
Sesuai rencana, keesokan harinya Andien, nenek dan Alika mengunjungi kembali kediaman Ayah Alika. Mereka sudah disambut di sana dengan beberapa persiapan. Ayah Alika sudah minta izin ke perusahaannya untuk tak masuk kerja hari ini, beberapa cemilan juga mereka siapkan di ruang tengah, juga mereka sudah menggelar karpet dan beberapa yang dianggap perlu. Keluarga di kampung pun sudah mereka undang untuk datang.
Begitu mereka sampai, semua langsung menyambut ramah niat baik Kenzie. Mereka pun duduk bersama di karpet tebal yang sudah disiapkan oleh ibu tiri dari Alika tersebut, cemilan juga sudah diberikan kepada para tamu dan memulai pembahasan mengenai lamaran Kenzie.
Ibu Andien selaku Ibu Kenzie memulai pembicaraan, "Maaf, Pak. Saya ibunya Kenzie, kami berniat datang ke sini untuk melamar anak Bapak, Alika," ucap Andine memulai pembicaraan mereka.
"Saya terima niat baik Ibu, saya sangat menyambut baik niat baik yang Ibu sampaikan dan sepertinya Alika juga menyetujui lamaran ini. Kami sebagai orang tua hanya mendoakan yang terbaik untuk anak-anak," ucap ayah.
"Jadi bagaimana, Pak. Lamaran kami diterima secara resmi kan?" tanya Andien lagi.
"Saya selaku Bapak kandungnya sangat menerima niat baik ibu dan juga Pak Kenzie dan sebelum saya menerima secara resmi, saya ingin bertanya terlebih dahulu kepala Nenek, karena dialah yang merawatnya," ucap ayah Alika melihat ke arah nenek.
"Insya Allah, Pak. Saya juga menerima Kenzie sebagai calon suami dari Alika, saya percaya dan yakin jika dia pria yang baik dan mampu membahagiakan Alika," ucap nenek.
"Baiklah, Bu. Setelah mendengar ucapan nenek saya pastikan kami semua menerima lamaran dari keluarga Ibu untuk menjadikan Alika sebagai menantu Ibu," ucap Ayah Alika.
"Alhamdulillah," ucap Andine dan juga Kenzie secara bersamaan setelah lamaran itu diterima. Mereka pun mulai membahas tanggal pernikahan, seserahan dan juga yang lainnya. Nenek juga meminta jika acara kedepannya dilakukan di rumah ini dan itu sama sekali tak masalah bagi Ayah Alika.
"Pak! Bagaimana jika pernikahan kita lakukan minggu depan?" ucap Andine membuat Alika terkejut, baginya itu terlalu cepat masih banyak yang harus dipersiapkan. Namun, bapak terlihat menyetujuinya begitupun dengan nenek membuat Alika akhirnya juga setuju. Semua raut bahagia terpancar di semua keluarga, mengingat Alika sebentar lagi akan menikah.
Setelah semuanya selesai, ayah pun memanggil Kenzie untuk mengobrol di luar bersama dengan para petua lainnya. Kenzie pun mendapat banyak nasehat dari mereka. Sementara itu Andine, nenek dan Alika mulai membahas masalah pernak-pernik pernikahan dan ibu Andien selaku pihak dari pria menuruti semua apa yang diminta oleh Nenek dan juga Alika serta ibu tiri Alika. Mereka meminta sesuai tradisi keluarga Alika di kampung itu.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, mereka pun pamit pulang. Nenek juga ikut pulang, tapi tidak dengan Alika.
Sesuai dengan kesepakatan mereka, mulai dari hari ini dan sampai ijab kabul nanti Alika akan tinggal di rumah itu. Yang pertama, Alika tak akan kelelahan jika harus bolak-balik, yang kedua dan yang terpenting, mereka tak mau jika Alika sampai kembali berhadapan dengan Ibu Dewi karena masalah pernikahan itu. Nenek tahu pasti anaknya itu bisa saja berbuat nekat untuk menggagalkan pernikahan mereka. Setidaknya jika tinggal di kampung ayahnya, ada ayah dan adiknya yang akan melindunginya tak seperti jika tinggal bersama dengan nenek
Begitu nenek sampai dirumah, ia sudah ditunggu oleh Dena dan juga Dewi diteras rumah Tatapan tajam langsung diarahkan ke arah nenek sementara Kenzie dan Andine yang tak tahu jika di rumah itu ada Dewi dan juga Dena. Kenzie meninggalkan nenek di warung bakso sesuai permintaan nenek dan nenek menaiki ojek online menuju ke rumahnya.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya nenek berjalan menghampiri rumahnya dan membuka pintu, disusul oleh Dewi dan juga Dena di belakang nenek. Mereka pun masuk ke ruang tengah dan duduk, terlihat jelas jika Dena tak nyaman di dalam ruangan itu.
"Bu, dimana Alika?" tanya Dewi memulai pembicaraan mereka.
"Alika ada di rumah ayahnya," jawab nenek sembari membereskan rumah dan tak menemani Dewi dan juga Dena di ruang tamu. Ia terus bolak-balik menyiapkan bahan-bahan baksonya.
"Aku akan memberi Ibu uang yang banyak dan Ibu juga bisa merenovasi rumah ini dan membuat warung bakso yang lebih besar. Ibu bisa membuat warung yang lebih nyaman dari tempat ibu sekarang, tapi dengan satu syarat,"
"Ibu tak boleh menerima lamaran Kenzie, jangan biarkan mereka menikah," ucap Dewi lagi yang kini sudah ikut berjalan ke dapur bersama dengan ibunya itu disusul oleh Dena yang terlihat dari tadi terus menutup hidungnya.
"Kenapa?" tanya nenek lagi.
"Ya tentu saja karena Kenzie itu adalah milik Dena, aku akan menikahkan Kenzie dengan Dena. Jadi, Ibu jangan berharap banyak jika Alika akan mendapatkan pria kaya dan tampan seperti Kenzie, dia itu tak pantas, Bu,"
"Kamu itu juga terlahir dari rahim Ibu, besar di rumah ini, kamu juga tak ada bedanya dengan Alika. Tapi, kenapa kamu pantas untuk menikah dengan pria kaya, jika kamu bisa menikah dengan pria kaya raya dan memberikan kebahagiaan padamu mengapa Alika tidak! Biarkanlah dia juga menikah dengan pria kaya mengikuti jejakmu," ucap nenek dengan santai.
__ADS_1
"Eh Nenek tua! Bisa nggak sih kamu nurut aja biar hidup kamu itu lebih nyaman, kami akan memberikan uang yang banyak untukmu, nikmati saja bahkan kau bisa hidup tanpa bekerja seperti ini," ucap Dena yang memandang rendah wanita yang sudah melahirkan ibu tirinya itu. Ibu yang sedang merawatnya sedari kecil hingga sebesar sampai sekarang.
Nenek tak menggubris apa yang dikatakan oleh Dena. Ia terus meracik bumbu, membuat Dena kesal dan melempar bumbu itu hingga berceceran di lantai. Nenek langsung menatap tajam pada Dena.
"Apa? Nenek marah? Apa tak bisa Nenek memperhatikanku jika aku sedang berbicara! Aku tak suka dicuekin seperti itu, dasar wanita tua!" kesal Dena melipat tangannya di dada dan menatap jijik nenek Alika sudah terlihat keriput di mana-mana.
Nenek tak banyak menjawab dengan hinaan itu, ia langsung berjalan menuju ke belakang pintu mengambil sapu dan berjalan ke arah mereka Dewi yang tahu apa yang ibunya ingin lakukan langsung menarik Dena ke belakangnya.
"Ibu mau apa?" tanya Dewi melindungi sang anak tiri.
"Dengar! Sekarang Alika sudah ada di rumah ayahnya, seminggu lagi mereka akan menikah. Jika kamu memang punya kekuasaan dan punya kekayaan silahkan gagalkan rencana pernikahan mereka, jika memang kamu bisa hadapi mantan suamimu dan juga calon menantumu. Sekarang pergi dari rumah ini sebelum Ibu memukul kalian dengan gagang ini! Kamu tahu kan, Dewi. Jika Ibu tak pernah main-main," ucap nenek memukul meja yang ada di dekatnya, membuat Dena tersentak. Ia pun melihat ke arah ibunya, membuat ibu tirinya itu mengangguk dan mereka pun segera pergi dari sana.
Nenek menghela nafas dan melihat keduanya pergi. Mereka hanya datang untuk membuat kekacauan, nenek segera mengambil ponselnya untuk menelpon Kenzie, nenek mengatakan apa yang baru saja terjadi.
"Nenek takut jika mereka bisa membahayakan Alika dan menggagalkan rencana pernikahan kalian," ucap nenek bernada khawatir.
"Nenek, tenang saja. Serahkan semua padaku," ucap Kenzie sebelum menutup panggilannya.
Setelah menutup panggilan nenek Kenzie pun menelpon beberapa orang untuk mengawasi kediaman Alika dan tak membiarkan Dena dan ibunya serta jika ada orang-orang yang ingin mencelakai Alika mendekati rumah Ayah Alika.
Selama seminggu, mulai dari sekarang sampai Alika resmi menjadi istrinya, para anak buahnya akan berjaga. Dia akan mengawasi Alika selama 24 jam, bukan hanya satu dua orang yang diminta untuk mengawasi kediaman Alika. Namun, ada beberapa orang dan mereka semua adalah orang-orang yang terlatih.
__ADS_1