
Nenek yang sudah merasa kejadian ini benar-benar di luar batas kesabarannya menghadapi putrinya itu, meminta Dewi untuk pergi dari rumahnya. Dewi awalnya menolak dan bersikukuh meminta Alika untuk tak menerima lamaran dari Kenzie, jika Kenzie sampai mengutarakan niatnya untuk melamar dirinya. Ia juga mengancam nenek jika ia tak akan menganggap mereka lagi, jika sampai nenek menerima lamaran dari Kenzie karena Kenzie itu adalah calon dari Dena anak tirinya.
Namun, sapu yang dipegang nenek sukses membuat Dewi takut, ia lebih baik memilih pergi dari sana daripada mendapat pukulan dari sapu yang ada di tangan ibunya. Karena ia tahu ibunya tak akan main-main dengan gagang sapu yang dipegangnya. Dengan menggerutu, Dewi pun pergi dari sana.
"Aku harus mencari cara agar Andien tak menjadikan Alika sebagai menantunya. Dena pasti sangat marah dan sedih jika sampai itu terjadi," ucapnya dan masuk ke dalam mobil. Dewi pun berlalu dari sana. Nenek melihat putrinya itu pergi dengan separuh nafas memburu.
"Ya ampun, dosa apa Nenek sehingga Nenek melahirkan putri yang tak punya perasaan seperti itu," ucap nenek kemudian ia pun berbalik menatap cucunya yang kini kembali menangis sambil memegang pipinya yang memerah.
"Sudah, hari ini kamu di rumah saja, biar Nenek yang berjualan," ucap nenek, tapi Alika menggeleng.
"Jika di rumah, aku akan semakin merasakan sakit dan memikirkan semua yang terjadi tadu, Nek. Alika lebih baik ikut dan menyibukkan diri di warung bersama Nenek," ucap Alika kembali ke luar kamar dan mengambil bakso yang tadi di bawahnya, Alika menghampiri tukang ojek yang sudah menunggunya. Nenek hanya melihat cucunya itu, ia pun ikut keluar dan mengunci pintunya. Setela drama dipagi hari akhirnya mereka pun pergi ke warung bakso seperti biasanya.
Sesampainya di warung bakso, ternyata Andien sudah ada di sana bersama dengan Kenzie. Mereka sengaja menunggu Alika dan nenek.
"Loh, Bu Andien. Anda ada di sini?" sapa nenek ramah membuat Andien pun hanya mengangguk sembari tersenyum menyambut nenek Alika.
"Selamat pagi, Nek," sapa Kenzie.
"Kenapa nggak langsung ke rumah saja, Nak Kenzie," ucap nenek.
__ADS_1
"Tadi kami sudah dari sana, tapi aku melihat mobil Dewi ada di sana. Aku malas untuk berdebat dengannya. Makanya aku lebih memilih menunggu nenek dan Alika di sini," ucap Andien kemudian nenek pun mempersilahkan mereka duduk didalam warung.
Saat ini, belum ada langganan yang datang, Alika menyimpan barang bawaannya dan ikut duduk bergabung bersama dengan mereka.
"Apa sebaiknya kita bicara di rumah saja?" ucap nenek memulai pembicaraan mereka.
"Nggak usah, Nek. Kita di sini saja, lagian kalian harus berjualan 'kan? Kamu nggak mau kedatangan kami merepotkan kalian. Aku hanya ingin menegaskan ucapanku yang semalam, Nak. jika aku ingin meminta Alika menjadi menantu di keluarga kami dan aku harap nenek mau merestui mereka," ucap Andien yang langsung menyatakan apa maksud kedatangannya.
"Kalau kalian berniat baik, tentu saja kami akan menyambut. Nenek juga bisa melihat jika Kenzie ini adalah pria yang baik dan Nenek yakin dia bisa membahagiakan Alika, tapi apa kalian benar-benar tak keberatan dengan kondisi kami? Lihatlah kami hanya berdagang bakso, belum lagi keluarga Alika ...." Nenek tak meneruskan ucapannya, ia melihat cucunya begitupun dengan yang lainnya. Mata Kenzie memicing melihat pipi Alika.
"Alika! Kenapa dengan pipimu?" tanyanya yang bisa melihat jika di pipi Alika memerah bekas tangan.
"Apa itu tamparan dari Ibumu, karena masalah semalam?" tebak Andien membuat nenek menghela nafas dan Alika mengangguk samar.
"Enggak papa lah, Tante. Biarkan saja, aku tak akan mendengar ucapan Ibu" jawaban.
"Emangnya apa yang ibumu katakan? Kenapa sampai tega menampar kamu seperti ini?" tanya Andien.
"Ibu melarangku menerima lamaran kalian, katanya Kenzie hanya untuk Dena," jawab Alika polos dan jujur.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku yang akan menemuinya nanti. Akan kupastikan dia tak akan berani meminta hal itu lagi darimu," ucap Andine yang ikut emosi. Sepertinya sahabatnya itu harus diberi pelajaran agar tak bertindak seenaknya. Alika akan menjadi menantu keluarga mereka dan sekarang nenek dan Alika sudah menerima lamarannya. Ia harus menjaga calon menantunya dari tangan yang ingin menyakitinya, walau itu adalah ibu kandungnya sendiri.
"Ya sudah, Kenzie. Kamu tak usah menemui Dewi untuk meminta izin menikahi Alika, putrinya. Namun, kamu harus meminta izin kepada ayahnya, temuilah ayahnya dan berbicaralah dengan mereka baik-baik akan tujuanmu ini," ucap nenek membuat Kenzie mengangguk setuju.
"Tentu saja, Nek. Aku akan menemuinya, jika perlu bagaimana jika kita menemui ayahmu hari ini, Alika?" tanya Kenzie terhadap Alika, membuat nenek mengangguk setuju usulan Kenzie, saat Alika melihatnya. "Pergilah, Nak. Lebih cepat lebih baik," ucap nenek membuat Alika pun juga setuju.
"Tapi, kan kita harus jualan, Nek. Kita perginya sore aja ya, Pak Kenzie," ucap Alika menatap Kenzie. Kenzie hanya mengangguk menyetujui apapun yang Alika inginkan. Ia busa menunggu sampai sore jila memang itu yang terbaik untuk semua.
"Benar apa yang dikatakan oleh Nenek, lebih cepat lebih baik. Sekarang kalian pergi saja jangan khawatirkan Nenekmu di sini. Biar Ibu yang membantu Nenek berjualan," ucap Andien membuat Alika terkejut begitupun dengan nenek.
"Enggak usah, Bu. Aku bisa sendiri, aku sudah biasa kok menjual sendiri. Masa Ibu mau menjual bakso?" Nenek terkekeh kecil menganggap jika ucapan dari Andien itu hanya sebuah candaan.
"Enggak, Nek. Aku serius, kayaknya seru juga sesekali menjual bakso," ucap Andien.
"Ya sudah, kalian pergi sana," tambahnya.
Alika dan Kenzie pun pamit pada mereka berdua, keduanya langsung menuju ke kediaman ayah Alika. Alika tahu jika ayahnya pasti sedang bekerja. Namun, tak ada salahnya ia berbincang dengan ibu tirinya sambil menunggu ayahnya pulang. Saat di jalan, Alika sudah menelpon ibu tirinya jika mereka akan datang dan ibu tirinya sangat menyambut kedatangan mereka. Apalagi, saat Alika mengatakan niat baik Kenzie padanya.
Sementara itu di warung bakso Andien sudah mulai membantu nenek menata kursi dan juga membantu nenek menata jualannya dan dalam sekejap para pelanggan nenek pun mulai berdatangan.
__ADS_1
Andien mulai melayani mereka, ia sangat menikmati pekerjaan yang baru sekali ini dilakukannya. Andine tak kesulitan untuk berbaur dan melayani para pelanggan, menggantikan Alika. Karena ia memang bukanlah terlahir dari keluarga kaya, jadi pekerjaan seperti itu bukanlah hal yang sulit untuknya.