Adakah Cinta Untukku

Adakah Cinta Untukku
Aku Anaj Ibu Bukan, Sih?


__ADS_3

Matahari sudah mulai terang, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Alika dan nenek mulai menyiapkan barang dagangannya. Mereka akan pergi ke warung bakso yang jaraknya sekitar 1 km dari tempat tinggal mereka, menggunakan ojek online untuk membawa barang-barang mereka.


Setiap pagi Alika memulai harinya dengan semangat untuk membantu nenek, ia tak punya tujuan lain selain membantu neneknya di warung bakso. Ia tak punya cita-cita seperti kebanyakan orang, seperti gadis pada umumnya, penampilannya juga sederhana. Alika tak terlalu mementingkan penampilannya dan hanya fokus membantu neneknya.


Dunianya berputar hanya pada nenek dan bakso dagangannya.


Alika tak punya banyak teman karena hari-harinya banyak dihabiskan di warung bakso neneknya.


Hari ini ia mempunyai semangat baru, tujuan baru dan tekad baru. Alika sangat senang saat neneknya mendukung keinginannya untuk mengambil kekasih Dena.


"Alika, siang nanti kita ke pasar, kita beli alat make up," ucap nenek memasukkan sejumlah uang ke dalam dompetnya.


"Untuk apa, Nek?" tanya Alika sambil mulai menaikkan bakso ke atas motor dan ia juga naik ke atas motor, sementara neneknya menggunakan ojek online yang lainnya.


"Ya, untuk kamu lah."


"Nggak udah, Nak. Nenek benar. Alika udah cantik dari lahir, ga usah di poles lagi."


"Nggak. Kamu harus belajar merias diri, Jika perlu tiap minggu kesalon. Kamu udah harus mengurus diri. Nurut aja apa yang nenek katakan," ucap nenek dan Alika hanya mengangguk dan mereka pun berangkat.

__ADS_1


Coba saja salah satu orang tuanya, baik ibu atau ayahnya mengabulkan permintaannya untuk membeli motor. Mungkin, mereka tak akan serepot ini, dia bisa membonceng neneknya langsung menuju ke warung tanpa memesan ojek, mereka juga bisa bersama-sama dengan berboncengan kemanapun. Alika dan neneknya sudah berencana untuk membeli motor. Namun, terkadang mereka kembali menggunakan uang tabungan mereka untuk modal warung mereka.


Begitulah dagangan mereka, terkadang mereka mendapat uang yang banyak. Namun, terkadang pula mereka mendapatkan uang hanya cukup untuk makan.


Kedua motor mulai melaju menuju ke warung bakso nenek dan saat sampai ternyata ibu dan Dena sudah menunggu disana.


Ibu langsung menghampiri nenek, sedangkan Dena tetap berada di mobil barunya.


Alika langsung masuk, meninggalkan nenek dan juga ibunya dan mulai mengatur untuk menyiapkan warungnya. Ia mulai membuka warung baksonya dan entah apa yang ibunya dan neneknya itu bicarakan. Nenek terlihat tak suka akan pembicaraan mereka, terlihat dari raut wajahnya.


Alika berusaha untuk mendengar pembicaraan mereka, tapi jarak mereka terlalu jauh sehingga ia hanya bisa melihat ekspresi dari keduanya.


Dengan tanpa ragu, Alika memotret bakso yang baru saja disiapkannya di gerobak.


"Selamat bekerja," ucapnya mengirim foto itu dan memberi emoticon tangan yang memberi semangat.


"Pagi-pagi kamu sarapan bakso?" tanya pesan dari kontak yang Kenzie.


"Enggak, aku memang berdagang bakso bersama nenekku," tulis Alika.

__ADS_1


"Daerah mana?" tanyanya.


Alika pun mengirimkan share lokasi pada Kenzie, ada harapan jika sesekali Kenzie akan mampir ke warung baksonya. Ia bisa memperkenalkan Kenzie kepada neneknya. Mungkin bagi wanita lain, ia akan malu mengatakan pekerjaannya jika ia hanyalah seorang pedagang bakso di pinggir jalan. Namun, tidak dengan Alika, ia sangat bangga dengan pekerjaannua. Sederhana dan selalu jujur. Baginya suatu kebanggaan bisa bekerja, terlebih lagi itu adalah Warung neneknya, ia bebas dan tak ada yang akan memarahinya.


"Aku berada dekat dengan lokasi ini, apa aku boleh mampir?" tanya Kenzie membuat Alika hampir saja melompat. Namun, Alika melupakan sesuatu, Dena masih ada di depan sana.


Dengan berat Alika pun menulis pesan, " Nanti siang saja ya, sekarang lagi nggak ada tempat duduk, warung sedang ramai. Jika menunggu Anda pasti terlambat. Bagaimana jika siang saja? Nanti aku akan menyiapkan tempat untuk Anda," tanya Alika dengan wajah cemberut. Jika tak ada Dena mungkin saat ini dia akan langsung membalas ia untuk menyetujui Kenzie mampir ke warung baksonya.


"Baiklah. Aku usahakan." Pesan mereka pun berakhir. Alika melirik Dena yang telihat sedang bermain poselnya dan sembil tersenyum.


"Apa yang sedang berbalas pesan dengannya adalah Kenzie," gumam Alika.


Setelah nenek dan ibunya berbicara sekitar 20 menit, akhirnya ibu kembali menghampiri mobil Dena yang sejak tadi membunyikan klakson mobilnya. Terlihat jelas jika ia tak suka berada di sekitar sana berlama-lama atau ada keperluan lain. Lagi-lagi rasa sakit kembali menghampiri dada Alika, di mana ibu tadi hanya meliriknya, tak menyapanya sedikitpun, ia seperti orang lain di mata ibunya. Alika kadang bertanya-tanya dalam hati, apakah dia memang anak kandung kedua orang yang selama ini ia nggap sebagai ayah dan ibu kandungnya.


Namun, Alika yang sudah sering melihat dan mengalami hal itu, membuat ia hanya bisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya.


"Aku ini anak ibu bukan sih, Nek?" tanya Alika begitu neneknya menghampirnya.


"Kamu anak Nenek."

__ADS_1


__ADS_2