
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00. Alika yang mulai lelah menunggu, sudah kembali mengirim pesan, apakah dia jadi datang atau tidak.
Meja sudah disiapkan untuk pria itu, walau sejak tadi ada yang mau duduk di sana, tapi Alika mengatakan jika meja itu sudah dipesan dan menyarankannya duduk di tempat lain.
Sesekali Alika melihat ke arah luar dan sesekali ia juga melihat ke arah ponselnya. Namun, tetap saja tak ada jawaban dari pesannya. membuat Alika merasa kesal dan berhanti berharap jika Pria itu akan datang, ia kembali fokus pada Para pelanggannya.
"Nek, lihatlah. Inilah salah satu sifat yang membuatku kesal, pria itu sudah janji akan datang. Namun, kenapa dia tidak datang ," kesalnya menghampiri nenek yang sedang meracik bakso untuk langganan yang baru memesan dua mangkok bakso.
"Dia itu bukan tukang ojek online, dia itu bukan pedagang bakso seperti kita, dia itu pengusaha besar, jadi kamu harus sabar. Tentu saja waktunya habis untuk bekerja dan melakukan hal-hal penting. Sudah jika dia tak bisa datang kan masih ada hari lain." Nenek memberikan dua mangko bakso pada Alika. "Ini, bawa ini pada pelanggan daripada kamu terus cemberut seperti."
Alika masih dengan raut wajah kesalnya mengambil bakso itu dan membawanya ke arah pelanggan yang sudah menunggu. Walau hatinya kesel, dongkol dan merasa ingin membanting dua mangkok bakso yang dipegangnya. Namun, tetap saja ia menarik garis senyumnya, begitu sampai di depan pelanggan tersebut senyum semanis mungkin di perlihatkannya.
"Silakan dimakan, Mbak. Selamat menikmati," ucapnya dengan ramah sambil menarik garis senyumnya, walau senyum itu terpaksa. Ia harus melakukan itu demi kenyamanan para pelanggan mereka. Selain rasa yang enak, pelayanan juga harus mereka utamakan. Itulah yang membuat warung bakso nenek selalu banyak pelanggan.
Jam sudah menunjukkan pukul 0400 sore. "Alhamdulillah, Alhamdulillah hari ini bakso Nenek sudah habis," seru nenek melihat bakso yang ada di gerobaknya sudah habis.
Nenek memang membuat tak banyak hari ini seperti biasa, mengingat hari ini mereka berencan akan pergi untuk membeli alat make up.
__ADS_1
Satu mangkok sudah disiapkan Alika untuk Kenzie masih ada di gerobak nenek. Namun, sepertinya si pemilik bakso itu tak datang.
"Ya udah, Nek! Alika makan ini saja, daripada mubazir," ucapnya kemudian ia pun duduk di meja yang tadi disiapkan untuk Kenzie dan memakan bakso yang juga disiapkan untuk pria itu. Nenek hanya menggeleng melihat kekesalan cucunya.
Cucunya makan dengan kasar bakso itu sambil terus menggerutu, merasa kesal karena pesannya tak dibalas.
"Nek! Bukankah membuat orang menunggu itu adalah sesuatu hal yang menyebalkan, mengapa dia tak memberi kabar jika tak jadi datang. Itu kan bukan hal yang sulit, hanya mengambil ponsel dan mengetik pesan jika dia tak jadi datang, itu kan hal yang sangat mudah dan tak memerlukan waktu yang banyak dengan begitu aku tak akan menunggu dengan perasaan kesal seperti ini," ucap Alika masih menggerutu. Nenek hanya terus menggeleng dan merapikan barang-barangnya.
"Ini sudah selesai, bawa ini di depan, ada tukang ojek yang menunggu. Tadi Nenek sudah berbicara padanya untuk membawa barang-barang kita pulang lebih dulu dan menyimpannya di teras. Kita sekarang pergi ke pasar," ucap nenek yang juga sudah memesan dua ojek online untuk mereka.
Dua ojek online itu sudah menunggu di depan warung bakso mereka, Alika pun sudah selesai makan dan merapikan sisa makanannya. Ia menyusul nenek yang berjalan lebih dulu, tak lupa ia membawa barang yang tadi sudah disusun nenek untuk di berikan kepada ojek online yang memang khusus membawa barang mereka kembali ke rumah.
Sesampainya di pasar dan akan melangkah masuk, ponselnya berdering. Alika melihat itu adalah pesan dari Kenzie, yang mengatakan jika dia tak bisa datang karena sedang ada di luar kota dan ia baru mendapat jaringan di ponselnya.
"Ya udah nggak apa-apa, aku tunggu besok," balas Alika.
"Baiklah, aku usahakan," jawab Kenzie lagi mengakhiri panggilan mereka.
__ADS_1
"Jika Kenzie tidak mendapat jaringan di ponselnya, lalu tadi Dena mengirim pesan dengan siapa? Dia terlihat bahagia, apa dengan sahabatnya ya?" gumam Alika mengangkat bahunya dan menyusul nenek yang sudah jalan lebih dulu.
Mereka pun membeli keperluan make up yang dibutuhkan. Nenek sengaja membeli make up yang memang aman untuk wajah. Mengingat ini Alika sebelumnya tak pernah memakai make up.
Nenek tahu banyak tentang make up, membuat ia dengan mudah mencari apa yang dibutuhkannya. Jam 05.30, mereka pun pulang.
Alika melihat semua alat make up yang dibeli nenek begitu sampai di rumah, ia terkejut saat melihat begitu banyak alat make up di atas kasurnya.
"Nenek, semua ini untuk dipakai di wajahku?" tanya Alika melihat begitu banyak yang dibeli neneknya.
"Selain make up, kamu juga harus mulai merawat tubuh. Ini bukan untuk di wajah semua, sebagian untuk di badan," ucap nenek kemudian ia pun mulai menjelaskan apa fungsi dari semua itu sembari menyusun dengan rapi di depan meja rias Alika.
"Ayo, Nek. Ajari aku sekarang," ucap Alika bersemangat.
"Ini sudah magrib, salat dulu. Kita mulai tutorial make up nya setelah makan malam saja," ucap nenek kemudian ia pun berdiri dan berlalu keluar dari kamar Alika. Alika melihat begitu banyak alat make up di meja riasnya. Nenek bahkan menyingkirkan tiga benda saktinya dan mengatakan jika itu tak usah dipakai lagi, pakai yang lain yang ada di atas meja tersebut.
Sebagai anak penurut, Alika hanya manggut-manggut dan memutuskan untuk masuk ke kamar mandi, untuk membasuh diri karena seharian di warung bakso kemudian berdesak-desakan di pasar yang becek membuat tubuhnya terasa lengket.
__ADS_1
Satu-satunya yang dibutuhkannya saat ini adalah mandi.