Adam Vs Eve

Adam Vs Eve
Muncul Masalah


__ADS_3

Berkat kak Gaby dan kak Theo, komunitas kita bertambah anggotanya.


Melihat jumlah anggota yang hampir memenuhi ruang kelas membuatku sangat bersemangat.


Begitu Leon dan Reec tiba, aku meminta mereka untuk tetap berdiri di depan.


Dan beginilah posisi kita sekarang: Aku, Emil, Leon, dan Reec, kita berdiri di hadapan sekitar 20 cowok.


"Terima kasih sudah hadir," kataku lantang membuat kelas yang semula berisik menjadi sunyi seketika.


"Aku anggap kehadiran kalian disini, sudah tahu bahwa tujuan utama komunitas ini adalah melawan kaum hawa, karena ini adalah komunitas anti cewek!" lanjutku dengan penuh percaya diri.


"Namaku Angy, dan aku adalah ketua kalian! Mereka di depan ini, Emil, Leon, dan Reec, akan membantuku. Anggap mereka adalah perwakilan diriku."


Reec tersenyum bangga seperti orang bodoh. Sesaat aku ragu mempercayakan komunitas ini padanya.


"Sebelumnya, aku harap kalian mengisi kuesioner ini dengan sejujurnya! Karena ini akan menjadi kegiatan kita nanti untuk menjalankan misi ke depannya." Aku mulai membagi kertasnya.


Pertama kali dalam kehidupan komunitasku, aku baru merasakan komunitas ini adalah komunitas sungguhan. Aku merasa sedikit bangga dengan pencapaian ini, tapi sekaligus khawatir karena tanggung jawabku sebagai ketua bertambah besar.


"Dengar," bisikku pada mereka bertiga, mengajak mereka untuk lebih mendekat. "Berkat pengaruh kak


Gaby dan kak Theo, kita bisa mendapat anggota lebih banyak. Tapi dengan bertambahnya anggota, kita harus lebih jeli mengawasi mereka. Jangan sampai ada anggota yang berkedok untuk menghancurkan komunitas kita, atau mungkin menyalah gunakan komunitas kita dan bersikap seenaknya."


Mungkin menurut mereka aku sudah berpikir terlalu jauh. Biarpun masih SMA, tapi komunitas ini agak rawan dan termasuk topik yang agak sensitif. Belum lagi Eli juga membuat kelompoknya sendiri, yang entah apa yang bisa dia lakukan melihat usahanya kemarin saat lomba 17an.


"Dengan melihat kuesioner mereka nanti, kita bisa tahu alasan dan motif mereka untuk gabung. Nanti aku akan membagi mereka ke dalam kelompok kecil untuk kalian awasi. Paham?"


"Siap bos!" Leon langsung menyetujui.


"Ok." Emil juga.


Reec sepertinya masih loading.


"Reec?" Aku memanggilnya.


"Sipp! Ayo mana anak buahku!" Dia kelihatan belum paham sepenuhnya, tapi aku biarkan.


Selesai mengisi kuesioner, mereka mengumpulnya ke depan.


"Baiklah, hari ini aku hanya akan memberi sedikit penjelasan dan visi misi komunitas ini." Aku mulai bicara.


Leon masih menulis visi-misi dan kegiatan komunitas di papan tulis, serta detail struktur tiap misi yang sudah kupersiapkan.


"Pertama, visi kita adalah hidup tanpa cewek. Jadi bagi yang punya pacar segeralah putus, dan bagi yang ada gebetan cepat hentikan segala aktivitas PDKT!"


Reec menelan ludah. Dia pasti masih memikirkan pacar palsunya.


"Kedua, kita akan melakukan kegiatan 'latihan bertahan hidup tanpa cewek' yang nanti akan diajarkan oleh para ahlinya. Bersiaplah mengikuti latihan ini dengan benar, karena akan sangat membantu untuk menghilangkan ketergantungan kalian pada mereka!"


"Gimana dengan ketergantungan pada ibuku?" tanya seseorang tiba-tiba.


"Aku belum selesai bicara!" Aku menatapnya dengan tajam karena paling benci bila ada yang menyela pembicaraanku!


"Ketiga, akan ada dua macam misi, yaitu misi sekolah dan misi khusus. Misi sekolah termasuk Ujian dan kegiatan sekolah yang lain, sementara itu misi khusus adalah menyelesaikan masalah kalian secara khusus dengan cewek-cewek yang bermasalah sesuai dengan jawaban kalian di kuesioner."


"Biasanya sebelum menjalankan misi, kita akan rapat untuk menyusun strategi. Dan kuharap anggota yang akan menjalankan misi ini, bertanggung jawab dengan misinya sendiri dan tidak kabur!"


Kataku tegas sambil melirik ke arah Reec dengan sengaja.


"Sampai sini apakah ada pertanyaan?"


Orang yang bertanya tadi langsung mengangkat tangannya.


"Gimana dengan ibuku? Aku tinggal berdua dengannya!"


"Ibu itu lebih dari sekedar seorang wanita, jadi jangan samakan mereka!"


Semua setuju. Bagaimanapun ibu nggak bisa disamakan dengan cewek-cewek nggak berotak yang hidupnya bikin susah.


Giliran Emil yang sekarang terlihat sedih dan menatap lantai kelas seperti melihat ada uang yang dia injak. Yah, dia memang punya masalah dengan ibunya sih...


"Yang lain?"


"Aku baru jadian, jadi belum mau putus dengan pacarku, takut bikin dia sakit hati..." tanya seseorang.


"Siapa namamu?"


"Tony, Tony Bamantara."


Aku mencari namanya di kuesioner. Setelah membacanya sekilas aku berpikir sebentar.


"Kau menulis ingin menghancurkan hidup mereka dengan membuang semua peralatan make up mereka, siapa yang kau maksud?"


"Kakak perempuanku."


"Selama cewekmu nggak mengusik hidupmu, kau bisa mempertahankannya! Tapi ku ingatkan jangan terlalu tergantung padanya!"


"Oke, akan ku coba..."


"Ada pertanyaan lain?"


Semakin banyak yang mengangkat tangan, dan kebanyakan pertanyaan mereka seputar kuesioner yang mereka isi tadi.


"Aku nggak akan melayani pertanyaan seputar jawaban kalian di kuesioner! Kita bisa lakukan itu saat menjalani misi atau bertanya padaku di luar komunitas! Ada yang lain?"


Setelah nggak ada lagi yang bertanya, aku membubarkan kegiatan hari ini. Mereka semua pun keluar kelas.


Saat membaca kuesioner mereka, aku menemukan ada jawaban yang nggak beres.


Melihat Emil dan yang lain masih di kelas, aku pun memanggil mereka.


"Kenapa Gy?" Sepertinya Leon langsung tahu ada masalah begitu melihat wajahku yang sedang serius.


"Ada dua anggota baru yang sepertinya bermasalah. Coba baca ini!"


Aku menyodorkan dua kertas kuesioner pada mereka. Setelah membacanya Leon tampak paling kaget. Emil pun kelihatan tidak percaya apa yang telah dibacanya. Tapi wajah Reec masih datar. Sepertinya dia belum baca semuanya.

__ADS_1


"Yang satu anak kelas XI, kita nggak bisa banyak membantu tapi aku akan beritahu kak Gaby. Yang satu lagi ada di kelas X-2, di kelasmu Reec. Tolong awasi dia!"


"Siap! Serahkan padaku!" katanya PD padahal aku yakin dia belum paham.


"Kau bisa minta bantuan Alv teman kelasmu itu. Kalau kalian berdua pasti bisa lebih mudah mengawasinya." Leon memberi saran.


"Ingat walau kita komunitas anti cewek, bukan berarti kita mencari masalah dengan mereka yang nggak bermasalah!" kataku mengingatkan mereka.


"Terus apa yang harus gue lakuin?!"


"Tulis laporan mengenai tingkah lakunya di kelas selama seminggu ini. Dan bila ada gerakan mencurigakan terkait cewek, langsung laporkan padaku! Ini akan menjadi misi intern kita!"


...****************...


(Sudut pandang dari Reec)


Hari senin tiba dan aku sangat semangat dengan misi rahasia yang dia percayakan padaku ini!


Tapi aku lupa yang mana orangnya. Karena itu aku berniat bertanya pada Alv saat ada kesempatan.


Sekarang sedang pelajaran bahasa Indonesia. Aku menulis sesuatu di kertas, melipatnya dan melemparkannya pada Alv yang tepat mendarat di mejanya.


"Apaan sih?!"


Dia mengambil dan membukanya. Setelah


membacanya dia menulis sesuatu lalu melempar balik.


Sayangnya lemparannya kejauhan dan mendarat di meja belakangku.


"Sorry, bisa lempar balik?" Kataku pelan-pelan agar nggak ketahuan guru.


Tapi dia malah membacanya lalu *******-***** kertasnya. Dia kemudian ke depan kelas dengan santainya dan membuangnya ke tempat sampah.


Awalnya kupikir dia anak baik, buangin kertasku dan seolah menggantikan guru memarahiku yang bermain di dalam kelas. Tapi aku jadi ketakutan begitu Alv mengatakannya padaku saat jam istirahat.


"Itu cowok yang kamu cari!"


Mendengar itu aku langsung mencari Angy.


Gile aja ya gue disuruh ngamatin psikopat?! Ntar yang ada gue digempur ama dia. Gue masih sayang nyawa!


Tapi Angy nggak ada.


"Lu tau Angy dimana?" tanyaku pada seseorang di kelas.


"Keluar sama Emil."


"Kemana?!"


"Ke kantin kali?"


Setengah lari aku menuju kantin. Aku lupa tanya kantin atas atau bawah. Kalau nggak salah sih dia sering di kantin bawah. Tapi aku nggak bisa menemukannya.


Jam istirahat berbunyi.


Gimana caranya awasin psikopat yang duduk di belakang gue?! Terus kalo gue gak buat laporan, ntar gue kena marah Angy!


Baru kali ini aku paham pepatah dari buah simalakama.


Pagi hari sebelum masuk sekolah aku merasa super spesial dipercaya dengan misi rahasia. Sekarang gue nyesel terima misi ini!


Ya Allah, utuslah seseorang untuk menolong hamba malangmu ini!


"Anak muda, mau berlutut di depan pintu sampai kapan?"


Aku baru sadar bu guru sudah memasuki ruang kelas.


Cepat-cepat aku duduk di kursiku, sedikit melirik ke bangku psikopat yang ternyata kosong.


Dia bolos?


Sempurna!


Aku bisa kasih laporan BOLOS di halaman pertama laporanku!


Jam ke-5 dan ke-6 dia belum tampak. Wah ini sih gampang sekali. Jam ke-1 sampai ke-3 nanti tulis aja di laporan diam nggak melakukan apa-apa.


Bel tanda istirahat kedua berbunyi. Aku segera menuju kelas Angy berharap dia belum keluar.


"Angy!" Kataku memanggilnya begitu melihatnya keluar dari kelas bersama Emil.


"Ada apa?"


"Gawat! Si target! Kayaknya dia tahu aku mengawasinya?"


"Apa yang kau lakukan?"


Aku menjelaskan kejadian lempar-lemparan kertas tadi kepada mereka.


"Emang apa yang kau tulis di kertas?"


"'Lu tahu psikopat yang namanya Ryan gak?'"


Aku yakin itu yang aku tulis sih.


"Tenang aja, kau nggak usah lagi mengawasinya. Aku sudah lapor mereka ke kak Gaby dan dia akan membantu kita."


Kata-kata Angy seperti nyanyian malaikat surga.


Aku dibebastugaskan dari mengawasi psikopat!


Tapi tetap saja, setiap kali masuk aku selalu penasaran apa yang dia lakukan. Mengetahui ada psikopat di dalam kelas membuatku lebih waspada.


Untungnya sampai pertemuan berikutnya nggak ada apapun yang terjadi. Sepertinya aku sudah terlalu berlebihan memikirkan hal ini.


Komunitas kali ini latihan menjahit kancing. Banyak diantara mereka yang nggak tertarik, termasuk aku, tapi kata-kata Angy membuat kita sadar diri:

__ADS_1


"Jangan pikir untuk balas dendam pada mereka, kalau hal kecil seperti ini aja kalian nggak bisa lakuin sendiri!"


Saat kita mulai menjahit mengikuti langkah-langkah yang diajarkan Leon, Angy memanggil kedua psikopat tadi keluar kelas. Aku lihat ada kak Gaby dan kak Theo sedang menunggu di luar.


Entah apa yang mereka bicarakan tapi kelihatannya serius sekali.


Selesai bicara cukup lama, mereka masuk kembali. Karena Angy nggak mengatakan apapun setelah itu, kupikir masalah telah beres.


Hebat juga ya si Angy, punya backingan ketua OSIS, dia sendiri pun anggota OSIS. Nggak ada yang bakal berani macam-macam sama dia dan komunitas yang dibentuknya ini! Aku benar-benar bersyukur bisa temenan dengannya dan masuk komunitasnya!


Tapi sayangnya takdir berkata lain.


Kupikir bisa bersekolah dengan damai dibawah naungan mereka. Tapi aku salah.


Beberapa minggu setelah kita mendapat anggota baru, pertama kali kita mendapat masalah besar sampai dapat teguran kepala sekolah.


Angy meliburkan komunitas sampai waktu yang belum ditentukan. Sebagai gantinya dia mengumpul kita di rumah Emil. Kali ini Alv ikut.


"Ada berita gawat," katanya memulai pembicaraan.


Emil sepertinya sudah tahu.


"Kenapa?" tanyaku penasaran banget.


"Ada cewek dari kelas X-5 yang dilecehkan dan pelakunya mengaku dari komunitas kita."


"Apa?! Si psikopat bereaksi?!"


"Bukan hanya dia, ada lima orang. tiga diantara mereka dari komunitas kita."


Mataku membulat tak percaya. Satu cewek dilecehin lima cowok?! Ini sih udah overdosis gawatnya!


"Kita keluarkan mereka beres kan?" Alv mencoba untuk membantu.


"Mengeluarkan mereka gampang, tapi mereka sudah mencemar nama baik komunitas kita!" jelas Leon.


"Komunitas anti cewek itu untuk melawan cewek bermasalah. Bukan untuk membuat masalah! Ini yang paling aku takutkan; menyalah artikan ideologiku!" kata Angy sedikit marah.


"Benar, kita nggak mungkin tinggal diam." tambah Leon.


"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" tanya Emil.


"Untuk itu aku memanggil kalian," jawab Angy.


Kita berlima pun mulai mendiskusikan masalah ini.


...****************...


Nama: Alan Ardian G.


Kelas: XI-IPA 1


Hobby: Nonton bola



Sebutkan alasan kalian membenci perempuan!


Lemah


Tuliskan pengalaman paling menyebalkan yang kalian dapatkan dari perempuan!


Sering diancam, digebukin.


Apakah kau pikir perempuan pantas hidup? Sebutkan alasannya!


Lebih baik semuanya mati.


Apa ide kalian untuk membuat mereka menyesal hidup sebagai perempuan?


Tunjukin siapa yang lebih kuat.


Berikan contoh cara menghancurkan hidup mereka!


Gebuk balik.



Nama: Ryan


Kelas: X-2


Hobby: tidur



Sebutkan alasan kalian membenci perempuan!


Lo*the


Tuliskan pengalaman paling menyebalkan yang kalian dapatkan dari perempuan!


dijebak


Apakah kau pikir perempuan pantas hidup? Sebutkan alasannya!


gak


Apa ide kalian untuk membuat mereka menyesal hidup sebagai perempuan?


tunjukin kodrat mereka yang hanya di ranjang.


Berikan contoh cara menghancurkan hidup mereka!


Jadiin mrk objek pemuas na*su


__ADS_1


__ADS_2