaan hatinya dan meninggalkan meja. 


"Anna," panggil elang yang menahan jari tangan Anna untuk tidak pergi. 


Anna merasakan sentuhan lembut elang di pipinya yang basah karena air mata. Meniup dengan lirih agar air mata Anna tidak terjatuh lagi. 


Bagaimana aku bisa menampik rasa ini. Jika kamu memperlakukan ku dengan indah. Caramu ini yang membuat diriku jatuh cinta padamu, elang. 


Pelukkan hangat yang melingkar di pinggang ramping Anna membuatnya merasa tenang. 


"Iya, aku mau menikah dengan mu." Pernyataan Anna membuat elang bernafas lega. 


Terdengar suara dentuman kembang api yang terlontar di langit. Anna merasakan kebahagiaan yang meliputi jiwanya. Meskipun pandangan cahayanya meredup, ada seseorang yang selalu berada di pelukkan. 


Ini bukan suara kembang api, tapi seperti suara tembakkan. Pelukka  yang aku rasakan, tiba-tiba terjatuh. 


"Elang!.. Elang!" teriak Anna memanggil dengan meraba-raba tangannya ke depan seperti mencari sesuatu. 


"Anna..." panggil elang dengan menarik tangan Anna ke bawah. 

__ADS_1


"Bersembunyi lah disini. Tutup telingamu agar kamu tidak mendengar apa-apa," ucap elang dengan memegang kedua pipinya dan menyembunyikan Anna di bawah meja. 


"Elang, apa yang terjadi? Suara tembakkan apa itu?" tanya Anna ketakutan dengan memegang bahu kanan elang. 


"Cairan apa ini, apa yang terjadi padamu? Apakah ini darah? Elang!" Tidak sempat elang menjelaskan, terdengar suara tembakkan lagi. Anna tetap bersembunyi di balik meja, menutup telinganya agar terdengar senyap-senyap. Hatinya yang kacau tidak ingin membuat kekuatiran. 


Ada empat orang yang mencoba menghadang elang dengan membawa pistol kaliber. Elang mencoba menangkis serangan mereka satu persatu. Memukul bagian-bagian area vital dengan tangkas seperti seorang profesional yang mengerti bela diri. Salah satu dari mereka jatuh tersungkur sehingga elang bisa mengambil pistol yang tergeletak di lantai.


 


Dengan sisa tiga peluru. Elang menembak dua orang lagi tepat di dahi dan jantung. Satu orang lagi menunggu Elang melakukan serangan, tapi elang melompat dan menendang cepat dengan kaki, tepat kepunggung tangan orang itu tanpa berkedip. Menangkis serangan tangan di titik lumpuhnya sehingga pistol yang dia pengang terjatuh di lantai. Disaat lawannya lemah, menembak titik leher tanpa memberi ampun.


Elang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, memutar jam tangan nya untuk melakukan panggilan "ada empat orang, bereskan!" perintah elang. 


Di balik belakang meja, Anna menutup kedua teliga berusaha untuk tidak mendengar suara keributan dan tembakkan, rasa kuatir akan semua membuat Anna bingung, harus melakukan apa? yang dia bisa lakukan hanya bersembunyi. Elang terluka tapi aku hanya terdiam bersembunyi disini. Begitu lemahnya aku!. 


"Anna! Kamu baik-baik saja kan," rasa kuatir elang menyelimuti. 


"Elang.. Hiks.. Elaaanggg," balas Anna memeluk, dan meraba wajah elang yang seakan tidak percaya akan semua. 


"Tenang, aku baik-baik saja. Tidak akan terjadi lagi seperti ini. Aku janji," ucap elang dengan mengecup lembut kening Anna. 


Ketakutan terasa sirna dengan perkataan yang membuat tenang. 


"Tapi, kamu berdarah." 


"Tidak apa-apa. Pelurunya hanya menyentuh sedikit bahu kanan, tapi tidak menembus."


Anna berusaha menyentuh bahu yang terkena tembakkan, yang membuat elang menyeritkan dahi, menahan sakit karena tersentuh.


Membuka blazer taxido, menyobek bagian bawah gaun. Dan mengikat kain di sekitar bahu yang berdarah itu. 


"Ini akan membuat darah terhenti sementara," ucap Anna dengan senyum getir, berusaha menatap wajah elang, meskipun pandangannya berbeda arah. 


Suara jet ski boat terdengar, empat orang berjas hitam melompati bagian tepi Cruises Ship, tiga orang memberaskan jasad lawan dan membuang mereka ke lautan, hilang tanpa jejak. 


Andreas memberikan perintah kepada anak buah untuk mengecek apa ada alat penyadap di setiap sudut. "Cek semua, tanpa ada yang tertinggal!" perintah Andreas. 


Elang manepuk bahu Andreas dua kali untuk membereskan semuanya."Rubah licik beraksi, lancarkan strategi," bisik Elang dan mengangkat tubuh Anna, membopong ke jet ski. 

__ADS_1


Tangan yang masih gemetar, memeluk pinggang kekar pria yang berada di depannya. Mengecup lembut bahu belakang yang terkena tembakkan.


"Kecupaanku akan membuatmu sembuh," bisik lirih Anna, membuat elang tersenyum. 


__ADS_2