
Api unggun sudah terpasang di hadapan mereka. Sebelum melanjutkan game Api unggun, Vira mengumumkan penilaian misi mereka sebelumnya.
"Untuk tenda: 5 untuk tim cowok, 2 untuk tim cewek karena terlambat!"
"Kenapa kita cuma 5 kak?!" protes Reec.
"Karena aku nggak lihat kalian bangun!" seru Vira.
"Bagiku 10 untuk tim Angy, 8 untuk tim Eli alasannya sama karena telat."
"8 itu nggak ketinggian beb?" Tanya Vira kurang setuju dengan penilaian pacarnya.
"Aku bisa ditinju Eli kalau kasih nilai terlalu rendah yank." bisik Ray tak ingin tim Angy mengetahuinya.
"Lalu untuk makanan: 7 untuk tim cewek, 5 untuk tim cowok karena nggak bawa alat makan!"
"Kakakmu pelit amat Gy!" Lagi-lagi Reec protes.
"Kalau aku sih sama-sama enak jadi semua dapat nilai 10!"
"Padahal tim mereka cuma ceplok telur!!" Kalian pasti tahu siapa yang protes.
"Apa boleh buat, membawa makan dari rumah termasuk persiapan. Fokusnya ke masakannya, bukan prosesnya!" jelas Vira lebih lanjut.
Dan lagi Reec protes. "Bukan proses apaan? Gak lihat proses bangun tenda aja dapat nilai jelek." katanya mencibir.
Angy setuju, tapi dia berusaha tenang. "Biar aja Reec. Lihat aja siapa yang bakal menang di akhir."
"Oke selanjutnya kita akan main game 'jujur atau tantangan'. Kalau kalian berhasil menjawab dengan jujur atau menyelesaikan tantangan dengan baik, kalian akan mendapat 2 poin. Kalau kalian gagal otomatis nggak dapat poin. Paham?"
Ray mulai menjelaskan misi mereka selanjutnya. Game yang sederhana dan mudah diikuti, tapi memerlukan kejujuran dan keberanian.
"Aku akan memutar botol ini. Orang yang ditunjuk boleh memilih jujur atau tantangan. Jika orang yang ditunjuk adalah cewek, maka tim cowok bebas merundingkan pertanyaan atau tantangan yang akan diberikan. Begitupun sebaliknya."
"Ingat ya, dilarang membuat pertanyaan atau tantangan yang melecehkan lawan jenis!" tambah Vira.
Ray mulai memutar botol dan korban pertamanya jatuh ke Reec.
"Tantangan!" pilihnya tanpa pikir panjang.
Tim cewek pun mulai mendiskusikan tantangan yang berat.
"Joged Baby shark sambil nyanyi!" suruh Momo dengan tegas seolah-olah memerintah.
"Gampang amat!"
Tanpa tahu malu, Reec mulai menarikan dan menyanyikan lagu baby shark. Dia memang PD, tapi tubuhnya yang kaku kelihatan seperti sedang usir hantu.
Tim cewek semua tertawa terkekeh-kekeh.
"Memang aku seburuk itu ya?" tanyanya malu-malu pada timnya.
"Lebih memalukan daripada Tarzan joged!" jawab Angy.
"Yang penting dapat 2 poin!" kata Leon menyemangatinya.
Berikutnya mulut botol tertuju pada Eli.
"Aku pilih jujur!" katanya.
Tak lama berdiskusi, tim cowok sudah menentukan pertanyaan. "Siapa di antara kita yang paling ganteng?" tanya Leon mewakili tim.
Apa?? Sialan tahu gitu aku pilih tantangan! batin Eli. Pipinya memerah. Di antara mereka ada cowok yang ditaksir olehnya. Dia terlalu malu untuk mengakuinya.
"Ayo cepat!" Angy sengaja membuatnya merasa tertekan.
Walau Emil sebenarnya sudah tak mau peduli padanya akibat kenangan pahit yang terjadi di antara mereka dulu, dia masih sedikit berharap Eli akan memilihnya.
"Harus jujur loh! Awas bohong!" Reec menambah tekanannya.
Lama berpikir akhirnya Eli menjawab dengan suara pelan "Kak Ray..."
"Apaan tuh! Jawaban invalid!" protes Alv
"Tunggu dulu, kalau maksud kalian diantara kalian berlima, seharusnya kalian jelas dengan pertanyaan kalian. Kecuali Eli menyebut nama cewek karena ganteng itu umumnya untuk cowok!" jelas Vira.
Walau tim cowok kurang setuju, Eli bernafas lega.
Setelah itu Fani memilih jujur mengaku belum pernah pacaran. Lani juga memilih jujur, mengaku kalau belum pernah masak. Leon yang mengambil tantangan mencium ketek Momo. Sasa yang memilih jujur memakai pakaian dalam warna hitam. Momo memilih tantangan memuji semua anggota tim anti cewek. Kemudian Alv yang mengambil tantangan wajahnya di make up.
Akhirnya tersisa Emil dan Angy yang belum mendapat giliran.
Angy yang memilih jujur, menjawab Eli sebagai pasangan nikahnya di masa depan. Karena baginya dia hanya mengenal Eli diantara lima cewek itu, jadi dia santai menjawabnya.
Giliran Emil memilih tantangan karena dia tak ingin membongkar hal pribadinya. Tapi dia justru disuruh untuk mencium orang yang disukainya, yang tentu saja keberatan bagi Emil.
"Dasar licik! Kalian cari kesempatan sama pangeran sekolah ya?! Ini termasuk pelecehan!" protes Reec membela Emil.
Normalnya, para cowok akan bersuit-suit ria bila mendapat tantangan ini. Tapi ini game antara tim yang saling membenci lawan jenis. Harga diri masing-masing lebih tinggi daripada godaan nafsu.
__ADS_1
"Selama itu ciuman selain di bibir itu nggak masalah." jelas Vira.
Emil bingung. Dia sadar dirinya masih menyukai Eli, tapi dia tak mau orang lain mengetahuinya, apalagi dia sadar Eli membencinya.
"Bagaimana kalau nggak ada cewek yang dia taksir?" Angy mencoba untuk menolong sahabatnya itu.
"Pilih aja salah satu di antara kita!" kata Lani penuh harap.
Walau mereka membenci cowok, tapi cewek mana sih yang nggak mau dicium pangeran? Selain Eli dan mungkin Fani, semua cewek berharap untuk dicium olehnya.
"Kamu boleh menyerah kok." kata Leon.
Jiwa malu dan introvert Emil pun akhirnya memilih untuk mundur.
Emil memang sempurna; dia tampan, dia kaya, dia juga pintar. Tapi dalamnya seorang pengecut. Dia terlalu tidak percaya diri pada dirinya.
"Jadi totalnya 8 untuk tim cowok dan 10 untuk tim cewek."
Tim Eli langsung bersorak ria.
Emil merasa bersalah tapi Angy menyemangatinya.
"Tenang aja, masih banyak misi lain. Ini bukan salahmu!"
Mereka pun mematikan api unggun dan masuk tenda masing-masing untuk tidur.
Ray dan Vira masih bermesraan sambil melihat bintang. Alv yang lagi PDKT pada Fani pun diam-diam menyelinap keluar.
Leon seperti biasa selalu tidur cepat. Tapi Emil masih belum bisa melupakan kejadian memalukan tadi dan Angy sadar akan hal itu.
...****************...
Keesokan harinya cuaca masih cerah. Misi berikutnya untuk mencari foto spot terbaik yang diadakan selama 3 jam. Selama itu mereka dibebaskan pergi sekitar lokasi untuk mencari lokasi foto grup dengan pemandangan bagus.
Setelah sarapan tim cewek dan tim cowok pun berpencar untuk hunting spot bagus.
"Pake baju daun-daun seperti Tarzan gimana?" saran aneh Reec.
"Kamu aja sendiri! Memang bangsa monyet maunya bertingkah seperti monyet." Cela Alv.
"Tarzan bukan monyet keles!"
"Boleh juga sih idenya." Leon setuju dengan pendapat Reec.
Mereka berdua pun mulai mengambil rumput dan menyelipkan setengah dari rumput itu ke celana mereka membentuk rok hula-hula.
Emil ikut mengambil beberapa rumput dan ikutan menyelipkannya ke dalam celananya. Dia terlalu tenggelam ke dalam pikiran-pikirannya yang membuatnya seperti setengah bengong dan tidak sadar akan perbuatannya.
Emil memandang sahabatnya itu.
"Terima kasih masalah ibuku waktu itu. Berkat kamu dia gak memaksaku untuk pergi bersamanya lagi."
Angy sebenarnya heran karena merasa tidak melakukan sesuatu yang berarti.
"Tapi bukan itu yang ku maksud." katanya.
Emil tahu betul maksud sesungguhnya Angy itu mengenai kejadian di api unggun kemarin, tapi dia sebenarnya tak ingin membahasnya.
"Hey!! Sini ada spot bagus!!" teriak Reec dari jauh.
Emil hendak menyusul mereka tapi ditahan oleh Angy. Emil menatap tangannya.
"Harusnya udah lama aku tanya, apa ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Eli?"
Hening.
"Nggak ada..." dusta Emil.
"Jangan bohong!"
Emil terdiam lagi.
"Menurutmu gimana caranya melupakan cewek yang membencimu?" tanya Emil setelah lama berpikir.
Angy sangat membenci cewek. Tapi berkat cewek moge berambut ikal waktu itu, ia jadi mengetahui sisi lain cewek. Dan dia tidak mau bohong kalau dia menikmati bisa berbincang dengan cewek itu.
Dia memang benci Eli, tapi kalau sahabatnya beneran menyukainya dia berpikir untuk mendukung sahabatnya itu.
Tapi apa maksud pertanyaannya Emil itu?
"Selama yang aku tahu, Eli itu benci semua cowok. Dia belum pernah pacaran, nggak pernah punya teman cowok. Walau begitu teman ceweknya banyak sih. Jadi kalau dia melakukan sesuatu yang membuatmu berpikir kalau dia membencimu, memang dia begitu ke semua cowok."
Penjelasan Angy itu membuat Emil sedikit tenang.
"Hobinya basket, hewan kesukaannya reptil, dia punya tiga di kamarnya! Warna kesukaannya biru dan pink, ultahnya tanggal 18 Januari..."
Emil mulai bingung dengan semua pernyataan sahabatnya itu.
"Oh iya, hobinya juga ngegame! Mungkin kalian bisa cocok disitu!"
__ADS_1
Emil mulai menahan tawanya.
"Ngapain kamu kasih tahu semu itu?" tanyanya heran.
"Entahlah, terpikirkan aja. Kamu bisa pakai informasi itu untuk mendekatinya!"
"Aku nggak tahu aku beneran suka atau cuma naksir." kata Emil nggak ingin membuat Angy salah paham.
"Ngaku aja deh! Dari pertandingan basket waktu itu kelihatan banget kamu hanya memandang Eli seorang."
"Aku gak ingat." sangkal Emil.
"Ah udahlah! Ayo ke tempat mereka!"
Mereka berdua pun menyusul teman-teman lainnya yang berhasil menemukan spot dengan pemandangan gunung yang jelas.
Dengan tongsis dan kamera GoPro kecil Reec, mereka pun memotret foto grup bersama dengan berbagai pose norak.
...****************...
Siang hari hujan turun, membuat mereka semua berteduh di kemah masing-masing.
"Padahal tadi pagi cerah kenapa jadi hujan sih!" seru Momo yang sekarang berada di tenda cowok.
Karena terlalu tergesa-gesa untuk berteduh, posisi mereka jadi acak-acakan.
"Dari jenis hujannya, sepertinya bakal awet." kata Leon. Angy dan Emil bersamanya.
"Kita disini hanya berlima, dimana yang lainnya?" Lani, cewek baru teman Eli, juga bersama mereka.
Tujuan utama Lani untuk gabung dengan Eli sebenarnya bukan karena dia benci cowok. Melainkan karena dia ingin mendekati Emil.
"Tadi aku lihat Fani dan Alv masuk satu tenda." tambahnya.
"Wah ngapain mereka berduaan? Mencurigakan!" Pikiran Momo mulai melayang-layang.
"Kak Sara masuk bersama mereka, jadi nggak mungkin mereka macam-macam!" kata Angy tegas.
"Aku lebih penasaran kak Ray yang berduaan dengan Reec! Lagi ngapain ya?" Momo si penyuka cowok ganteng sebenarnya lebih berharap ada adegan mesra antara para cowok.
"Otakmu itu perlu dijemur kali ya!" kata Angy pedas.
"Santai bro! Imajinasi itu kan gratis nggak menyakitkan!" katanya membela diri.
Udara yang dingin menjadi lebih dingin akibat hujan. Leon menyelimuti Momo yang terlihat kedinginan.
"Makasih bro!" katanya keras-keras justru membuat Leon malu.
Lani yang melihat kejadian itu pun menjadi terbawa perasaan.
"Aku juga dingin nih." katanya sambil melirik Emil.
Emil tetap cuek.
"Sana ke mobil kalo mau hangat." saran Angy.
Ihh cowok-cowok disini pada nggak peka banget sih!! batinnya berharap dapat perhatian.
Tentu saja dia salah alamat. Cowok anti cewek mana mungkin kasih perhatian ke cewek?
"Ngomong-ngomong Eli kayaknya masih di atas ya?" tanya Momo tiba-tiba teringat Eli yang mereka tinggal karena kakinya yang tiba-tiba sakit.
Emil menegang mendengar itu.
"Paling dia berteduh di gardu deket situ kan. Nanti kalau hujan reda dia bisa balik sendiri." jawab Lani.
"Dia dimana?!" Angy mulai khawatir. Dia takut kaki yang dulu terkilir kambuh lagi, atau kalau ada orang asing yang mendatangi dirinya.
Karena tak mendapat respon dari Lani, Leon bertanya pada Momo. "Kamu bilang Eli ada di atas mana?"
Mereka kenapa sih kok malah jadi sok perhatian sama cewek bawel itu?! batin Lani kesal.
"Jalan ke arah atas gunung yang ada gardu pos bayangan. Dia bilang sih mau istirahat disana..."
Angy ingin segera pergi mencari Eli, tapi dia pikir ini kesempatan bagus buat sahabatnya.
"Kau mau menggantikanku?" tanya Angy pada Emil.
Dia terdiam.
"Kalau kamu merasa seperti seorang pengecut nggak bisa menyelesaikan tantangan di permainan kemarin, kamu bisa membuktikannya sekarang, tantangan yang sebenarnya!"
Kata-kata Angy sedikit membangkitkan semangatnya. Dirinya yang sering menghindari kesalahan dengan berdiam diri. Dirinya yang selalu berhati-hati untuk tidak melakukan tindakan yang gegabah.
Dirinya yang selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu dibanding dirinya sendiri.
"Kamu nggak usah pikirin orang lain, lakuin aja yang menurutmu benar!"
Emil pun langsung lari menerjang hujan untuk mencari Eli. Seumur hidup dia belum pernah melakukan sesuatu untuk dirinya demi orang lain.
__ADS_1
Dia selalu berusaha tetap berada di zona amannya dengan tidak mengambil tindakan karena terlalu takut kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Tapi kali ini Angy membuatnya bisa melampaui dirinya yang lama.
"Sepertinya Emil lupa bawa payung ya?" Tanya Leon menemukan payung tergeletak di lantai tenda.