
"Bentar lagi ultah Eli." kataku pada Emil.
Dia memandangku sekilas sebelum kembali membaca komik yang memang sering dia bawa diam-diam ke sekolah.
Istirahat jam pertama kita putuskan untuk tetap di kelas. Aku sedang berdiri menyandar tembok sambil memegang botol minumku.
Sudah sebulan dan sepertinya nggak ada tanda kemajuan dari mereka. Karena itu aku sedikit penasaran.
Emil kemudian menutup komiknya.
"Gimana denganmu?"
Sekilas aku bingung dengan pertanyaannya.
"Dengan cewek dari warung nasi kucing itu."
Kata-katanya membuatku sedikit menyipratkan air dari mulutku.
"Kau tak apa?" tanyanya khawatir nggak tahu kalo dia penyebab aku seperti ini.
Aku kemudian menyeka mulutku dengan punggung tanganku, masih bingung bagaimana harus membalas pertanyaannya.
"Eli sepertinya lagi koleksi figuran tokek buruk rupa di kamarnya." kataku mengganti topik.
"Kalau gak salah cewek itu ajakin ketemuan ya?" Dia mengganti balik.
"Kayaknya Eli lagi pengen makan di cafe yang lagi viral itu." balasku.
"Cewek itu namanya siapa ya? Masa kamu belum tanya?"
"Kamu sendiri? Udah tuker nomer masa belum pernah menghubunginya?"
Kita berdua diam sejenak. Lalu sama-sama menghela nafas panjang.
Memikirkan cewek itu bikin capek. Masa iya selalu cowok yang harus melakukan pendekatan.
Gila! Apa yang barusan kupikirkan?! Siapa juga yang mau pdkt sama cewek!
"Kamu tertarik padanya?"
"Mana mungkin!!"
Tak lama kemudian bel berbunyi dan pembicaraan kita ini seolah terlupakan.
...****************...
"Tenang aja kalau kalian mau tahu caranya PDKT cewek kalian nggak salah orang! Aku udah mendekati sekitar ratusan cewek dalam beberapa bulan ini!"
Entah ada masalah apa dengan otakku sampai mendatangi Alv untuk meminta saran padanya.
"Aku bilang sekali lagi, aku bukan mau PDKT ke cewek, tapi aku ingin menginterogasi mereka untuk menambah data keburukan cewek yang sedang aku teliti." kataku setengah jujur setengah mengarang padanya.
"Intinya tetap PDKT kan? Entah hanya buat sekedar kenalan, atau memang buat pacaran, tapi intinya kamu ingin mengenal dirinya kan?" tanya Alv antusias.
Aku tahu menjelaskannya panjang lebar nggak akan membuatnya paham, jadi kuikuti saja cara mainnya.
"Ya udah cepet ajarin cara hubungin mereka gimana!"
__ADS_1
"Gampang," Dia mengeluarkan HP jadulnya. "Tinggal mulai pembicaraan dengan cara sok cool."
Alv mengetik sesuatu dan mengirimkan SMS nya itu padaku.
'P'
Hanya satu huruf yang dia kirim.
"Apa artinya?" tanya Emil yang ikut membaca SMSnya.
"Itu untuk menunjukkan sisi misterius kita. Cewek yang penasaran pasti akan membalas balik." Katanya bangga dan aku mulai ragu dengan nasehatnya.
"Kalo gak dibales?" tanya Emil.
"Biasanya 8 dari 10 cewek bales kok!"
Yang benar saja?! Cewek kurang kerjaan mana yang balas SMS nggak jelas seperti itu?!
"Dari situ bisa kita saring, cewek mana yang suka ghosting, dan mana yang nggak. Kalau kamu chat tiga kali dan nggak dibalas, hapus saja kontaknya!"
"Tiga kali SMS dengan huruf P semua?!" tanyaku benar-benar nggak percaya.
"Iya, tapi kalo kamu mau jadi cowok sok perhatian bisa kirim 'Gi apa?'. Yang penting kalau belum kenal jangan ditelpon!"
"Kenapa? Bukanya itu lebih jelas?" tanyaku lagi.
"Cewek pasti malu dan kemungkinan besar telponmu ditolak! Dan kalo udah ditolak biasanya chatmu juga bakal ditolak!"
Sepertinya aku kurang paham dengan penjelasan Alv. Yang dia sampaikan padaku membuatku tambah bingung.
Tambah banyak istilah yang bikin aku pusing. "Merek baju apaan tuh?!"
"Buset deh Gy! Jangan bilang kamu nggak punya medsos?!" Alv kelihatan kaget mendengar pernyataanku.
"Aku nggak tertarik!" kataku tegas.
"Kamu punya kan Mil? Masa iya pangeran sekolah nggak punya medsos juga?" Alv bertanya pada Emil.
"Aku pake discord." jawabnya.
Apaan lagi tuh?
"Gamers ya? Pasti pakenya itu sih. Tapi itu nggak bisa untuk PDKT cewek!"
"Kalian ngomongin apa sih?" Tiba-tiba Leon dan Reec datang dan Alv menjelaskan semua mengenai keadaan kami saat ini.
"Hahahaha!! Berapa cewek yang kamu dapat dengan cara itu?" tanya Leon.
Alv terdiam.
"Alv itu udah jomblo lama! Kalopun pacaran kebanyakan cuma bertahan sampa sebulan!" Tambah Reec.
Pantas saja dari tadi aku merasa aneh. Memang salah aku bertanya pada Alv. Kudengar dia sering PDKT ke cewek, karena itu kupikir dia udah pro!
"PDKT cewek pake pertanyaan 'gi apa' itu udah basi! Apalagi yang nggak jelas seperti satu huruf, mana ada cewek yang tertarik? Pasti kamu dicap boring!" jelas Leon dan aku lebih setuju dengan pendapatnya.
"Cewek itu tertarik dengan cowok humoris. Gak usah pakai kalimat! Kamu bisa share postingan lucu atau pakai meme lucu agar mereka tertarik." tambahnya.
__ADS_1
"Terus kalo dighosting gimana?" Alv mulai berguru padanya.
"Kalo kamu memang suka padanya, nggak boleh patah semangat! Jangan karena nggak dibalas sekali langsung dicap cewek jahat! Alasan cewek ghosting cowok itu biasanya karena kamu bosenin."
"Terus terus??" Alv mulai mengeluarkan HP nya lagi dan mulai mengetik penjelasan Leon.
"Sebisa mungkin hindari PAP!"
"Apaan lagi tuh?" Lagi-lagi istilah asing yang kudengar.
"Post a Picture. Kalo keseringan minta foto mereka dikira kamu itu playboy dengan mengoleksi foto-foto cewek. Jangan juga keseringan kasi foto! Nanti dikira kamu narsis dan takut kehilangam fans!" jelas Leon.
"Waduh padahal aku sering PAP." Alv terlihat menyesal telah melakukannya.
Aku jadi merasa iba padanya karena selama ini telah menyia-nyiakan banyak waktunya untuk PDKT dengan caranya yang salah.
"Yang penting obrolan kalian jadi asik dan nyambung. Kalo udah gitu ajak jalan, jangan kelamaan tunggu nanti para cewek kira kamu nggak serius!" tambah Leon.
"Wah dengan ilmumu yang segudang itu, pasti kamu udah gait banyak cewek ya Leon!" kata Reec terlihat bangga padanya.
"Nggak juga." Jawabnya tersenyum sedih. "Aku hanya PDKT ke satu cewek dan semua nasehatku tadi nggak mempan."
"Kenapa bisa? Padahal nasehat-nasehatmu udah terdengar sempurna!" Alv tak percaya.
"Yah dia memang cewek yang berbeda dari yang lainnya. Aku masih mencari cara untuk mendapatkannya."
"Aku dukung kamu bro!" Reec merangkul pundak Leon.
"Aku juga bro! Aku bakal mendoakanmu dari jauh!" Alv ikut-ikutan.
Semua ini bermula dari Emil yang ingin tahu cara menghubungi cewek, kenapa malah jadinya seperti saling mendukung untuk mendapatkan wanita?!
"Kamu udah puas?" tanyaku pada Emil yang dari tadi hanya diam menyimak.
"Kurang lebih."
Mungkin dia punya gambaran dengan caranya sendiri untuk mendekati Eli, jadi kubiarkan dia.
Kita pun pulang ke rumah masing-masing dan aku masih memikirkan ajakan cewek itu padaku kemarin.
*Ini nomerku, kapan-kapan nongki bareng ya! Kalo ada waktu telpon aku!*
Setibanya di rumah aku membuka smartphoneku yang bersih tanpa aplikasi sosmed dan mulai menekan nomernya.
Tak lama setelah nada tunggu berbunyi aku mendengar suaranya.
"Halo?"
Aku terdiam.
"Halo? Siapa ya?"
Aku mematikan ponselku.
Bukan karena aku grogi, ya memang aku grogi sedikit sih, tapi lebih karena aku lupa satu hal penting.
Aku nggak tahu namanya.
__ADS_1