
Pagi hari dikediaman Kenzie.
"Kenzi, kamu mau ke mana, Nak? Nggak sarapan dulu?" tanya Andien yang melihat putranya tak singgah ke meja makan seperti biasanya.
"Aku diajak teman makan bakso, Bu. Nggak enak aku sudah mengiyakannya," jawab Kenzie menghampiri Ibunya di meja makan, di mana terlihat ibunya sudah akan makan dan mengambil piring untuknya.
"Bakso?" tanya Andien berbinar, "Ya udah, Ibu juga ikut aja deh. Ibu juga malas sarapan sendiri, Ibu sudah lama nggak makan bakso," ucap Andien semangat berdiri dan ingin ikut pada putranya.
"Apa Ibu yakin mau ikut? Aku bukan makan bakso di Restoran mahal ya, Bu. Aku hanya makan di warung pinggir jalan," ucapnya membuat Andien tak menghiraukannya.
"Memangnya kamu pikir Ibu ini suka pilih-pilih tempat makan?" ucapnya, kemudian mereka pun berlalu meninggalkan ruang makan, tak lupa Andien meminta Bibi untuk membereskan kembali meja makan dan meminta Bibi memberikan sarapan yang tadi dibuatnya untuk di berikan kepada pekerja yang lainnya.
Mereka pun pergi menuju ke warung bakso milik Alika, dengan mengikuti GPS yang ada di ponselnya. Kenzie mengikuti lokasi yang dikirim oleh Alika kemarin, mereka pun singgah di depan sebuah warung bakso sederhana.
__ADS_1
"Apa kamu yakin di sini tempatnya?" tanya Andien melihat ke arah warung bakso di sana. Ada warung bakso yang begitu banyak disana. Namun, Kenzie bisa melihat disalah satu warung baksi tertulis 'Warung bakso nenek Alika' dan Kenzie yakin jika itulah tempat yang dicarinya.
"Iya, Bu. Itu tempatnya," tunjuk Kenzie pada warung bakso nenek Alika. "Apa Ibu yakin mau ikut? Kalau nggak mau aku bisa antar Ibu dulu ke tempat lain," ucap Kenzie melihat ke arah wanita yang telah melahirkannya.
Andien tak menjawab pertanyaan putranya, ia langsung turun dan berjalan lebih dulu menuju ke warung bakso nenek Alika. Ia bisa melihat ada seorang gadis cantik yang melayani para pembeli di sana dan Adien yakin jika itu adalah teman dari putranya.
Senyum terbit di bibirnya, entah mengapa ia bisa melihat keramahan di wajah anak itu saat melayani para pembeli.
Ya, itu lah Andien. Wanita yang usianua sudah kepala 5, tapi masih terlihat 30an itu. Ia ramah dan tak keberatan untuk berbaur dengan orang dari kalangan bawah. Baginya jika orangnya baik dan sopan tak ada salahnya saling berkenalan
"Pak Kenzie, ayo silakan masuk, aku sudah menunggu Bapak sejak tadi," ucap Alika saat melihat Kenzie berjalan ke arahnya.
"Apa bakso Spesialnya sudah jadi, aku pesan dua mangkok ya, ini aku bawa Ibuku, dia juga ingin mencicipi bakso spesial buatan kamu," ucap Kenzie menunjuk wanita yang tadi sudah dipersilahkan Alika untuk duduk lebih dulu. Alika terkejut, ternyata wanita cantik tadi adalah calon ibu mertuanya.
__ADS_1
Calon ibu mertua? Itulah yang ada di pikirin Alika saat ini.
Ia pun langsung menunduk hormat dan langsung memperkenalkan diri.
"Saya Alika, Bu," ucapnya membuat Andien hanya mengangguk.
"Bisa saya mendapatkan bakso Spesialnya?" ucap Andien membuat Alika yang sejak tadi berdiri disamping mereka langsung bergegas menuju ke gerobaknya. Sejak tadi ia sudah menunggu Kenzie dan sudah menyiapkan satu mangkok bakso spesial. Namun, ternyata ibunya juga datang, membuatnya kembali meracik satu mangkok lagi. Sesekali ia melirik ke arah Kenzie dan ibunya yang terlihat berbincang santai di tempat mereka. Untung saja tadi pagi neneknya mendandaninya.
****
Pagi tadi Alika dan nenek bangun lebih awal untuk membuat bakso, kemudian nenek mengajarkan Alika berdandan. Awalnya nenek hanya mengarahkan apa yang harus dipakainya dan bagaimana caranya. Namun, setelah selesai nenek kembali meminta agar Alika mencuci wajahnya. Setelahnya, barulah nenek yang mendadaninya. Nenek tahu jika hari ini Alika akan bertemu dengan target gebetannya, membuat nenek mendandaninya secantik mungkin. Make up tipis natural menjadi pilihan nenek pagi tadi. Semua yang melihat Alika merasa terpesona. Gadis itu memang cantik, wajahnya yang memang dasarnya cantik membuat ia semakin cantik dengan polesan make up tipis natural karya sang nenek.
"Itu teman kamu ya? Cantik juga, boleh tuh dijadikan menantu, daripada Dena. Ibu sebenarnya kurang suka dengannya. Apalagi apa yang kamu ceritakan semalam, kalau dia sampai mabuk-mabukan lagi, jika dasarnya dia memang seperti itu, walau dipaksa berubah nggak akan bisa berubah," ucap Andien pada putranya, membuat Kenzie hanya mengangguk. Ia sendiri sudah merasa jengah dengan kelakuan Dena, ia seorang pria dewasa, dia bisa membedakan mana wanita yang tulus ingin bersamanya, berubah diri demi mencintainya dan mana yang hanya ingin bersenang-senang dengannya.
__ADS_1
Dena yang sering mengulur waktu membuat Kenzie mulai ragu. Akankah wanita itu bisa menjadi ibu dari anak-anaknya kelak atau hanya ingin bersenang-senang sementara dengannya.