Adam Vs Eve

Adam Vs Eve
Aku Benci Perempuan


__ADS_3

Namaku Angel Adam Anggara, biasa dipanggil Angy. Belum pernah dengar cowok bernama Angel? Biasakan telingamu mulai dari sekarang.


Hobiku memasak dan aku suka mengurus rumah. Ya aku tahu, mungkin kegiatanku terdengar ajaib untuk cowok SMA sepertiku. Tapi aku suka mengurus rumah. Keberatan?


Ayahku sudah meninggal, dan ibuku wanita karir yang sibuk mengurus bisnis wignya yang nggak bakal laku. Ku bilang begitu karena memang dia nggak pernah betah dengan satu dari semua bisnis yang sudah pernah dijalaninya.


Aku anak terakhir dari tiga bersaudara. Kedua kakakku perempuan dan mereka menyebalkan. Kak Vira kakak tertua, setiap hari kerjanya hanya pacaran. Matanya nggak bisa lepas dari layar ponselnya.


Sementara kak Sara selalu berusaha tampil modis di mall untuk menarik perhatian lawan jenis. Aku nggak pernah melihat wajahnya tanpa riasan menor.


Percuma bicara panjang lebar mengenai mereka. Nggak ada hal positif yang bisa didapatkan.


Karena keadaan rumah yang lebih sering ditinggal oleh 'pengurus rumah sesungguhnya' (baca: wanita) lah yang membuatku terbiasa mengurus rumah seorang diri.


Satu-satunya hiburan untukku yang sebenarnya juga bukan hiburan ialah tetangga dan teman mainku sejak kecil, Eli.


Dia tinggal tepat di sebelah rumahku, dan kita sudah bersahabat sejak sebelum lahir. Maksudnya, ibuku dan ibunya adalah sahabat karib sejak mereka masih sekolah. Tapi sayangnya itu nggak terjadi pada kami. Daripada sahabat karib, kita lebih tepat disebut sebagai musuh bebuyutan.


Ku akui, dia cantik. Rambutnya panjang terawat, kulitnya putih merona, tapi itu semua kalau kau hanya melihatnya sekilas.


Setelah mengenalnya, percaya saja, dia itu lebih menyeramkan daripada pegulat kelas dunia. Kalau bicara, volume suaranya melebihi sorakan penonton saat pertandingan sepak bola; dan kalau marah lebih dahsyat daripada gempa bumi 7 skala richter.


Kenapa dari tadi aku menghina mereka? Tentu saja, karena aku benci perempuan. Menurutku semua spesies hawa di muka bumi ini sama saja. Suka habisin duit, dandan menor, sok cantik, sok perhatian, manja, cengeng, nggak bisa mikir, sukanya gosip, dll.


Memangnya mereka pikir mereka ratu? Yah memang sih ratu Antoinette itu contoh terbaik untuk mendeskripsikan mereka; ratu Perancis yang sukanya menghamburkan uang rakyat demi kecantikannya sendiri. Cerita Celestial mengenai selir-selir raja di masa lalu juga benar-benar mencerminkan watak asli mereka. Saling membunuh demi mendapatkan perhatian cowok. Menjijikan!


"Mengaku dosa lagi ya?"


Dia Emil, teman kelasku. "Bisa dibilang begitu" Jawabku.


Dia tahu aku benci perempuan.


"Tuhan, ampuni dosa temanku ini yang sudah menumpuk karena tidak bisa menghilangkan dendamnya pada cewek-cewek tak berdosa..."


"Bukan aku, tapı para perempuan lebai itu yang perlu bertobat!"


"Oh" Jawabnya terlalu singkat dengan wajah datar seperti layar televisi.


Aku baru mengenalnya saat MOS di SMA swasta ini. Kami sekelas.


Paling nggak dia beda dari cowok-cowok di kelas yang kerjanya hanya menggoda perempuan. Emil mirip denganku, dia juga kurang menyukai kehadiran lawan jenis.


Ortunya pisah rumah dan dia ngekos dekat sekolah. Aku nggak tahu pasti apa yang membuatnya trauma dengan perempuan, tapi yang ku tahu dia paling nggak suka membicarakan ibunya. Sepertinya suatu hari harus ku tanyakan padanya.


Satu hal lagi, dia terkadang terlalu pendiam! Tapi mungkin karena itu, aku yang gaul dan suka bicara (kalo nggak mau dibilang cerewet) bisa cocok dengannya.


"Kamu itu benci cewek, tapi sepertinya tahu semua seluk beluk, kebiasaan dan tingkah laku mereka ya."


"Pastinya! Kalau nggak tahu, mana mungkin aku bisa membenci mereka tanpa alasan!" Kataku sambil nyengir puas dengan kalimatku sendiri.


"Serem."


"Apanya?"


"Kamu."


"Lalu?"


"Lupakan. Ayo balik kelas! Sepertinya sudah bel tuh"


Melihat murid-murid berlarian memasuki kelas, aku dan Emil pun menuju kelas kami.


...****************...


Setelah melewati proses belajar yang panjang dan melelahkan, akhırnya sekolah berakhir.


Aku benci sekolah. Lebih tepatnya aku benci dengan murid-muridnya. Ya benar, aku benci dengan murid-murid perempuannya. Dari dulu sebenarnya aku ingin masuk sekolah khusus putra, tapi ibu melarangku. Aku tahu pasti apa alasannya.


Walau begitu aku termasuk murid yang rajin dan nggak pernah absen di kelas. Aku suka membaca, belajar, dan pelajaran yang paling kusukai adalah Fisika. Tapi pelajaran KTK juga nggak kalah menarik. Ngomong-ngomong, untuk apa aku menceritakan ini?


"Angy, kamu belum pulang?" Tumben Emil menghampiriku sebelum pulang sekolah.


"Lagi males pulang, rumah kosong lagi." Tapi ada kakak juga sama aja sih, bikin BT.


"Mau main ke tempatku?"


"Boleh nih? Mau dong!"


Sebenarnya aku tergolong anak yang jarang keluyuran dan langsung pulang ke rumah. Karena kedua kakakku kadang kuliah sampai sore, dan ibuku selalu pulang malam, aku sering di rumah sendirian.


Kalau ada cucian aku cuci, kalau debu menumpuk aku ngepel, dan hampir setiap hari aku masak. Kebetulan hari ini ada sisa makanan kemarin, jadi aku nggak perlu masak. Sayang sih, nggak bisa masak di rumah.


Benar juga!


"Di kosmu ada makanan? Mau aku masakin? Kau suka apa Mil??" Entah kenapa ini sudah jadi penyakit, aku suka sekali dengan yang namanya masak. Dan aku tidak malu.


"Sebenarnya aku langganan catering sih. Boleh juga kalau kau mau masak. Tapi aku harus cek kulkas dulu"


"Nggak masalah, aku bisa mengolah masakan catering jadı lebih enak! Karena biasanya dibuat terlalu terburu-buru, jadi kadang ada bumbu yang kurang kan?"


"Mungkin, ayo jadi ikut gak?"

__ADS_1


"Ayo!" Aku segera membereskan buku-bukuku dan mulai berjalan keluar kelas bersama Emil.


Rasanya hidupku yang jauh dari perempuan itu sangat menyenangkan. Aku bisa kok hidup tanpa mereka! Aku bisa masak dan bisa menjahit kancing bajuku sendiri! Untuk apa ada mereka? Hanya bikin susah. Paling juga aku dijadikan ojek antar jemput dan ATM berjalan, sorry aja.


Sayangnya begitu keluar dari kelas dengan pikiran-pikiran yang menyenangkan, tiba-tiba...


"ANGY!!"


Si 'monyet betina' datang.


"Angyyy, tunggu aku!!"


Monyet itu menghampiriku dengan senyuman jelek yang sengaja dimanis-maniskannya. Itu tandanya dia menginginkan sesuatu dariku.


Melihatnya menghampiriku, dengan perasaan takut aku memandang Emil. Dari raut wajahnya yang dari tadi memandang monyet itu dengan perasaan heran, aku sudah tahu apa yang bakal dia tanyakan.


"Pacarmu?"


"Bukan!"


Eli sialan!! Kenapa dia harus menghampiriku sih?! Aku sudah bilang di sekolah kita harus jaga jarak dan sebisa mungkin jangan berhubungan langsung! Aku sudah capek selalu menjadi tersangka utama sebagai pacarnya!


"Dia bukan siapa-siapa, aku nggak kenal. Ayo kita pergi!" Aku mendorong Emil ke arah berlawanan, menjauhi nenek sihir itu.


"Angy kenapa sih," dia menarik tas selempangku, "Aku kan hanya mau minta diantarin pulang. Rumah kita searah kan?"


Jadi sopirnya? Lagi? Yang benar saja! Lagian aku mau ke tempat Emil.


"Maaf anda salah orang." Kataku ketus.


"Ihh, aku bilang tante lo!!"


"Silahkan."


"Aku sungguhan lho!" Nenek sihir itu mengambil ponsel lipatnya dan mulai menekan tombolnya.


"Eli sini ponselmu!" Aku kemudian berusaha meraih ponsel pink noraknya itu, "buat apa sih libatin ortu? Kayak anak kecil aja."


"Abisnya, kamu kalo nggak digituin nggak mau dengerin aku sih..!" Katanya sebal. Wajahnya membulat.


Kalau lagi kesel, dia sering meniup pipinya. Sebenarnya sih imut. Tapi mengingat siapa yang melakukannya, pikiran itu terkubur dalam-dalam.


"Kenapa nggak minta dijemput kakakmu aja sih? Kuliahnya lagi libur kan?"


"Coba tanya kakakmu! Pasti mereka lagi sibuk pacaran! Aku telfon dari tadi nggak ada yang angkat!" Kakaknya, kak Ray, pacaran dengan kakak pertamaku, kak Vira.


"Sorry, hari ini aku belum mau pulang. Naik angkot aja, bisa kan?"


"Bukan urusanmu. Ayo Emil!"


Aku mulai melangkah menjauh. Kasihan Emil. Dari tadi dia hanya menontonku bertarung dengan 'keledai'.


"Angy tega ya, membiarkan seorang gadis lemah sendirian di jalanan. Kalo sampai terjadi sesuatu denganku, tanggung jawab ya!"


Bodo amat.


"Ehm, sebenarnya gak masalah kok kalau dia mau ikut kita." Kata-kata Emil menghentikan langkahku.


Apa maksudnya ngomong kayak gitu?? Dia sudah gila ya?! "Ngapain ngajak seorang perempuan ke kos-kosan cowok??" Aku bertanya heran menoleh padanya.


"Sebenarnya sih aku bukan ngekos, tapi kontrak rumah, jadi gak masalah kan?"


"Ngontrak? Ngontrak rumah sendiri? Tinggal sendirian gitu?"


"Yup, rumahku di luar kota, jadi aku dikontrakkan rumah oleh ayahku."


"Baru tahu aku. Tapi sebaiknya jangan ajak dia! Rumahmu bisa hancur!"


"Ayo Angy, antar aku pulang ya! Cuma sebentar aja kan, abis itu kamu bisa ke temanmu lagi? Please?"


Aku nggak suka kalo dia merengek-rengek seperti itu. Sok imut. Memangnya mempan pake cara menjijikkan seperti itu?!


"Kau pake motorku aja, nih kuncinya!" Aku meraih kunci motor dari dalam tasku.


"Kamu kan tahu aku nggak boleh naik motor!"


Benar juga, aku lupa janjiku pada maminya. Itulah alasan utama kenapa aku nggak bakal diperbolehkan untuk sekolah di sekolah khusus putra, untuk mengurusnya! Kalau begini sih mau nggak mau aku harus mengantarnya.


Dengan terpaksa.


Sangat terpaksa...


"Ayo pulang."


"Horee, asiik!" Mendengarnya senang atas kekalahanku, rasanya ingin sekali kulempar dia ke laut.


"Sorry Mil, aku harus antar tuan putri pulang dulu." Kataku kecewa. Kupikir hari ini bisa santai bersama Emil, tanpa adanya gangguan dari 'monster betina'.


"Gak masalah."


"Besok aku janji deh main ke rumahmu!"

__ADS_1


"Oke. Sampai besok!"


Aku yakin yakin Emil sama kecewanya denganku. Dasar perempuan sialan!


...****************...


Saat perjalanan pulang dengan mengendarai motor matic warna kuning stabilo kesayanganku, tiba-tiba monyet itu mencubit lenganku.


"Aduh! Apa lagi sekarang?!"


"Aku lupa! Aku harus ke rumah Tasha! Aku mau pinjamin bukuku padanya yang tadi lupa aku kasih!"


"Dia pinjam PRmu lagi? Kamu itu bodoh ya? Masa mau sih jadi asistennya dengan membiarkannya menyalin PRmu?"


"Jangan sok tahu deh! Dia cuma pinjam buku catatan kok! Lagi pula aku nggak pernah pinjamin PRku!"


"Siapa yang sok tahu? Aku kan hanya tanya!"


Ku belokkan motorku di tikungan menuju rumah temannya itu. Aku dulu pernah kesana sekali mengantarnya, jadi aku tahu jalannya. Nggak jauh dari sekolah sih, tapi kalau kayak gini aku benar-benar terlihat seperti sopirnya.


Setibanya disana, 'nenek sihir itu' turun dan mengambil buku catatan dari tasnya. Kemudian memberikan tas noraknya itu padaku.


"Bentar ya, jagain tasku!"


"lya tuan putri, jangan lama-lama" kataku menahan amarah.


"Nggak lama kok!" Dia bergegas menuju pintu rumah temannya dan memencet bel.


Nggak lama kemudian temannya keluar dan dia malah masuk rumah?! Memangnya buku catatannya nggak bisa diserahkan di depan pintu?!


Aku menunggunya di luar, di atas motorku. Lama sekali nenek sihir itu nggak keluar.


Aku merasa seperti orang bodoh; duduk bengong di atas motor, masih mengenakan helm dan memegang tas ala cewek yang berwarna pink butut dengan banyak rumbai-rumbai dan hiasan boneka-boneka binatang bulat berwajah seperti minta dijotosin. Benar-benar bikin BT!


Ini udah hampir sejam!!


Saat hendak menyusulnya, tiba-tiba dia keluar bersama teman-teman ceweknya. Mereka masih bergosip ria di depan pintu rumah sambil kadang-kadang melihat ke arahku.


Kekehannya yang terdengar seperti kekehan nenek sihir mengganggu pendengaranku. Rasanya ingin ku tinggal saja dirinya!


"Angy, mampir bentar yuk!" Mendengar itu aku langsung menyalakan mesin motor dan mengegasnya keras-keras, "maaf ya kayaknya dia buru-buru! Sampai besok ya!"


"Iya li, nggak apa-apa, sampai besok!" Sepertinya mereka saling berpamitan.


Saat nenek sihir itu mendekatiku, aku kemudian melemparkan tasnya, dan dia mulai mengomel.


"Kenapa sih kok nggak mau turun? Temanku mau kenalan sama kamu tau!"


"Tugasku hanya mengantarmu, bukan kenalan dengan temanmu. Apa kamu nggak tahu artinya 'mengantar'?"


"Apaan sih? Tugas apaan?? Jangan sok penting deh!"


"Kamu mau pulang atau nggak? Buruan naik!"


"Sabar dong, orang lagi pake helm."


"Buruan pake bisa?"


"Sudah ni bawel!"


"Ya sudah, buruan naik nona sok pintar!" Aku mulai mengegas motorku begitu dia naik.


"Jangan panggil aku nona sok pintar! Dasar tuan sok ganteng! Ada yang mau kenalan aja jadi belagu gitu."


"Aku memang ganteng; dan aku nggak peduli ada yang mau kenalan kek, mau peluk kek, mau cium kek, mau minta tanda tangan sekalipun aku nggak tertarik dan nggak akan mau melakukannya!"


"Sombong banget sih, aku peluk ya."


"Cari mati?!! Lepasin bodoh!"


"Angy takut cewek, Angy norak, Angy jelek!"


"Hentikan nyanyian konyolmu itu! Aku ngebut lo!!"


"Ngebut aja, memangnya aku takut?! Kalau kamu ngebut aku peluk erat-erat!"


"Kalau kamu peluk, aku nggak mau antar jemput kamu lagi! Aku nggak mau berurusan denganmu lagi!"


"Apa?? Nggak kedengaran!"


"Jangan pura-pura sok tuli! Lepasin bodoh!"


"Apaa??? Bodoh apa??"


"Terserah!" Rasanya ingin sekali aku ngebut. Tapi mengutamakan keselamatan, aku mengurungkan niatku itu.


Dia benar-benar membuatku TBC. Kenapa aku bisa punya tetangga gangguan jiwa seperti dia?!


Sebelum aku mengakhiri bab menyebalkan ini, aku ingin mengatakan sesuatu: jangan pernah berpikir dia menyukaiku, apalagi aku yang menyukainya! Karena itu nggak akan pernah terjadi! Aku benci perempuan. Nggak ada yang bisa mengubah pendirianku!


__ADS_1


__ADS_2