Adakah Cinta Untukku

Adakah Cinta Untukku
Pahlawan Alika


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Alika terus melihat ke arah luar. Ia berusaha untuk menahan isak tangisnya, ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Kenzie.


"Kenzie, apa kamu mendengar apa yang tadi ibumu katakan?" tanya nenek membuat Kenzie melirik ke arah nenek sebentar, kemudian kembali menoleh ke arah jalan raya. Namun, Alika langsung melihat ke arah neneknya.


"Iya, Nek. Aku dengar, aku akan melakukan apa saja yang ibu katakan, termasuk jika memang Ibu ingin aku menikahi Alika. Tapi, tentu saja jika Alika mau menikah denganku dan juga nenek mau menerimaku, merestui ku menjadi cucu menantu Nenek," ucap Kenzie. Alika melihat Kenzie dan senyum terbit di bibir nenek. Sedangkan, Alika juga menarik garis senyumnya.

__ADS_1


"Tentu saja Nenek setuju, Nenek yakin kamu akan membahagiakan Alika dan aku yakin Alika juga pasti Setuju," ucap nenek melihat ke arah Alika, begitupun dengan Kenzie kembali melirik sebentar kepada Alika kemudian kembali mengemudi. "Iya, Kan, Alika?" lanjut nenek.


Alika tak mengatakan apa-apa, ia tetap menatap lurus ke depan.


"Bagaimana Alika, apa kamu mau menikah denganku?" tanya Kenzie, walau mereka baru beberapa kali bertemu. Namun, Kenzie juga yakin jika Alika adalah wanita yang baik dan pantas untuk menjadi istrinya.

__ADS_1


"Kalau masalah Dena dan Ibumu itu urusan kami, kamu hanya mengatakan iya saja. Aku akan segera menikahimu, setelah menikah tak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu lagi termasuk Dena ataupun Ayah dan Ibumu," ucap Kenzie menatap lurus ke depan sambil mencengkeram setir mobilnya. Ia masih mengingat bagaimana cerita nenek tentang kehidupan Alika, ia bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya Alika menghadapi hari-harinya. Itu juga yang membuat Kenzie yakin jika Alika adalah sosok yang baik dan sabar. Selain itu, Kenzie juga akui jika wajah Alika memang cantik, lebih cantik dari Dena dibalik kesederhanaannya. Sejak pertama kali ia bertemu, ia sudah tertarik melihat kecantikan Alika. Namun, waktu itu di hatinya masih ada Dena, berbeda dengan saat ini. Nama Dena di hatinya sudah benar-benar terhapus karena perbuatan Dena sendiri.


Sementara itu di kediaman Dena, ia menghamburkan semua barang-barang yang di kamarnya dan memecahkan cermin meja riasnya. Ia berteriak bagaikan orang kesurupan.


"Pokoknya aku nggak mau, Bu! Kenzie harus tetap menjadi milikku! Aku tak terima dikalahkan oleh Alika, aku lebih berhak menikah dengan Kenzie daripada Alika. Alika itu hanya wanita miskin tak punya apa-apa, dia tak terpelajar, dia itu tak pantas untuk Kenzie," ucapnya meraung-meraung dan melepaskan semua kekesalannya dengan melemparkan barang-barangnya.

__ADS_1


"Dena, tenanglah. Jika kamu bersikap seperti ini Ibu pusing harus melakukan apa, Ibu janji akan berusaha menikahkan kalian, Ibu akan bicara dengan Alika. Alika pasti menurut apa yang Ibu katakan, dia tak boleh menerima lamaran Kenzie, kamu tenang saja," ucap Dewi berusaha untuk menenangkan anak tirinya itu yang kesetanan karena takut jika Kenzie benar akan menikahi Alika.


__ADS_2