
"Aaaaaaa!!!!" Alika melompat kegirangan dan berteriak setelah mematikan panggilannya, membuat nenek yang sedang meracik bakso untuk pelanggannya menjadi terkejut. Nenek memukul punggung Alika berulang-ulang.
"Kamu itu ya, mengagetkan Nenek. Ada apa sampai menjerit seperti itu?" ucap nenek kesal, bukan hanya nenek yang terkejut, tapi beberapa pelanggan yang sedang makan juga terkejut. Bahkan ada yang sampai terbatuk-batuk karena jeritan Alika.
"Maaf, Nek. Alika sangat senang. Tadi Alika baru saja menerima telepon dari Bu Andien, ibunya Kenzie, dia mengajak kita untuk makan malam di rumahnya, malam ini, Nek!" ucapnya dengan berbinar kesenangan di matanya.
"Aaaaaaaa!! Benarkah?" kini giliran nenek yang berteriak membuat pelanggan kembali terkejut mendengar teriakan dari kedua pedagang bakso favorit mereka itu. Mereka semua menoleh ke arah keduanya, kini nenek dan Alika saling berpegangan dan melompat-lompat membuat orang yang sedang menunggu pesanannya hanya melongo melihat kelakuan mereka berdua.
"Maaf, pesanan saya apa sudah jadi?" tanya salah satu pelanggan saat keduanya hanya terus membahas masalah undangan makan malam tersebut.
"Oh, iya iya, maaf. Ya ampun, kok aku jadi lupa ya jika ada yang memesan. Ayo silakan duduk dulu," ucap nenek menepuk jidatnya dan dengan cepat ia meracik bakso yang sudah setengah jadi tadi.
__ADS_1
"Ayo, Bu. Silahkan duduk di sini dulu," ucap Alika yang juga baru menyadari jika ia belum mempersembahkan pelanggannya itu untuk duduk.
"Maaf ya, Bu. Kami mendapat kabar gembira jadi, seperti ini. Ayo silakan semua dilanjutkan makannya," ucap Alika yang melihat semua pelanggannya melihat ke arah dirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore. Namun, bakso yang mereka jual hari ini masih ada sekitar lima mangkok. Sepertinya sudah tak ada lagi pelanggan, membuat nenek memutuskan memberikan 5 mangkok itu kepada lima pengamen yang kebetulan jalan di depan warung mereka.
Sambil menunggu kelima pengamen itu menghabiskan baksonya, nenek dan Alika mulai membereskan dengan cepat warungnya. Mereka sudah tak sabar ingin menghadiri undangan makan malamnya Ibu Andien.
Saat semuanya sudah selesai dan Alika sudah menelpon ojek yang akan mengantar mereka, ia melihat ke arah neneknya.
"Kamu tenang saja, kemarin nenek membeli beberapa pakaian itu. Nenek beli khusus untukmu, untuk menggoda pria tampan itu dan sepertinya malam ini kamu harus memakainya. Malam ini kamu harus tampil cantik," ucap nenek membuat Alika langsung memeluk neneknya.
__ADS_1
"Nenek memang Nenek yang terbaik," ucapnya membuat neneknya hanya mengangguk dan mengusap rambut panjang cucunya itu.
"Ayo cepat, kita bergegas pulang dan bersiap-siap, jangan sampai kita membuat mereka menunggu," ucap nenek membuat Alika pun mengangguk dan keduanya pun naik ke boncengan dua ojek online yang akan mengantar mereka menuju ke kontrakan mereka.
Sementara itu, Kenzie yang tadi pulang cepat masih mengurung diri di kamar. Ada rasa sakit di hatinya saat memutuskan hubungannya dengan Dena. Walau bagaimanapun dia adalah cinta pertamanya, membuat ia sangat sulit menerima kenyataan jika ia baru saja mengakhiri hubungan mereka. Suara ketukan membuyarkan lamunan Kenzie.
"Apa Ibu boleh masuk?" tanya Andien membuat Kenzie hanya mengangguk samar. Ibu pun masuk dan menghampiri Kenzie dan duduk di sampingnya.
"Bersiap-siaplah, malam ini kita akan kedatangan tamu," ucap ibu membuat Kenzie pun menoleh ke arah ibunya.
"Tamu siapa, Bu?" tanyanya.
__ADS_1
"Alika, Ibu mengundang Alika dan neneknya untuk makan malam bersama. Anggap saja kita mengganti bakso gratis yang tadi kita makan," ucap ibu kemudian dia pun berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari pintu. Sebelum menutup pintunya, ibu kembali berucap.
"Berpakain yang rapi, jangan membuat tamu kita kecewa," ucapnya membuat Kenzie pun mengangguk dan Andien bisa melihat mata berbinar dan senyum bahagia di bibir putranya.