Adam Vs Eve

Adam Vs Eve
Misi Terakhir (1)


__ADS_3

Aku nggak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di akhir pekan kemarin, tapi dari tingkah Emil yang menjadi sangat pemurung, dan dari sikap Eli yang terus-menerus menghindariku, aku tahu pasti kencan mereka kemarin tak berhasil.


Karena Emil tak banyak cerita dan Eli tak mau bicara denganku, aku pun pasrah.


Tapi apa maksud Emil kalau Eli menyukaiku?


Dia itu kan nenek sihir yang selalu mengganggu hidupku selama ini! Kalau di dunia ini ada cewek yang menyukaiku, aku yakin Eli tak mungkin termasuk salah satu di antara mereka!


"Kita mau ngapain nih?" tanya Leon.


Aku baru sadar mereka sedang menungguku untuk memulai kegiatan komunitas anti cewek. Emil sudah pulang dan Alv katanya sedang kencan dengan gebetannya.


Karena akhir-akhir ini perhatianku teralihkan oleh masalah Emil dan Eli, aku tak menyiapkan kegiatan sedikit pun.


"Bagaimana kalau kita membuat list mengenai perbedaan cewek dan cowok?" Leon membantuku mencari kegiatan.


"Buat apa?" Tanya Reec.


"Tulis aja dulu, kalau sudah selesai nanti kita lanjutin. Buat lima perbedaan saja cukup."


Kita semua pun menulis perbedaan antara cewek dan cowok. Sebenarnya sih aku bisa tulis satu lembar penuh!


"Kalau sudah, sekarang tulis 5 hal yang kamu benci mengenai cewek."


Bahkan ini jauh lebih mudah! Tinggal mengingat pengalaman burukku dan selesai.


"Terakhir, tulis hal yang kamu sukai mengenai cewek. Tulis masing-masing lima juga!"


Yang aku sukai dari cewek?! Kalau ini sih aku harus pikir panjang. Cewek di sekitarku semua menyebalkan! Apa yang baik mengenai mereka?


Setelah berpikir keras aku teringat cewek moge itu. Selain memanggilku dek, dia nggak begitu menyebalkan.


"Nah kalau sudah selesai tulis, coba kita lihat jawabannya." Lanjut Leon.


Aku melihat banyak dari jawaban Reec yang dia jawab dengan asal.


"Apa yang kita dapat dari ini?" Tanya Reec kembali.


"Gampang sih, pertanyaan pertama itu seberapa besar kamu bisa memahami perbedaan. Yang kedua mengenai tipe cewek yang kamu benci, dan nomer tiga mengenai tipe cewek yang kamu sukai." Jelas Leon.


Aku membaca lagi nomer tiga, tapi aku merasa selama ini tak memiliki tipe cewek yang aku sukai.


"Sebentar lagi hari Valentine. Gimana kalau kita menyebar kasih sayang ke para cewek."Leon mulai dengan ide gilanya.


"Gila aja! Mereka kan musuh!" Aku langsung menentang.


"Ada pepatah, sayangi musuhmu. Mereka akan semakin lemah bila kita membalas mereka dengan kasih sayang." Kata Leon.


Aku sebenarnya kurang setuju, tapi aku diam saja.


"Atau kamu mau berikan ke sesama cowok?" tanyanya lagi.


"Anjir! Entar kita dikira gay!" Reec tak setuju.


"Jadi kegiatan kita hari ini adalah, belajarlah mencintai musuhmu." Kata Leon dan setelah itu kita pun membubarkan diri.


Setelah Reec dijemput, aku mengajak Leon untuk menemui Emil. Selama perjalanan ke rumahnya, aku menceritakan sedikit mengenai apa yang terjadi di antaranya dan Eli.


"Kemungkinan Emil ditolak dan sekarang dia sedang patah hati," adalah jawaban yang aku dapat Leon si expert cinta.


Walau belum pernah patah hati, tapi aku bisa merasakan kesedihan yang dia rasakan hanya dengan melihat dirinya yang seperti tak semangat hidup.


Kalau dipikir-pikir, sepertinya Emil pernah seperti ini sebelumnya. Apa saat itu dia patah hati juga? Kenapa dia harus mengalami patah hati berkali-kali dengan nenek sihir gila seperti dia?


"Kita coba tanyakan langsung padanya." Kata Leon setelah tiba di depan rumahnya. Aku yakin Leon pasti bisa lebih membuka hati Emil.

__ADS_1


Tapi karena nggak ada respon setelah mengetuk pintu berkali-kali, dengan pengalaman sebelumnya aku langsung ke jendela kamarnya.


Tapi dia tak ada disana.


Aku kemudian mengambil ponselku dan menelpon Emil.


Tak ada jawaban.


"Dia sudah pulang kan? Pagarnya nggak dikunci." tanya Leon memastikan.


"Mungkin dia keluar. Kita tunggu disini." kataku, dan aku mulai melanjutkan ceritaku yang belum selesai.


"Katamu Emil bilang kalau Eli bilang dia menyukaimu?" Leon cukup kaget mendengar pernyataanku.


"Tentu saja aku nggak percaya, tapi nggak ada hal lain yang diceritakan Emil. Bahkan Eli nggak mau bertemu denganku! Padahal dia biasanya setiap saat selalu masuk kamarku hanya untuk mengganggu hidupku!"


"Anak cewek ke kamar cowok." Pikirannya malah ke hal lain.


"Dia itu monyet, aku nggak menganggapnya cewek." kataku membenarkan.


"Mungkin memang benar dia selama ini menyukaimu."


"Mana mungkin! Dia itu selalu melakukan hal yang membuatku tambah membencinya!"


"Ada orang yang nggak tahu caranya mengekspresikan perasaannya, atau melakukan hal sebaliknya, apalagi dia teman masa kecilmu kan?"


Aku sedikit ngeri mendengar pendapatnya.


"Kalau kita menyukai seseorang, kita tiap hari ingin bertemu dengannya. Bahkan menyimpan foto orang yang kita sukai secara diam-diam."


Mengingat banyak fotoku yang dipajang di kamarnya, sepertinya memang itu yang dilakukan nenek sihir itu.


"Karena harga diri mereka yang tinggi, biasanya cewek selalu berharap si cowok yang suatu hari akan menyatakan cintanya pada mereka."


"Kalau dia beneran menyukaiku, aku harus apa?"


"Kamu suka Eli?"


"Demi langit dan bumi aku nggak pernah punya perasaan romantis padanya! Bahkan karena tahu Emil menyukainya, aku berusaha mendekatkan mereka!"


"Tapi dengan kejadian kemarin sepertinya kamu gagal."


Gagal. Mungkin itu memang kata yang tepat.


"Ini ide yang agak jahat sih, tapi yah, kalau kamu memang nggak menyukai Eli, coba kamu bilang terus terang padanya."


"Hampir tiap hari aku mengekspresikan kebencianku padanya!"


"Kamu ingat kuesioner mu?"


"Tentu saja aku ingat! Aku yang tulis sendiri!"


"Itu mengenai Eli kan? Kita coba jalanin misimu itu, gimana?"


Belum sempat menjawab pertanyaan Leon, Emil datang.


Dia cukup kaget melihat kita yang sedang jongkok di depan pintu rumahnya.


"Habis les ya?" tanyaku melihatnya menyampirkan tas belanja kain murahan di salah satu pundaknya. Dia memang benar-benar pangeran nggak modal.


"Renang." Katanya kemudian membuka pintu rumahnya yang ternyata tidak dia kunci?!


"PD banget kamu pergi nggak kunci rumah!" seru Leon sama herannya denganku.


"Tadi lupa kuncinya dimana."

__ADS_1


Kita pun masuk dan duduk di ruang tamu.


"Ada perlu apa?" tanya Emil.


Aku bingung apa perlu to the point aja tanya kejadiannya dengan Eli, atau ada cara lain tanpa harus membuatnya emosional.


"Aku sama Angy lagi mendiskusikan mengenai misi Angy." Kata Leon malah diluar maksud kedatangan kita sesungguhnya.


"Misi apa?" tanyanya lagi.


"Angy ingin membuat seorang cewek jatuh cinta, lalu mencampakkannya."


Mendengar itu aku merasa sedikit aneh. Memang dulu aku tulis karena benar-benar benci pada Eli. Tapi mengetahui sekarang sahabatku menyukainya, aku jadi merasa nggak enak pada Emil.


"Lakuin aja." Sepertinya Emil belum tahu cewek yang dimaksud.


"Tapi kita perlu ijin darimu."


"Kenapa?"


"Cewek itu Eli."


Walau berusaha menutupinya, dia kelihatan cukup kaget mendengar namanya disebut. "Bukan urusanku lagi." Katanya kemudian.


Emil cowok yang serius. Kalau dia suka seseorang pasti dia benar-benar menyukainya. Aku beneran nggak akan maafin orang yang menyakitinya! Padahal kemarin dia kelihatan beneran grogi dan beneran mau berjuang keluar dari zona amannya.


"Apa yang dilakukan monyet itu padamu sih?!" Saking jengkelnya, aku menyuarakan pikiranku.


Emil kemudian akhirnya mulai cerita tentang apa yang terjadi. Entah ada bagian yang dia lebih-lebihkan mengenai Eli karena terlalu membelanya, atau ada yang ditutupinya karena ceritanya sangat singkat.


"Gila nggak punya perasaan ya monyet rabies itu?! Campakin kamu begitu aja?!"


"Udah kubilang bukan salahnya. Coba sebelumnya aku ngecek menu yang aku pesan." Lagi-lagi dia membelanya. Memang kalo udah bucin itu perbuatan buruk pasti baik di matanya.


"Nggak ada yang salah atau benar disini. Ini namanya udah nyangkut perasaan. Kita juga nggak tahu perasaan Eli seperti apa saat itu." ungkap Leon.


"Memang benar sih, tapi nenek sihir mana punya perasaan?"


"Menurutku justru ini bagus untuk menjalani misimu. Kalau Eli merasakan hal yang sama, mungkin dia akan ngerti seperti apa perasaan dicampakkan orang yang disukai."


"Benar juga. Balas dendam untuk Emil ya!"


Emil hanya terdiam. Entah apa yang dipikirkan olehnya.


"Gimana Mil. Bagaimanapun juga dia cewek yang kamu sukai. Apa kamu tak masalah?" Leon mencoba untuk memastikan perasaan Emil.


"Kalau bisa aku gak mau ikut misi ini." katanya setelah cukup lama berpikir.


Gila banget sih, dia udah dicampakkan cewek yang disukai, kenapa dia gak ada perasaan untuk balas dendam?


"Oke, kamu ga usah ikut misi ini," Leon sepertinya punya ide lain, "Tapi kamu mau kan jadi pahlawan untuk Eli?"


Kita berdua heran dengan pertanyaan Leon.


"Cowok kalo patah akan lebih menyibukkan pikiran mereka agar tidak mengingatnya. Sementara cewek kalau patah hati pasti mengharapkan seseorang bisa menghiburnya untuk bisa melupakan cowok itu. Nah, kamu ambillah peran itu."


Apa benar seperti itu? Saat Emil patah hati, sepertinya dia memang memilih main game seharian, atau les yang menurutnya nggak penting. Apa cewek benar bisa langsung berpaling?


"Aku gak mau berurusan dengannya lagi." kata Emil.


"Jadi kamu rela ada cowok lain yang nanti menghiburnya?" Leon terdengar serius.


Mendengar itu Emil terdiam.


"Baiklah."

__ADS_1


Dan misi kita pun dimulai.


__ADS_2