
"Selamat malam, Nek. Selamat malam, Alika," ucap Kenzie langsung menghampiri keduanya, tak lupa ia meraih punggung tangan nenek dan menciumnya.
"Alika, malam ini kamu cantik sekali," ucap Kenzie langsung memuji Alika yang memang terlihat sangat cantik malam ini, berbeda saat pertama mereka bertemu.
"Aku memang cantik," ucap Alika dengan pedenya membuat Kenzie yang mendengarnya hanya tersenyum.
"Sudah, mari kita langsung ke meja makan, ibu sudah menunggu kita," ucap Kenzie kemudian mengambil alih menunjukkan jalan ke ruang makan, nenek dan juga Alika mengikuti Kenzie yang langsung membawa mereka ke meja makan.
Begitu sampai di ruang makan, Andine langsung menyambut mereka, ia langsung menghampiri Alika dan memeluknya.
__ADS_1
"Selamat datang Alika, kamu cantik sekali," puji Andien.
"Makasih, Tente," jawabnya denga senyuman manisnya.
"Kamu nggak susah kan mencari alamatnya?" tanya Andien membuat Alika pun menggeleng.
"Nggak, Bu. Mana mungkin kami susah menemukannya rumah sebesar ini, kami sangat mudah kok, menemukannya," ucap Alika jujur.
Rumah Kenzie berada di kawasan rumah elit dan diantara deretan rumah yang ada di kawasan itu, rumah mereka lah yang paling besar. Walau jarak rumah satu dari rumah lainnya sangat jauh. Namun, ia bisa membandingkan jika deretan rumah yang mereka lewati tadi tak ada yang sebesar rumah targetnya itu.
__ADS_1
"Ayo, Nek. Silakan duduk," ucap Andien mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di meja makan, dimana di atas meja makan sudah tersaji makanan dengan berbagai jenis lauk. Alika bahkan sampai bingung ingin mencicipi yang mana terlebih dahulu, maklum mereka jarang makan makanan yang enak. Mereka biasa memakan makanan enak hanya terkadang sebulan sekali saat mereka mendapat keuntungan yang banyak dari hasil penjualan baksonya.
Walau mereka dari kalangan bawah. Namun, mereka tahu bagaimana tata cara makan di meja makan yang sopan. Makan malam pun berlangsung dengan hangat, Andien selalu menanyakan perihal tentang Alika pada nenek menjawab semuanya dengan jujur.
Dimana Alika tinggal bersamanya sejak ia kecil, kedua orang tuanya sudah berpisah dan memiliki keluarga masing-masing. Kenzie ikut mendengar penjelasan nenek dan ia menatap Alika yang terlihat berkaca-kaca saat nenek menjelaskan keluarganya.
"Seperti itulah Alika, Bu. Maaf kalau mungkin di mata Ibu kami ini tidak pantas untuk berkenalan dengan kalian," ucap nenek merendah. Saat pertama kali melihat rumah itu dan masuk ke dalamnya. Hati nenek menciut dan semakin gelisah, akankah ia meneruskan untuk mendukung cucunya itu untuk menyatukan ia dengan pria yang sudah menjadi targetnya. Nenek takut bukannya cucunya akan bahagia, justru cucunya akan merasa lebih tersakiti lagi, orang kaya seperti itu pasti memikirkan bibit, bebet dan bobot seorang gadis sebelum membawanya masuk ke keluarga mereka.
"Nenek, Nenek ini berkata apa, kami tak pernah memandang orang dari status sosial. Asal Nenek tahu saja, saya juga bukan berasal dari keluarga berada, semua ini saya bisa nikmati karena saya menikah dengan ayahnya Kenzie. Dulu, saya tak ada bedanya dengan kalian, tapi ayahnya Kenzie mengangkat derajat saya dan menjadikan saya istrinya. Jadi Nenek jangan pernah berbicara seperti itu lagi, saya pernah berada di posisi kalian," ucap Andine menggenggam tangan keriput nenek.
__ADS_1
Mendengar itu, hati nenek menjadi lebih tenang, tak ada keraguan lagi di hatinya, ia melihat ke arah cucunya yang berkaca-kaca, tetepi ikut tersenyum mendengar ucapan Ibu Kenzie.
Setelah makan malam, mereka pun kembali berbincang di ruang tengah dan kali ini Andien sengaja meminta Kenzie untuk membawa Alika berjalan-jalan ke taman agar mereka bisa lebih akrab.