Adam Vs Eve

Adam Vs Eve
Anggota OSIS Yang Merepotkan


__ADS_3

"Hei kamu! Siapa namamu?" Saat ingin memarkirkan motorku di tempat parkir, aku disadarkan oleh suara jelek yang melengking. Dan aku baru sadar jumlah motor sangat jauh berkurang dari biasanya.


Masa sih hari ini libur?


"Hei! Kamu dengar aku nggak?"


Melihat sekeliling nggak ada orang lain selain diriku, aku pun berbalik ke arah suara yang sepertinya memanggilku.


Ada cewek jelek dengan wajah marah membawa kertas dalam jumlah banyak, dengan peluit merah di lehernya.


Aku memandangnya setengah merinding, ngeri melihat sosoknya.


Memangnya ada tukang parkir baru ya?


"Siapa namamu? Kok diam saja?"


"Ada masalah apa? Memangnya parkir di parkiran sekolah sekarang harus memberi tahu namanya dulu ya?" Aku masih memandangnya ngeri. Dia kelihatan seperti gorila betina.


"Jangan banyak tanya! Namamu siapa?!"


"Angy" Kataku menurut sebelum dicekik olehnya.


Gorila itu mengambil pulpennya, tetapi menghentikannya di atas kertasnya. Malah memandangku dengan tatapan yang mencekamkan.


Memangnya aku bakal takut?


"Angy?! Jangan bohong! Lengkapnya siapa? Kelas berapa?"


"Siapa yang bohong? Memang itu namaku! Angel Adam Anggara, kelas X-1. Mau minta apa lagi? Nomer HP? Nggak akan aku kasih!" Setelah mencatat, dia kembali melihatku.


"Masi bau kencur tapi udah belagu ya kamu! Motormu kutilang!" Jok motorku ditempeli stiker bergambar panah hijau yang melingkar yang ditengahnya ada pohon.


Tapi aku mengacuhkan stiker itu, aku lebih fokus pada apa yang barusan keluar dari mulutnya.


"Hah? Ditilang? Apa salahku?! Jangan seenaknya ya gori..."


"Dasar adek kelas sok pintar!"


Hampir aja aku keceplosan. Mungkin nyawaku bisa melayang kalau dia mendengarnya.


"Minggu lalu kau pasti nggak dengar pengumuman ya? Atau jangan-jangan kau malah nggak tahu siapa ketua OSIS baru yang terpilih?"


Aku terdiam.


Kalau nggak salah sih ketua OSIS baru sudah terpilih. Mereka kembar tapi aku lupa nama mereka. Aku pilih mereka karena hanya mereka satu-satunya kandidat cowok. Tapi kalau pengumuman sepertinya aku nggak dengar.


"Memangnya ada pengumuman apa?" Tanyaku pada gorila.


"Cari tahu sendiri! Cepat masuk sebelum bel bunyi! Jangan lupa istirahat pertama ke ruang OSIS ya! Atau motor kesayanganmu nggak akan dikembalikan!"


Tanpa bicara aku cepat-cepat meninggalkan gorilla itu sendirian. Untung belnya baru bunyi setelah aku tiba di kelas.


Setelah doa pagi bersama, aku melihat Emil baru masuk kelas. Seperti biasa dia sering terlambat.


Murid yang telat biasanya baru dipersilahkan masuk setelah doa. Tapi murid yang telat setelah doa akan kena sangsi.


"Mil, kamu tahu kenapa motorku bisa ditilang?" Tanyaku begitu dia duduk di kursinya di belakangku.


"Ditilang? Kamu gak bawa SIM?"


"Bukan itu! Tadi aku ditilang cewek gorila di tempat parkir motor. Memangnya hari ini ada acara apa? Bukannya yang dilarang itu bawa mobil ya? Kamu nggak dengar pengumuman kemarin?"


"Oh, aku lupa."


Emil memang cowok yang nggak bisa diandalkan. Aku juga nggak mau bertanya sama nenek sihir sialan itu. Kira-kira siapa yang bisa ditanya ya...


...****************...


"Apa?! Jadi tiap hari senin itu hari bebas polusi? Karena itu dilarang naik kendaraan bermesin?! Peraturan apaan tuh??" Aku setengah percaya mendengar apa yang baru saja disampaikan Leon. Baru sekolah disini beberapa bulan sudah ada peraturan aneh seperti ini?!


"Itu program baru ketua OSIS sekarang. Buang sembarangan akan didenda, setiap minggu akan ada kerja bakti bergilir menyapu halaman dan menyiram bunga, bahkan setiap bulan mulai bulan depan akan diadakan penghijauan. Seru juga sih ada kegiatan seperti itu. Sekolah jadi nggak monoton." Tambahnya.


"Benar." Kata Emil setuju.

__ADS_1


"Tentu saja, kalian berdua kan jalan kaki ke sekolah! Yang masalah itu aku! Terus aku harus naik apa dong? Masa naik sepeda? Kakiku bisa pegel kalo harus naik sepeda dari rumah!"


"Nah itu serunya program ini! Mereka yang terbiasa diantar naik kendaraan pun diharuskan turun dengan jarak sejauh 1 kilometer dari pintu masuk sekolah. Keren kan?"


"Keren apanya?! Nggak masuk akal! Kalo gitu mending tiap minggu aku nginap di tempatmu aja ya Mil, jadi nggak perlu naik sepeda jauh-jauh."


"Ide bagus! Kalo gitu aku juga!" Sahut Leon.


Sorry, aku belum memperkenalkan Leon. Dia itu sahabat Emil sejak SD. Kalau nggak salah dia pindah ke kota ini sejak SMP, karena itu dia pangling ketemu Emil yang katanya sudah berubah dari culun jadi keren. Walau tampangnya tua, tapi dia tipe cowok yang bisa diandalkan.


"Bukannya rumahmu memang dekat sini? Kau biasanya berangkat naik apa sih?" Tanyaku pada Leon.


"Tergantung, kalo ada yang antar aku ikut, kalo gak biasanya naik angkot."


"Ngomong-ngomong, gimana dengan motormu?" Emil mengingatkanku bahwa aku seharusnya ke ruang OSIS di jam istirahat pertama.


Aku sama sekali lupa.


Tanpa menghiraukan bel masuk yang sedang berbunyi, aku setengah berlari menuju ruang OSIS.


Sialan! Kenapa aku bisa lupa! Masa motorku beneran ditahan kalau aku nggak datang? Semoga masih ada orang disana.


Setibanya di ruang OSIS, aku melihat seseorang sedang duduk dan mengetik sesuatu di laptopnya. Sepertinya itu gorila tadi pagi. Aku terdiam bingung bagaimana harus menyapanya.


Gorila? Cewek raksasa? Manusia bertampang menyeramkan?


"Ada perlu apa?" Dari belakang terdengar suara yang dingin dan sinis.


Sebelum sempat menoleh, cowok itu menarik tanganku dan membawaku masuk.


"Sher, sepertinya kau punya pengagum rahasia!" Dia menyerahkanku pada cewek gorila tadi sambil tersenyum jahil. Tunggu dulu, apa katanya?


"Gila ya, kagum sama cewek gorila? Mustahil!"


Aku keceplosan.


Kuharap telinganya tersumbat dan pendengarannya terganggu.


Cewek gorila itu berhenti mengetik. Dia berbalik dan melihatku dari atas sampai bawah.


Aku baru sekarang melihat gorila mengamuk. Wajahnya yang jelek jadi tambah jelek.


"Oh jadi kau yang melanggar peraturan tadi pagi? Siapa namanya?" Cowok yang entah siapanya gorila tadi, membaca kertas yang terletak di samping laptop. "Angel Adam Anggara, namanya Angel tapi cowok."


Emang ada yang salah?


"Kelas X-1" lanjutnya "Murid kelas X tapi sudah bawa motor ya? Kamu ada SIM kan? Boleh minta SIM mu?"


Aku mengeluarkan dompetku yang selalu aku kantongi, dan mengeluarkan SIM ku.


"Oh jadi usia kita sama nih? Ada masalah apa sampai kau pernah tinggal kelas?"


Aku nggak benci cowok, tapi aku nggak suka dia bertanya mengenai hal pribadi.


"Anyway, menurutmu kau berhak mendapatkan motormu kembali?"


"Aku kesini dengan tujuan itu."


"Mimpi sana! Sudah melanggar aturan, datangnya telat, lalu sebut aku apa? Gorila? Kau pikir dengan mudahnya motormu akan dikembalikan?"


Gawat. Sepertinya pendengarannya masih bagus.


"Ada juga ya murid kelas X yang berani kurang ajar dengan kakak kelas." Cowok itu tersenyum sinis padaku. "Selaku wakil ketua OSIS, aku akan memberimu sanksi."


Ternyata dia wakil ketua OSIS yang baru. Kalau tahu dia ternyata menyeramkan begini, dan bersekongkol dengan cewek gorila, aku nggak akan memilihnya.


"Kasi sanksi apa ya? Pungut sampah, atau tiap pagi minta mengabsen murid? Atau..."


Tiba-tiba pintu terbuka dan cowok yang mirip sekali dengan wakil ketua OSIS tadi masuk ruangan.


"Sorry telat!" Mereka berdua sangat mirip, tapi gaya rambutnya berbeda. "Siapa dia?" Tanyanya melihatku.


"Lapor bos, tadi pagi dia melanggar peraturan dengan mengendarai motornya sampai depan sekolah, kemudian dia telat ke ruang OSIS untuk melapor. Ditambah tadi dia menyebutku dengan sebutan 'gorila'." Cewek itu menyerahkan kertas laporannya.

__ADS_1


Memang aku salah melanggar peraturan dan telat lapor, tapi aku nggak merasa bersalah telah menyebutnya gorila. Memang badan dan wajahnya mirip gorila, lalu aku harus memanggilnya apa? Dewi cantik jelita?


"Hmm, anak kelas X ya. Berani juga memanggil Sherly 'gorila'... "


Memang kenyataan.


"Sebaiknya kita beri dia sanksi lalu menyuruhnya pulang bawa motornya ke rumah. Buang waktu berurusan dengannya!" Wakil ketua iblis memberi saran kepada ketua.


Tapi aku nggak setuju.


"Pulang? Nanti ada ulangan Fisika, aku udah mati-matian belajar!"


"Memangnya aku peduli?"


"Cukup Theo, serahkan dia padaku. Kau dan Sherly cepat selesaikan laporan persiapan 17an sebelum jam berikutnya dimulai."


Nggak salah lagi, dia Ketua OSIS baru. Namanya Gabriel Clementine. Berarti cowok satunya itu kembarannya ya? Dia jadi wakil ketua OSIS, Theodor Victoria.


Baru sekarang aku memperhatikan nama mereka yang tertera di badge nama kantong atas seragam.


"Angel ya namamu?"


"Angy."


"Angy? Oke..." Tampangnya lebih sinis daripada kembarannya. Dalam hati aku berdoa bisa segera keluar dan ikut ulangan Fisika.


"Apa kau tertarik bergabung jadi anggota OSIS?"


Hah?


"Ngapain masukin murid kurang ajar ke dalam anggota?" Wakilnya kelihatan nggak setuju.


Siapa juga yang mau jadi anggota.


"Daripada memberi sanksi, kamu mau kan bergabung dengan kami?"


Bergabung dengan komplotan gorila betina? Yang benar saja...


"Gimana? Mau kan?" Wajahnya sudah nggak terlihat sinis lagi.


Entah apa yang ada dipikirannya mengajakku jadi anggota yang jelas-jelas sudah melakukan beberapa pelanggaran.


Daripada menjadi anggota OSIS, lebih baik membuat komunitas sendiri dengan anggota tanpa cewek.


Hei, bagus juga ideku.


"Aku mau gabung, tapi ada syaratnya." Kataku akhirnya.


"Syarat? Kau pikir kau siapa berani memberi syarat ke ketua OSIS?!" Bentak si wakil iblis.


"Bos, jelas-jelas dia kurang ajar, masi berpikir mau merekrutnya jadi anggota?" Gorila betina pun nampak tak setuju.


"Hoo.." Ketua OSIS nyengir. Dia menghiraukan anak buahnya dan menatapku dalam-dalam "Kau menarik juga."


Aku merinding. Kuharap dia bukan gay.


"Baiklah. Aku akan penuhi syarat darimu, asal kau mau bergabung dengan kami. Pelanggaranmu pun akan dihapus dan motormu juga akan dikembalikan. Kau pun boleh langsung kembali ke kelas dan mengikuti Ulangan Fisika yang kau tunggu-tunggu. Gimana?"


"Setuju!" Jawabku tanpa basa-basi.


"Sher, masukkan dia ke dalam daftar anggota baru. Kita akan bicarakan lagi setelah pulang sekolah. Begitu bel langsung kemari ya! Kuharap kau nggak datang telat lagi."


"Aku janji. Sudah boleh keluar?"


"Silahkan, sampai nanti ya!"


"Kau serius Gab?! Syaratnya aja belum didengar, kau asal setuju dengannya! Ditambah dia gabung dengan kita?!"


Aku bisa mendengar sang wakil iblis terlihat nggak setuju dengan keputusan ketuanya.


Bodo amat.


Yang penting syaratku bakal dipenuhi.

__ADS_1


Aku kembali ke kelas dan terus tersenyum. Selama sekolah disini aku baru kali ini merasa sesenang ini.


__ADS_2