
Kehidupan selalu berputar, terkadang seorang berada di bawah dan tak jarang seseorang berada di sebuah puncak kejayaan.
Terkadang seseorang yang tersakiti dan selalu merasa sedih bisa jadi suatu saat nanti berada dalam kebahagiaan.
Sama halnya dengan yang dirasakan oleh Alika saat ini, dulu dia yang selalu tersakiti atas perlakuan ibunya, selalu merasa tersisihkan oleh orang-orang yang dicintainya. Namun, hari ini dia merasa kehadiran Kenzie dalam hidupnya merupakan suatu kebahagiaan yang teramat sangat bahagia.
Kenzie memberikan begitu banyak kebahagiaan pada Alika, membuat Alika lupa jika dia memiliki seorang ibu yang sering menyakiti hatinya.
3 bulan kini telah berlalu, Alika dinyatakan hamil dan itu merupakan kebahagiaan yang tiada tara. Sementara itu, kehidupan perekonomian keluarga Ayah Alika semakin membaik dengan diberikannya jabatan yang bisa dibilang berkali kali lipat gaji dari sebelumnya di perusahaan anak cabang Ayah Dena. Belum lagi, Irsya juga yang sudah mulai bekerja di perusahaan Kenzie dan mendapat gaji yang tak kalah besarnya dari ayahnya.
Namun, tidak dengan Dewi. Ia menyesali semua perbuatannya selama ini, sekarang ia menggantikan profesi sang ibu untuk berjualan bakso, walau tak seramai saat ibunya yang mengelola warung bakso tersebut. Setidaknya ada pekerjaan yang bisa membuatnya bertahan hidup, ia tak mungkin hanya mengandalkan sisa-sisa uang yang dimilikinya. Hidup sebatang kara di rumah sederhana sang ibu dan berjibaku memulai semuanya dari awal.
__ADS_1
Penyesalan demi penyesalan terus dirasakannya. Namun, Dewi berusaha menerima kenyataan hidupnya. Mungkin ini adalah teguran dan karma karena selama ini telah menyia-nyiakan Alika.
Di saat seperti ini, ia baru menyadari betapa jahatnya ia yang tak pernah menyayangi anak yang lahir dari rahimnya.
Kehidupan Dena juga tak begitu berbuah baik dari Dewi, di mana Dena saat ini terus merasa kesal karena ayahnya lebih mementingkan istri barunya dan juga bayi yang baru saja dilahirkannya.
Dena yang protes dengan perubahan sang ayah, bukannya kembali mendapat perhatian, malah ia mendapat hukuman dari ayahnya dengan memblokir kartu akses yang selama ini dipakainya dan juga membatasi uang sakunya.
Suatu ketika Dena yang tak tahan dengan ulah ibu tirinya itu pun menampar ibu tirinya. Usia mereka tak terpaut jauh, membuat ia bisa melakukan apa saja. Perkelahian terjadi di antara mereka, Dena tak segan-segan menghajar ibu tirinya itu dan akibatnya Dena tak diberikan uang sepeserpun.
Ayahnya meminta Dena untuk bekerja jika ia menginginkan uang. Awalnya Dena tak terima. Namun, hari terus berlalu dan dia benar-benar tak mendapat uang dari ayahnya.
__ADS_1
Saat meminta bukannya mendapatkan uang, Dena malah mendapat marahan dari ayahnya dan terus memintanya untuk bekerja dan lagi-lagi semua itu karena pengaruh Giska yang meminta suaminya untuk mulai mendidik Dena agar bisa bekerja. Namun, tujuan awalnya hanyalah ingin membalas sakit hatinya kepada Dena yang sudah menghajarnya.
Giska ingin menguasai rumah itu, jika perlu ia ingin mengusir Dena dari sana.
Dena yang sudah merasa tak sanggup menghadapi ibu tirinya. Dena mendatangi Dewi. Namun, Dewi juga mengusirnya, tak ingin Dena kembali hadir dalam hidupnya. Bagi Dewi, semua yang dialaminya saat ini karena kehadiran Dena di dalam hidupnya.
"Bu, aku mohon. Aku ingin tinggal sama Ibu," Dena merengek pada Dewi. Namun, tetap saja, hati Dewi sudah sangat sakit dengan apa yang didapatkan dari pengabdiannya selama ini. Tinggal di rumah itu hanya rasa sakit dan juga penghinaan.
"Minggir, Ibu sedang sibuk," ucap Dewi kemudian, ia pun berlalu meninggalkan Dena yang menangis meminta agar ibunya mau menerimanya kembali. Dewi berjalan meninggalkan Dena menuju ke warung baksonya.
Dena tak mau pulang, ia terus menunggu di teras rumah itu sampai Dewi kembali pulang dan terus memohon agar diizinkan untuk tinggal di rumah itu bersama dengannya.
__ADS_1