
Alika langsung menyerahkan dua mangkuk bakso ke depan ibu dan anak itu. Tak lupa ia juga mengambil bakso untuk dirinya sendiri dan dengan pedenya dia duduk bersama dengan mereka.
"Kalian sudah kenal lama?" tanya Andien kepada mereka berdua.
"Udah, Tante. Udah seminggu," ucap Alika membuat Kenzie hanya tersenyum sambil menikmati bakso yang tadi dihidangkan oleh Alika. Ternyata benar, baksonya benar-benar enak.
"Ini baksonya kamu buat sendiri atau ambil dari tempat lain?" tanya Andien lagi yang masih mengaduk-ngaduk kuah baksonya memberi campuran kecap, saus dan juga perasan air jeruk. Sementara Kenzie sudah melahap bakso yang ada di depannya dan sudah hampir habis.
"Ini saya dan nenek yang buat sendiri, kami beli daging dan menggilingnya sendiri. Ini usaha sudah lama, Tante. Jadi, semua perlengkapan untuk membuatnya sudah lengkap," jelas Alika dan yang dijelaskan hanya manggut-manggut kemudian mulai mencicipi bakso yang sedap tadi telah diraciknya.
"Wah, rasanya memang benar-benar enak nggak kalah dari restoran mewah, malahan lebih enak lagi iya kan, Ken?" Tanya ibu pada putranya.
__ADS_1
"Iya, Bu. Rasanya sangat enak, Ibu benar rasanya lebih enak dari restoran langganan kita," jawab Kenzie juga mengiyakan apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Terima kasih, Tante. Aku pasti sangat senang begitu juga dengan nenek jika Tante dan Pak Kenzie mau sering mampir ke warung sederhana kami," jawab Alika dengan wajah berbinar dalam hati ingin rasanya ia mengatakan jika mereka harus setiap hari mampir. Namun, mereka belum sedekat Itu. Ia harus memberikan kesan baik terlebih dahulu pada Calon mertuanya.
Nenek yang melihat Alika begitu bahagia, juga ikut bahagia. Seutas doa terucap dari bibirnya, semoga saja cucunya itu mendapat jodoh yang terbaik dan bisa mendapatkan suami dan juga calon mertua yang menyayanginya.
Selama ini nenek selalu berdoa semoga suatu hari nanti cucunya itu mendapatkan mertua yang bisa menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Ia merasa bersalah karena apa yang dilakukan oleh putrinya, ibu Alika yang tak pernah menyayangi anaknya dengan tulus entah apa yang membuat anaknya seperti itu. Ia bahkan lebih menyayangi putri orang lain daripada putrinya sendiri, padahal Alika jelas-jelas lahir dari rahimnya. Itulah sebabnya nenek selalu ada menggantikan putrinya untuk memberi kasih sayang kepada Alika, walau nenek tahu yang Alika butuhkan adalah kasih sayang dari ibunya. Tak jarang nenek melihat Alika menangis sendiri di kamarnya karena perlakuan kedua orang tuanya, khususnya ibunya.
Alika, Kenzie dan Andien terus bercengkrama sambil menghabiskan bakso yang mereka makan. Tak lama kemudian Andien memanggil nenek untuk ikut bergabung bersama dengan mereka
Mendengar panggilan itu nenek pun ikut bergabung bersama dengan mereka. Nenek yang awalnya takut jika Alika akan mendapat perlakuan yang tak baik dari ibu pria yang sedang ingin dijadikannya pasangannya karena status sosial mereka, kini ia merasa yakin untuk membantu Alika merebut pria itu dari Dena. Bukan karena dia adalah kekasih Dena dan ingin mengalahkan anak tiri dari ibu Alika, tapi nenek bisa melihat jika pria itu memanglah pria yang baik, begitu juga dengan ibunya.
__ADS_1
"Ya sudah Alika, Nenek. Aku sudah terlambat, aku harus ke kantor. Terima kasih untuk baksonya hari ini, kapan-kapan jika aku ada waktu aku dan ibu akan kembali mampir," ucap Kenzie berdiri dari duduknya kemudian memberikan uang kepada nenek sebagai bayaran dari bakso yang mereka makan. Namun, nenek menolaknya.
"Enggak usah, ini adalah sambutan kami semoga silaturahmi ini tetap terjaga," ucap nenek menolak. Namun, Kenzie tetap menyodorkan uangnya.
"Nggak, Nek. Ini hak Nenek, kan kami sudah makan barang dagangan Nenek," ucapnya lagi. Namun, wanita tua yang sudah dianggap ibu sekaligus nenek serta sahabat oleh Alika itu tetap tak ingin mengambil uang dari pria yang bernama Kenzie, pria yang menjadi target cucunya itu.
"Ya udah, Nek. Terima kasih, lain kali Nenek juga harus mampir ke rumah kami untuk makan malam, untuk mempererat silaturahmi kita," ucap Andien, Kenzie yang mendengar ucapan ibunya menarik kembali uangnya dan kembali memasukkan ke dalam saku. Sepertinya nenek itu benar-benar ikhlas dan ingin bersilaturahmi dengan mereka dan tak ingin mengambil uangnya.
"Ya sudah, Nek. Sekali lagi terima kasih, baksonya sangat enak," ucap Kenzie sebelum berbalik dan keluar dari warung sederhana milik nenek Alika itu. Alika mengantar mereka hingga keluar dari warungnya dan melambaikan tangan saat Kenzie dan ibunya berjalan menuju ke arah mobil mereka.
"Ya ampun! Kenapa aku merasa aku jatuh cinta padanya ya, Nek. Tujuanku kan hanya ingin membuat Dena sakit hati karena aku merebut pacarnya," gumamnya saat melihat nenek juga ikut berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Semoga kalian berjodoh," ucap nenek yang langsung diaminkan oleh Alika. Kemudian, keduanya pun tertawa kecil dan masuk kembali ke dalam warung bakso untuk melayani para pelanggannya yang ingin tambah atau yang ingin membayar bakso yang telah mereka makan.
Sementara itu Andien terus tersenyum saat mobil mereka sudah melaju pergi meninggalkan warung tersebut, ia semakin yakin jika Alika memang cocok untuk putranya walau baru sekali bertemu.