
Setelah mendapatkan pemecatan, Ayah Alika pun kembali ke kediamannya. Ningsih yang melihat suaminya pulang langsung menghampirinya.
"Ayah tak apa-apa," tanya Ningsih, berpikir jika mungkin suaminya sedang sakit karena ini belum jam pulang kantor. Ayah Alika hanya menggeleng, kemudian langsung masuk ke dalam kamar dengan wajah lesu dan disusul oleh sang istri.
"Ayah kenapa?" tanya Ningsih yang kini ikut duduk di samping Ayah Alika di sudut kasur mereka.
"Di mana Alika?" tanya ayah.
"Alika ada di dapur bersama dengan beberapa ibu-ibu yang lainnya," ucap Ningsih, di mana mereka sudah membuat beberapa cemilan untuk pesta pernikahan nanti, walau Kenzie sudah mengatakan jika semua akan ditanggung olehnya. Namun, tetap saja ia harus membuat beberapa makanan untuk para tetangga yang akan hadir dalam acara pernikahan Alika nanti. Meraka harus memasak lebih banyak makanan agar mereka bisa membagi-baginya saat acara selesai. Seperti itulah tradisi di kampung Ayah Alika.
Mendengar itu, Ayah Alika pun menghelah nafas. Kemudian, ia kembali menceritakan kejadian di kantor tadi, dimana Dewi dan Dena menemuinya. Serta mengancam pemecatan tersebut, serta pemecatan yang dilakukan oleh atasannya. Ayah Alika juga memberikan dua amplop kepada sang istri.
"Ini uang gaji bulan ini dan pesangonnya," ucapnya. Ningsih hanya menatap suaminya dan kemudian menatap kedua amplopnya.
__ADS_1
"Ayah akan coba cari pekerjaan lain," ucap ayah lagi.
Sambil memegang kedua amplop tersebut, "Iya, Ayah. Ibu yakin Ayah akan mendapat pekerjaan yang lebih baik, Ayah sudah mengambil keputusan yang tepat dengan menolak mereka. Jangan biarkan mereka menang dan menginjak-injak Ayah dan juga menyakiti Alika. Alika itu putri Ayah, ini sudah sangat pantas Ayah lakukan untuk menjaga kebahagiaan putri Ayah," ucap Ningsih yang membuat hati ayah jadi lebih tenang. Tadinya, ia berfikir istrinya itu akan marah karena mengambil keputusan itu.
Hari berganti dengan cepat. Kini tiba saatnya proses acara pernikahan kenzie dan Alika.
Awalnya, Kenzie ingin mengadakan ijab kabul di gedung yang sudah disiapkannya sekaligus acara resepsinya. Namun, Ayah Alika meminta untuk acara ijab kabul ini dilakukan secara sederhana di rumah mereka dan setelah ijab kabul, acara resepsi terserah Kenzie mau melakukan dimana dan itu disetujui oleh Kenzie dan juga Andien. Mereka sepakat akan melakukan ijab kabul di kediaman sederhana milik keluarga Ayah Alika dan dihadiri oleh para keluarga dekat saja.
"Kamu cantik sekali, Nak," ucap Nenek memuji kecantikan Alika yang memang terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putih dan juga make up tipis yang sangat pas di wajahnya.
"Kenapa ibu tak datang?" tanya Alika menatap Neneknya. Walau bagaimanapun Dewi adalah ibu kandungnya, sejahat apapun Dewi padanya selama ini, ia ingin ibunya juga ada dalam pesta pernikahannya.
"Tentu saja Ibumu akan datang, aku juga sudah memberitahu kepada Kenzie untuk membiarkan ibumu masuk, jika dia memang berniat datang. Tapi, Nenek tak mengijinkan Dena masuk. Nanti kita lihat saja ibumu memilih masuk dan menghadiri pesta pernikahanmu atau memilih ikut bersama Dena pulang, jika Dena tak diizinkan masuk," ucap nenek. Para penjaga masih berjaga untuk tak membiarkan Dena merusak pesta pernikahan Kenzie dan Alika yang hari ini akan diadakan di kediaman Ayah Alika.
__ADS_1
Di jalan semua rombongan Kenzie sudah melewati penjagaan, Dena juga menyusul di belakang dan penjaga langsung menghentikannya sesuai dengan perintah Kenzie. Mereka tak mengijinkan Dena masuk, tapi membolehkan Dewi. Jika memang ia ingin menghadiri pesta pernikahan Alika.
"Apa maksud kalian?" tanya Ibu Dewi setelah para penjaga menjelaskan jika dia boleh masuk, tapi tidak dengan Dena.
"Alika itu putriku! Aku mau masuk, singkirkan penghalangnya!" ucap Ibu Dewi tegas, ia tak ingin meninggalkan Dena sendiri. Ia ingin masuk, tetapi dengan Dena.
"Aku ini sudah perintah! Jika Ibu ingin menghadiri pesta pernikahan Non Alika, aku akan mengantarmu. Tapi, maaf Dena tak boleh masuk!" ucapnya.
"Ya udah, Bu. Kita pulang saja!" ucap Dena kembali menyalahkan mesin mobilnya. Ia sejak tadi tetap duduk di kursi mobilnya. Dewi yang sejak tadi di luar untuk berbicara dengan pengawal kenzie. Dewi menjadi dilema akan ia ikut pada anak tirinya atau menyaksikan pernikahan anak kandungnya.
"Ibu, ayo!" ucap Dena yang sudah memutar kembali mobilnya mengarah kembali , meninggalkan pesta pernikahan Alika. Mendengar ajakan Dena yang terus memanggilnya, Ibu Dewi pun masuk kembali ke dalam mobil dan ia tak jadi menghadiri pesta pernikahan Alika.
Ya, kali ini Ibu Dewi juga memilih anak tirinya daripada anak kandungnya yang sedang melaksanakan proses ijab kabul.
__ADS_1