
Ayah Dena begitu terpuruk dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya, bahwa anak yang selama ini dikasihi dan dicintainya, dirawatnya dengan sepenuh hati ternyata bukanlah anak kandungnya dan Ayah Dena baru menyadari jika ia telah berbuat hal yang salah pada putri kandungnya.
Putri yang seharusnya mendapatkan kasih sayangnya itu, justru diperlakukan tak baik olehnya.
Ayah Dena berdiri di ambang pintu kamar Dena. Ia baru menyadari jika sudah beberapa bulan ini Dena tak pulang ke rumah, ia pun menghampiri kasur putrinya, mengelusnya di sana. Ia terguguh menyesali semua perbuatannya dulu. Keluarganya sangat bahagia, ada Dewi yang selalu menjaga dan merawat putrinya dengan kasih sayang, menjadi istri yang sempurna untuknya. Dena juga selalu menjadi anak yang penurut walau terkadang sesekali membuatnya merasa kesal dengan keinginannya yang selalu seenaknya, ia yang sadar semua itu karena didikannya.
Ayah Dena melihat foto Dena dan Dewi yang ada di kamar Dena. Ia pun mengambil foto itu dan mengusapnya.
"Maafkan Ayah, Nak. Maafkan aku Dewi," lirihnya kemudian ia pun beranjak dari duduknya dan keluar menuju dimana anak dan istrinya itu berada. Di mana anak dan istrinya telah berjualan di sana, ia bisa melihat wajah bahagia dari Dena dan juga istrinya.
Apakah mereka sudah bahagia tanpa kehadirannya, lama Ayah Dena berdiri di sana menyesal dan menyesali perbuatannya. Ia pun memutuskan untuk melajukan mobilnya meninggalkan warung bakso tempat anak dan istrinya bekerja itu.
Setiap hari Ayah Dena hanya melihat dari kejauhan kesibukan yang dilakukan anak dan istrinya, hingga suatu ketika Dewi tak sengaja melihat mobil suaminya yang terparkir tak jauh dari tempatnya dan mulau dari hari itu ia setiap hari ia terus memperhatikan mobil itu terus terparkir di sana.
Dewi pun memberanikan diri untuk menghampirinya dan benar saja begitu pintunya terbuka terlihat suaminya ada di sana.
"Dewi, aku ingin bicara, masuklah!" pinta ayah Dena.
Dewi yang juga penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya, melihat penampilannya yang sangat berbeda dari sebelum ia meninggalkannya dulu. Ia pun naik ke mobil itu dan mobil melaju meninggalkan area sekitaran warung bakso itu, tak lupa Dewi mengirim pesan kepada Dena jika ia punya keperluan sebentar.
Mereka sampai di sebuah taman dan duduk berdua di bangku taman, di bawah pohon tempat dimana pertama kali mereka bertemu.
__ADS_1
"Ada apa, katakan?" tanya Dewi tak ingin berbasa-basi.
Ayah Dena menghela nafas dan mulai menceritakan semua kejadian dan kejadian yang dialaminya membuat, Dewi hanya menyunggingkan senyum mendengar nasib suaminya dan Giska, ada rasa senang di hatinya.
"Lalu, mengapa kau datang lagi padaku? Bukankah semua ini sudah keputusanmu, jalani saja hidupmu! Aku juga sudah bahagia menjalani hidupku yang sekarang," ucap Dewi.
"Tak bisakah kita menjalin rumah tangga seperti dulu lagi, Dewi?" pinta Ayah Dena dengan memohon.
"Maaf, Mas. Untuk hal yang satu itu aku tak bisa melakukannya, aku memang memaafkanmu, tapi bukan berarti aku ingin kembali bersatu denganmu," ucao tegas Dewi.
Mereka kemudian terdiam cukup lama, Ayah Dena tak tahu harus berkata apa lagi untuk membujuk sang istri kembali padanya.
"Bagaimana dengan Dena, dia itu putriku," ucap ayahnya lagi berharap dengan mengatasnamakan Dena, Dewi mau kembali kepadanya. Ia bisa melihat jika hubungan putrinya dan Dewi sudah kembali seperti dulu lagi, bahagia layaknya anak dan ibu kandung.
Mendengar itu, Ayah Dena pun mengangguk setuju. Tak lama kemudian d
Dena yang tadi mendapat pesan dari ibunya memintanya untuk datang ke taman itu menghampiri mereka. Ayah Dena langsung berdiri dan ingin memeluk anaknya. Namun, Dena memundurkan langkahnya menatap ayahnya dengan tatapan kebencian.
"Ayah bukan Ayahku lagi! Jangan pernah berani-berani memelukku! Aku benci Ayah!" ucap Dena membuat ayahnya menggeleng.
"Tidak! Kamu adalah anak Ayah. Ayah minta maaf, Ayah tahu Ayah salah," ucap ayah mencoba berusaha meyakinkan putrinya jika ia sudah meminta maaf dengan tulus. Dena menangis, ia sangat menyayangi ayahnya. Namun, perlakuan yang ayahnya berikan selama Giska ada di rumah mereka sangatlah buruk dan membekas dalam hatinya.
__ADS_1
Lama mereka terdiam di taman itu, Dewi menasehati Dena jika walau bagaimanapun ayahnya tetaplah ayah kandungnya. Ia harus belajar dari Alika, Alika mau memaafkan mereka, mengapa dia tak mau memaafkan ayahnya. Mendengar itu, Dena pun luluh. Dena memaafkan ayahnya. Namun, ia tak janji akan menyayangi ayahnya seperti dulu lagi.
Ayah Dena pun mengerti akan amarah yang ditunjukkan oleh anaknya. Biarkanlah waktu yang menyembuhkan semuanya.
Kini mereka hidup dalam kebahagiaan mereka masing-masing.
Alika bahagia dengan anak dan suaminya, kasih sayang dan harta yang berlimpah.
Ayah Alika perlahan-lahan mampu membuka usaha kecil-kecilan, membuat ia yang sudah semakin tua dan mengundurkan diri dari perusahaan Kenzie. Sudah banyak yang ia hasilkan dari perusahaan itu, cukup untuk modal usaha yang bisa mereka lakukan tanpa meninggalkan rumah. Sedangkan, Irsya yang sudah semakin mahir dengan pekerjaannya terus saja mendapat promo naik jabatan di usianya yang masih muda dan ia mampu membuat kedua orang tuanya bangga.
Begitupun Dewi dan juga Dena serta nenek, mereka bahagia di kesederhanaan mereka.
Dena hanya sekali dalam seminggu menjenguk ayahnya, walau bagaimanapun marahnya dia, ayahnya tetaplah ayahnya dan ayah Dena mengerti akan hal itu.
Sementara itu Giska tak tahu kemana lagi, Ayah Dena tak mau tahu lagi hal-hal yang menyangkut mantan istrinya itu.
Tamat.
Makasih😍
Yuk mampir
__ADS_1