
Seorang gadis berambut panjang dengan body tinggi langsing dan wajah kecil bak model sedang berdiri di antrian.
Orang normal yang melihatnya pasti setuju bahwa dia termasuk gadis yang cantik dengan wajah asianya.
Tapi bagi yang mengenalnya pasti tahu bahwa wajah feminimnya sangat kontras dengan penampilan sehari-harinya yang tomboy, sifat brutal dan koleksi anehnya.
Gadis itu bernama Eliana Evelyn.
Dia sedang menunggu seseorang.
"Lagi sendirian non?" Goda dua cowok iseng yang usianya terlihat sedikit di atasnya.
Eli mengacuhkan mereka.
"Gabung sama kita mau?" Acuhannya justru membuat para cowok itu semakin giat beraksi.
"Cakep-cakep kok jual mahal sih?"
Eli mengambil ponselnya dan pura-pura menelpon ayahnya. "Halo pi? Masih lama? Cepet kesini ya! Capek nungguin nih!"
"Anak papi ternyata!"
"Ayo main dulu sama kakak!"
Nggak kapok juga ya mereka! Batinnya kesal.
Tak jauh dari sana, jalan seorang pemuda dengan ketampanan tak wajar. Badannya yang tinggi tegak dan wajah blasteran Eropa membuatnya selalu jadi pusat perhatian.
Ekspresinya yang dingin mencekam selalu disalah artikan sebagai cowok berdarah dingin yang kejam dan seorang playboy yang tak pernah kehabisan cewek.
Namun bagi yang mengenalnya tahu bahwa dia seorang pemuda sederhana dengan kepribadian melankolis dan introvert. Hal itu kontras dengan kenyataan bahwa dia bibit unggul dari model luar negeri dan CEO 8 perusahaan, tuan muda konglomerat.
Pemuda itu bernama Emilio Daniel.
Dia berdiri di belakang para cowok iseng itu dengan aura seorang pembunuh. Padahal aslinya dia bingung apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan Eli.
Dua penggoda tadi berbalik dan kaget setengah mati mendapati Emil di belakang mereka.
"Papi itu cowoknya?"
"Maaf tuan, kami permisi dulu."
Mereka akhirnya menyingkir tetapi Eli tak terlihat senang.
"Mana Angy?" Tanyanya terlihat cemberut.
"Katanya ada urusan."
Eli terdiam.
Dia sangat benci dengan cowok tampan. Apalagi yang populer. Dan alasannya masih belum diketahui.
Mereka berdua menunggu di antrian dalam diam. Setelah menunggu cukup lama, nama Eli pun akhirnya dipanggil dan mereka berdua masuk ke dalam cafe.
Suasana cafe khas anak muda dengan interior yang simpel tapi artistik. Perpaduan antara alam dan nuansa modern membuatnya lagi viral di dunia medsos. Mereka berdua pun diantar ke sudut cafe yang agak jauh dari keramaian.
Seperti biasa, Emil dengan wajah ganteng ala bulenya selalu menjadi pusat perhatian. Itu membuat Eli sedikit tidak nyaman. Dia beberapa kali mencoba menghububgi Angy tapi tidak diangkat.
Terkadang Emil mencuri pandang ke arah Eli. Dia berusaha menyemangati dirinya agar menjadi diri sendiri sesuai nasehat sahabatnya.
Jangan diam terus Emil! Ayo ajak ngobrol! Tanya hobinya atau tentang sekolahnya...
"Mau pesan apa?" Tanya Eli tiba-tiba.
"Aku suka main game." Tunggu dulu, dia tanya menu?
"Oh, game apa?" Untungnya Eli langsung konek.
__ADS_1
"Lebih suka offline game sama console game."
"Hmm..." Balas Eli singkat seolah tak tertarik, "Mau pesan apa?"
Eli menyodorkan menu kepadanya. Emil mengambil dan mulai membacanya.
Dia kaget mendapati nama-nama menu yang terlihat norak.
Lovin' You Latte, Flirty Me Frappé, Passionate Kisses Passionfruite Punch... Kenapa nama menunya semua intim begini?
Emil mengintip dari balik menu melihat Eli yang sudah bosan menunggu dengan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.
Melihat itu dia merasa terintimidasi olehnya.
"Udah pilih belum?"
"Sudah," dustanya, tak mau membuat Eli menunggu lebih lama.
Eli pun memanggil Staff cafe dan memberi tahu pesanannya.
Emil mulai tenggelam dalam pikirannya. Seharusnya dia yang memanggil Staff dan dia yang menawarkan menu. Kenapa dia pasif begini? Tanyanya dalam hati.
"Hey!" Eli melambaikan tangannya di depan Emil yang melamun.
"Oh ini." Katanya asal menunjuk menu.
"Kalau itu menu special kak, sudah dibaca ya kak? Persiapannya butuh waktu cukup lama."
"Ya." Jawabnya cepat.
Staff cafe pun pergi meninggalkan mereka berdua. Eli masih berusaha menghubungi Angy tapi belum diangkat.
Dalam hati Eli sebenarnya ingin sekali pulang. Dia berharap bisa makan bersama Angy, tapi tak menyangka Emil ikut bersamanya. Dan sekarang Angy malah menghilang entah kemana, meninggalkan dirinya berdua dengan cowok yang dibencinya.
Di lain sisi, Emil berdoa dalam hati agar bisa lebih percaya diri dan terlihat menawan di hadapan Eli. Dia terus menerus melatih dirinya menyusun strategi yang sempurna untuk mengajaknya bicara.
Dia kemudian menetapkan hatinya di kesempatannya yang entah kapan datang lagi ini.
"Kamu..." Eli langsung menoleh padanya. "Kamu suka main game apa?" Bagus! Soraknya dalam hati merasa berhasil menanyakan sesuatu pada Eli.
"Basket." Jawabnya singkat.
Emil belum pernah memainkan game jenis itu dan pembicaraan menjadi mati.
Dia berusaha mencari topik baru yang kira-kira disukai olehnya.
"Kamu..."
"Kamu nggak usah paksain diri untuk bicara kalo memang nggak mau bicara!" Kata Eli tajam.
Emil langsung ciut. Dia merasa dirinya tidak pantas duduk bersama Eli.
Tiba-tiba seorang cewek mendatanginya.
"Eli! Kebetulan ya bisa ketemu!"
Cewek itu ternyata Lani, yang waktu itu ikut camping. Dia dan teman-teman ceweknya baru saja selesai makan.
Sebenarnya Eli sempat kecewa dengan Lani yang ternyata munafik. Karena kecemburuannya pada Eli atas perlakuan khusus Emil padanya saat camping, dia jadi sering membully Eli.
Lani yang terlalu fokus pada Eli karena ingin membullynya, langsung dihentikan oleh temannya.
"Lan! Itu." Temannya menunjuk Emil dengan ujung kepalanya.
Lani langsung kaget melihat Eli satu meja dengan Emil pujaan hatinya. Dia kemudian mengacuhkan Eli dan langsung mengajak Emil bicara.
"Halo Mil! Masih ingat aku kan?"
__ADS_1
Emil melihatnya dengan ujung matanya, sebenarnya masih sedih diskak mat Eli sebelumnya.
"Aku ini teman Eli, waktu itu kita camping bareng!"
"Oh..." Jawabnya singkat. Dia berpikir harus baik pada teman Eli. Tapi melihat ekspresi Eli yang terlihat tidak nyaman membuatnya sedikit curiga.
Lani hendak duduk untuk bergabung dengan mereka tapi dihentikan oleh Emil.
"Maaf, dia sepertinya gak suka kamu." Katanya to the point dengan ekspresi dingin ikut terlihat kesal.
Eli kaget melihat tingkah Emil yang ternyata cukup peka dengan ketidak sukaannya pada cewek itu.
"Kamu bilang apa sih! Aku sama Eli itu sahabat." Kali ini dia ingin memeluk Eli, pura-pura menunjukkan keakrabannya, tapi justru ditepis Eli.
"Pergi sana!" Katanya jengkel.
Lani sebenarnya belum mau menyerah karena tidak ingin kalah dari Eli, namun tiba-tiba para staff cafe datang membawakan sebuah piring dengan kue berbentuk hati. Mereka lalu menyanyikan lagu romantis dan menaruh kuenya ke depan Eli.
Seluruh isi cafe menjadi heboh dan semua mata tertuju pada Eli yang kebingungan.
Jangankan Eli, Emil pun bingung setengah mati dengan apa yang sedang terjadi. Dia pikir ini kejutan ulang tahunnya. Tapi kenapa mereka bisa tahu? Lalu kenapa kuenya berbentuk hati dengan tulisan I love You? Belum para staff menyanyikan lagu romantis, bukan lagu ulang tahun.
Emil melirik ke arah menu dan membaca pesanan special yang dia pesan tadi.
Ragu untuk menyatakan cinta? Tenang saja, kami akan bantu! Menu special dengan si dia yang special! Akan ada kejutan lho! Kami mendukungmu!
Seketika itu juga Emil menjadi pucat pasi.
Pantas saja harganya mahal!
Bukan itu masalahnya.
Emil belum siap untuk menyatakan perasaannya pada Eli. Dia masih ingin mengenalnya terlebih dahulu.
Tapi sudah terlambat.
Pengunjung yang menyaksikan mereka ada yang merekam adegan romantis itu lewat ponsel mereka. Ada yang berdiri tepuk tangan dan ikut bernyanyi.
Lani yang melihat ini semua langsung mundur teratur. Dia sama sekali tak menyangka pangeran sekolah yang dingin bisa melakukan hal seromantis ini. Dia pun pergi dengan dendam lebih besar pada Eli.
Eli yang mendapat perlakuan istimewa ini terlalu terkejut sampai kehabisan kata-kata. Mulutnya masih terbuka dan matanya membulat. Dia nggak suka menjadi pusat perhatian, terlebih lagi dia nggak habis pikir ditembak di depan umum oleh orang yang dibencinya.
"Gila cowoknya ganteng banget!"
"Mereka kelihatan malu-malu, lucu deh!"
"Ayo diterima dong!"
Terdengar banyak ucapan simpang siur dari para pengunjung. Eli masih bingung bagaimana harus bereaksi.
Sementara itu Emil masih bergulat di dalam hatinya, antara kesempatan yang baik untuk dilanjutkan atau jujur dengan kenyataan bahwa dia salah memesan menu.
Setelah para staff selesai bernyanyi, Eli ditanya untuk menerima cowok dihadapannya itu atau tidak.
Dia merasa sangat kesal.
Kayak orang mau melamar nikah aja sih! Malu-maluin! Mentang-mentang ganteng dia pikir bisa berbuat seenaknya?!
Emil memandanginya dengan perasaan bersalah. Dia tahu dia sudah salah memesan 'menu tembak heboh' seperti ini. Tapi ada perasaan lega juga yang bercampur. Lega mengetahui bawa Eli sekarang mengetahui perasaannya.
Namun tak demikian dengan Eli yang merasa terintimidasi dengan ratusan mata yang memandangnya dan dihadapi kejadian yang tidak dia harapkan.
Setelah lama diam Eli pun menjawab pelan.
"Maaf, tapi aku menyukai orang lain." Katanya dan segera kabur dari sana meninggalkan Emil yang shok sendirian dikelilingi keramaian.
Ini benar-benar ulang tahun terburukku! Batin Eli. Matanya sekarang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1