Adam Vs Eve

Adam Vs Eve
Ibu


__ADS_3

Sudah lewat beberapa hari sejak motorku diperbaiki di bengkel.


Aku nggak nyangka cewek moge itu usianya di atasku. Dia ternyata udah tamat SMA!


"Gy-gy! Antarin kakakmu yang cantik ini ke mall dong!"


Kak Sara masuk kamarku. Sudah biasa dia selalu masuk seenaknya tanpa tahu tata krama mengetuk pintu.


"Ke mall aja terus, abisin duit!"


"Anak kecil nggak usah banyak ngomong!"


"Tante tua nggak usah banyak nuntut! Sana pergi sendiri!"


"Apaan sih orang minta baik-baik!!" Kakak nggak tahu aturan itu sekarang malah duduk di atas tempat tidurku, menodainya dengan hawa wanitanya. "Kamu lagi libur kan? Jadi berguna dikit lah!"


"Hah? Berguna dikit?! Yang masak, cuci baju, ngepel rumah siapa?!"


Dia terdiam.


"Adikku yang tampan sejagad raya, tolong kasihani kakakmu dan antarin ke mall ya..."


"Nggak mempan rayuan gombal seperti itu!"


Aku lanjut mengerjakan PR ku, mengacuhkan kakakku yang sekarang berdiri di belakangku.


"Nanti kakak pijat full cours deh!" Dia mulai memijat-mijat pundakku.


"Nggak perlu!"


"Kamu mau apa dong?"


"Keluar dari kamarku!"


Belum sempat kakak membalas perkataan ku, ibu masuk.


"Angy, antar ibu belanja ya!"


"Oke!"


"Apaan sih, kenapa ibu minta langsung setuju?!"


"Urusan ibu lebih penting dari urusan kakak!"


"Kamu bisa anterin Sara dulu baru ibu." kata ibu sekrang membela kakak.


"Ngapain, dia kan bisa pergi sendiri!"


"Lebih hemat diantar kamu kan daripada bayar gojek!" Kak Sara masih bersikeras minta diantarin.


"Kalau mau hemat nggak usah pergi sekalian!"


"Angy! Biar bagaimanapun dia kakakmu! Kau harus menghormatinya!"


"Hormati apaan? Apa yang udah dia sumbang untuk rumah ini?! Dandan 2 jam sehari? HP 24 jam nonstop? Kontribusimu apa kak?" Aku jadi kesal karena ibu selalu aja membela kakak.


"Selama ini udah seperti itu, tapi kenapa malah marah-marah sekarang sih." Kak Sara masih kesal tapi suaranya menciut. Dia akhirnya menyerah dan keluar dari kamar. Aku tahu dia pasti paham letak kesalahannya, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.


"Kamu lagi ada masalah nak?" Ibu membelai rambutku. Sudah lama sekali dia nggak melakukan ini.


"Jadi pergi belanja nggak?" tanyaku berdiri menghindari belaiannya.


Aku sering belanja dengan ibu. Seringnya ke pasar untuk jualannya. Karena di rumah tugasku masak, aku ikut belanja bahan makanan. Ibu memang bukan tipe ibu rumah tangga. Karena ibu yang cari uang jadi aku mau mengerti keadaannya.


"Jangan terlalu galak sama kakakmu." nasehatnya.

__ADS_1


"Kalau ibu nggak bisa tegas, siapa yang akan ambil posisi itu?"


"Kamu nggak usah berperan menggantikan ayahmu. Jadilah dirimu."


Keadaanlah yang udah membentuk diriku jadi seperti sekarang ini. Tapi kenapa ibu nggak bisa ngertiin sih?


"Bahkan kamu jadi lebih dari ayahmu. Ibu bangga padamu nak. Terima kasih sudah selalu mengurus rumah" Ibu tersenyum.


Pujiannya itu sedikit meredam amarahku.


Sebenci apapun aku pada cewek, aku nggak bisa benci ibuku. Walau kita udah jarang berinteraksi karena kesibukan masing-masing, tapi setiap kali ibu bicara, curahan cinta kasihnya selalu terasa.


Aku selalu merasakan itu, tapi aku nggak pernah mau mengakuinya. Mungkin karena aku belum bisa lupa masa lalu pahit bersama ayah. Mungkin juga karena aku masih dalam masa pubertas.


Tapi aku, dan aku yakin semua orang, pasti mengharapkan ibu yang sempurna, yang selalu melayani dan memanjakan kita, ibu yang lemah lembut dan suportif.


Karena itu kalau ekspektasinya melenceng pasti kita akan jadi kesal sendiri.


"Camping bareng keluarga Tante Nesya ditunda. Katanya sekarang Tian yang sakit."


Yang dimaksud ibu dengan Tante Nesya itu maminya Eli. Mendengar itu aku jadi punya waktu luang.


"Aku boleh main ke rumah teman?"


...****************...


Sekarang aku lagi berdiri di depan rumah Emil. Liburan sudah lewat seminggu. Dia bosan di rumah sendirian karena itu mengajakku ke rumahnya.


"Leon nanti juga datang." katanya setelah membuka pintu.


"Kamu nggak ajak Reec kan?"


Biar gimanapun aku masih suka kesal dengan tingkahnya yang sering menjengkelkan.


"Bagus."


Kita main game sebentar lalu Leon datang.


Tiba-tiba telpon berdering.


"Halo?"


Aku nggak tahu siapa lawan bicara Emil di telpon, tapi dia diam cukup lama.


Emil kemudian menutup telponnya begitu aja. Telpon berdering lagi tapi dia mengacuhkannya.


"Siapa?" Tanya Leon.


"Ibu." katanya terlihat sedikit marah.


"Memang ada apa?" tanyaku.


"Bukan apa-apa."


"Kalau ada sesuatu ayo cerita! Jangan disimpan sendiri." bujuk Leon.


Emil berpikir sejenak sebelum akhirnya bicara.


"Dia mau aku pulang."


"Bagus dong, artinya ibumu kangen kamu Mil!" timpal Leon.


"Dia mau kenalin pacar barunya."


Giliran aku dan Leon terdiam, bingung bagaimana menjawabnya.

__ADS_1


"Tenang aja aku nggak akan pergi."


"Gimanapun dia ibumu. Kamu nggak bisa selamanya menghindarinya." kataku mengingatkan. Kebetulan sekali baru-baru ini aku merasakan kontradiksi yang mirip dengan ibuku. Mengharapkan sosok sempurna ibu yang nggak bisa kudapatkan sering membuatku marah.


Walau sekarang aku udah biasa urus rumah, tapi aku kadang masih berharap ada sosok ibu di rumah mengurus semuanya untukku. Karena itu rasanya aku ingin menolong Emil.


"Benar kata Angy. Kalau kamu punya masalah dengan pacar, tinggal putus hubungan masalah selesai! Tapi kamu nggak mungkin putus hubungan dengan ibu."


Aku setuju dengan apa yang dikatakan Leon. Dan sepertinya Emil pun mulai memahaminya.


Saat telpon berdering yang kesekian kali, akhirnya dia angkat.


"Aku akan datang bersama teman-temanku." Itu yang dikatakan Emil sebelum akhirnya menutup telponnya.


...****************...


Tempat tinggal ibu Emil di kota kecil nggak jauh dari kota tempat kita tinggal. Kota kecil yang masih banyak pohon rimbunnya.


Kita bertiga dijemput sopir dari ibunya. Selama perjalanan banyak informasi baru mengenai Emil yang kudapat.


Ayah Emil ternyata pemilik bisnis besar yang bahkan ada cabangnya di luar negeri, bahwa dulu dia sempat tinggal di dekat ibu kota dan sekolah di international school sebelum akhirnya pindah ke kota kecil ini.


Disini dia bertemu Leon dan sekolah di tempat yang sama sampai Leon yang pindah ke kota sekarang tempat dia tinggal sekarang.


"Aku pindah hanya karena temanin nenekku aja sih. Rumahku masih ada disini kok. Tapi karena libur, semua lagi di rumah nenek."


"Maaf jadi mengganggu waktu keluargamu." Emil minta maaf.


"Santai aja! Nanti kita bisa mampir rumahku kalau mau! Ada ayahku!"


"Gimana liburanmu?" tanya Emil padaku.


Dari tadi memang hanya dia yang cerita. Dan karena terlalu penasaran, aku dan Leon nggak bisa berhenti bertanya.


"Nggak ada yang spesial." kataku datar tiba-tiba ingat cewek moge berambut ikal.


"Kamu liburan sama Eli?" Pertanyaan Leon membuat ekspresi Emil sedikit berubah. Mungkin Leon nggak tahu kalau Emil itu naksir padanya.


Tapi aku teringat wajah kesal Emil saat rapat gabungan dengan Eli. Aku ingin bertanya tapi mungkin sekarang bukan saat yang tepat.


"Motorku rusak dan aku jadi gojek pribadi orang rumah." jawabku akhirnya.


"Kenapa rusak?"


"Ada masalah dengan akinya tapi udah aku ganti."


Nggak lama kita sampai di rumah Emil. Awalnya aku pikir kita masuk taman nasional, padahal ternyata halaman rumahnya luas banget.


Rumahnya udah seperti Istana. Kadang aku masih nggak percaya Emil yang sederhana seperti ini, yang selalu pakai sandal jepit dan kaos oblong yang sama setiap hari selain seragam, punya rumah mewah seperti ini.


"Seingatku rumahmu nggak seperti ini. Rumahmu yang dulu mana?"


Leon dan Emil dulu tinggal di satu perumahan. Katanya mereka sering jalan kaki pulang sekolah karena Emil nggak suka naik mobil.


"Masih ada kok." jawabnya santai.


Kita pun masuk dan disambut beberapa pelayan.


"Emil!"


Seorang wanita muda yang cantik jelita keluar dan langsung memeluk Emil.


Kejadian di depan mataku ini seperti adegan di drama orang kaya dengan artis Hollywood.


Aku dan Leon hanya bisa bengong.

__ADS_1


__ADS_2