
Begitu sampai di rumah sederhana mereka, Alika dan nenek pun turun dan mengucapkan terima kasih kepada Kenzie.
"Apa, Nak Kenzie tak mampir dulu," tawar nenek, Kenzie yang juga turun dari mobilnya menggeleng.
"Tak usah, Nek. Lain kali saja, lagian ini juga sudah malam, Nenek pasti lelah karena masalah tadi, Alika juga pasti butuh istirahat," ucap Kenzie beralih melihat Alika dengan rambutnya yang masih berantakan karena ulah Dena.
Alika mengangguk samar, hari ini dia tak banyak bicara, walau sedang sangat lelah dan mata sembabnua, ia tetap berusaha untuk bersikap ramah dan menarik garis senyum untuk Kenzie, berusaha terlihat Cantik.
"Hati-hati di jalan ya," ucapnya membuat Kenzie pun mengangguk dan berbalik menuju ke mobilnya. Nenek dan Alika terus berdiri di tempatnya sampai mobil Kenzie benar-benar menghilang dari pandangan mereka. Setelahnya mereka saling pandang.
"Kamu yang sabar ya, Nak. Ada Nenek yang akan bersama kamu," ucap nenek mengelus rambut cucunya. Alika kembali mengangguk. Ia sudah terbiasa akan hal itu, tersakiti karena perlakuan ibunya yang pilih kasih
"Ayo, Nek. Kita masuk, setidaknya misi kita berhasil," ucap Alika membuat nenek ikut mengangguk. Kemudian, mereka tertawa kecil walau ada insiden yang mereka alami. Namun, apa yang menjadi tujuan mereka selain makan malam terpenuhi.
__ADS_1
"Benar, apa yang dikatakan Kenzie, urusan Ibu dan Dena itu adalah urusannya. Ia hanya ingin keputusan kamu. Pernyataan tentang keinginan mereka untuk menjadikanmu menantu di rumah mewah itu," ucap nenek sambil membuka pintu rumah.
"Iya. Nak. Alika mau jadi istri Kenzie. Jujur Alika sangat puas melihat kemarahan Dena tadi, Nek."
"Udah, kita tak udah membahas Ibumu dan Dena. Yang terpenting kamu minta izin ayahmu. Beritahu mereka akan niat baik Kenzie dan sebaiknya segala kegiatan dari lamaran sebaiknya di adakan di kediaman ayahmu saja." usul nenek. "Walaupun ayahmu sama saja, setidaknya ia tak menentang pernikahan kama dan Kenzie. Nensi juga ibu tiri yang baik."
"Iya, Nek. Aku akan mengajak Kenzie bertemu ayah dulu."
***
"Apa maksud kamu mendekati Kenzie? Kamu sudah tahu kan jika Kenzie adalah kekasih dari Dena?" tanya ibu dengan emosi sambil menunjuk wajah Alika.
"Nggak, Bu. Ibu salah, aku sama sekali tak tahu jika Kenzie adalah kekasih Dena," bohong Alika.
__ADS_1
"Kamu pikir, Ibu percaya! Kamu pasti sengajakan mencari tahu dan ingin menyakiti hati Dena, kamu iri ya, karena Ibu lebih menyayangi Dena daripada kamu!" bentak Dewi pada putri satu-satunya itu. Saat ini nenek masih berada di dapur, ia tersentak kaget mendengar bentakan yang dikeluarkan oleh Dewi tadi.
Nenek yang mendengar hal itu, bergegas menghampiri kamar Alika dan melihat Dewi menampar Alika sehingga Alika yang tadinya berdiri di depan ibunya kini terjatuh ke atas tempat tidurnya.
"Dewi! Apa-apaan kamu ini! Beraninya kamu menampar Alika." Nenek berjalan masuk dan memeriksa pipi cucunya. "Selama ini Ibu yang membesarkannya, kamu memang Ibu yang melahirkannya, tapi Ibu uang merawatnya. Kamu tak punya hak melakukan apa yang baru saja kamu lakukan!" ucap Nenek merasa kesal saat melihat Alika memegang pipinya yang memerah karena tamparan Dewi. Sejak kecil Alika tinggal bersamanya, tak sekalipun nenek menyakiti Alika seperti apa yang dilakukan oleh Dewi saat ini.
"Aku melakukan ini karena memang Alika pantas mendapatkannya, Bu. Ibu harus memberi tahu kepada Alika jika Kenzie itu bukanlah untuknya. Namun, Kenzie adalah untuk Dena dan aku peringatkan kepada Ibu dan juga Alika! Jangan pernah datang lagi ke rumah Andien, kalian tak pantas datang ke rumah semewah itu!" ucap Dewi seolah berbicara bukan pada ibu kandungnya.
Alika tak terima Neneknya di bentak walaupun itu anak kandunya.
"Cukup, Bu! Dulu aku selalu mendengarkan apa yang Ibu katakan, tapi sekarang tidak! Jika Kenzie dan Ibu Andien menginginkanku untuk berada di rumah itu sebagai menantu aku akan disana, Ibu tak bisa menghentikanku!" ucap Alika kembali berdiri dan menatap tajam pada ibunya. Satu tamparan kembali ingin dilayangkan oleh Dewi kepada Alika. Namun, Alika langsung menangkapnya dan mencengkram tangan ibunya dan menepisnya.
"Ibu jangan coba-coba menamparku, bener apa yang dikatakan Nenek. Ibu hanya Ibu kandungku, tapi bukan Ibu yang merawatku, aku akan lebih tunduk kepada apa yang dikatakan Nenek daripada Ibu. Jadi, sekarang Ibu keluar dari rumah ini sebelum aku membalas apa ya selama ini Ibu lakukan padaku, sebelum aku membalas tamparan yang Ibu berikan padaku!" ucap Alika menunjuk pipinya yang masih memanas karena tamparan ibunya.
__ADS_1
"Dasar anak durhaka! Kamu lahir dari rahimku, aku yang mengandungmu selama 9 bulan dan menyusuimu, berani sekali kau mengatakan hal itu padaku!" bentak Dewi masih dengan wajah kemarahannya.
"Benarkah? Benarkah aku lahir dari rahim Ibu? Benarkah Ibu pernah menyusuiku? Lalu kenapa Ibu lebih menyayangi Dena yang bukan lahir dari rahim Ibu, yang tumbuh bukan dari air ASI Ibu. Mengapa, Bu? Mengapa Ibu lebih menyayangi Dena daripada aku? Aku merasa sakit setiap kali Ibu membanding-bandingkan aku dengan Dena! Jika Dena adalah anak kandung Ibu dari pernikahan kedua itu aku mungkin bisa mengerti. Tapi ...," ucapan Alika terhenti, ia tak bisa meneruskan kata-katanya, suaranya tercetak di tenggorokannya. Ia hanya bisa mengepal kedua tinjunya untuk menyalurkan emosinya. Jika wanita yang di depannya itu bukanlah ibunya, mungkin dia sudah melayangkan kedua tinjunya itu ke wajah orang yang selama ini membuat sayat-sayatan dalam hatinya.