Adam Vs Eve

Adam Vs Eve
Terpaksa (1)


__ADS_3

Kupikir dengan bertambahnya anggota adalah awal yang bagus. Tapi ternyata aku salah.


Dilain sisi aku juga sadar bahwa aku membenci mereka, tapi nggak membencinya secara membabi buta sampai mau merugikan mereka, bahkan melecehkan mereka.


Selesai rapat bersama anggota utama di rumah Emil, aku pulang ke rumah.


Aku melihat sepasang sepatu hak rendah yang terletak berantakan dan segera merapikannya ke tempat rak sepatu.


Kebiasaan ibuku.


"Sudah pulang nak?"


Tumben dia pulang cepat.


"Hmm." jawabku singkat berharap nggak digubris lagi.


Sepertinya dia lagi di dapur.


Aku mengambil botol minumku dari tas dan cepat-cepat mengisinya dengan air dari dispenser di ruang tamu.


Saat hendak berbalik menuju kamarku, ibu keluar dari dapur.


"Sudah makan belum?"


Langkahku terhenti.


"Tadi sebelum pulang ibu beli rujak nih, mau nggak?"


Mendengar itu aku ikut duduk di meja makan.


Aku suka buah, tapi nggak suka saus kacangnya.


"Kamu paling suka bengkoang kan? Tadi ibu minta lebih!"


Sebenarnya aku nggak suka bengkoang. Aku selalu makan itu karena itu yang selalu tersisa paling banyak.


"Gimana sekolahmu?"


"Biasa saja..."


Rasanya sudah lama nggak bicara berduaan seperti ini dengan ibuku.


"Maaf ya ibu nggak punya banyak waktu untukmu. Padahal sejak ayahmu pergi harusnya ibu lebih banyak memberimu perhatian..."


Mendengar itu aku langsung berdiri.


"Bukan salah ibu."


Setelah mengatakan itu aku segera masuk kamarku dan menutup pintunya.


Aku merebahkan diri di kasurku dalam keadaan tengkurap dan masih berseragam lengkap.


Belum pernah aku merasa selelah ini.


Komunitas yang aku bangun belum lama ini malah diliburkan. Masalah yang bukan ditimbulkan olehku menjadi tanggung jawabku.


Apa yang selama ini aku yakini, disalah artikan oleh orang lain.


Jangan-jangan aku penyebab mereka menjadi liar seperti itu, sampai berani melecehkan perempuan?!


Aku duduk tegak ngeri memikirkan hal itu.


Apa yang salah dari ideologiku?


Wanita itu memang menyusahkan! Mereka berbeda dengan kita kaum pria! Mereka selalu seenaknya sendiri, terlalu emosional dan selalu histeris kalau ada yang membuat mereka terluka!


Tapi biarpun begitu mereka nggak pantas dilecehkan.


Itu sama saja kau menurunkan derajatmu sebagai pria. Sama saja kau menjadi rendahnya dengan mereka.

__ADS_1


"Haaahhh..." Aku menghela nafas panjang dan merubah posisi menjadi terlentang dengan tangan yang menopang kepala, kali ini melihat langit-langit kamar.


Masih tertempel banyak stiker fosfor berbentuk bintang dan galaksi yang dulu ditempelkan oleh ayahku.


Ayah...


Dia mati dibunuh karena difitnah oleh seorang wanita.


Apa bagusnya sih mereka?


Selalu wanita yang membuat cowok lemah, selalu wanita yang menggoda demi uang atau status, Aku nggak bisa menemukan sisi baik dari mereka.


Banyak pelakor, tapi apa ada yang namanya pewanor? Kalau semua wanita punya harga diri, apa akan ada pelacur di dunia ini?


"....."


Lama berpikir akhirnya aku tertidur.


Saat pelan-pelan terbangun dari tidurku, aku baru sadar ada orang lain di kamarku.


"Angy?"


Si nona pengganggu.


"Tumben belum ganti baju dan tertidur?"


Dia sering masuk ke rumah tak diundang seperti jelangkung, dan masuk kamar seenaknya.


"Mau apa kesini?!" tanyaku kesal masih terbaring di kasur dengan kedua tanganku di bawah kepala.


"Aku tahu kasusnya Ryan."


Ryan... Si cowok cabul itu ya...


"Sebenarnya sudah banyak korbannya, tapi baru ketahuan di permukaan dengan kejadian kemarin itu."


"Aku tahu kamu bikin komunitas aneh itu!"


"Bukan urusanmu!"


"Tapi dia nggak ada hubungannya dengan itu kok! Kalau nggak salah udah dari SMP dia kelainan begitu!"


"Kau tahu darimana?"


"Ada temannya temanku pernah satu SMP dengannya, dan temannya teman temanku pernah jadi korbannya."


Aku pusing mendengar kalimatnya, tapi kurang lebih aku paham dengan apa yang terjadi.


"Korban terakhirnya itu teman kelasnya Fani. Dia nggak masuk sekolah setelah kejadian itu."


Kalau dia pernah melakukan itu sebelum gabung dengan komunitasku, aku bisa membuktikan kalau kelakuannya itu nggak ada kaitannya dengan komunitasku!


"Thanks Eli!"


"Apaan?"


Aku meraih tas ku dan mencari kuesioner mereka. Kemudian aku membuka catatan ku untuk menyusun rencana.


"Ini... Kau yang buat?" Dia membaca salah satu kuesionernya.


"Aku nggak mau tanggung kalau kau sakit hati membacanya!" kataku memperingatkannya sambil menulis di buku catatanku.


"Serem amat sih pertanyaannya! Bukannya cowok juga sama aja! Lihat tuh si Ryan! Cowok itu semuanya cabul dan mesum!"


Aku mengacuhkannya dan tenggelam dalam pikiranku.


Sepertinya aku perlu bukti. Mungkin saksi korban bisa menjadi bukti yang kuat!


"Cowok pemarah sepertimu juga nyebelin apalagi cowok sok ganteng seperti temanmu itu! Dia kira semua cewek bakal klepek-klepek* dengannya?!"

__ADS_1


"Kau boleh saja membenci kami, tapi itu nggak akan berpengaruh!"


"Apaan sih! Jangan merasa sok suci ya dengan menjadi cowok! Cewek atau cowok sama aja banyak dosanya!"


"Yang dilakukan Ryan itu beda dengan yang aku yakini!"


"Yakini apaan? Tetap aja kan kamu itu benci cewek!"


"Cowok sejenis Ryan itu bukan sekedar membenci cewek! Dia itu obsesi pada mereka! Aku beda dengannya!"


Eli terdiam.


"Dengar ya, aku membuat komunitas anti cewek itu bukan untuk menjadi sok suci, apalagi untuk merendahkan mereka! Aku hanya mau membuktikan bahwa cowok bisa hidup sendiri tanpa cewek, itu aja kok!"


"Yah mungkin juga mau membuat mereka sadar kalau kelakuan mereka itu kadang menyebalkan..." tambahku.


Dari tadi dia hanya diam mendengarkan. Entah aku berhasil membuatnya bungkam, atau ada hal lain yang membuatnya terdiam. Tapi aku nggak peduli.


"Eli, kali ini aja aku perlu bantuanmu."


"Bantuan apa?"


"Kau akan tahu kalau kau ikut aku besok pulang sekolah di rumah Emil, gimana?"


"Terus kalau aku bantu aku dapat apa?"


"Apa aja deh aku lakuin khusus untukmu! Mau jadi ojek antar jemput, mau jadi tukang bawa belanjaan, atau koki pribadi, aku lakuin sehari!"


"Kok cuma sehari! Seminggu ya!"


"Ogah amat! Kelamaan hidup sama kamu!"


"Gini aja, harinya aku tentuin sesuai tingkat kesulitannya ya! Gimana?"


Aku berpikir lagi.


Aku tahu aku nggak mau melibatkan cewek. Tapi aku membutuhkan bukti dari saksi para korban yang semuanya cewek dan adalah teman-temannya. Jadi terpaksa demi komunitasku aku harus mau kerja sama dengan monyet ini.


Mungkin anggota dalam jumlah banyak kurang cocok dengan komunitasku. Tapi aku mau mempertahankan komunitas ini bersama mereka berempat! Karena itu aku membutuhkan bantuannya...


"Angy! Kok diam? Cepetan jawab dong!!"


Dasar nenek sihir nggak sabaran.


"Oke! Setuju! Asal nggak lebih dari seminggu ya!"


"Benar ya! Asikk bakal punya budak selama seminggu!!"


Benar-benar menyebalkan mendengar itu darinya, tapi aku harus tahan demi komunitas ini!


"Aku maunya kamu lakuin sepenuh hati ya! Jangan banyak ngomel, bisa kan?" Tambahnya.


"Belum juga bantu, maunya udah segudang!"


"Harus ada jaminan dong! Percuma aku bantu tapi jaminan kedepan cuma Zonkk!"


"Nggak percaya amat sih! Perlu aku tulis di kertas surat perjanjiannya? Lalu tanda tangan?"


"Ide bagus! Bikin surat perjanjian!"


"Kamu juga bantu bikin dong!"


"Bikin komunitas sendiri kayaknya seru, komunitas anti cowok songong, hahahaha pasti seru!"


Aku harap aku bisa sabar kerja sama dengan monyet rabies ini!


...****************...


*klepek-klepek: perasaan kagum

__ADS_1


__ADS_2