
Andine yang mendengar pertanyaan itu langsung memandang Dewi dan Alika secara bergantian, wajah keduanya memang sangat mirip. Ia baru menyadari akan hal itu, selama ini ia seperti pernah melihat Alika. Ternyata ia tak pernah melihat Alika sebelumnya. Namun, kemiripan Alika dan ibu Dewi yang selalu bertemu dengannya yang membuatnya merasa jika ia mengenal Alika dengan kemiripan wajah mereka.
"Ada apa ini, Bu Dewi? Nenek, apa sebenarnya yang terjadi di sini? Kenapa nenek mengatakan jika Alika adalah anak Ibu Dewi?" tanya Andien menatap Ibu Dewi dan nenek secara bergantian, ia ingin memastikan dugaanya benar.
Nenek menatap putrinya, putri yang selama ini telah membuatnya kesal. Tapi, selalu dimaafkannya. Namun, kali ini putrinya itu benar-benar keterlaluan.
"Ayo jawab, Dewi! Siapa kamu dan siapa Alika? Apa hubungan kalian? Nenek juga ingin mendengar kamu menganggap Alika itu putrimu atau orang lain!" bentak nenek yang sudah kehabisan kesabarannya.
"Oh, jadi Ibu yang menelantarkan putrinya yang nenek ceritakan tadi adalah Ibu Dewi?" tanya Andien melihat ke arah nenek membuat nenek hanya mengangguk samar dan masih menatap putrinya dengan tatapan tajamnya. Dewi tak berkutik, ia hanya terdiam dan menatap balik wanita yang melahirkannya dengan tatapan kekesalannya. Jadi mereka sudah sampai membicaralan masalah orang tua Alika. Fakta itu membuat Dewi jika saat ini Posisi Dena sedang di incar oleh Alika.
__ADS_1
"Sudah cukup! Mau Alika itu adalah anak kandung Ibuku atau bukan! Ibuku tetaplah Ibuku! dan perjanjian itu hanya untukku bukan untuk Alika!" ucap Dena memecah ketegangan diantara mereka semua, ucapan Dana membuat mereka melihat ke arah Dena termasuk Alika.
"Kamu benar! Sudah cukup kita akhiri perdebatan ini, sekarang. Dena, aku ingin kamu pergi dari rumah ini. Aku muat denganmu, kamu ingin pergi secara baik-baik atau aku minta satpam untuk mengusirmu! Sudah cukup kamu membuat keributan di rumah ini. Jika diminta memilih, aku lebih baik menikah dengan Alika daripada denganmu," ucap Kenzie menunjuk ke arah wajah Dena. Alika yang mendengar itu menatap pada Kenzie.
Apakah ucapannya itu benar atau hanya sebuah gertakan untuk Dena.
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, air mata yang tadi ditahanya kini mengalir saat melihat tatapan tajam pada ibunya.
"Aku tak pernah menanyakan hal ini, aku selama ini hanya menutupi dan mencoba melupakan pertanyaan yang selama ini ingin ku tanyakan kepada Ibu," ucap Alika menjeda kalimatnya mencoba menarik nafas untuk menetralkan perasaannya yang bergemuruh.
__ADS_1
"Aku ingin dengar dari mulut Ibu, apakah Ibu pernah menganggapku sekali saja sebagai anak Ibu?" tanya Alika dengan nada bergetar.
"Tentu saja," jawab Dewi singkat.
"Apakah sekarang ini Ibu masih menganggapku sebagai seorang putri?" tanya Alika lagi.
"Kamu ini berbicara apa! Kamu itu adalah putriku, mengapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Dewi menatap Alika dengan tatapan kesalnya.
"Ibu lebih menyayangiku atau Dena. Menyayangi aku anak kandung Ibu atau Dena anak tiri Ibu. Selama ini aku selalu merasa tersisihkan, selalu merasa jika Ibu lebih menyayangi Dena daripada aku dan tak pernah menganggapku ada saat Dena ada di dekat Ibu. Sekarang aku ingin tahu dari mulut Ibu sendiri. Apakah apa yang aku pikirkan itu benar atau hanya dugaanku saja, Bu?" tanya Alika masih dengan suara bergetar, ia mencengkeram ujung bajunya mencoba menyalurkan emosi dan rasa sakit sesak dadanya.
__ADS_1
"Jawab, Nak! Ibu juga ingin mendengar apa jawabanmu. Selama ini, Ibu juga meresa sasak melihat sikap dan tindakanmu pada putri kandungmu. Ibu selalu beranggapan jika kamu lebih menyayangi Dena daripada Alika. Ibu juga selalu mencoba berpikir positif jika pikiran Ibu itu tak benar, Ibu juga ingin mendengar dari mulutmu sendiri. Jika kamu dihadapkan pada dua pilihan, kamu memilih siapa? Dena atau Alika?" tanya nenek dengan suara tegasnya dan rahang yang mengerat.