
Lomba 17an kemarin cukup sukses.
Tapi sayangnya lomba nasi tumpeng dimenangkan oleh X-4 yang adalah kelas Eli.
"Dengar, dia itu musuh utama kita! Dan sepertinya kemarin yang mengacaukan tim Emil itu dia!"
"Dia siapa?" Tanya Reec.
"Eli. Katanya dia juga akan membuat kelompok untuk melawan kita."
"Aku juga dengar itu dari Momo!" Leon menambahkan.
Momo teman Leon saat SMP. Kalau nggak salah mereka dulu ikut bimbel yang sama.
"Kau jangan berhubungan lagi dengan temanmu yang bernama Momo itu, Leon!." Aku menegurnya. Tapi dia kelihatan agak sedih mendengarnya.
"Selama dia bukan ancaman sih nggak masalah. Tapi kita harus waspada dengannya dan anggotanya." Katanya sedikit membela.
"Terserah. Tapi dengan ini kita jadi punya musuh untuk dilawan!"
Dari awal memang rencanaku untuk melawan nenek sihir bawel itu. Tapi siapa sangka dia membuat kelompok sendiri.
Benar-benar merepotkan!
...****************...
Hari ini pertandingan basket putri antar SMA. Aku dan Emil hadir untuk melihat pertandingan finalnya. Bukan karena kita mau, tapi memang para guru mengharuskan kita untuk mendukung tim basket putri dari sekolah kita.
Sejak kecil Eli memang suka main basket. Dia dan teman Leon, Momo, mereka masuk tim inti. Dari tadi aku malas menonton mereka.
"Payah! Dia main kayak badut! Kenapa harus sok pake wristband itu segala sih?! Pantas aja kalau sampai kalah! Dia terlalu fokus dengan kecantikannya!"
"Tapi sepertinya tim kita menang 2 angka tuh."
Emil terdengar seperti membela nenek sihir itu.
"Harusnya dia itu bisa menangin skor lebih banyak! Kalau saja dia nggak terlalu sok menjaga penampilannya itu. Huh, lihat aja gayanya! Mentang-mentang cantik."
Emil terdiam.
Aku meliriknya dan sepertinya arah pandangnya terus tertuju pada Eli.
Apa aku nggak salah lihat?
Aku terus mengamati Emil dan sepertinya dia terlalu terpesona pada Eli sampai-sampai nggak sadar aku terus menatapnya dengan pandangan mengerikan.
Tiba-tiba raut wajah Emil berubah.
Para penonton menjadi ramai dan saat aku menoleh ke lapangan, aku mendapati Eli yang terjatuh di tanah tak bergerak.
"ELI!!"
Aku berlari ke arahnya berharap dia nggak terluka parah. Raut wajahnya terlihat kesakitan. Saat berlutut dan membantunya bangun dengan menopang punggungnya, dia mulai berteriak kesakitan.
"Mana yang sakit?" Tanyaku benar-benar khawatir.
"Siku... sikunya sakit..." Jawabnya sambil menunjuk siku di lengan kanannya
Mungkin ada luka dalam atau patah tulang karena nggak ada darah yang terlihat.
"Kamu bisa berdiri?"
"Kakiku juga sakit..."
"Mana tim medis?!" Aku berteriak bertanya pada panitia dan guru yang sedang bertugas.
Tak lama kemudian tim medis datang membawa tandu.
__ADS_1
Yang membawa tandu cewek, aku nggak yakin mereka bisa mengangkat Eli jadi aku membantu.
"Biar kubantu." Seorang cowok yang sepertinya juga merupakan anggota OSIS karena wajahnya nggak asing menawarkan bantuan.
Aku pun ikut mereka sampai ke dalam sekolah.
"Ngapain sih ikut?" Kata Eli tersenyum lemah, berniat menepis tanganku yang masih memegang tangannya..
"Udah diam bodoh! Jangan banyak gerak!"
Aku terus menemaninya sampai dia dibawa pergi ambulans.
Setelah dia pergi aku sadar kalau aku meninggalkan Emil di lapangan dan segera mencarinya. Ternyata dia sudah ada di kelas.
"Dia gak apa?" Tanyanya langsung begitu melihatku.
"Dia mah mobil tank. Luka kecil gitu gak ada apa-apanya!" Kataku berbohong. Aku sebenarnya nggak mau terlalu menunjukkan kekhawatiranku pada Eli.
Yah memang dia itu cewek dan aku benci padanya. Tapi terlepas dari jenis kelamin, aku khawatir padanya sebagai teman masa kecilnya. Belum rasa bersalahku pada maminya karena nggak bisa menjaganya.
"Kalau memang gak apa, kenapa dibawa ke rumah sakit?"
Kata-katanya masuk akal.
Aku kemudian ingat kenyataan saat kita di lapangan yang nggak pernah melepas pandangannya dari Eli.
Apa dia juga khawatir padanya? Kenapa? Masa sih…
...****************...
Keesokan harinya aku mulai mengamati Emil yang duduk di belakangku.
Sepertinya dia curiga, tapi dia bersikap seolah-olah nggak ada yang terjadi.
Tiba-tiba ada seorang cewek memberikan semacam amplop berwarna pink padanya. Emil hanya melihatnya, membaliknya, lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Hari ini mau mampir?"
Ingin sekali aku mampir ke rumahnya, tapi aku harus memastikan keadaan Eli baik-baik saja.
"Lain kali deh, aku mau ke rumah sakit jenguk Eli." Kataku sambil diam-diam melihatnya dengan ujung mataku, penasaran ingin tahu reaksinya.
Dia hanya diam tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Tadi dapat apa sih?" Tanyaku sambil merapikan buku dan mengambil tasku.
"Bukan apa-apa."
Saat kita keluar kelas, dia didatangi seorang cewek yang menanyakan nomor HPnya.
"Gak bawa." Jawabnya singkat berusaha menghindar.
"Ehm, bisa ikut sebentar gak?" Cewek itu kelihatan bersikeras.
Emil memandangku. Entah karena aku kurang paham suasana macam ini, jadi aku menyuruhnya pergi.
Dia malah menarik tanganku.
Setelah mengikuti cewek itu sampai ke tempat yang sepi di halaman belakang, aku melihat tiga cewek lain sudah menunggu di sana.
Sebenarnya apa mau mereka?
Mau malak duit? Atau mengancam sesuatu? Atau masa sih ajak berantem?!
"Kenapa dia bawa temannya?"
"Sudahlah coba bilang aja!"
__ADS_1
"Ayo semangat!"
Lama mereka merundingkan sesuatu, akhirnya cewek yang lumayan imut maju ke hadapan Emil.
"Emilio Daniel! Aku suka kamu! Kamu mau pacaran sama aku?"
Apa aku nggak salah dengar?!
Pacar??
Teman-temannya yang lain berkya-kya ria tapi Emil hanya diam.
Tak ada ekspresi sedikitpun.
Dia kemudian berbalik dan mengajakku pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Aku boleh ikut ke rumah sakit?" Tanyanya setelah kita cukup lama berdiam diri dan sudah cukup jauh dari lokasi semula.
Aku pun mengiyakan permintaannya..
...****************...
Emil sekarang sedang ku bonceng dengan motorku. Dia mengenakan helm pink norak milik Eli, dan dia kelihatan sangat malu.
Sepanjang perjalanan aku memikirkan kejadian tadi.
Emil ditembak cewek... Berarti amplop pink yang tadi kulihat itu surat cinta?
Sejak kapan dia mendapat perlakuan seperti itu ya?
Kalau kalian mau tahu, Emil itu sering disebut pangeran sekolah. Sejak MOS dia itu udah jadi pusat perhatian. Nggak hanya satu angkatan, tapi dia itu populer sampai satu sekolah! Aku sering mendengarnya dibicarakan di ruang OSIS.
Gimana nggak? Dia memang mencolok banget karena darah bule yang dia dapat dari ibunya. Badannya lebih tinggi dariku dan dia selalu menata rambutnya dengan keren. Menurutku dia lebih ganteng dari artis manapun yang pernah aku lihat di TV.
Tapi aku baru sadar kalau hidupnya itu sering ditempeli kaum hawa seperti ini.
Apa yang dia pikirkan ya, bisa tetap bertahan dengan poker face nya padahal selalu ditatap dimana-mana, dikerubungi seperti tawon dan madu.
Setibanya di rumah sakit, aku membeli roti isi di kantin. Emil hanya mengikutiku dari belakang. Dan lagi-lagi dia menjadi pusat perhatian.
Kita pun memasuki ruangan Eli.
"Kok isi coklat sih? Aku kan sukanya isi ayam!"
Dari suaranya, Eli terlihat sehat. Tangan dan kaki kanannya digips. Tapi dia sudah bisa bergerak untuk duduk di tepi kasur.
"Sejak kamu dirawat disini, kamu pesan roti yang sama terus, makanya habis! Masih untung aku ingat beli roti untukmu. Dasar karnivora"
"Apaan sih Angy, kenapa nggak beli di toko lain? Payah..."
Emil hanya terdiam mengamati kami. Aku menyikutnya dan dia pun mulai bicara. "Ehm, gimana keadaanmu?"
Sekilas Eli menatapnya heran, lalu mengalihkan pandangan ke tembok.
"Nggak ada yang berubah, semua masih sakit."
"Bohong, bisa keluarin tenaga dalam kayak gitu mana mungkin bisa rasain sakit?!"
"Apaan sih Angy jelek!!"
Emil terlihat sedikit tersenyum, tapi pandangannya ke Eli.
Aku sedikit merinding melihatnya.
Nggak lama kemudian teman tim basket Eli datang dan kita pun keluar.
Dalam perjalanan pulang aku langsung bertanya pada Emil tanpa ragu.
__ADS_1
"Kamu naksir Eli ya?"