
Setelah berlari cukup jauh, Emil akhirnya menemukan gardu yang dimaksud itu.
Dirinya yang basah kuyup mendekati gardunya. Dia melihat Eli yang sedang duduk di bawah memeluk kakinya. Wajahnya dia benamkan di kedua lututnya.
Langkahnya terhenti.
Kata-kata terakhir yang ditujukan Eli padanya dulu masih teringat jelas di otaknya. Padahal dia termasuk mudah melupakan kejadian di masa lalu.
*Lain kali kalau ketemu aku lagi jangan sok akrab*
Dia nggak bisa melupakan kalimat itu. Karenanya Emil malah diam di tempat.
Tak lama Eli menggerakkan kepalanya. Saat dia sadar ada kehadiran orang lain, dia sedikit mendongakkan kepalanya. Sadar orang itu Emil, dia kembali mengistirahatkan dagunya ke atas lututnya kelihatan kecewa. Wajahnya sedikit cemberut.
Emil masih mematung di tempat semula. Dia bahkan lupa hujan masih mengguyur tubuhnya.
"Mau masuk angin?" tanyanya tiba-tiba dengan nada sedikit kasar.
Mendengar Eli mengajaknya bicara, Emil merasa sedikit lega dan mulai berjalan ke sampingnya.
Hening.
"Kenapa kemari?" tanya Eli masih dengan posisi yang sama.
"Maaf, bukan maksudku mengganggumu." Suara Emil menjadi parau karena terlalu lama diam. Bahkan suaranya sedikit gemetar karena terlalu lama terguyur hujan.
Dia nggak bisa jawab petanyaanku apa?! batin Eli sedikit heran dengan permintaan maafnya. Dia memang lupa pernah mengatakan kalimat menyakitkan pada Emil, karena dia memang bilang begitu ke semua cowok ganteng yang mendekatinya.
"Gimana dengan kakimu?" Emil mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
"Biasa aja." jawabnya tak mau mengakui rasa sakit yang masih tertinggal.
Melihat Emil yang basah kuyup dan menggigil karena dingin, Eli melepas ikatan hoddie pink yang dia ikat di lehernya dan memberikannya pada Emil.
"Ganti bajumu sebelum masuk angin." katanya berusaha cuek karena tak mau disalah artikan sebagai sikap perhatian.
Emil bergeming menatap hoddie yang diulurkan oleh Eli.
"Nggak usah banyak mikir, cepet ambil!" serunya menoleh ke Emil.
Dia sedikit kaget mendapati Emil yang sudah melepas kaos polonya.
Dia menatap lekat-lekat Emil yang setengah telanjang. Sebenarnya baginya itu hal yang biasa, karena dia sudah sering melihat abangnya telanjang dada. Justru Emil yang tersipu malu dipelototi.
"Thanks" matanya kemudian mengambil Hoodie pink itu.
Eli seorang pecinta pakaian oversized. Dia lebih memilih pakaian longgar dibanding yang ketat. Karena itu hoddie yang dikenakan Emil cocok di badannya.
Emil yang selesai mengenakan hoddienya merasa lebih hangat. Dia sedikit melirik ke arahnya sebelum memasukkan tangannya ke kantung celananya.
Bukan untuk sok keren, tapi untuk menutupi kegrogiannya.
Walau Eli pernah mengatakan sesuatu yang membuatnya trauma, yang menjadikan inferiority complex di dalam dirinya membesar, tapi tetap saja berduaan seperti ini disamping Eli membuatnya senang.
Mereka sama-sama terdiam.
Eli tak mau bicara dan Emil tak tahu apa yang mau dibicarakan. Dia terus menerus menyempurnakan kalimatnya di dalam hati, terlalu takut salah bicara.
Tak lama kemudian hujan pun mereda. Menyadari itu, Eli bermaksud untuk berdiri dan kembali seorang diri meninggalkan Emil sendirian.
Dia lupa kakinya masih sakit menyebabkan tubuhnya oleng. Emil yang memang dari tadi sudah memperhatikan dirinya dengan sigap langsung menahan tubuhnya.
"Kamu bisa jalan?" tanyanya dingin tapi sebenarnya khawatir.
"Bisa!" jawab Eli masih keras kepala tak mau menerima bantuan dari Emil.
Jalannya yang pincang bertambah susah dengan medan tanah yamg tak rata dan becek.
Eli terjatuh lagi tapi Emil menahannya dari belakang dan langsung menggendongnya ala bridal.
"Gila!! Ntar jatuh berdua! Turunin!" Eli yang kaget awalnya memberontak, tapi genggaman Emil justru semakin kuat.
Payah banget sih, dipikir semua cowok ganteng bisa lakuin seenaknya terus cewek langsung jatuh hati?!
Dari luar mungkin dia kelihatan cuek, tapi dalam hati jantung Emil berdegup kencang. Bisa sedekat ini dengan Eli membuatnya semakin yakin bahwa dia memang menyukainya.
Begitu melihat teman-teman dari jauh sudah keluar dari kemah, Eli langsung minta turun tak ingin ada yang melihat keintiman mereka.
"Eli! Aku baru aja aku mau menyusulmu!" Seru Sasa langsung memapahnya masuk mobil dan sibuk mencari kotak P3K. Dari tadi Sasa berteduh di dalam mobil.
"Kenapa dengannya?" Ray yang khawatir langsung menghamipiri adiknya.
"Wah mereka berdua ngapain ya tadi."
Berebeda dengan Momo yang semangat melihat Eli dan Emil berduaam, Lani yang juga sempat melihat adegan mesra tadi memandang Eli penuh dengki.
"Thanks Mil." kata Angy berterima kasih.
"Aku yang harus berterima kasih." Jawaban itu dianggap Angy bahwa Emil telah sukses mengatasi masalahnya.
"Ngomong-ngomong kamu cocok juga dengan warna pink."
...****************...
"Beberapa tahun silam pernah ditemukan mayat seorang pendaki gunung yang terjatuh dari tebing dan tubuhnya tersangkut di antara dua batu.
"Tubuhnya yang tak bisa bergerak selama berhari-hari itu terasa sangat menyiksa. Rasa haus dan lapar harus dia tahan, belum rasa sakit dari luka dan memar yang menjalar di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Siksaan dunia harus dia alami perlahan sebelum akhirnya mati di tempat.
"Sekelompok warga yang menemukan tubuhnya mengaku bahwa mereka sedang memotret kera putih di sekitar lokasi. Tak jauh dari kera itu mereka menemukan kawanan kera dengan jumlah yang sangat banyak.
"Fenomena aneh ini langsung diabadikan oleh mereka, tapi siapa sangka kawanan kera itu mengkerubungi seseorang.
"Berhasil mengusir kawnaan kera itu, mereka tambah kaget melihat mayat yang membengkak akibat air dan sudah pucat pasi itu. Bau menyengat mulai tercium."
"Kak udah dong!" kata Alv ketakutan sambil memeluk lengan Reec erat-erat.
"Anehnya, tak ditemukan bekas cakar sedikitpun di jasad mayat tersebut, yang berarti tubuhnya tak tersentuh oleh para kera.
"Katanya pendaki gunung itu seorang pecinta monyet. Banyak foto dan video kera yang tersimpan dalam memori kameranya.
"Dan konon katanya, ada seekor raja kera putih yang menguasai gunung itu."
"Jadi berhati-hatilah bagi kamu pecinta monyet. Jiwamu akan dibawa ke dalam kerajaannya! Gwaaaa!!!!"
Vira menutup ceritanya dengan menyinarkan senternya dari bawah wajahnya.
"Gyaaa!! Kyaaaa!!!" Semua berteriak kaget.
"Gue benci monyet gue cinta ular!!" Kata Reec cepat-cepat saking kagetnya. Padahal dia sebenarnya termasuk pecinta monyet.
"Nah, misi kalian sekarang adalah jalan berpasang-pasangan sampai gardu di atas, mengambil benda apapun yang sudah kusiapkan disitu, dan kembali berdua lagi jangan sampai meninggalkan temanmu!"
"Kelompok yang berhasil kembali dengan membawa barang akan mendapat 10 poin!" tambah Ray.
"Silahkan ambil undian dan bergandengan dengan pasangannya!" Jelas Vira dengan riang.
"Kamu lagi senang yank?"
"Senang lah beb, bisa menakut-nakuti mereka!"
"Ayank jahil banget ih!"
"Eli kamu yakin mau ikut? Kakimu lagi sakit kan?" tanya Lani pura-pura khawatir. Dia berharap Eli tidak ikut agar kesempatannya bersama Emil bertambah.
"Tenang aja, aku bawa tongkatku." tapi Eli juga tak mau melewatkan kesempatan untuk bisa dekat dengan orang yang disukainya.
Sialnya, Dewi cinta berpihak pada Emil. Angy yang mengetahui itu tersenyum senang untuk sahabatnya. Dia berpasangan dengan Lani yang kesal karena lagi-lagi kesempatannya direbut Eli.
"Awas kamu macam-macam dengan Fani ya!" kata Alv cemburu gebetannya berpasangan dengan Reec. Sementara dirinya berpasangan dengan Sasa si gadis modis yang ke gunung aja pakai rok mini.
"PD amat lu, jadian aja kagak!" cemoohnya.
"Kenapa nasibku selalu bersamamu ya?" kata Momo yang sebenarnya berharap bisa berpasangan dengan cowok ganteng seperti Emil atau Reec.
"Memang takdirmu bersamaku." canda Leon.
"Kalian harus bergandengan ya! Salah satu dari kalian harus pakai peenutup mata, dan gantian saat pulang! Boleh saja kalian menggendong! Yang penting harus ada skinship!"
"No senter, andalin cahaya bulan! Jangan sampai gandengannya terlepas atau pasangan kalian akan diambil raja kera!" tambah Vira menakut-nakuti mereka.
Pasangan no 1, Leon Momo kembali dengan mulus tanpa masalah. Kemistri mereka terlalu kuat.
"Nggak seru kak! Kurang jauh!" kata Momo saat kembali.
Pasangan berikutnya kembali sedikit lebih lama. Sasa terus-menerus menempel di badan kecil Alv karena terlalu takut, yang membuatnya susah berjalan.
"Jangan mepet-mepet dong! Jatuh nanti!!" kata Alv risih.
Saat memilih benda di gardu Sasa terkejut dengan benda yang dipegangnya.
"Kyaaaa!!!!" teriaknya langsung melempar benda berlendir tadi.
"Udah ambil belum?" Alv mengambil tongkat. Karena terlalu gelap mereka memang tak bisa melihat apa yang mereka ambil.
Giliran pasangan Angy-Lani. Angy yang nggak mau kontak fisik dengan cewek, memasukkan tangannya dan menyuruh Lani memegang lengan panjang sweaternya.
Memangnya aku sejijik itu ya? batin Lani.
"Asal kamu tahu, yang ditaksir Eli itu kamu bukan Emil! Bilang ke temanmu untuk menyerah." Lani menceritakan rahasia Eli untuk mendapatkan Emil.
"Hahaha, kamu pikir aku percaya." balasnya santai. Angy yakin 100% hubungannya dengan Eli itu musuh sampai ke urat nadi.
Lani yang kesal kata-katanya tak dipercaya, dengan sengaja menjatuhkan meja yang terdapat benda-benda untuk di bawa tadi.
"Kamu sengaja ya?!" tuduh Angy tanpa basa-basi. Dia lalu memungutnya satu-persatu dan mengembalikannya ke tempat semula.
"Udah cepat ambil satu terus balik!"
Angy mengacuhkannya. Dia tak mau anggota berikutnya akan kesusahan
"Ya udah aku pergi sendiri." Dia meninggalkan Angy sendirian karena kesal padanya.
Selesai membereskannya Angy pun menyusulnya.
"Kenapa baliknya sendiri-sendiri?" tanya Vira.
Mereka terdiam saling membuang muka.
"Whatever, nilai kalian dikurangi 5!"
"Kau tak apa?" tanya Emil pada Angy.
"Tenang aja. Kau yang harus hati-hati."
__ADS_1
Setelah Reec dan Fani juga sukses menjalankan misi mereka, giliran pasangan Emil-Eli. Tak ada masalah sampai mereka tiba di gardu.
Tapi saat Eli hendak mengambil benda dari atas meja, dia mendengar suara dari semak-semak.
Eli mengernyitkan wajahnya dan malah mendekati sumber suara.
"Kenapa?" tanya Emil mengikutinya.
Tiba-tiba ada sepasang bola mata yang menatap mereka dari balik kegelapan.
Normalnya seorang cewek akan berteriak ketakutan dan memeluk cowok tampan. Tapi itu tak berlaku bagi Eli.
Saking kagetnya dia refleks menampar Emil yang berdiri di dekatnya.
"So... sorry..." kata Eli merasa bersalah.
"Gak apa." Emil masih shock dengan kebrutalan Eli.
Terdengar lagi suara kresek-kresek dari semak membuat Eli menggenggam erat tangan Emil. Emil menahan rasa sakit genggamannya yang malah mengencang.
"Kamu dengar itu kan?" tanya Eli ketakutan tapi sangat penasaran.
"Iya."
"Tadi itu apa ya?" Dia mengernyitkan matanya kembali mencari sosok misterius tadi.
"Sebaiknya kita kembali." Emil berusaha melepaskan cengkraman Eli dan menariknya menjauh dari situ.
"Tunggu, benda yang tadi aku ambil tiba-tiba hilang!" Eli meraba-raba lantai gardu dan sekarang malah memegang seekor ular.
"Cepat menyingkir dari situ!" teriak Emil.
Eli mengamati ular itu dan malah memungutnya.
"Tenang, ini ular yang nggak berbisa kok."
Emil kemudian teringat ucapan Angy bahwa Eli seorang pecinta Reptil.
"Daag, sana kembali ke habitatmumu!" katanya mencium ular itu sebelum melepasnya ke alam liar.
Emil sedikit merinding melihatnya.
Di atas meja sudah tak ada lagi barang yang tersisa.
"Sial! Pasti diambil sosok aneh tadi!" kata Eli kesal.
Emil kemudian memberikan benda yang tadi diambilnya kepada Eli.
"Nih."
Eli bengong.
"Serius? Timmu bisa kalah lo!"
"Jangan bilang mereka." Emil merasa bersalah pada timnya, tapi kali ini saja dia ingin melakukan sesuatu pada orang yang disukainya.
Eli kemudian mengambil benda yang berupa tempurung kelapa itu.
Aku nggak akan termakan rayuan gombalmu! Dasar sok baik! Biarin aja kalian kalah!
"Sebagai gantinya aku gendong kamu lagi saat kita balik."
Eli langsung mengembalikan tempurung kelapanya pada Emil.
"Nggak usah!!"
Emil sedikit tertawa. Dia mulai menikmati mengusik Eli.
"Kalau gitu anggap ini balasan tamparanmu tadi."
Tamparan di balas gendongan? Dia ini selihai apa sih dalam merayu cewek?!
Eli tidak tahu bahwa semua yang dilakukan oleh Emil ini tulus.
"Sepertinya tongkatmu juga hilang." kata Emil mengingatkan.
Terpaksa Eli akhirnya mau digendong di belakang oleh Emil. Mereka pun kembali bersama.
...****************...
"Dan setelah menjumlahkan poin kalian," Ray mulai membacakan pemenang misi camping keesokan harinya. "Tim cowok mendapat total poin 88."
"Sementara tim cewek mendapat toal poin 92. Artinya tim cewek yang menang!"
Seluruh tim cewek bersorak gembira. Terutama Eli selaku ketuanya. Melihat itu Emil sedikit tersenyum.
"Kalian sudah kerja keras, lain kali kita yang akan menang!" Kata Angy pada timnya memberi semangat.
Mereka semua pun berkumpul dan membuat foto kenangan sebelum akhirnya pulang.
"Kamu tahu kenapa aku suruh hati-hati waktu uji nyali berpasangan dengan Eli?" tanya Angy di dalam mobil menuju rumah. "Karena dia bisa meninju atau mencekik orang kalau kaget!" lanjutnya penuh horror.
Emil justru tertawa merasa dirinya beruntung hanya ditampar olehnya.
"Kenapa ketawa?"
"Dia lebih menarik dari yang kuduga."
__ADS_1
Angy tambah merinding mendengarnya.
"Sepertinya selera cewekmu abnormal."