
Alika dan neneknya terbengong saat mereka sampai pada alamat yang diberikan oleh ibu Kenzie. Sebuah istana megah berdiri di hadapan mereka, keduanya turun dari taksi. Jika biasanya mereka menggunakan ojek online, kali ini mereka menggunakan taksi untuk menuju ke kediaman keluarga Kenzie, berhubung malam ini Alika memakai gaun, begitupun dengan nenek, ia memakai pakaian terbaiknya, gamis serta hijab panjangnya.
Tak lupa keduanya berdandan secantik mungkin, bukan hanya Alika yang berdandan, tapi nenek juga. Setelah sekian lama akhirnya nenek kembali mengeluarkan bakat MUA nya, membuat mereka tampil semaksimal mungkin. Tujuan malam hari ini bukan hanya untuk makan malam saja. Namun, mereka akan membuat Kenzie jatuh cinta pada Alika.
Alika yang awalnya hanya ingin mendekati Kenzie untuk membuat Dena marah padanya, kini terjebak dengan perasaannya sendiri. Ia bisa merasa jika ada perasaan suka di hatinya pada pria tampan itu.
"Nenek, bagaimana penampilanku?" tanya Alika merapikan kembali pakaiannya sebelum mereka memencet bel. Bukan bel pintu utama. Namun, bel pintu gerbang.
"Iya, udah cantik," ucap nenek kembali merapikan rambut Alika. Kemudian, mereka pun menekan bel, tak lama kemudian Satpam pun datang.
__ADS_1
"Alika dan Neneknya, ya?" tanya Satpam tersebut membuat keduanya pun mengangguk secara bersamaan.
Ya, tadi satpam telah diberitahu oleh Ibu Andien jika mereka akan kedatangan tamu bernama Alika dan neneknya dan meminta satpam untuk langsung mengantar keduanya masuk untuk menemuinya.
"Mari, Bu. Saya antar," ucap Satpam tersebut mempersilahkan keduanya masuk. Begitu pintu gerbang dibuka, mata mereka kembali disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah dan mewah.
"Nek, ini beneran rumah Kenzie? Aku nggak bisa ngebayangin Nek, jika aku jadi Nyonya di rumah ini," bisik Alika pada neneknya.
"Pokoknya, kamu harus jadian sama Kenzie. Jangan mau dikalahkan sama Dena, tunjukkan pada ayah dan ibumu jika kamu bisa hidup bahagia tanpa mereka," ucap nenek menggebu-gebuk membuat Alika pun mengangguk. Mereka terus berbisik-bisik sambil mengikuti Satpam yang membawa mereka untuk menghampiri pintu utama. Satpam terlihat menelpon seseorang dan begitu mereka sampai di depan pintu utama, pintu langsung terbuka. Ternyata Satpam itu menelpon seseorang untuk mengabarkan kedatangan mereka.
__ADS_1
"Selamat malam, Bu. Ayo silahkan masuk, Ibu Andien sudah menunggu," ucap wanita yang menyambut mereka. Usianya tak jauh beda dengan usia nenek Alika dan terlihat sangat sopan.
"Terima kasih, Bu," ucap Alika kemudian, mereka pun mengikuti kemana wanita paruh baya itu membawa mereka. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia itu bekerja di rumah itu, mereka bisa melihat orang lain yang memakai seragam yang sama berlalu-lalang di rumah itu.
Begitu masuk, mereka kembali dimanjakan melihat deretan perabotan rumah yang begitu mewah.
Saat mata Alika memindai seluruh ruangan, matanya berhenti pada sesosok pria tampan yang ada di lantai 2 berjalan menuruni tangga sambil tersenyum padanya. Jantungnya bergemuruh hebat, ia menggenggam tangan neneknya. Nenek yang mengerti saat melihat tatapan Alika dan meresakan genggaman tangan cucurnya, ia tahu jika cucunya itu sedang gugup.
"Bersikap santai, jangan tegang seperti itu," ucap nenek saat Kenzie berjalan menghampiri mereka dengan ramah.
__ADS_1