
Kamar Emil disini berkali-kali lipat lebih besar dari kamar di rumah kontrakannya. Bahkan rumah anjingnya di luar lebih besar dari rumahku!
"Gila ya, ternyata Emil beneran seorang pangeran!" kata Leon mulai mengamati kamarnya.
Tempat tidur king size di tengah yang ada atapnya. TV flat borderless yang sebesar 75 inch. Bahkan ada ruang tamu dan perapiannya sendiri.
"Kamu kan udah temenan dari SD masa nggak tahu?" tanyaku.
"Gimana mau tahu, kamu lihat sendiri kan penampilan Emil. Dia memang ganteng tapi kayak ganteng kere!"
Aku kemudian mengingat tas ransel sekolahnya yang ada bolongnya. Lalu teringat Emil yang hampir tiap hari pinjam pulpen padaku seolah nggak mampu beli pulpen sendiri. Dan buku catatanya hanya satu untuk semua pelajaran...
"Memang sih." kataku setuju.
"Setiap kali terima raport dia selalu didampingi orang yang berbeda sebagai walinya. Aku nggak pernah lihat orang tuanya!"
Aku kemudian melihat foto keluarga yang terpasang di dinding kamarnya. Nggak hanya ibunya yang cantik jelita ternyata ayahnya juga rupawan!
Keluarga rupawan yang kaya raya dengan rumah seperti istana. Aku masih belum percaya sahabatku Emil kehidupannya seolah keluar dari drama TV.
"Silahkan menikmati hidanganya tuan."
Dua orang pelayan masuk mengantarkan minuman dan makanan ringan untuk kami dengan troli makanan.
"Kita udah seperti di ruang hotel VIP ya! Hahaha." kata Leon bercanda. Tapi aku memikirkan hal lain.
"Dimana Emil? Kenapa dia belum juga kemari?"
"Mungkin lagi melepas rindu dengan ibunya." Leon sudah mulai makan, "Ini enak lo Gy! Nggak mau coba?"
Aku mendatangi meja. Banyak kue-kue kecil dihidangkan di atas tiga piring mewah yang tersusun. Entah kue-kue apa itu, aku nggak pernah melihatnya di pasar.
"Ini yang bulet-bulet enak! Yang kayak puding di gelas kecil juga enak!"
"Kamu udah makan berapa?"
Belum sempat aku memasukkan satu ke dalam mulut, aku mendengar keributan dari luar kamar.
Prang!!!
Keributannya disusul dengan suara piring pecah.
"Apa itu?" Leon juga sadar.
Kita berdua mendatangi pintu dan mengintip dari celahnya. Aku melihat Emil duduk di meja makan. Ibunya berdiri di hadapannya kelihatan histeris.
"Mama hanya mau tinggal bersamamu, baby. Kenapa tidak mau?"
Suasana tegang dirusak oleh tawa mendengus dari Leon. "Emil dipanggil baby sama ibunya."
Dari jauh Emil kelihatan menghindari tatapan ibunya. Dia kemudian berdiri dan menuju ke arah kami.
Melihat itu Leon langsung lari menjauh dari pintu.
Kenapa harus lari?
Saat Emil masuk, ekspresi wajah yang biasanya datar terlihat sangat tertekan. Dia kemudian mengunci pintu kamarnya.
"Apa yang terjadi?" tanyaku yang berdiri di dekatnya.
"Ibu selalu jadi histeris kalau keinginannya nggak dituruti."
"Keinginan apa?"
"Dia masih berharap untuk kawin lari dan mengajakku pergi ke luar negeri."
"Luar negeri? Aku ketinggalan berita ya?" Leon mendekati kami.
Emil menghela nafas panjang.
"Kenapa dia nggak mau ngerti aku masih mau sekolah disini." kata Emil yang sekarang terlihat sedih.
"Kamu udah coba bicara baik-baik?"
"Aku hampir gak bicara dan dia udah histeris sampai pecahin piring."
"Ada orang yang nggak bisa didiamin. Kalo didiamin malah semakin menjadi-jadi." kata Leon.
Emil terdiam.
"Yah ini memang urusan keluargamu sih, tapi kalau butuh bantuan bilang aja. Kalau mau, kita temanin kamu buat bicara dengan ibumu. Siapa tahu dengan kehadiran orang lain bisa meredam emosinya?" tanyaku menawari bantuan.
"Nggak usah. Besok aja pikirnya."
__ADS_1
"Kamu biarin ibumu begitu aja?"
"Biarain dia tenang, nanti juga datang sendiri. Mau nonton film?"
Kita bertiga pun mematikan lampu untuk nonton film. Kirain bakal nonton di TV layar lebarnya, tapi ternyata dari langit-langit muncul panel putih dan proyektor. Sound systemnya aja udah seperti di bioskop.
"Nonton sambil tidur rasa bioskop! Memang kamarmu the best!"
"Mau minum apa?" tanya Emil sedang mengangkat telpon di meja samping kasurnya.
"Tadi kita dibawain itu." kataku menunjuk meja makan yang di atasnya masih ada hidangan kue dan cangkir teh tadi.
"Kalian suka makanan orang tua kayak gitu?" Ledeknya.
"Emang ada apa?"
"Apa aja ada."
"Jus alpukat!" seru Leon.
Aku tertawa. "Kamu pikir ini restoran?"
"Ada kok. Kamu mau apa?" kata Emil yang membutaku sedikit nggak percaya.
"Susu soda gembira," jawabku sedikit malu. Memang dunianya berbeda.
Nggak lama kemudian, dua orang pelayan datang mendorong troli makan membawa minuman sesuai pesanan. Emil juga memesan popcorn dan pizza. Semua dihidangkan di atas meja panjang yang ditaruh di atas kasur.
"Gak usah, disana aja." kata Emil dan mereka langsung membereskan yang tadi dan menaruhnya di kedua sisi meja tempat tidur.
Melihat kehidupan Emil yang serba dilayani membuatku sedikit iri. Aku memang suka mengurus rumah, tapi aku bohong kalau bilang nggak mau dilayani.
...****************...
Selesai nonton dua film, kita sepakat untuk tidur. Leon udah ketiduran duluan di pertengahan film.
Jam sudah menunjuk pukul 10 malam, tapi aku nggak bisa tidur kalau belum mandi.
"Kamar ini hanya ada wastafel dan toilet. Kalau mau ke kamar mandi harus keluar." jelas Emil.
Aku mengambil peralatan mandi dan baju ganti dari dalam tas ranselku.
"Mau kutemani?"
"Nggak usah."
Walau rumahnya seluas lapangan bola, kamar mandinya ternyata mudah ditemukan.
Di kamar mandinya ada bak mandi besar yang mungkin muat 5 orang di dalamnya. Aku nggak tau cara pakenya jadi mandi shower aja. Rumahnya terlalu diluar imajinasiku, membuatku pusing.
Saat hendak kembali ke kamar, aku justru tersesat. Aku mendengar suara TV dinyalakan dan melihat seseorang sedang duduk di sofa menonton TV.
Aku langsung mengenali sosok itu dari rambut pirangnya.
Ibu Emil.
Bingung antara pergi begitu aja atau menyapanya, dia malah bangkit berdiri dan bertatap muka denganku.
Aku udah sering dengar gosip sih kalo darah bule Emil didapat dari ibunya. Tapi baru kali ini aku benar-benar melihatnya sendiri. Dia nggak cuma kayak orang Eropa, tapi udah kayak model luar negeri yang sering muncul di majalah.
"Ehm, Good Night?" Nilai bahasa inggrisku bagus, tapi mungkin aku terlalu grogi berhadapan dengan bule cantik jelita secara langsung.
Entah karena dia seorang ibu yang bagiku posisinya di atas cewek yang aku benci, atau kenyataan kecantikan bak Dewi yang belum pernah aku liat secara langsung, aku nggak bisa menemukan alasan untuk membencinya.
"Terima kasih ya sudah mau menemani Emil pulang." katanya tersenyum ramah. Logat luarnya masih terdengar tapi bahasa Indonesianya sangat jelas.
Suaranya aja kayak malaikat dari surga. Dan senyumannya terlihat tulus. Ibu Eli yang lumayan cantik aja nggak pernah aku puji dalam hati seperti ini.
Dia kemudian berjalan ke bar dekat situ yang lengkap denga bartender nya dan mengajakku duduk bersamanya.
Aku sebenarnya malu karena udah ganti baju kaos oblong dan celana pendek. Handuk masi melingkari leherku dan kuncir rambut belum aku lepas.
"Siapa namamu anak muda?"
"Angy."
"Nama yang sangat bagus! Kau terlihat seperti seorang Angel!"
Entah dia ini memang pintar berkata-kata, atau memang sungguh-sungguh dengan ucapannya. Tapi aku belum pernah dengar ada orang yang memuji namaku.
"Dimana kalian bertemu?"
"Emil teman kelasku."
__ADS_1
"My baby, dia baik-baik saja di sekolah kan?"
Nama panggilannya memang terlihat aneh, tapi aku bisa menahan diri untuk nggak ketawa seperti Leon.
"Hasil ujian UAS dia peringkat dua di kelas."
"Benar-benar my boy. Sudah tampan dan so clever!"
Mendengar ibunya yang terlihat begitu membanggakan putranya, aku mulai heran kenapa Emil dendam padanya.
"You know, dia itu sangat sayang papanya. Tapi sejak kita pisah rumah dia jadi membenci mamanya."
Benar juga, sepertinya itu yang aku dengar darinya.
"He doesn't know his daddy is a monster. I never told him because I don't wan't him to hate both of us."
Hah?
Karena tiba-tiba bicara dalam bahasa asing, otakku loading nya agak lama. Aku hanya menangkap 50% dari ucapannya.
"Emil teman yang seperti apa bagimu?"
Tanyanya tiba-tiba kembali ke bahasa negaraku. Dia kemudian menyeruput minuman yang terlihat seperti cocktail yang disiapkan oleh bartender tadi.
"Emil jarang ngomong, selalu pinjam pulpen, malas belajar dan selalu main game..." Aku berhenti bicara, lalu berpikir apa ibunya akan marah kalau aku cerita semua keburukannya.
"Hahahaha! You're so funny!"
Kenapa malah ketawa?
"Lalu apa lagi? Seperti apa dia di sekolah?"
Aku kemudian memikirkan hal positif yang bisa aku ceritakan.
"Sebutannya di sekolah pangeran sekolah, fansnya juga banyak, dance nya jago banget, dia ikut komunitas yang aku buat dan kita sering kumpul di rumahnya..."
Sekarang matanya malah berkaca-kaca. Banyak airmata yang sudah terkumpul di matanya.
Sepertinya dari tadi aku salah bicara.
"Dia enjoy sekolah disini ya." katanya sedih tapi tetap tersenyum.
"Saya sebenarnya ingin mengajaknya pergi karena tidak ingin membuatnya tinggal sendirian menjadi sebatang kara."
Jadi itu alasannya.
"But sepertinya dia sudah menemukan rumah baru bersama teman-temannya."
Dari percakapan kecil ini, menurutku Emil seharusnya bicara secara terbuka dari hati ke hati dengan ibunya. Aku paham betul mungkin sosok ibu yang diinginkan Emil nggak pernah ia dapatkan.
Tapi ibunya sama sekali nggak terlihat membenci Emil.
"Sepertinya Emil nggak suka bila nyonya sering histeris padanya." kataku berusaha membuka pikirannya.
"Apa katamu?!" Dia malah jadi marah.
Gawat harusnya aku tutup mulut aja tadi!
"Jangan panggil nyonya ya, Melanie is fine."
Dia marah karena aku panggil dia nyonya?
"Sorry ya sudah menyita waktumu."
"Nggak apa." Apa artinya aku udah boleh pergi ya? Rasanya udah capek bicara dengannya.
"Mau minum apa?"
"Nggak, terima kasih."
"Bilang aja nanti diantar ke kamar."
"Ada susu stroberi?"
...****************...
Akhirnya aku balik ke kamar.
Sepertinya Emil dan Leon sudah ganti baju dan tertidur. Aku segera minim susu stroberi ku dan ikut naik ke kasur.
Kasurnya lebih luas dari kasur di rumah kontrakannya. Kalau Reec ikut, kita berempat muat tidur di atas bersama.
Setelah membalas pesan singkat ke ibuku, aku mulai memejamkan mata.
__ADS_1
Tapi sepertinya aku belum diperbolehkan tidur.
"Apa yang dilakukan ibuku sampai bisa merayumu?'