
POV Author
Sebentar lagi UTS dan sudah seminggu ini Angy dkk terus belajar nonstop. Misi mereka kali ini adalah mendapat nilai lebih tinggi dari semua cewek di kelas.
"Yang ini jawabnya gimana?" tanya Leon pada Angy.
Saat ini mereka sedang belajar Fisika di ruang tamu rumah Emil. Biasanya mereka mengulang pelajaran di kelas sebelum pulang, tapi kali ini mereka belajar Fisika dan Matematika secara intensif karena kedua mapel itu yang menurut Angy adalah kelemahan kebanyakan cewek. Dia bahkan membuat rangkuman untuk mereka agar mudah dipahami.
Angy memang cowok yang bisa diandalkan. Dia selalu penuh persiapan dan melakukan sesuatu dengan segenap hati tak pernah setengah-setengah.
Pantas saja sih dia merasa tidak perlu cewek. Dia bisa segalanya, dari masak sampai benerin motor. Dance nya juga jago, tiap sore sering jogging dan work out. Dia benar-benar bisa segalanya dan melakukan segalanya.
Dibandingkan dengan Angy, Emil biasanya hanya di depan laptop main game atau terkadang mencoba gerakan tari sambil melihat videonya. Dia lebih sering menghabiskan waktunya dengan hobinya saja, yang sebenarnya tidak ada gunanya di kemudian hari.
Emil juga termasuk siswa penganut belajar SKS (Sistem Kebut Semalam), dia tidak pernah mengulang pelajaran sepulang sekolah seperti yang biasa dilakukan Angy. Daripada waktu digunakan untuk belajar, dia lebih suka gunakan waktunya untuk hal yang dia sukai karena sudah capek berpikir selama belajar di sekolah.
Sebenarnya di dunia nyata pelajar dengan tipe seperti Emil lebih banyak, jadi dia masih terdengar wajar.
Tapi Angy, dia lain dari yang lain. Dia itu benar-benar cowok terorganisir. Segala hal dicatat olehnya secara terperinci. Dia bahkan punya buku agenda rencana kegiatan yang dilakukannya tiap hari selama setahun. Seperti memasak opor ayam di hari Senin, buang sampah di hari kamis, belanja di pasar di hari minggu. Semua dia tulis lengkap. Dia sepertinya lebih rajin dan teliti dari anak cewek pada umumnya.
Kelemahannya hanya cepat naik darah.
"Ingat ya, ini hanya misi penjajakan! Jadi kalian nggak harus dapat nilai sempurna! Paling nggak nilai kita meningkat dari sebelumnya itu sudah bagus! Misi sebenarnya itu saat UAS nanti!"
Kalau dia bicara banyak sekali pentungan (tanda seru) yang ada dalam kalimatnya.
Setelah selesai, Angy pun merapikan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya.
"Siap bos!" canda Leon dengan hormat padanya selesai mengenakan sepatunya.
Angy menyusulnya mengenakan sepatu dan bersiap untuk mengendarai motornya.
"Kamu belum pulang?" tanyanya pada Reec setelah memakai helm.
"Sopirku lagi temanin mama sama adikku belanja, aku harus tunggu mereka."
"Kalau gitu kita pulang duluan ya, tuan muda!" seru Leon iseng duduk di belakang Angy.
"Kanu nggak pake helm!"
"Jangan kaku gitu dong. Nunut sampai depan aja ya!"
Sekarang hanya tersisa Emil dan Reec.
"Tahu jadi kayak gini aku mending ikut Alv aja!" ujar Reec menyesali keputusannya ikut ke rumah Emil.
Alv sedang pergi ke mall bersama teman-temannya. Reec tidak ingat bahwa hari ini mereka akan belajar kelompok di rumah Emil..
"Si Angy itu rajinnya sampai mana sih?! Pagi sebelum sekolah masak, pulang sekolah langsung bikin PR sama belajar, belum katanya dia tiap hari ngepel, cuci baju, sore jogging sama anjingnya. Mandi aja dua kali sehari, nggak kayak aku dua hari sekali! Dia pasti bohong ya?"
Reec duduk di sofa ruang tamu. Memang sulit dipercaya ada cowok macam Angy. Tapi Emil pernah nginap di rumahnya dan dia melihat semua keajaiban itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Dia nggak tinggal sendiri kan? Harusnya kan ada orang yang urus dia!" tanya Reec mencoba untuk mencari alasan dibalik sifat kelewat rajin Angy.
"Karena itulah dia benci cewek. Ibu dan dua kakak ceweknya nggak bisa urus rumah." jawab Emil.
"Apa?! Dia punya saudara cewek? Malang juga nasibnya kayak Cinderella versi cowok."
Tiba-tiba HP jadul Reec berbunyi.
"Halo ma? Oh oke, tunggu ya!"
"Udah dijemput?"
"Iya, katanya mereka di depan sekolah."
"Mau kutemanin?"
"Boleh juga."
Reec mengambil tasnya lalu memakai sepatunya. Emil pun memakai sandal jepitnya dan mengunci pintu. Mereka berjalan menuju pintu belakang sekolah. Reec dijemput di depan sekolah, sehingga mereka harus melewati bagian dalam sekolah.
Di dalam sekolah masih banyak murid yang terlihat. Ada sekelompok cewek yang sedang bermain basket.
Emil mencari sosok seseorang di tengah lapangan. Tim basket putri sedang berbaris dan pelatihnya sedang memberi arahan. Setelah menemukan sosok yang dicari, tanpa sadar Emil terus memandangnya
"Lihat apa?"
Reec menyadarkan Emil dari lamunannya. Dia pun dengan cepat mengembalikan arah pandangnya ke depan. Wajahnya sedikit memerah
"Ada cewek yang kamu taksir dari tim basket ya?"
Reec berhenti berjalan dan mengamati mereka satu persatu. Rasanya Emil ingin sekali menariknya menjauh dari situ, tapi Reec justru mendekati mereka.
PRIIITTTT
Pelatih mereka membunyikan peluit tanda untuk mulai bermain.
Bunyi dribble bola basket pun mulai terdengar.
__ADS_1
"Yang mana ya yang ditaksir pangeran sekolah..."
Emil berusaha cuek dan tetap berjalan menjauh.
"Yang rambutnya dicepol itu ya? Hanya dia yang paling mending sih..."
"Katanya kamu udah dijemput? Mau biarin keluargamu tunggu sampai kapan?"
"Kasih tahu dulu dong cewek mana yang kamu taksir!"
"Aku nggak naksir, itu ceweknya Angy."
"Apaa?! Dia ternyata punya cewek?? Yang mana?!" Reec kelihatan tambah penasaran.
"Tanya sendiri sama orangnya. Kamu jadi pulang nggak? Aku mau balik rumah..."
"Angy bukannya benci cewek? Kok diam-diam punya cewek?"
Reec mulai berjalan menjauh, tapi dia sekarang menghujani Emil dengan pertanyaan.
"Kalau bener ceweknya yang rambutnya dicepol itu, seleranya boleh juga ya. Cowok pemarah sama cewek basket? Sejak kapan mereka jadian? Siapa yang tembak duluan?"
"Itu cewek Angy tapi bukan pacarnya. Dia musuhnya."
"Musuh gimana? Mereka udah cerai gitu?"
"Tanya aja sendiri."
Sampai di depan sekolah, Reec masuk ke dalam mobilnya. Ibu dan adik cowoknya ada di dalam.
Sepertinya dia punya keluarga yang harmonis.
Pikir Emil membandingkan dirinya yang tidak punya saudara, ayah yang sibuk kerja dan ibu yang selalu cuek padanya.
Dia pun kembali masuk ke sekolah melewati lorong, berusaha mengacuhkan mereka yang sedang main basket di lapangan.
Tiba-tiba ada bola basket yang melintas di depannya.
"Emil! Tolong ambilin dong!"
Ada cewek yang tidak dia kenal memanggil namanya dan memintanya untuk mengambil bola untuknya.
Tanpa pikir panjang Emil pergi mengambil dan menyerahkan bola tadi padanya.
"Kok tumben masih di sekolah?" Cewek itu mulai mengajaknya bicara.
"Ada urusan." jawabnya singkat.
Emil bingung antara ingin pergi meninggalkannya atau perlu menjawabnya.
"Ngomong-ngomong namaku Lia." Cewek tadi mengulurkan tangannya.
Kenapa sekarang malah ajak kenalan?
Bodohnya, Emil malah menjabat tangannya. Dia pikir bisa pergi setelah melakukan semua yang cewek itu inginkan, tanpa merasa bahwa sebenarnya ada modus dibalik itu semua.
Dan benar saja cewek yang bernama Lia tadi malah menjadi tambah PD bisa kenalan dengan pangeran sekolah.
"Kamu mau lihat kita latihan basket?" tanyanya PD
Nggak.
Jawab Emil dalam hati.
Dia bingung bagaimana cara menolak ajakannya tanpa harus membuatnya tersinggung.
"Kamu bisa duduk di bangku, sebentar lagi kita istirahat." Cewek itu terus saja bicara.
Emil kemudian melihat Eli yang sedang menuju ke arahnya.
Melewati belakangnya.
Eli sedang mengambil minuman dari tasnya yang diletakkan di bangku koridor tak jauh dari tempat Emil berdiri.
Tangan dan kakinya sudah tidak digips, tapi masih ada perban di sikunya.
"Emil?" Cewek di hadapan Emil memandangnya heran.
Tapi Emil terus memperhatikan Eli dengan sudut matanya, mengacuhkan cewek yang ada di hadapannya.
"Kau perlu minum?" tanya Emil pada Eli karena melihat botol minumnya yang kosong.
Eli kaget karena Emil tiba-tiba mengajaknya bicara.
Dia sendiri pun heran kenapa itu bisa terucap dari mulutnya. Rasanya ingin sekali dia menarik kembali kata-katanya tadi.
Untung saja Eli merespon pertanyaannya dengan anggukan. Emil pun segera pergi membeli minuman di depan sekolah karena kantin sekolah sudah tutup.
Entah kenapa rasanya tadi jantungnya mau copot. Dia tidak mau bicara pada cewek yang baru dikenalnya tadi, tapi malah mengajak Eli bicara.
__ADS_1
Karena tidak tahu minuman apa yang diinginkan Eli, dia membeli semuanya.
Dua botol Emil bawa dengan tangan kanannya, empat botol dia jepit antara lengan kiri dan dadanya, satu lagi dia pegang dengan tangan kirinya. Dia sebenarnya merasa dirinya terlihat sangat bodoh.
Setelah membeli beberapa botol minum mineral dan isotonik, dia kembali dan lega mendapati Eli masih duduk menunggunya. Cewek tadi sudah tak terlihat.
Eli melihatnya keheranan dengan banyak minuman yang dia bawa, tapi tetap mengucapkan terima kasih dan mengambil satu.
"Aku nggak perlu sebanyak itu." katanya saat Emil meletakkan botol-botol lain di atas bangku.
"Ambil aja." Emil sebenarnya malu sudah membeli minuman sebanyak ini.
"Aku boleh kasih temanku nggak?" tanya Eli menatapnya.
Belum pernah Emil sedekat ini bicara dengannya. Pipinya memanas hanya karena saling bertatapan.
"Boleh."
"Teman-teman! Ada minuman nih!!"
Eli melambaikan tangannya untuk memanggil teman-temannya yang langsung datang menghampiri mereka.
Satu persatu mengambil botol minuman sambil mengucapkan terima kasih. Emil hanya mengangguk singkat menanggapi mereka.
"Gila dari dekat cakep banget!"
"Beruntung banget hari ini bisa lihat pangeran sekolah!"
"Dia teman Eli?"
"Jangan-jangan mereka pacaran?"
"Ganteng banget deh!!"
Mereka masih berdiri dekat situ dan sekali-kali melirik ke arah Emil. Samar-samar Emil bisa mendengar percakapan mereka. Dia sudah biasa. tapi bagian dengan Eli.
Apa aku terlihat seperti pacarnya?
Emil sedikit senang dengan ide itu dan tanpa sadar tersenyum.
"Kyaa, dia senyum!"
"Kalo senyum cakep banget!"
"Kirain dia dingin, tapi ternyata ramah kita ditraktir minuman."
"Senyum nggak senyum tetap ganteng!!"
Melihat Eli yang masih duduk disitu sambil memegang botol minum darinya, Emil pun ikut duduk di sampingnya.
Entah keberanian dari mana dia dapat sampai bisa melakukan ini semua. Emil pun berusaha keras mencari topik pembicaraan agar bisa bicara dengannya.
"Setiap kamis kamu latihan basket ya?" tanyanya berusaha kelihatan wajar.
Ini pertama kalinya Emil memberanikan diri untuk mengajak seorang cewek yang dia suka untuk bicara duluan.
Tunggu dulu. Suka?
"Iya, bentar lagi ada pertandingan."
"Oh..."
Tanya apa lagi ya. Masa diam terus? Ini kesempatan bisa bicara dengannya!
"Kamu... Gimana dengan lukamu?"
"Mendingan. Tapi masih belum boleh ikut latihan."
Emil baru sadar teman-temannya yang lain sudah melanjutkan latihan di lapangan. Tapi Eli masih duduk disini.
Apakah kakinya masih sakit? Apa dia akan ikut pertandingan? Apa suatu hari dia mau ikut makan bersamaku?
Banyak sekali yang ingin dia tanyakan, tapi tak satupun yang keluar dari mulutnya.
Emil lebih menikmati duduk bersamanya dalam diam. Rasanya dia ingin menghentikan waktu dan duduk di samping Eli terus seperti ini.
Dia kemudian merasa bersalah pada Angy karena telah menyukai tetangganya itu.
Kalau suatu hari kita jadian, seperti apa reaksinya ya? Apa aku akan diusir dari kelompok anti cewek? Sepertinya aku udah berpikir terlalu jauh.
"PRIIITTT!! Ayo semuanya kumpul!" Pelatihnya meniup peluit tanda untuk berkumpul.
Emil ikut berdiri begitu melihat Eli berdiri dari bangkunya.
"Sampai nanti." kata Emil sedikit tersenyum berusaha ramah padanya sebelum dia pergi.
Emil merasa nyaman saat bersamanya dan berpikir mulai hari ini bisa menjadi lebih akrab dengannya.
Tapi kata-kata Eli sebelum dia pergi menjauh membuat senyum Emil lenyap seketika.
__ADS_1
"Lain kali kalau ketemu denganku jangan sok akrab!"
Pangeran sekolah idaman para wanita ditumbangkan oleh seorang Eli.