
"Angy ayo sini! Ngapain berdiam diri disitu?!" Teriakan melengking itu langsung merusak gendang telingaku.
Di hari ulang tahunnya, aku sebenarnya udah mengatur acara kencan Emil dengan Eli. Tapi kenapa sekarang aku malah ikut mereka?!
Eli yang biasanya suka tampil dengan baju oversized, kali ini mengenakan pakaian feminim dengan long dress biru dan jaket denim nya. Rambutnya pun dia biarkan terurai, dan sepertinya dia sedikit merias dirinya.
Penampilannya yang lain dari biasanya memang terlihat cocok dengan wajah cantik dan body tingginya sih, tapi aku telan mentah-mentah pikiranku mengingat siapa cewek dibalik penampilan menipunya itu!
Walau suka iseng mengecek tren, tapi aku kurang tertarik dengan fashion dan masa bodoh dengan penampilan. Tapi kak Sara yang tahu aku bakal pergi dengan nenek sihir itu langsung mengatur outfit ku.
Kaos V neck putih yang dirangkap dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans hitam.
Style Emil dengan kaos polo lebih simple dariku. Tapi kenapa malah terlihat lebih bagus ya?
"Ini cafe yang pengen banget aku masukin!" Kata Eli masih berdiri di depan jendela kacanya sambil melihat ke dalam.
Tapi namanya juga cafe viral yang baru buka, antriannya panjang banget!
"Kalau sudah menulis namanya, silahkan tunggu sampai namanya dipanggil ya kak!" Kata seorang Staff cafe.
"Nggak mau cari tempat lain aja?" Tanyaku padanya.
"Nggak! Pokoknya harus disini!" Eli tetap ngeyel dan kita pun mengantri dengan nomor urut yang ke duapuluh sekian.
Emil dari tadi terdiam. Antara dia grogi atau memang dia diam, sulit membedakannya karena dia memang cowok pendiam.
"Aku cari kamar mandi dulu ya." Kataku pada mereka sebelum masuk ke cafe menuju kamar kecil. Aku sengaja memberi mereka waktu berdua.
Di dalam kamar mandi aku memandang kosong pantulan wajahku di cermin. Aku kemudian mendongakkan kepalaku dan menghela nafas panjang.
Siapa yang menyangka, komunitas anti cewek yang kubentuk malah berkiblat ke kencan Eli dan Emil?
Tak lama kemudian Emil masuk.
"Kenapa kamu tinggalin dia sendirian?!" Tanyaku padanya.
"Maaf, bukan maksudku..."
Emil menatap cermin dan menata rambutnya yang memang sudah rapi. Dia kemudian mendekatkan wajahnya ke cermin dan menghapus kotoran di pipinya yang sebenarnya nggak ada.
"Kamu masih sehat kan?"
Dia terdiam.
"Menurutmu aku gimana?"
"Gimana apanya? Kamu ya kamu! Emang alien?!"
"Bukan, gimana dengan penampilanku?"
Pangeran sekolah khawatir dengan penampilannya? Terus gimana dengan kita para cowok rata-rata?
"Kamu nggak usah banyak mikir! Ini ultah Eli, jadi fokus bikin hatinya senang aja!"
"Aku nggak tahu kalau sesulit ini."
Aku mulai bersimpati padanya. Kalau orang udah jatuh cinta, pasti susah untuk mengontrol emosi mereka. Susah menjadi diri sendiri dan terkadang malah mempermalukan diri di depan orang yang kita sukai.
Aku belum pernah jatuh cinta sih, (author: gamau ngakau!) tapi aku pernah baca novel yang mengatakan demikian.
__ADS_1
"Ini kencan pertamamu, yah aku ikutan sih, tapi usahain untuk tetap jadi dirimu sendiri! Jangan takut gagal! Kalau gagal ya sudah, artinya dia bukan untukmu!"
Emil terlihat tambah pucat.
Sepertinya aku salah menasehatinya.
"Sorry, yang tadi aku bilang itu ala Angy. Kamu pasti punya cara ala Emil kan? Apa tujuanmu kencan dengan Eli?"
"Membuatnya senang?"
"Itu tadi kata-kataku! Menurutmu sendiri apa?"
"Ingin lebih mengenal dirinya."
"Jawaban yang bagus! Apa usahamu untuk mencapai tujuan itu?"
Dia terdiam sejenak. Ada orang lain masuk kamar mandi dan dia menjadi diam lebih lama.
Setelah orangnya buang air kecil, cuci tangan, ngaca sebentar, baru akhirnya pergi keluar, Emil mulai bicara.
"Membuat Eli menyukaiku."
"Itu kejauhan! Di kencan pertama jangan terlalu berharap lebih!"
Aku tahu aku nggak punya pengalaman kencan sih, tapi aku sering dengar dari kak Sara yang kerjanya kencan sama banyak cowok. Aku kadang juga suka baca novel. Novel cowok sekalipun pasti ada romannya yang sebenarnya sering membuatku jijik.
"Kupikir itu yang sering membuat orang gagal kencan. Jangan pernah berpikir orang yang kamu aja kencan itu menyukaimu. Dia memang tertarik, tapi belum tentu suka. Karena itu yang penting itu sama-sama nyaman!"
"Aku harus gimana?"
"Jangan terlalu diam! Ajak ngomong seperti biasa aja! Tanya hobi, obrolin masalah sekolah, cari kesamaan kalian."
"Sana balik duluan! Bilang ke Eli kalau aku ada urusan dan harus pulang duluan."
"Kamu mau pergi?"
"Aku bakal kembali, tapi kamu usaha sendiri dulu oke?"
Sekarang dia terlihat khawatir.
"Tenang aja! Anggap ini salah satu misi kita! Misi untuk menunjukkan kalau cowok bisa sukses di kencan pertama!"
"Makasih. Sepertinya memang aku terlalu khawatir banyak hal."
Aku teringat kalau dia punya inferiority complex, yang artinya dia selalu merendahkan dirinya.
"Eli itu orangnya santai kok! Dia nggak akan mepermalukan dirimu."
Baru kali ini aku memuji nenek sihir itu.
"Kamu harus ingat Mil! Kamu itu cowok terganteng di sekolah! Banyak cewek yang tergila-gila padamu! Eli itu sangat beruntung bisa disukai cowok populer seperti dirimu!" Aku merasa diriku gay mengatakan ini semua.
Tapi sepertinya itu sedikit membangkitkan kepercayaan dirinya.
Dia pun kembali dan aku masih menetap di kamar mandi.
Karena merasa seperti orang bodoh terlalu lama mendekam di kamar mandi, aku pun menyelinap keluar dan sedikit menoleh ke arah mereka.
Sepertinya mereka terlihat bahagia sedang membicarakan sesuatu.
__ADS_1
Dengan begini aku bisa tenang meninggalkan mereka.
...****************...
Setelah berkeliling cukup lama untuk membuang waktu, aku kembali ke cafe tadi.
Tapi aku justru nggak menemukan sosok mereka.
"Mas, couple yang tadi makan disini kemana?" Tanyaku pada salah seorang petugas.
"Wah ada banyak couple kak, saya tidak tahu."
Aku kemudian mengecek HP dan ternyata ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Eli.
Karena kawatir aku menelponnya balik.
"Halo?" Tanyaku begitu dia mengangkat telponku.
Dia terdiam lama.
"Kamu kemana sih?!" Tanyanya kemudian.
"Sorry, tapi aku udah sampein ke Emil kan kalau aku ada urusan!"
"Jangan bohong!" Suaranya terdengar gemetar dibalik ponselnya.
"Ngapain bohong? Ini aku udah balik tapi kalian nggak ada!"
"Kamu mau comblangin aku dengan dia?" Katanya menuduh. Nadanya meninggi.
Kenapa dia tahu? Dan bukannya semua cewek pasti bahagia bisa kencan dengan cowok ganteng? Tapi kenapa Eli kelihatan marah?
Atau jangan-jangan Emil nggak sengaja mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal? Eli memang kekanakan dan keras kepala. Jangan-jangan Emil malah illfeel begitu lihat tingkah laku monyetnya?
Tapi aku mungkin terlalu kawatir. Waktu camping kemarin mereka baik-baik saja, bahkan Emil terlihat lebih tertarik padanya yang jelas-jelas menamparnya.
"Kenapa diam? Ngapain sih kamu jodohin aku dengannya?! Kamu nggak mikirin perasaanku?!"
Mana pernah aku mikirin perasaan monyet.
"Udah ah nggak usah hubungin aku lagi! Nggak usah ajak temanmu itu lagi!"
Karena aku hanya terdiam terlalu tenggelam dengan pikiran-pikiranku, akhirnya dia menutup panggilanku.
Aku mencoba menelponnya lagi tapi sepertinya dia sudah mematikan teleponnya.
Aku kemudian menelpon Emil.
"Mil, kalian kenapa?" Tanyaku langsung begitu dia menjawab panggilanku.
Dia terdiam.
"Sorry banget aku nggak tahu kalau akhirnya jadi begini!"
"Bukan salahmu kok."
"Apa yang sebenarnya terjadi waktu aku nggak ada?"
Lama dia terdiam sebelum akhirnya dijawab.
__ADS_1
"Sepertinya aku salah menyukainya yang menyukai dirimu."