Adakah Cinta Untukku

Adakah Cinta Untukku
Kebenaran Dena


__ADS_3

Dena terus mengejar Kenzie sampai kekasihnya itu menghampiri mobilnya di parkiran.


"Kenzie, dengarkan dulu penjelasanku, ini tak seperti yang kau bayangkan," ucapnya mencoba menghalangi jalan Kenzie yang sudah akan menuju ke mobilnya.


"Oke, jelaskan! Apa yang kamu lakukan di kamar hotel itu bersama dengan mereka semua? Mengapa kamu duduk di pangkuannya dan mengapa kau membiarkannya mengelus pahamu itu? Ayo jawab! Jika jawaban kamu bisa membuatku yakin, jika kamu tak bersalah dalam hal ini, aku akan memaafkanmu! Ayo Jelaskan!!" tantang Kenzie yang kini sudah bersandar di bagian depan mobilnya, berkacak pinggang dan menatap tajam pada Dena, sementara Andien terus memperhatikan dan mendengar apa yang mereka perdebatkan.


"Aku hanya diajak oleh temanku, aku hanya ikut dengan mereka, aku juga tak tahu jika di kamar hotel itu ada pesta seperti itu," jawabnya kemudian dia pun terdiam.

__ADS_1


"Oke! Alasan itu aku terima dan mengapa kamu duduk di pangkuannya dan membiarkan dia mengelu pahamu? Mengapa kau tak menepisnya? Bahkan aku melihat kau menikmati elusannya! Apa kamu memang sering melakukan hal itu atau bahkan lebih?" ucap Kenzie sedikit membentak kekasihnya itu. Rasa cinta yang ada di hatinya seakan menghilang seketika dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Itu-itu-aku," Dena tergugup, ia tak tahu harus menjawab apa, membuat Kenzie langsung mencengkram dagu wanita yang dicintainya itu.


"Dengar Dena, aku selama ini selalu memaafkanmu karena aku mencintaimu, tapi cintaku tak sebodoh itu. Mulai sekarang hubungan kita berakhir dan jangan pernah menemuiku lagi!" ucap Kenzie menepis kasar wajah Dena, melampiaskan segala kekesalannya. Kemudian, ia kembali berjalan menuju ke arah pintu mobilnya. Namun, Dena kembali menghalanginya.


"Beri aku kesempatan sekali lagi," ucapnya mengibah.

__ADS_1


Tangan Andien terulur mengelus lengan putranya, tak ada perkataan yang diucapkan oleh Andien. Elusan itu mewakili ucapannya untuk meminta putranya itu sabar dan itu sukses membuat Kenzie bisa mengatur emosinya.


"Aku baik-baik saja, Bu," ucapnya. Ia tahu jika ibunya pasti khawatir dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


Kenzie melajukan mobilnya menuju ke kantor. Hari ini ia menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor untuk menghilangkan rasa kesal, emosi, yang bercampur di dadanya. Andien terus berada di kantor menemani putranya itu, ia tak bisa melakukan apapun di kantor, tapi setidaknya kehadirannya bisa membuat putranya itu lebih tenang.


"Kenzie, apa kamu punya nomor telepon Alika?" tanya Andien menghampiri putranya.

__ADS_1


Kenzi yang masih malas berbicara hanya mengambil ponselnya, mencari nomor ponsel Alika kemudian mengirimnya ke kontak ibunya. Ibunya hanya menghela nafas melihat putranya itu. Namun, ia mengerti akan apa yang di rasakan putranya. Itu lebih baik dari pada Ia mengetahui sifat buruk Dena setelah mereka menikah. Ibu kembali hanya mengelus punggung putranya agak sedikit bisa menghilangkan amarahnya.


'Sepertinya mengundang Alika untuk datang makan malam itu akan bisa menghiburnya. Malam ini adalah waktu yang tepat' batin Andien kemudian, ia pun keluar dari ruangan putranya itu sambil segera melakukan panggilan pada Alika dan memintanya dan juga neneknya datang ke rumah mereka untuk makan malam. Tak lupa Andine juga memberikan alamat kepada Alika.


__ADS_2