
"Kakak pemarah namanya siapa?" tanya salah seorang adik Leon.
Sekarang aku lagi main ke rumahnya. Awalnya aku hanya berniat menghindari Eli, tapi malah berakhir di taman kanak-kanak.
"Kak, ayo main rumah-rumahan, jadi suami Adel ya?" tanya adiknya yang lain.
Kalau tahu Leon punya adik kecil aku nggak akan mau main ke rumahnya! Belum lagi adiknya ada tiga! Dan cewek semua!
"Jangan ganggu pasienku! Sana pergi!"
Aku paham sekarang dibalik sifatnya yang dewasa, Leon harus sabar menghadapi tiga monster kecil yang pastinya bikin stres!
"Ayo waktunya makan snack! Yang pertama beresin mainan dan duduk di meja dapat bonus es krim!" Leon datang membawa nampan dengan potongan kue dan buah-buahan yang sudah diiris-iris.
Mendengar itu, mereka semua segera mengikuti perkataannya.
"Aku nomer satu!"
"Enak aja, aku duluan!"
"Hwueeee huhhuuhuuu!!"
Leon berusaha melerai mereka. "Kok malah berantem sih? Nanti semua kuenya kakak makan ya!"
Itu kenapa aku benci anak-anak, mereka susah diatur!
Tak lama kemudian mereka akhirnya bisa duduk dengan tenang sambil menikmati Snack mereka masing-masing.
"Gimana caranya kamu bisa betah dengan mereka sih?" tanyaku sebenarnya nggak penasaran.
"Karena udah terbiasa kali ya?" jawabnya santai.
Terbiasa.
Terbiasa hidup dengan Eli sama sekali nggak membuatku sabar menghadapinya.
"Mau panggil Emil kemari? Sepertinya dia hari ini di rumah." tanya Leon mengambil HPnya.
Selama libur hampir tiap hari Emil pergi les. Tapi aku nggak tahu les apa tepatnya.
Emil pun menyetujui dan tiba dengan ransel sekolahnya.
"Kirain mau belajar kelompok."
Leon tertawa. "Kamu itu terlalu rajin!!"
Aku malah curiga. "Jangan bilang kamu belum bikin PR?"
Ternyata benar. Libur tinggal dua hari dan dia belum kerjain PRnya sama sekali.
"Gila ya kamu, ngapain aja selama liburan?!" tanyaku heran.
"Nggak usah peduliin Angy, sini aku bantu!"
Berkat bantuan kita pun Emil bisa mengerjakan PRnya dengan cepat. Tapi belum selesai mengerjakannya, dia mendapat gangguan.
"Kakak ganteng namanya siapa?"
"Sana nonton TV Chell! Jangan ganggu!"
Leon berusaha mengusirnya, tapi sepertinya dia lebih tertarik dengan Emil. Monster kecil lainnya pun berdatangan.
"Kak, main yuk! Jadi suami Adel mau ya!"
"Jangan! Dia itu sakit, harus di rawat inap!"
__ADS_1
Karena kasihan melihat Emil aku pun berusaha mengalihkan mereka.
"Aku hitung sampai 10 nih!! Kalau sampai ada yang belum sembunyi, akan kuikat dan kurebus hidup-hidup!!!" kataku berusaha menakuti mereka.
Mendengar itu mereka pun berlarian kesana kemari mencari tempat persembunyian.
Aku yang memang dari awal nggak berniat untuk mencari mereka pun kembali duduk.
"Selesai juga akhirnya!" seru Leon melihat Emil menulis jawaban terakhirnya.
"Tinggal bahasa Indonesia, tapi kamu harus mengerjakannya sendiri di rumah ya. Gampang kok tinggal membuat puisi." jelasnya.
"Makasih ya." kata Emil sambil merapikan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Kakak nggak bisa hitung sampai 10 ya?!" tanya salah satu adik Leon dari kejauhan.
"Satu, dua, seouluh!!!" Karena Emil sudah selesai, aku pun melayani mereka bermain. "Di belakang korden, di balik sofa, di bawah meja, cepat kesini!!"
"Bukan gitu cara mainnya kak! Kalo ketemu harus dikejar dong!"
"Ini peraturan baru! Ayo cepat sini!"
"Ah nggak seru! Kakak pemalas cuma duduk-duduk gak ikut main!"
Anak kecil tapi udah bisa banyak protes ya!
"Mau main apa?" Emil bangkit berdiri dan mendekati mereka. Belum tahu aja dia, sadisnya anak kecil!
"Kakak jadi suami Adel ya! Ini rumahnya ayo bobo hari udah malam."
Emil menurutinya dan pura-pura tidur di atas kain yang kekecilan untuk tubuh jangkungnya.
"Kakak sakit apa? Sini Ella sembuhin!"
"Ini suami Adel! Sana pergi!"
Mereka berdua saling berebutan suami tapi Emil hanya diam tersenyum.
"Kayaknya Emil lebih sabar dari kamu Gy!" kata Leon melihat mereka.
"Mereka itu main rumah-rumahan udah seperti sinetron-sinetronan!" kataku nggak percaya..
Nggak lama kemudian ibu Leon pulang bersama neneknya.
"Ibu!! Nenek!!" Mereka berlarian menyerbu mereka. Aku dan Emil pun berpamitan untuk pulang.
"Kakak nanti datang lagi ya!" kata salah seorang adik Leon menarik tanganku.
Sedikit kaget, aku pun membungkuk badanku dan menepuk kepalanya.
"Tapi harus janji jadi anak baik ya!"
...****************...
Hari minggunya, kita berkumpul di toko milik Reec. Dia sedang mengajar cara make up untuk cowok dengan memakai Leon sebagai modelnya.
"Make up buat cowok simple kok! Ga harus warna warni dan tebel kayak cewek. Bulu mata juga nggak perlu!"
Katanya sambil mengoles lipstik warna pink salmon ke bibirnya.
"Jangan pernah pilih lipstik merah, warna pink dan coral itu lebih cocok untuk cowok. Biar kelihatan lebih natural, perlu disesuaikan dengan warna kulit." Lanjutnya.
Selesai merias wajah Leon, Reec mulai menata rambutnya dengan wax. Dan akhirnya selesai.
"Gimana?" tanyanya.
__ADS_1
Kita semua kagum dengan perubahannya. Wajah Leon yang semula kelihatan tua dengan beberapa bekas luka jerawat jadi mulus. Alisnya juga dirapikan, bibir pucatnya jadi lebih berwarna.
"Sekarang aku jadi tahu kenapa cewek teropsesi dengan make up." kkatanya kagum melihat dirinya di cermin.
"Siapa selanjutnya?" Dia menawarkan pada kami. Aku sih ogah wajahnya dipegang-pegang dan dicoret-coret seperti itu.
"Apa nggak kayak bencong gitu? Cowok pake riasan mana ada!" Kata Alv terus terang.
"Lu mau punya pacar gak?! Udah tahu cewek sekarang demennya sama idol-idol polesan! Jadi ya harus ikutin perkembangan jaman!" kata Reec.
Selama ini cewek yang selalu mati-matian make up buat menarik perhatian lawan jenis, masa cowok juga harus kayak gitu? Cewek sekarang dikasi duit juga langsung antri panjang kan?
"Aku mau coba." Emil menawarkan dirinya. Gantian dia yang duduk di kursi depan cermin.
Reec terdiam cukup lama mengamati wajah Emil.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku bingung mau mulai dari mana, wajahnya terlalu sempurna sampai rasanya pengen aku ancurin!"
Entah maksudnya memuji atau menghina, tapi Emil kelihatan kecewa dan bertukar duduk dengan Alv.
"Sorry Mil, aku nggak mau ancurin kulit mulusmu dengan make up ku." katanya menjelaskan alasannya.
Emil memang pernah ngaku kalau suka beli produk perawatan wajah. Dan dia sebenarnya termasuk cowok yang cukup narsis dengan melihat cermin berkali-kali untuk sekedar menata rambutnya.
Tapi aku tahu, dia seperti itu bukan karena sok ganteng, tapi lebih ke sok sempurna. Dia nggak tahan kalau ada 1 helai rambut yang berdiri, atau 1 titik kotoran menempel di wajahnya.
Emil selalu memeriksa wajahnya. Dan katanya itu bisa menekan jiwa inferiority complex yang ada pada dirinya dan membuatnya lebih PD.
Ketika Leon merias wajah Alv, aku mendekati Emil.
"Gimana dengan Eli?" Tanyaku berusaha kelihatan nggak penasaran.
"Biasa aja." jawabnya datar.
Aku lihat mereka tukeran nomer HP pulang dari camping waktu itu. Masa mereka nggak berhubungan sekali pun?
"Memangnya kamu gak masalah?" tanyanya.
"Maksudmu?"
"Kamu kan benci Eli, dia juga benci cowok, jadi..." Kalimatnya terhenti di tengah.
"Jadi?" Aku malah terdengar tambah penasaran.
"Entahlah. Sebenarnya aku juga gak tahu harus gimana."
Memang aku benci cewek, dan benci Eli, tapi aku sadar nggak bisa melarang orang untuk jatuh cinta.
"Kalau kamu suka dia, cuekin aja yang lain. Dia memang benci cowok, tapi orang bisa berubah kan?"
"Apa artinya kamu yang benci cewek juga bisa berubah?"
Pertanyaan terakhirnya itu membuatku terdiam.
Aku sampai nggak tahu harus menjawab apa.
"Selesai!" seru Reec.
Penasaran dengan hasil make over Alv, kita pun mendekati cermin.
"Apaan ki ndes!! Kok aku jadi kayak cewek?!!"
Kita semua tertawa dengan hasil riasan Alv. Dia memang memiliki bentuk wajah yang mungil dan bulu mata yang lentik. Orang yang melihatnya sekilas bakal mengira dia cewek.
__ADS_1
Tapi hasil riasan Reec dengan bulu mata dan tahi lalat palsu membuatnya terlihat jauh lebih cantik dari bencong manapun.