
Kita berdua sedang duduk di ruang tunggu yang dikelilingi oleh kaca, sehingga orang luar bisa melihat kami.
Walau memang nggak ada privasi karena transparan seperti ini, tapi aku belum pernah berduaan dengan seorang cewek di dalam ruangan.
Jangan sebut Eli, bagiku dia itu ras monyet.
"Nih, servis dari kami!" Katanya memberiku kemasan air putih.
Dia lalu membuka kemasannya dan mulai minum.
Tanpa sadar aku terus memperhatikan dirinya.
Aku berusaha mengontrol otakku dengan menyadarkan diriku bahwa dia itu seorang perempuan. Semua spesies hawa itu menyebalkan dan menyusahkan hidupmu. Mereka itu jahat, licik, emosian...
Tapi kenapa dia kelihatan menarik saat dia menyelipkan sedikit dari rambut ikalnya ke belakang telinga?
Jangan terhasut Angy! Dia sedang mengontrol pikiranmu!
Aku kemudian memalingkan wajahku, berusaha untuk mengalihkan pandanganku darinya.
"Sepertinya hujan mulai berhenti. Kamu beruntung pulangnya nggak usah hujan-hujanan lagi!"
Dia mulai bicara.
Suaranya yang sedikit rendah bikin nagih.
Ya ampun, ada apa dengan telingamu Angy?! Itu suara milik spesies kaum hawa! Mereka penghasut ulung! Jangan biarkan dirimu dicuci otak oleh mereka!
"Maaf aku banyak bicara, kamu benci cewek ya?"
Sejenak pikiranku berhenti mendengar itu.
Aku memang benci cewek tapi kenapa rasanya ada getaran aneh di dada yang membuatku sesak nafas mendengar itu keluar dari mulutnya?
"Bukan, aku..."
Entah kenapa otakku sedang nggak normal.
Aku yang biasanya dengan PD mengumpat mereka, sekarang malah mengelak kenyataan bahwa aku memang membenci cewek.
"Aku..."
Dari tadi aku masih mencoba untuk mencari alasan. Memangnya apa alasanku nggak membenci cewek?
Kamu itu sangat membenci para spesies betina Angy! Cepat bilang sebelum dia salah paham!! Cewek itu nggak pantas hidup! Hanya bikin susah!
Tapi kalau aku bilang begitu apa dia bakal sedih?
Kenapa harus takut dia sedih?! Memang dia pantas tahu kenyataan pahit!!
Gila.
Aku memang udah gila.
Seumur hidup aku belum pernah merasakan kontradiksi seperti ini. Sepertinya otak dan hatiku sedang bertentangan, saling melawan satu sama lain...
"Tenang aja, kalau kamu benci cewek bilang aja!"
__ADS_1
Hah?
Aku mengangkat kepalaku akhirnya berani menatapnya lagi.
Dia nggak sedih kalau aku benci cewek. Dia itu cewek kan? Secara nggak langsung artinya aku benci dia juga.
"Aku juga benci cewek." katanya santai sedikit tersenyum dengan wajah yang sedih seperti ada maksud lain dari pernyataannya itu.
"Kalau saja aku dilahirkan jadi cowok, aku nggak usah susah-susah mengendalikan emosi dan perasaanku, logikaku pasti lebih jalan. Telingaku juga pasti nggak akan selemah ini, yang gampang terbuai oleh ucapan manis..."
Dia mengaku sendiri kalau dia benci cewek.
Dia cewek tapi benci cewek.
Apa dia mau gabung di komunitasku ya kalau aku ajak?
"Apa untungnya ya jadi cewek? Hidupnya selalu menyusahkan orang. Kalau cewek diperkosa, dia yang bakal hamil dan harus tanggung atas dosa yang dilakukan bersama. Cewek lah yang harus tiap bulan mengalami datang bulan yang sakit tapi dicap kotor. Cewek lah yang harus mengandung 9 bulan dan melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa.
Nggak ada untungnya jadi cewek. Semua serba susah tapi ujungnya nggak dihargai."
Omongannya jadi berat. Mendengar itu aku justru bersimpati pada mereka kaum hawa. Aku nggak pernah mengalaminya sendiri jadi aku nggak bisa membalas kata-katanya.
Dia kelihatan tambah sedih.
Aku pun mencari cara untuk menghiburnya.
"Apa kamu tahu kalau cowok lahir dengan kromosom XY sementara cewek dengan kromosom XX? Kamu harus bangga menjadi cewek karena kromosom mereka lebih kuat."
Dia terlihat bingung dengan pujianku.
Dia bengong.
Aku memang mencari cara tersembunyi untuk memujinya karena nggak mau terang-terangan memuji wanita.
"Walau aku nggak ngerti, tapi terima kasih sudah coba menghiburku." katanya tersenyum.
Kalau tersenyum, dia kelihatan jauh lebih cantik daripada saat dia sedih seperti tadi.
Tunggu dulu, aku bilang cantik lagi?!
Menurut standar kecantikan sebenarnya Eli lebih cantik darinya!
Eli jauh lebih putih darinya, rambutnya hitam lurus cocok dengan bentuk wajahnya yang oval. Sementara dia berambut ikal dengan wajah bulat! Bulu mata Eli lebih lentik dan alisnya sangat rapi, sementara dia hampir alis dan bulu matanya tidak ada! Belum bibir dan hidung mereka jauh berbeda!
Hancur sudah otakku...
Aku bahkan membandingkannya dengan monyet betina itu. Dimana harga diriku?
Apa standar kecantikanku berbeda dengan dunia?
"Jangan terlalu banyak berpikir, nanti otakmu bisa hangus terbakar!"
Kenapa dia tahu?
"Kamu pasti jenius di sekolah ya? Sering dapat nilai bagus?"
"Nggak juga."
__ADS_1
Kataku bohong.
Harusnya ini saatnya aku unjuk gigi dan pamer nilaiku yang pasti jauh lebih tinggi daripada dia warga wanita!
Tapi kenapa aku merasa terlalu malu melakukannya?
Nyaliku menciut di depannya.
"Maaf tadi udah ajak ngomong yang berat sampai membuatmu berpikir seperti itu."
Sebenarnya udah dari kemarin kamu buat otakku kerja rodi lebih banyak!
"Mungkin aku masih sedikit dendam dengan istri kakakku, yang dengan rayuannya bisa merebut kakak dariku! Makanya aku tadi bilang benci cewek."
Apa ini alasan wajah sedihnya tadi?
"Tapi seperti yang kamu bilang, cewek dan cowok memang dari lahir berbeda. Mereka punya kelemahan dan kekuatannya masing-masing. Apa karena itu manusia diciptakan berpasangan ya, untuk saling melengkapi?"
"Kau salah!"
Kali ini aku nggak setuju dengannya.
"Mungkin memang awalnya cowok dan cewek diciptakan berbeda untuk saling melengkapi. Tapi kenyataannya mereka akan saling menghancurkan!"
Aku masih ingat jelas masa laluku. Ibuku yang meminta cerai dari ayahku yang nggak pulang beberapa minggu tanpa kabar. Mereka yang biasanya mesra malah bertengkar.
"Untuk menghindari perselisihan sebaiknya cowok dan cewek hidup terpisah!"
Sejak pertengkaran itu rumah menjadi seperti di neraka. Lalu ada cewek pelakor yang malah membawa pergi ayahku. Tapi ayahku malah mati di tangannya.
Bayangan masa laluku sudah memudar. Tapi aku bisa ingat jelas perasaan tertekan saat itu.
Dunia nggak bisa damai bila wanita dan pria disatukan. Dari awal mereka bukan untuk disatukan.
"Yang kamu bilang benar."
Kali ini dia setuju dengan pernyataanku.
"Kalau cewek dan cowok disatukan pasti akan menyebabkan banyak konflik karena perbedaan yang terlalu banyak." Dia mulai memainkan rambutnya.
"Tapi sebenarnya kalau mereka mau saling memahami dan menerima perbedaan itu, pasti akan baik-baik saja kok!" katanya tersenyum.
Memahami dan menerima perbedaan?
"Sepertinya kamu cowok yang baik ya. Udah baik, jenius, ganteng lagi. Pasti bahagia bisa jadi cewekmu!"
Mendengar itu aku langsung memalingkan wajahku. Pipiku terasa panas. Sepertinya ruangan ini perlu AC.
"Akinya udah datang non!" Seorang pekerja masuk memanggilnya.
"Oke! Saatnya bekerja!" Dia berdiri dan mulai meregangkan badannya.
"Aku kerjain motormu dulu ya! Kamu masih boleh tunggu disini kok dek!"
Apa?
Dek?!!
__ADS_1