Adakah Cinta Untukku

Adakah Cinta Untukku
Penyesalan Tak Ada Guna


__ADS_3

Dewi bisa melihat senyum sinis yang diperlihatkan oleh Giska saat berjalan menghampirinya. Senyum mengejek, senyum kemenangan, akan apa yang dirasakannya saat ini.


"Mas! Apa sebenarnya yang kamu inginkan! Mengapa kamu membawa perempuan pelacur mu itu ke dalam kamarku?" kesal Dewi.


"Tutup mulutmu, Dewi! Jangan panggil dia dengan sebutan yang kau katakan tadi!" ucap Ayah Dena. Kata pelacur yang diucapkan oleh Dewi untuk istri mudanya.


"Jika kamu tak ingin aku mengatakan kata-kata itu padanya, kau bahkan melakukan hal yang lebih! Jangan pernah membiarkannya untuk masuk ke kamarku! Masuk ke rumah ini. Silahkan kamu simpan peliharaanmu itu di tempat lain!" ucap Dewi menatap tajam pada Giska yang sejak tadi menyunggingkan senyum mengejeknya.


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu siang tadi, jika kamu tak terima dengan Giska silahkan kamu angkat kaki dari rumah ini! Aku takkan menahanmu. Sekarang Giska sedang mengandung anakku, tentu saja aku akan menjaganya, aku akan bertanggung jawab akan hal itu. Tapi, jika kamu menerima Giska silahkan tetap tinggal di rumah ini dan kamu akan tetap berada dalam posisimu sebagai istri tertua di rumah ini! Uang yang selama ini kau dapatkan akan tetap kau dapatkan!" ucap Ayah Dena kemudian ia pun menarik dan membawa Giska keluar dari kamar itu. Dewi tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya menatap tajam pada kedua orang yang sudah berlalu meninggalkan kamarnya kemudian tatapannya beralih kepada Dena.

__ADS_1


"Keluar kamu dari kamar Ibu! Jika kamu butuh sesuatu, mintalah pada Ibu tirimu itu! Bukankah dia juga Ibumu. Selama ini Ibu sudah banyak melakukan hal untukmu, Ibu rasa detik ini sudah cukup Ibu melakukan semua itu padamu, keluar dari kamar Ibu!" usir Dewi pada Dena.


Satu minggu kini berlalu, Alika langsung tinggal di kediaman Kenzie setelah prosesi acara resepsi selesai dan saat ini Alika akan berkunjung ke rumah ayahnya. Kenzie berencana akan mempekerjakan Ayah Alika di perusahaannya di posisi yang lebih tinggi dari yang sebelumnya di perusahaan lamanya. Alika sangat senang mendengar hal itu.


Sebelum mereka menuju ke kediaman keluarga ayahnya, Alika mampir terlebih dahulu ke warung bakso nenek. Alika sudah meminta nenek untuk berhenti. Namun, nenek masih ingin melakukannya. Namun, kali ini Alika bertekad akan mengajak nenek untuk berhenti dari profesi sebagai tukang bakso, Alika ingin membawa nenek ikut bersamanya di rumah Kenzie dan sebelumnya Alika sudah meminta izin pada Kenzie serta Andien. Mereka sangat senang jika nenek bisa tinggal bersama dengan mereka.


"Pokoknya kalau nenek nggak mau pindah bersama dengan Alika di rumah Kenzie, biar Kenzie saja yang Alika minta untuk pindah ke rumah Nenek," ucap Alika tanpa menoleh ke arah neneknya dan masih membereskan pakaian neneknya dan memasukkannya ke dalam tas berukuran besar.


Kenzie hanya duduk di luar melihat-lihat foto masa kecil Alika, beberapa foto ia juga masukkan ke dalam sebuah tas yang sudah dimintanya dari Alika. Beberapa barang Alika juga sudah mereka masukkan ke dalam tas.

__ADS_1


"Apa semuanya sudah tak ada lagi yang terlupakan, Nek?" tanya Alika saat nenek sudah mulai mengunci pintunya.


"Sudah nggak ada, ini sudah cukup semua. Lagian di sana semua keperluan sudah tersedia kan?" ucapnya membuat Alika pun mengangguk. Nenek menyimpan kunci di tempat biasa mungkin saja suatu saat nanti putrinya akan kembali mencarinya. Tak lupa nenek juga menyimpan sepucuk surat di dalam rumahnya, takut-takut jika Dewi datang dan rumah dalam keadaan kosong.


Mereka pun mulai melajukan mobilnya menuju ke kediaman Ayah Alika. Selepas mereka pergi, Dewi pun menghampiri rumahnya. Tadi ia melihat ibunya itu pergi dari rumah itu, bersama Alika.


Dewi ingin meminta pendapat ibunya tentang masalahnya. Namun, sepertinya ia sudah terlambat. Dewi mengambil kunci yang disimpan oleh ibunya tadi. Ia pun masuk dan mengambil kertas yang ada di sana dan membacanya. Dewi membaca surat itu dengan berlinang air mata.


Nenek, menceritakan betapa sakitnya hati Alika dengan perlakuannya selama ini, begitupun dengan hati nenek yang merasa sangat kecewa dengan apa yang Dewi lakukan selama ini. Dewi terus membaca kata-kata yang dituliskan oleh ibunya, ada sekitar 2 lembar dan semuanya itu adalah ucapan nenek yang selama ini ia tahan demi menjaga perasaan anaknya, atas kesalahan-kesalahan yang pernah anaknya itu lakukan. Terutama pada Alika, Dewi memeluk surat tersebut, ia tak bisa membendung lagi air matanya. Ia menangis di dalam rumah kosong itu, rumah tempat ia tinggal sewaktu kecil hingga ia dewasa. Namun, saat ia mendapatkan rumah yang lebih mewah dan hidup nyaman ia melupakan orang yang selama ini merawatnya di rumah kecil itu, penyesalan demi penyesalan dirasakan olehnya. Namun, semua itu tak ada gunanya. Ia sudah kehangan ibu dan anaknha.

__ADS_1


__ADS_2