
Alika yang kelelahan menunggu balasan dari pesannya, memutuskan untuk tidur dan saat tengah malam, ia terbangun untuk buang air kecil dan baru melihat jika pesannya ternyata sudah mendapat balasa. Namun, hanya dijawab seadanya.
"Sepertinya aku harus membuat strategi yang lebih jitu agar bisa mengambil Kenzie dari Dena." Alika menyimpan kembali ponselnya.
"Kamu pikir aku tak bisa merebutnya darimu, lihat saja Dena, aku akan membuatmu tak lagi meremehkan ku. Lihat saja nanti, aku juga ingin tahu apa yang akan ibu katakan jika Kenzie lebih memilihku dari pada anak tiri kesayangannya itu," ucap Alika dengan yakin jika Kenzie akan memilihnya daripada Dena.
Satu poin yang dipegang oleh Alika, dimana Dena saat ini masih ingin bersenang-senang dengan teman-temannya dan tak menganggap serius perasaan dari Kenzie. Bahkan terakhir kali ia ada teman-temannya mengolok-olok perasaan Kenzie dan menertawakannya.
Alika mengingat jika neneknya punya beberapa alat make up. Ia pun masuk ke kamar neneknya dengan hati-hati agar tak membangunkannya, melihat neneknya yang masih tertidur pulas segera dia mengambil beberapa make up yang tersedia di sana.
Neneknya hanya memakai make up itu saat akan menghadiri sebuah undangan. Walaupun usia neneknya sudah 60 tahun, tapi penampilan neneknya masih segar.
"Oke, baiklah aku akan belajar merias diri mulai dari hari ini. Kita lihat saja aku pasti lebih cantik dari Dena."
Sebelum memakai alat make up itu, terlebih dahulu Alika mencari tutorial untuk memakai alat make up.
"Ternyata, memakai semua ini cukup gampang," ucapnya kemudian ia mulai memoles wajahnya, satu persatu dengan alat make up itu mulai ia gunakan sesui dengan apa yang dijelaskan seorang konten kreator di layar ponselnya.
"Jelek!" ucapnya setelah melihat hasilnya. Alika menghapus make up nya dan kembali memakainya kembali, ia tak putus asa untuk menjadi cantik, ia melakukan semua itu berulang-ulang.
__ADS_1
"Ya ampun. Kenapa susah sekali, Sih. Ternyata memakai make up juga harus butuh keahlian. Jika asal bukannya cantik aku terlihat sangat jelek," gumamnya. Alika tak menyerah ia kembali memakai alat make up hingga ia mendengar suara ribut-ribut dari luar kamarnya, ia pun keluar dan ingin memeriksanya.
"Astaghfirullahaladzim,," teriak nenek saat melihat Alika muncul dari kamarnya.
"Ini Alika, Nak!" Alika menahan sapu yang ada di tangan neneknya.
"Apa yang kamu lakukan dengan wajahmu?" tanya nenek yang melihat make up Alika yang sangat menor. Bibir yang begitu merah merona, pipi yang begitu merah, belum lagi alis yang bak lintah yang dilengketkan di keningnya.
"Kamu itu kayak banci kaleng yang sering ngamen di warung bakso," seru nenek lagi masih dengan nada berteriak. Ia kaget dan geli.
"Ayo sana, cepat! Bersihkan wajahmu." Nenek mendorong Alika untuk kembali kekamarnya, membuat Alika hanya tersenyum dan menggaruk kepala. Ternyata bukan hanya aku yang menganggap jika wajahku persis manusia jadi-jadian yang sering datang ke warung bakso sekedar untuk mengamen.
Setelah mencuci wajahnya, Alika pun menghampiri nenek yang terlihat sudah mulai meracik bahan-bahan baksonya. Nenek selalu membuat bahan bakso saat menjelang subuh dan membuatnya hanya khusus untuk hari ini.
"Kamu itu kenapa? Kenapa memakai make up seperti itu?" tanya nenek sambil tangannya terus membuat adonan bakso dan mulai mencetaknya.
"Alika hanya ingin tampil cantik, Nek. Seperti Dena, dia selalu menjadi pujaan ibu, katanya Dena cantik nggak seperti Alika, memang Dena lebih pintar dari Alika, tapi kan Dena kuliah sedangkan Alika tidak. Nak." Alika mengatakannya dengan sangat pelan.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Jangan di ingat lagi."
__ADS_1
"Alika dulu juga pernah meminta izin untuk kuliah. Tapi, ibu tak mengizinkan. Begitu juga dengan ayah. Ibu bilang tak punya uang, tapi ibu mampu menguliahkan Dena waktu itu di universitas yang terbilang mahal. Begitu juga dengan ayah, mengatakan tak punya uang, tapi mendaftarkan Irsya ke sekolah elit. Ayah bahkan sudah berencana menguliahkan Irsya di Universitas terkenal sekang," lirih Alika membuat nenek hanya menatap cucunya itu dengan hati yang tersayat, ia tak bisa mengungkapkan apa-apa untuk menghibur cucunya, dia hanya bisa mengatakan kata sabar dan ikhlas menghadapi semuanya.
"Apa kamu mau Nenek mengajarimu untuk make up?" tanya nenek membuat Alika yang sejak tadi menunduk mendongak menatap neneknya.
"Apa, Nenek bisa mengajariku?" tanya Alika ragu.
"Sebelum Nenek menjadi pedagang bakso bersama kakekmu, dulu Nenek seorang MUA terkenal di kampung, kamu tenang saja nanti Nenek akan mengajarimu. Tapi, untuk apa kamu tampil cantik? Tampil seperti itu aja kamu sudah cantik," ucap nenek lagi yang memang mengakui kecantikan cucunya.
"Alika ingin merebut hati seorang pria, Nek. Alika mencintai seseorang, tapi orang itu mencintai orang lain," jelas Alika.
"Kamu jangan sekali-kali menjadi prlakor ya," tegas nenek.
"Bukan suami orang, Nak. Tapi, mereka masih pacaran, apa menurut nenek itu salah?" tanya Alika melihat pada Neneknya.
"Nggak sih, dulu kakekmu juga merebut Nenek dari pacar Nenek, selama mereka belum menikah nenek rasa tak masalan dan kamu tak boleh merusak rumah tangga orang." Nasehat nenek.
"Apa nenek merestuikau?" jawabnya menatap dalam neneknya.
"Nggak apa, rebut aja, Nenek dukung. Memangnya pacar siapa yang ingin kamu rebut?" tanya nenek. Selama ini hubungan mereka seakrab itu, semua masalah dan juga keluh kesah Alika selalu menceritakannya kepada neneknya. Ia lebih akrab dengan nenek dari pada ayah dan ibunya, baginya neneknya adalah segalanya.
__ADS_1
"Pacar Dena," jawab Alika menatap neneknya.
Mendengar itu nenek pun ikut mengangguk. "Baiklah Nenek akan membantumu, kamu nggak boleh kalah dari anak ibu tirimu itu. Nenek sebenarnya kesal dengan ibumu bisa-bisanya dia menyayangi anak orang lain daripada anaknya. Jika dia bukan anak Nenek entah apa yang Nenek lakukan padanya," ucap nenek yang kesal pada putrinya sendiri. Namun, begitulah seorang ibu sekesal apapun ia pada anaknya, anak tetaplah anak. Ia tak akan membenci anaknya dan akan terus merasa sayang pada mereka begitupun dengan nenek pada ibu Alika, walau ia sangat kecewa dengan putrinya. Namun, ia masih menyayangi putrinya.