
Di saat Dewi menangis di kamarnya, melihat kebahagiaannya kini berubah berbalik arah menjauhinya, tempat lain di sebuah gedung yang mewah, saat ini Alika sedang memakai gaun pengantin yang begitu indah. Sebuah mahkota indah bertahtah di atas kepalanya, bersanding dengan pria yang sangat tampan dengan balutan jas yang begitu rapi.
Saat ini mereka sedang berdiri menyambut para tamu yang memberi selamat atas pernikahan mereka. Alika dan juga Kenzie menjadi raja dan ratu di gedung tempat di digelarnya acara resepsi mereka.
Senyum terus terlihat di bibir Alika begitupun, dengan Kenzie dan begitu juga dengan nenek serta keluarga Alika yang yang lainnya.
Sama halnya dengan saat prosesi ijab kabul tadi, Irsya bertugas sebagai tukang foto untuk memenuhi galeri dari Alika, dia mengambil beberapa foto di saat Alika dan Kenzie terlihat begitu romantis. Hasil foto Irsya tak diragukan lagi, ia memang sangat berbakat dalam hal itu.
Di saat semua keluarga tengah tersenyum bahagia, ada Dena yang merasa sangat kesal. Ia baru saja melihat story yang baru saja di update oleh Alika, pesta pernikahan yang begitu megah, berdampingan dengan mantan kekasihnya. Dena pun lempar ponselnya ke lantai hingga ponsel yang baru saja dibelinya itu hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Dena yang tak terima dengan kebahagiaan Alika, menghampiri ibunya di kamar. Ia langsung membuka pintu kamar ibunya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Ibu! Apa yang Ibu lakukan di sini! Cepat kita gagalkan pernikahan Alika. Aku tak terima Alika menikah dengan Kenzie, dia adalah calon suamiku!" ucap Dena dengan nada membentak, ia bahkan menarik tangan ibunya yang saat itu sedang berbaring di atas tempat tidur. Namun, Dena sangat terkejut saat mendapat tatapan tajam dari Dewi.
Plak,
"Mengapa Ibu menamparku!?" kesal Dena.
"Apa kau yakin tak tahu alasannya mengapa Ibu menamparmu?" tanya Dewi masih berapi-api.
__ADS_1
"Apa Ibu menamparku karena Giska? Apa salahku, Bu! Aku sama sekali tak mengenal Giska, awalnya ayah yang memperkenalkannya padaku. Apakah aku punya hak untuk melarang ayah? Itu kesenangan ayah! Selagi itu tak mengganggu kesenanganku mengapa aku harus melarangnya?" ucap Dena. Namun, sebuah tamparan kembali mendarat di pipinya.
"Iya! Semua itu tak mengganggu kesenanganmu, tapi sangat mengganggu hati Ibu. Selama ini Ibu selalu membelamu! Selalu menjagamu sejak kamu kecil! Bahkan Ibu menelantarkan Alika demi mengurusmu dengan baik agar kamu tak kekurangan kasih sayang seorang Ibu. Namun, apa ini Dena! Kamu sama sekali tak mementingkan perasaan Ibu! Kamu tak berpikir apakah Ibu akan merasa bahagia atau tidak dengan apa yang dilakukan oleh ayahmu! Dena kamu itu bukan anak kecil! Kamu sudah dewasa untuk mengetahui semua ini, jika semua ini adalah salah, apa yang dilakukan ayahmu adalah salah!" ucapnya.
"Jika memang kelakuan ayah itu salah, kenapa Ibu marah padaku! Mengapa Ibu tak melampiaskan semua kekesalan Ibu pada ayah!" ucap Dena masih menentang Dewi membuat Dewi tak tahan dan kembali menampar anak tirinya itu.
"Mengapa kamu tak memberitahu Ibu! Jika kamu memberitahu Ibu sejak awal, wanita sialan itu tak akan hamil, dia tak akan menikah dengan Ayahmu! Ibu tak terima! Ibu tak terima dengan semua ini!" teriak Dewi di depan wajah Dena. Dena pun terdiam, ia sangat takut melihat kemarahan yang diperlihatkan oleh ibu tirinya itu. Sosok ibu tiri yang selama ini dikatakan orang adalah ibu yang kejam itulah yang ia lihat saat ini.
"Ada apa ini?" tanya Ayah Dena yang datang karena mendengarkan pertengkaran mereka. Bukan hanya Ayah Dena yang datang, tapi Giska juga datang bersama dengannya. Mereka berdua masuk menghampiri keduanya.
__ADS_1