
Sebenarnya aku gagal paham dengan apa yang aku lakuin sekarang.
Pertama kali dalam hidupku aku menunggu nenek sihir itu keluar dari kelasnya, dan mengajaknya pulang bareng.
Eli yang sejak hari itu terus menghindariku, kali ini mematung kelihatan terkejut melihatku melakukan hal luar biasa yang belum pernah aku lakukan padanya sebelumnya.
Tentu saja ini semua sesuai rencana Leon untuk misiku.
"Ayo!" Kataku langsung berjalan melewatinya.
Kupikir dia mengikutiku dari belakang, tapi saat aku menolehkan kepalaku, aku melihatnya tetap diam di tempat.
Sebenarnya sih aku ingin sekali marah dan membentaknya untuk mengikutiku sekarang juga seperti yang biasa aku lakukan.
Tapi misiku bisa gagal. Leon memintaku untuk jangan marah sekalipun padanya, atau aku gagal menjadi seorang pria.
Menjadi seorang pria untuk Eli?
Aku cepat-cepat mendorong pikiranku itu ke bagian terdalam otakku.
Karena dia masih diam di tempat, aku mengambil tangannya dan menuntunya keluar sekolah.
Dia tetap diam tapi nggak melawan.
Masa iya dia beneran menyukaiku.
*Kalau dia benar-benar menyukaimu, sedikit saja perlakuan baik darimu dia akan langsung senang.*
Begitu kata Leon.
Eli sahabatku sejak kecil. Aku nggak pernah menganggapnya lebih dari teman. Setelah kita tumbuh menjadi remaja dia menjadi semakin menyebalkan, dan hubungan kita naik tingkat menjadi musuh.
Dia itu kadang suka comblangin aku dengan cewek-cewek dan langsung ketawa melihat reaksiku! Mana mungkin terbersit dalam otakku kalau dia itu suka padaku?!
"Kamu belum hubungin kak Ray untuk jemput kan?" tanyaku padanya untuk memastikan.
Dia hanya mengangguk kecil.
Sialan kalau udah diam dan malu-malu gitu, dia jadi kelihatan lebih imut dari biasanya kan!!
Sialan!!
Aku ke satpam untuk mengambil helmnya dan menyerahkan padanya.
"Mau mampir dulu sebelum pulang?"
Misi pertama, mengajaknya pulang bareng. Oke udah aku lakuin, check!
Misi kedua, mengajaknya kencan. Sedang aku jalankan, tapi sepertinya dia nggak setuju dengan ajakanku.
Aku sendiri nggak percaya sih dengan kata-kataku sendiri.
"Kalau mau, kita bisa pulang dan ganti baju dulu." Kataku sambil mengenakan helm. Dia juga mengenakan helm.
"Kamu mau traktir?" tanyanya akhirnya mulai bicara padaku.
Ngapain buang duitku buat babi seperti kamu?!
__ADS_1
Itu yang biasanya bakal aku katakan sih.
"Boleh, mau makan apa?" Tanyaku berusaha meredam amarah.
"Makan mie Sumatra boleh?"
Kita berdua pun pergi menuju rumah makan itu. Lokasinya nggak begitu jauh dari rumah sih. Eli pecinta mi, jadi aku nggak heran. Dia tiap hari makan mi, tapi kenapa perutnya tak juga membuncit?
Setibanya disana, dia menarik ujung bajuku dengan jarinya.
"Aku boleh pesan yang spesial?" tanyanya malu-malu.
Lagi-lagi dia kelihatan menyilaukan! Kenapa dia harus jadi sok manis kalau aku pura-pura baik seperti ini sih?!
Setelah memesan dua porsi jumbo spesial, kita pun ambil tempat yang agak jauh dari keramaian dan duduk di kursi baksonya.
Kita saling berdiam diri, dan ini sebenarnya hal yang langka. Aku dan dia selalu saja saling memaki. Sepertinya kita nggak pernah kehabisan kata-kata untuk saling menghujat. Diam seperti ini membuatku nggak nyaman.
"Kamu nggak harus sampai seperti ini." katanya tiba-tiba.
Aku kurang paham apa maksudnya, tapi aku baru ingat untuk menyerahkan kado ultahnya yang sebenarnya sudah lewat seminggu.
"Nih!" kataku sedikit melempar ke arahnya.
Eli menangkapnya dan langsung membukanya di hadapanku.
Begitu melihat isinya dia langsung kelihatan senang.
"Makasih!" katanya tersenyum bahagia dan langsung memasangnya di tas sekolahnya.
Dan bertambah lagi deh koleksi gantungan kunci boneka bulat dengan wajah minta disiksa.
Kenapa ekspresinya harus sesenang itu sih atas hadiah membosankan seperti itu?
"Silahkan mie jumbonya."
Kita pun mulai makan mie. Rasanya sudah lama aku nggak pergi makan berdua dengannya seperti ini.
Terakhir saat SMP kelas 1, dia mengajakku pergi. Ayahnya mengantar kami ke mall. Saat itu ayahku meninggal belum genap setahun. Aku jadi pemurung sejak hari pemakamannya. Tapi berkat Eli yang mengajakku pergi makan dan nonton, aku jadi lebih semangat.
Sayangnya setelah itu pelakunya ditemukan, yang ternyata adalah wanita pelakor menyebalkan yang telah membuat hidupku seperti di neraka!
Ibuku hanya diam, kakak-kakakku juga, padahal dia wanita sialan yang merebut dan membunuh ayahku! Sejak itu aku benci dengan semua perempuan, gak terkecuali Eli.
Aku bisa bertahan hidup karena kebencianku terhadap mereka.
"Angy? Kamu nggak papa?" Eli tampak khawatir. Dia sudah selesai makan dan sekarang sedang minum es jeruknya.
"Sorry," Kataku dan segera menghabiskan makananku.
Aku lalu teringat misiku kembali. Membuat Eli jatuh cinta lalu mencampakkannya.
"Kamu mau kemana lagi?" tanyaku selesai membayar semua makanannya. Aku tahu dompetku menipis, tapi demi membuatnya senang lalu mencampakkannya aku mengambil uang dari celenganku.
"Gimana kalau pergi nonton? Lalu main di Arcade game lantai atas mall?"
Dasar cewek nggak tahu diri. Padahal tadi dia kelihatan sungkan, sekarang setelah isi tenaga dia langsung minta yang mahal-mahal?!
__ADS_1
Tapi ini demi misi.
"Oke!" Kita pun pulang dulu untuk ganti baju, lalu berangkat lagi setelah memesan tiket nonton.
Dia kembali memakai pakaian ala cowoknya, beda banget dengan Minggu lalu. Tapi aku lebih suka melihatnya berpenampilan tomboy seperti ini.
Kita pun nonton, lalu main game sampai puas, dan uangku terus menipis.
Herannya kita bisa akur. Mungkin karena aku sabar nggak memakinya seperti yang biasa aku lakukan, sehingga dia pun nggak banyak marah-marah seperti biasanya.
Dan herannya lagi aku menikmatinya.
"Wow! Angy!! Kamu dapat Jackpot!!"
Dengan sekali bidikan, aku berhasil mendapat 1000 tiket.
"Yeah!! Hebat juga ya aku!"
"Ayo coba lagi yang ini!"
Di permainan crane game aku pun bisa mendapatkan boneka yang diinginkan Eli. Aku jadi merinding kenapa energi positif kami begitu kuat sampai-sampai Dewi Fortuna terus menerus menghampiriku.
Apa yang bakal terjadi kalau aku mencampakkannya di akhir?
"Jadi setelah kamu sabar untuk nggak marah dan mengajaknya bersenang-senang, kamu coba tanyakan mengenai kejadian waktu itu dengan Emil. Kalau dia cerita bahwa dia menolak ungkapan cinta Emil, kamu coba pancing dia untuk ungkapin cintanya ke kamu!"
Ini strategi yang disampaikan oleh Leon.
"Kalau dia nggak nyatain cintanya?"
"Langsung aja bilang terus terang: Emil sahabatku, aku nggak akan mau menjalin hubungan dengan orang yang berani melukai sahabatku.
Kalau kamu bilang itu, aku yakin dia akan shok. Dia pasti akan terluka mendengar itu keluar dari mulut orang yang disukai."
Saat itu aku pikir itu rencana yang sempurna. Tapi kenapa sekarang melihatnya tertawa bahagia, rasanya aku nggak tega harus melihatnya sakit hati.
Melihat Emil yang jadi pemurung setelah patah hati, gimana dengan Eli?
Setelah puas bermain, aku mengajaknya beli minuman. Dan kita pun jalan pulang ke parkiran motor.
"Seru banget tadi!" Eli masih terlihat senang.
"Iya seru." Aku mengakuinya. Sudah lama aku nggak merasa sesenang ini. Mungkin suatu hari aku harus mengajak Emil dan yang lainnya kemari.
"Makasih banyak ya Gy!" Kata Eli kemudian mengecup pipi kananku dengan bibir merahnya.
Dia mengecup pipiku.
Dia mengecup...
Pipi perawanku...
"Ayo! Kok diam sih!" Eli melambaikan tangannya dari kejauhan.
Sepertinya aku mematung.
Pipiku agak panas padahal di luar angin cukup kencang.
__ADS_1
Kita pun pulang dan aku masuk kamar.
Sama sekali melupakan misi terakhirku untuk mencampakkan dirinya.