
"Sudahlah, Dena. kita pulang!" ucap Dewi yang tak menjawab pertanyaan dari putri dan juga ibunya. Ia langsung menarik tangan putri tirinya itu untuk meninggalkan taman itu. Di mana, di sana tak ada yang membela mereka dan posisi mereka saat ini sangatlah terjepit.
"Ibu, aku tak mau pulang!" ucap Dena saat mereka sudah berjalan meninggalkan taman dan meninggalkan mereka semua.
"Kita cari cara lain, kamu mau dipermalukan di sini. Sekarang kita pergi," ucapnya, Dena pun menurut apa yang dikatakan oleh ibu tirinya itu. Mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah mewah itu, Alika langsung kembali memeluk neneknya, walau ibunya tak menjawab pertanyaan mereka. Namun, keduanya tau dan mengerti apa jawabannya, siapa yang dipilih oleh ibunya.
"Nenek, aku ingin pulang," lirih Alika yang sudah tak bisa menahan lagi isakannya. Ia tak ingin terlihat begitu buruk di mata keluarga Kenzie.
"Iya, Sayang. Tentu saja," ucap nenek dan beralih pada Andine dan juga Kenzie.
__ADS_1
"Terima kasih atas makan malamnya, kami sangat menikmati undangan kalian. Kami permisi dulu," ucap nenek.
"Baik, Nek. Aku akan mengantar kalian," ucap Kenzie, nenek akhirnya hanya mengangguk, mereka belum sempat memesan taksi untuk menjemput mereka.
Kenzie pun berjalan cepat masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilnya, sementara Andien, Alika dan nenek sudah berjalan menuju ke arah mobil Kenzie yang terparkir di garasi mobil, berjajar dengan beberapa mobil mewah lainnya.
"Kamu yang sabar ya," tambah Andien yang merasa sangat kasihan melihat sosok Alika. Alika yang tadinya merupakan sosok yang periang di matanya, kini terlihat begitu rapuh. Ia pasti sangat tersiksa memiliki orang tua. Namun, serasa tak memiliki orang tua di dunia ini. Namun, Andine bisa melihat betapa neneknya itu menyayangi cucunya, mengajarkan Alika menjadi gadis yang baik bahkan lebih baik dari cara Dewi mendidik Dena. Andien semakin yakin jika Alika adalah sosok gadis yang cocok untuk berdampingan dengan Kenzie.
Kenzie pun berlari menghampiri mereka. "Ayo, aku antar," ucapnya membuat Alika dan nenek pun mengikuti Kenzie menuju ke salah satu mobil. Mereka masuk ke dalam mobil dan menurunkan kaca jendelanya. Nenek kembali berpamitan kepada Ibu Andine yang mengantar mereka.
__ADS_1
"Terima kasih sekali lagi Ibu Andien atas undangan makan malamnya. Maaf kehadiran kami malam ini sedikit membawa kekacauan," ucap nenek yang merasa tak enak dengan apa yang dilakukan oleh putrinya.
"Tidak, Nek. Tidak perlu minta maaf, justru aku yang minta maaf karena kurang berhati-hati dan mengizinkan mereka masuk, sehingga membuat Alika mendapat perlakuan kurang baik dari Dena," ucap Andien dan ditanggapi hanya dengan anggukan dan senyuman dari nenek.
"Satu lagi, apa yang aku ucapkan tadi itu aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, jika aku ingin Alika bersama dengan Kenzie," ucap Andien dan langsung disetujui oleh nenek.
"Kita bicarakan di lain kesempatan ya, Bu," ucap nenek membuat Andien pun mengganguk setuju, ia mengerti jika situasinya saat ini tK tepat untuk membahas masalah pernikahan. Sementara Kenzie dan Alika yang mendengar percakapan mereka dan saling menatap. Tatapan mereka terkunci. Namun, langsung dibuyarkan saat nenek memintanya untuk menjalankan mobilnya.
"Ayo jalan, Nak," ucap nenek, Kenzie hanya mengangguk dan menatap lurus ke depan, ia mulai perlahan melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya dan membunyikan klakson pada ibunya sebelum benar-benar melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang.
__ADS_1