
Harapan dalam kecemasan tidak akan mendapatkan hasil, hanya keyakinan yang ada di dalam diri.
"Dimana aku? Mama? Kak hanif? Kenapa lampunya mati, aku kan tidak suka gelap?" bisik anna dalam hati di saat membuka kedua mata.
Tangan mencoba meraba-raba di antara ranjang tempat dia berbaring, tak sengaja dia menyentuh ujung jari tangan yang begitu hangat, tangan siapa? Apakah tangan kak hanif?.
Anna mencoba menggerakkan bibir untuk mengeluarkan kata-kata, tapi yang keluar seperti suara bisikkan.
"Kak... Ka-kak... Kak... Ha-nif," ucap anna dengan lirih.
Tapi tidak ada balasan apapun? Mungkin suara ini tidak terdengar? Anna mencoba meraba telapak tangan yang hangat itu, dan meremas tangannya seperti memegang tangan seseorang.
"Kak... Ka-kak.. " ucap anna sekali lagi dengan suara sedikit keras.
Telinga elang mendengar suara seseorang tapi mungkin hanya mimpi, akan lebih indah jima suara itu Anna yang memanggil. Ada sentuhan di tangan? Sentuhan siapa?.
Elang berusaha untuk mengangkat kepala dan telapak tangan merasakan sentuhan dingin seseorang.
"Anna, kamu sudah sadar," ucap Elang dengan air muka yang bahagia.
Suara siapa yang memanggil namaku, seperti human kak hanif?. Anna pun melepas genggaman tangannya. Karena tidak pernah mendengar suara pria asing, dia seperti ketakutan, dengan melipat kedua tangan ke dada, ada rasa cemas di hati, a pakah dia menculikku? A pakah orang itu may memperkosaku? Atau aku Sudan di personal?.
Anna menangis dalam ketakutan tanpa bisa mengeluarkan jeritan dan tanpa bisa bersuara lantang untuk meminta tolong.
"Ya Allah, apa yang terjadi. Kenapa aku seperti ini?" bisik lirih hati Anna meminta pertolongan Yang Maha Agung.
Elang berusaha mendekat karena melihat Anna seperti ketakutan akan sesuatu.
"Anna, jangan takut. Aku Elang, aku disini," kata yang ingin memberikan ketenangan hati.
Elang? Siapa itu Elang? Kenapa namanya begitu tidak asing aku dengar? Tapi tidak mudah untuk aku ucapkan? Siapa dia?.
Anna seperti memaksakan otaknya untuk berpikir sekali lagi tapi yang terasa adalah sengatan listrik dalam otak dan semakin dia berpikir keras matanya juga merasakan sakit. Tangan Anna menutup kedua mata dan memegang kepala yang terasa sakit sekali, nyeri, seperti mau pecah saja?.
__ADS_1
"Anna.. Kenapa? apa ada yang sakit?" tanya Elang begitu kuatir melihat tingkah laku Anna yang seperti kesakitan.
"Kenapa gelap disini, siapa kamu! Kamu penculik! Kamu mau memperkosa aku!" jerit Anna ketakutan.
"Anna tenanglah, aku tidak menculikmu, aku tidak memperkosamu, disini tidak gelap, ada matahari," jawab Elang berusaha menenangkan hatinya dan memperlihatkan sinar matahari yang memantul di antara jendela.
"Lihat lah sekarang aku di tengah-tengah sinar matahari, kamu lihat tidak," kata Elang dengan sedikit melompat kecil.
Anna baru sadar akan ucapan pria yang berada di hadapannya, aku tidak bisa melihat. Iya, aku buta, aku tidak bisa melihat wajah pria itu? Aku buta, aku buta, ya Allah aku tidak bisa melihat keindahanmu lagi.
Tangan Anna seperti meraba-raba yang ada di depannya, tapi tetap pandangan masih gelap, apa yang dia lihat hanya warna hitam. Anna membatin keadaan nya yang begitu terpuruk.
Elang yang melihat mencoba mengulurkan tangan untuk membalas peganggan tangannya.
"Anna..anna, tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja," ucap Elang dengan memeluknya, mengusap punggung belakang, mengecup kening dan kepala yang terbalut perban.
"Hiks...aku tidak bisa melihat. Hiks...aku tidak bisa melihat," suara tangis Anna pecah tak terbendung disaat ada seseorang yang memeluknya.
Pelukkan hangat yang saat ini di perlukan Anna untuk menenangkan hati. Seperti embun pagi yang tidak bisa dia pegang tapi hanya bisa di rasa.
Detak jantung pria ini terdengar olehku. kenapa jantungku juga berdegup kencang saat bersamanya? Kenapa aku merasa nyaman? Kanapa aku tidak mau melepas pelukkan ini?.
"Jangan tinggalkan aku, hiks... Aku takut gelap...hiks..." ucap Anna ketakutan dengan memeluk erat tubuh Elang.
"Aku tidak akan meninggalkan mu, aku berjanji, Aku akan membuatmu bahagia, agar kamu tidak merasakan ketakutan lagi," kata yang terucap di bibir Elang dengan hati yang bersungguh-sungguh.
Kenapa kata-kata pria ini membuatku terhipnotis, aku merasa percaya akan janjinya, hangat...terasa hangat di hati.
Elang berusaha menenangkan hati Anna dengan sepenuh hati. Seakan tidak mau apapun yang terjadi kepadanya, aku akan menjagamu An.
Dokter memeriksa keadaan Anna, dengan pengecekkan mata, CT Scan dan MRI untuk mengecek apa ada kelainan pada otak dan syaraf.
Saat Anna kembali beristirahat di kamar, Elang menemani dan tak sedikitpun meninggalkannya. Tapi tidak ada satupun kata yang terucap di bibir mereka berdua. Mereka seperti menahan untuk tidak berkata apa-apa. Apa yang ingin mereka ucapkan semua sudah terjawab oleh hati masing-masing.
Suara dering ponsel berbunyi, Elang berusaha untuk meninggalkan Anna menuju ke luar ruangan.
Elang: "Halo, Assalamu'alaikum ma," menyapa dengan sopan.
__ADS_1
Bu Dewi: "Elang, apa yang terjadi pada Anna? Laras menghubungi mama, kamu sekarang di Singapura?" Elang terdiam sebentar mendengar pertanyaan mamanya.
Elang: "iya ma. Di University Hospitals."
Bu Dewi: "Kenapa tidak kau bawa dia ke Japang agar bisa satu tempat dengan mama, mama akan kesana. Mama tidak bisa melihat Anna seperti ini."
Elang: "Tapi ma.... " selanya.
Bu Dewi: " Sudah! Jangan bantah sedikitpun perkataan orang tua, jaga Anna. Jika ada sesuatu yang terjadi lagi. Mama cubit kamu nanti," ucapan dengan nada perintah.
Mendengar perintah mamanya, tersungging senyum simpul di bibir, hatinya merasakan ketenangan meskipun hanya sebentar.
Prang... terdengar separti suara yang pecah. Anna! dengan cepat Elang berbalik untuk melihat keadaan Anna yang dia tinggalkan sendiri.
"Anna... Anna, apa kakimu terluka, apa tanganmu yang terluka?" tanya Elang dengan kuatir.
Elang dengan sigap membopong tubuh Anna yang diam berdiri kaku karena kaget mendengar suara benda yang terjatuh.
Aku merasakan nya lagi, merasakan detak jantungnya berdegup. Irama yang sama dengan irama jantungku, apakah ini yang di namakan cinta?
Aku ingin menatap wajahnya, wajah seorang pria yang sedang membopong tubuhku yang lemah ini.
Tidak memperdulikan telapak kaki yang terkena pecahan kaca, Elang merangkul tubuhnya. Dan membaringkan tubuh lemah ini ke peraduan, dengan menata dan merapikan posisi duduknya.
Tak terasa air mata Anna menetes di pipi yang terlihat pucat dan tidak glowing seperti dulu.
Tangan kekar yang hangat mengusap butiran air mata Anna, dan meniup lirih agar air linangan matanya menjadi beku dan tidak menetes lagi
"Bersabarlah, sebentar lagi kamu akan melihat," bisik lirih nya.
Anna tak kuasa untuk menahan isak tangis ini, karena seorang pria yang tidak bisa dia lihat, bisa membuatnya memiliki harapan.
Mataku terpejam dan mencoba meraba wajah dengan tangan dingin ku ini. Aku ingin tahu seperti apa pria yang membuatku merasakan sesuatu yang tidak bisa aku tahan sedetikpun.
Alis mata yang tebal, bentuk kelopak mata yang lebar, hidung yang mancung, ada sedikit kumis dan janggut di dagunya, pipinya lembut, ada lesung pipit sebelah kanan, bentuk bibir yang indah seperti terbelah dan kedua tanganku ini ingin memegang pipinya yang sedikit tirus, tapi aku merasakan air matanya. Apakah seorang pria bisa menangis? Dia tidak menahan ego nya untuk menangis di depan seorang wanita. Akupun berusaha untuk mengecup kecil bibirnya, mengusap air matanya dan mengucapkan "Terimakasih."
Elang tidak bisa berkata apa-apa saat kedua bibir ini bertemu. Jiwa rapuh yang dia lihat saat ini, membuat dirinya bisa melakukan apapun agar wanita yang dia cintai bahagia.
__ADS_1