
Di saat nenek dan Andine bercengkrama di ruang tengah, Alika dan juga Kenzie berjalan-jalan di taman.
Andien banyak bertanya mengenai Alika kepada nenek dan nenek dengan senang hati menjelaskan sejujur-jujurnya bagaimana sifat dan karakter dari Alika, bagaimana kehidupan Alika sejak kecil hingga saat ini. Nenek bisa melihat dan ia bisa merasakan jika Andien tertarik dengan cucunya dan ia tak ingin menutup-nutupi sedikitpun, berharap jika wanita yang di depannya itu berniat untuk menjadikan cucunya menantu.
Nenek tak ingin menutupi sedikitpun, agar tak akan ada hal yang bisa mengganggu rumah tangga mereka di kemudian harinya jika harapan nenek menjadi nyata. Khususnya, mengenai keluarga Alika yang terpecah belah.
Di saat Andien dan nenek asyik bercerita, di dalam, saat ini Alika dan Kenzie sedang berjalan-jalan di taman yang indah, suara air mancur memecah keheningan malam, lampu yang terang benderang di sepanjang taman membuat mereka bisa melihat dengan jelas betapa indahnya taman dan bunga-bunga yang ada di sana, terlihat terurus, terawat dan begitu indah.
Alika melihat ke arah langit, melihat begitu banyak bintang yang bertaburan di sana, seolah malam ini menjadi malam romantis yang tak akan terlupakan untuknya. Pemandangan yang indah dan juga ditemani oleh pria yang tampan.
"Apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Alika menghentikan langkahnya, memulai pembicaraan yang sejak tadi mereka hanya saling terdiam. Mendengar pertanyaan itu dan melihat Alika menghentikan langkahnya, Kenzie menoleh ke arah Alika dan juga menghentikan langkahnya. Kenzie memasukkan kedua tangannya di kedua saku celananya.
"Ada apa? katakan?" tanyanya.
"Aku tahu, kamu punya hubungan dengan Dena kan?" tanyanya membuat Kenzie mengangguk.
"Iya, aku memang menjalin hubungan dengan Dena. Tapi, itu dulu." Kenzie menghela nafas saat kembali mendengar nama Dena. "Alika, dari mana kau tahu tentang itu? Apa kau mengenal Dena?" tanya Kenzie.
Alika baru ingin menjawab. Namun, tiba-tiba suara seseorang memanggil namanya, keduanya pun berbalik. Alangkah terkejutnya Alika saat melihat jika ya g memanggilanya itu adalah Dena yang menatapnya tajam dan berjalan cepat ke arahnya.
__ADS_1
"Dena?" ucap Alika dan Kenzie secara bersamaan.
Begitu Dena mendekat, ia tak segan-segan langsung menjambak rambut Alika.
"Kurang ajar kamu, beraninya kamu menggoda kekasihku, apa kamu penyebabnya Kenzie memutuskan hubungan denganku? Dasar berebut kekasih orang!" ucap Dena yang terus menarik rambut Alika. Alika bersusah payah untuk melepasnya. Namun, tetap saja posisinya tak bisa melepaskan cengkraman Dena yang semakin kuat.
"Hentikan, Dena!" bentak Kenzie dengan cukup keras, membuat Dena langsung melepaskan cengkramannya. Belum lagi Kenzie yang mencekal tangan Dena dengan kuat hingga Dena kesakitan dan terpaksa melepaskan tangannya dari rambut Alika.
"Apa ini alasanmu memutuskan hubungan kita? Hah?" tanya Dena berapi-api menatap ke arah Kenzie.
"Alika tak ada hubungannya dengan berakhirnya hubungan kita." Tegas Kenzie.
Saat di rumah tadi, Dewi sangat terkejut saat Dena datang dan menangis mengadu padanya dan mengatakan jika Kenzie memutuskan hubungan mereka. Dena tak menceritakan apa penyebabnya, membuat Dewi langsung mengajak Dena untuk mendatangi kediaman Kenzie. Ia tak mau jika Dena sampai kehilangan kesempatan menjadi istri Kenzie.
Satpam yang sudah mengenal mereka berdua langsung membukakan pintu begitu mereka datang. Dena langsung dikuasai emosinya saat baru turun dari mobil dan melihat Kenzie dan Alika sedang berjalan-jalan ditaman dan terlihat bahagia.
"Alika! Jawab pertanyaan Ibu! Kenapa kamu hanya diam saja, apa yang kamu lakukan di sini? Jangan bilang kamu menggoda kekasih Dena ya!" tuduh ibu pada putrinya sendiri. Alika yang tadinya ingin menjawab langsung tercekat mendengar tuduhan itu, ia hanya berkaca-kaca menatap tajam ibunya.
Rasa sakit di kepalannya akibat tarikan Dena tadi tak seberapa dengan rasa sakit yang dirasakannya karena kata-kata yang baru dilontarkan oleh ibunya.
__ADS_1
"Tidak ada yang menggoda siapapun, aku memutuskan anak Ibu karena kelakuannya yang sudah di luar batas!" ucap Kenzie membela Alika.
Keributan terus terjadi di taman dan itu membuat bibi yang menyaksikan semuanya langsung melaporkan kejadian itu kepada majikannya. Tak lama kemudian nenek dan juga Andien menghampiri mereka.
"Ada apa ini, Bu Dewi?" tanya Andine pada Ibu Dewi.
Alika yang sejak tadi menahan air matanya langsung berlari menghampiri neneknya dan memeluk sang nenek.
Nenek sangat terkejut melihat penampilan Alika yang berantakan, rambutnya sudah acak-acakan dan melihat wajah putrinya yang memerah entah dia menahan tangis atau amarahnya.
"Ibu Andien, apa yang mereka lakukan di sini?" tanyanya. Ibu Dewi yang terkejut melihat ibu kandungnya juga ada di sana, tadinya ia berpikir hanya Alika yang ada, tapi ternyata wanita yang melahirkannya juga ada di sana.
"Aku yang mengundang mereka untuk makan malam," jawab Andine.
"Untuk apa? Mengapa?" tanya ibu Dewi yang terlihat tak terima dengan apa yang baru saja sahabatnya itu katakan. Jika ia mengundang mereka untuk makan malam. Dari mana mereka saling mengenal, pertanyaan itu terus berputar di kepala Ibu Dewi. Ia saja tak perna mengundang ibunya untuk makan semeja dengan keluarganya kerena malu dan takut jika keluarganya tak nyaman dengan kehadiran ibunya yang miskin.
"Itu bukan urusan Anda Ibu Dewi, saya ingin mengundang siapapun saya tidak harus minta izin kepada Anda kan?" kesal Andien. Posisinya saat ini Andien dan Kenzie belum tahu jika Alika adalah putri Ibu Dewi.
Andien yang mendengar cerita nenek tentang ayah dan ibu kandung Alika yang seolah menelantarkan anak kandunganya ikut tak suka dengan keduanya.
__ADS_1