Adam Vs Eve

Adam Vs Eve
Hari Minggu


__ADS_3

POV Author


Sore ini, Angy, Leon dan Reec, mereka semua akan menginap di rumah kontrakan Emil yang letaknya di belakang sekolah. Rumahnya cukup besar untuknya yang tinggal seorang diri. Bahkan ada mobil mewah terparkir di halaman rumahnya.


"Bukan punyaku." Kata Emil datar setelah ditanya Reec. Ini pertama kalinya dia datang kemari.


"Rumah kontrakannya lebih besar dari rumahku. Aku penasaran rumah utamamu sebesar apa." Kata Angy membuka sepatunya.


"Pake aja, aku belum ngepel."


Angy tetap membuka sepatunya. "Mana alat pelmu?Aku bantu!"


"Bapak rumah tangga Angy sedang bereaksi saudara-saudara!" Canda Leon membentuk bukunya seperti toak.


"Kita mau bikin PR dulu kan? Nanti aja pelnya." Kata Emil terlihat lebih rajin dari biasanya.


"Emang kalian bisa belajar ya kalau rumah kotor? Udah cepetan kasih tahu mana alat pelmu!"


"Nggak ada."


"Terus kamu ngepel pake apa?"


"Tisu basah."


Reec tertawa, "Emang bisa ya?! Selesainya berapa jam tuh?"


"Emil ngepel lantai pakai tisu basah saudara-saudara!" Leon melanjutkan bicara lewat toak buatannya.


Angy yang dari tadi mematung, akhirnya pergi mencarinya sendiri di kamar mandi.


"Lah ini ada ember ada kain pel! Sabun pel aja ada!" Katanya dengan nada marah khasnya setelah menemukan satu set alat pel di kamar mandi belakang.


"Oh, mungkin punya mbak."


"Mbak siapa?" Angy.


"Kamu punya kakak?" Leon.


"Pacar gelap?" Reec.


"Mbak bersih rumah! Otak kalian nggak ada yang bener!"


"Udah pecat aja mbak mu itu! Biar aku yang bantu urus rumahmu! Jangan andalin cewek! Kerjain sendiri!" Angy mulai ngomel panjang sambil mengisi ember dengan air dan memasukkan obat pel.


"Nih!" Dia membagi-bagikan kain pel ke mereka masing-masing.


"Lu suruh gue pel?!" Kalau marah atau kaget, logat ibu kota Reec refleks suka keluar.


"Anggap aja ini latihan kemampuan bertahan hidup tanpa wanita!"


"Ini bukan hari komunitas kan, ngapain latihan segala!" Reec tetap protes.


"Emang kamu nggak pernah ngepel rumahmu, Reec?" Tanya Leon penasaran.


"Yang ngepel robot, ngapain ngepel rumah seluas aula!"


"Belajar mulai sekarang! Gampang kok! Tinggal masukin lap pel ke ember, peras sekuat tenaga sampai air keluar, lalu gosok lantainya!"


"Dia pakai robot, Gy, aman kan?" Kata Leon mengingatkan.


"Siapa tahu robot nya cewek!"


Reec melempar kain pel ke wajah Angy. "Otakmu cewek mulu ya! Aku curiga selirmu banyak!"


"Apa-apaan kamu lemparin aku pel basah!" Dia berusaha mencekik Reec yang berhasil sembunyi di belakang Emil. Emil hanya diam mematung tanpa ekspresi.


"Kalau kalian bercanda terus, PRnya nggak bakal selesai lho!" Leon mulai ngepel sendirian.


...****************...


Selesai ngepel rumah, mereka istirahat sejenak.


"Capek juga ya ngepel." Reec membasuh keringatnya dengan lengannya. "Gerah nih pengen mandi!"


"Makan malamnya apa?" Leon.


"Pesen pizza yok! Terus nobar asikk tuh!" Reec.


"PRnya oi!" Emil.


"Nih makan malam!" Angy mengeluarkan beberapa kotak makan bersama termos minum dan menaruhnya di atas meja.


"Wow Angy kau memang the best! " Kata Reec mengacungkan jempolnya. "Pantas aja bawaanmu sekarung!"


"Biasa aja kali!"


"Aku panasin ya." Emil mengambil beberapa kotak makanan dan memasukkannya ke microwave.


"Biar ku bantu!" Leon membawa sisanya dan membuka tutupnya. "Wah bahkan kamu tata rapi banget, Gy! Masa depanmu bakal cerah bisa jadi bapak rumah tangga yang baik."


"Emang siapa yang mau jadi bapak rumah tangga? Udah cepetan panasin makanannya! Keburu basi nanti!"


"Aku mandi dulu ya! Pinjam kamar mandi!" Reec pun pergi mandi.


Selesai makan dan mengerjakan PR, mereka pun bersiap untuk tidur dan masuk ke kamar Emil.


"Kau beneran tidur disini?!" Reec kaget melihat kamar Emil yang nyaris tak ada barang. Hanya ada tempat tidur ukuran queen size, meja belajar di sampingnya, dan lemari besar yang menutupi satu sisi tembok.


"Emang kamu nggak merasa kesepian?"

__ADS_1


"Beda sama kamu sih yang sukanya nyampah!"


"Apa maksud lo koleksi berharga gue dibilang sampah?!"


Kali ini gantian Reec yang menyerang Angy. Leon berusaha melerai mereka. Tak memperdulikan mereka, Emil pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi. Dia membuka salah satu pintu lemari yang ternyata adalah pintu masuk kamar mandi pribadinya.


Melihat itu, Reec berhenti menyerang Angy. "Lo nipu gue ya?! Tadi gue mandi dimana?!"


"Kamar mandi mbak?" Kata Angy menahan tawa.


"Pantes hanya ada shampoo dan sabun mandi cewek!!"


"Besok mandi lagi, oke!" Leon berusaha menenangkan Reec.


"Ngapain kamu?" tanya Angy heran melihat Reec yang tiba-tiba membuka lemari dan membongkar isinya.


"Geledah rumah."


"Apa yang kamu cari?"


"Siapa tahu ada benda rahasia yang disimpan pangeran!" Katanya tertawa jahat.


"Apa maksudmu?"


"Ayolah! Jangan sok polos kamu! Majalah playboy pasti dia punya kan?"


"Semacam dvd XXX atau majalah XXX gitu ya?" tanya Leon datar.


"Nah itu! Ayo bantu cari!"


"Kurang kerjaan." Angy berbaring di kasur sambil melihat smart phone nya, tak tertarik dengan kegiatan mereka.


"Kalian ngapain?" Tanya Emil selesai cuci muka dan sikat gigi. Dia masih memakai bandana di kepalanya dan membawa handuk kecil.


"Ayo perlihatkan koleksimu! Nggak usah malu-malu!" Reec bertanya langsung pada Emil yang baru keluar dari kamar mandi.


"Kamu itu yang nggak tahu malu." gumam Angy pelan.


"Koleksi apa?"


"Ayolah Mil, kamu masih cowok normal kan?"


"Maksud Reec koleksi majalah XXX dan dvd XXX yang kamu punya." Leon bantu menjelaskan.


"Kau nggak malu ya dari tadi bilang terus terang seperti itu?" Reec heran padanya.


Mendengar itu Emil pelan-pelan menuju meja belajarnya, memasukkan laptop yang semula ada di atas mejanya ke dalam laci dan menguncinya. Kuncinya dia kantongi.


"Koleksinya di laptop! Ayo kita geledah! Bantu aku Leon!"


"Siap!"


"Nggak seru ah!!" Teriak Reec setelah berhasil membuka laptop Emil dan melihat isinya yang sebagian besar hanya game dan folder-folder berisi video modern dance dan tarian tradisional.


Saat hendak menggeledah laci meja, Emil menahan tangannya yang membuat Reec semakin penasaran.


Emil yang kalah karena Reec mendapat bantuan dari Leon, menemukan sebuah kotak dari dalam.


"Apaan nih?" Tanyanya sambil mengeluarkan kotak itu dari dalam. "Jangan-jangan kondo..."


"Itu masker wajah!" Potong Emil dengan wajah tersipu.


Reec membukanya dan mengeluarkan sesuatu yang berwarna putih dengan tekstur seperti tisu basah dari dalam kotak itu.


"Gimana pakenya?" Tanyanya sambil mengamati benda asing itu.


"Masker wajah? Artinya pakai di wajah?" Tanya Leon mengeluarkan satu.


"Lipatannya dibuka dulu." Emil juga mengambil satu dan menunjukkan cara pakainya pada mereka. Dia sebenarnya agak malu, tapi karena sudah terlanjur ketahuan dia ikuti saja.


Mereka bertiga pun menempelkan masker wajah putih di wajah mereka. Reec mendatangi cermin besar yang tergantung di lemari.


"Jadi ini yang biasa di pake cewek biar wajah lebih glowing?" Tanyanya berpose seperti Miss Universe di depan cermin.


"Kau jadi tampan sekali tuan muda Reec." Kata Leon bercanda. Emil muncul dari belakang.


"Wkwkwk kau bahkan jauh lebih tamfan dari pangeran sekolah kita!"


Merak bertiga tertawa geli.


Angy yang baru selesai mandi melihat mereka heran.


"Ngapain kalian kayak pocong kembar tiga?!"


...****************...


Sebelum tidur, mereka menentukan siapa yang tidur di tempat tidur atas dengan hompimpa. Hasilnya Angy dan Leon tidur di atas tempat tidur, sementara Reec dan Emil di kasur bawah.


Semua terdiam.


"Kalian dah tidur?" Tanya Reec.


Tak ada yang menjawab.


"Mil!" sahut Reec.


"Hm?"


"Kamu kenapa benci cewek?"

__ADS_1


Lama terdiam Emil akhirnya jawab dengan nada agak sedih. "Ibuku..."


"Kenapa dengannya?"


"Dia nggak pernah benar-benar memperlakukanku seperti anaknya. Dia hanya peduli dengan kehidupan sosialitanya." jawabnya sambil mengingat masa kecilnya yang jarang dapat kasih sayang dari ibunya.


"Terus siapa yang urus kamu?"


"Babysitter."


"Kamu keluar rumah karena itu?"


"Ayah yang minta aku pindah dan hidup mandiri. Walau dia sibuk kerja tapi dia masih memperhatikan kehidupanku."


"Kamu nggak kesepian?"


"Udah biasa."


"Kau tenyata pangeran sekolah yang punya kisah sedih ya."


"Bisa nggak kamu berhenti menyebutku pangeran sekolah?"


"Emang kenapa? Semua di sekolah menyebutmu begitu."


Emil terdiam.


"Kau nggak kangen orang tuamu?"


"Gak."


"Masa nggak mau pulang ketemu mereka?"


"Mereka pisah rumah."


"Maksudnya cerai?"


"Belum."


"Loh kirain orang tuamu udah cerai, Mil?" Tanya Leon tiba-tiba ikut nimbrung.


"Lo belum tidur ternyata?!"


"Gimana mau tidur kalau dari tadi ada yang berisik terus!" Angy menimpali. "Kau ini ternyata bawel sekali ya! Aku nyesal ajak kamu nginap!"


"Aku ngomong banyak kalau mood ku lagi bagus! Kalian harus bersyukur karena mood ku selalu bagus kalau bersama kalian!"


"Aku lebih suka kalau mood mu lagi jelek!"


"Oke lihat aja nanti mood ku jelek khusus untukmu Angy!"


"Aku maunya sekarang! Cepat diam!"


Reec terdiam.


"Aku khawatir misi kita besok..."


"Mau ngoceh lagi sampai kapan sih?!" Angy terbangun dan melempar bantal ke Reec yang justru mengenai Emil. Emil membalas perbuatannya dengan melempar bantal yang sedang dipakai Reec, mengakibatkan kepalanya terjatuh.


Dan perang bantal pun dimulai. Kali ini Leon yang cuek karena terlalu capek ingin tidur.


Puas mengacak-acak kasur, mereka kembali ke posisi tidur mereka.


"Masalah besok kau nggak usah khawatir karena ada kita! Sekarang kau cepat tidur dan pastikan kau hanya mengingat hal buruk tentang cewekmu sebelum bertemu dengannya besok!"


Kata-kata Angy tadi membuat Reec terdiam.


Mereka semua pun tertidur.


...****************...


Paginya, Leon yang pertama bangun untuk mandi dan disusul oleh Angy yang mencuci tempat makannya kemarin dan menyiapkan sarapan sederhana.


Selesai Leon mandi, gantian Angy yang masuk ke kamar mandi.


"Bukannya semalam kamu udah mandi?" tanya Leon heran.


"Aku harus mandi dua kali sehari!"


Setengah jam sebelum bel masuk Emil bangun dan mandi cepat sebelum sarapan.


"Reec masih tidur?" Tanya Leon.


"Sepertinya."


Mereka sepakat untuk tak membangunkannya.


"Apa ini nggak keterlaluan?" Leon kasihan melihatnya.


"Kalau gitu aku berangkat duluan ya!" Kata Angy cuek memakai sepatunya.


"Ini kunci rumahku, jangan lupa kunci pagar sebelum keluar." Emil menyerahkan kuncinya pada Leon sebelum menyusul Angy ke sekolah.


"Hari ini misi untuknya dan kalian semua tega meninggalkannya?" Leon menghela nafas panjang.


"Lebih baik satu yang telat daripada semua telat! Titip Reec ya!" Sahut Angy dari jauh.


Reec terbangun sendirian 10 menit sebelum bel. Dia langsung loncat kaget melihat jam.


"Kurang ajar ya kalian!!!"

__ADS_1


__ADS_2