Adam Vs Eve

Adam Vs Eve
Inspeksi Ketua OSIS


__ADS_3

Akhirnya UTS telah selesai. Beberapa mapel hasilnya sudah keluar dan kudengar nilai mereka meningkat.


Aku sudah berusaha membuat rangkuman sampai mengatur kelompok belajar. Walau mungkin belum bisa mengalahkan semua kaum hawa, tapi paling nggak nilai mereka telah meningkat.


Apalagi Reec dan Alv yang kadang absen belajar pun nilainya jauh lebih baik dari biasanya.


Masalahnya di Emil.


Sejak dua minggu lalu dia sering menyendiri. Pulang sekolah dia langsung pulang rumah. Di kelas dia sering muram, dia selalu menghindariku!


Dia juga nggak banyak bicara padahal biasanya memang nggak banyak bicara sih. Dia bahkan nggak ikut komunitas lagi dan dengar dari Leon dia malah jadian dengan kakak kelas.


Sekarang aku sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Pagarnya nggak digembok jadi dia pasti ada di dalam.


TOK TOK TOK!


"Emil!!"


TOK TOK TOK!


"Buka dong! Aku tahu kamu di dalam kan?"


Mungkin sudah 10 menitan aku berdiri di depan pintu dan tak ada jawaban.


Aku kemudian menuju jendela kamarnya mencoba untuk melihat ke dalam. Dan ternyata benar. Emil sedang di dalam menggunakan headphone besar sepertinya sedang main game.


Aku mulai mengetuk-ngetuk jendela kamarnya keras-keras, namun tetap tak ada respon.


Karena sudah frustasi, aku ambil batu yang tergeletak di lantai memukul jendelanya berkali-kali nggak peduli kacanya pecah, hingga akhirnya Emil sadar dan segera membuka jendela kamarnya.


"Angy?!"


"Kalo kamu nggak biarin aku masuk, aku akan masuk secara paksa!"


...****************...


Sudah lama kita duduk di dalam ruang tamu rumahnya, segelas air sudah habis, tapi nggak banyak yang kita bicarakan.


"Kamu masih belum mau cerita?"


Dia terdiam.


"Semua khawatir padamu, tapi kenapa kau malah menghindari kami?!"


Dia diam lagi.


"Aku nggak akan pulang sampai kamu nggak bicara!!" ancamku.


"Ibuku."


Katanya akhirnya mulai bicara.


"Dia akan menikah lagi."


Gantian aku yang terdiam.


"Bukannya orang tuamu belum cerai?!"


"Dia akan menuntut cerai dan menikah lagi. Pacarnya orang luar jadi aku diminta ikut ke luar negeri."


Aku terdiam lagi.


"Apa?!!"


Ini benar-benar berita yang di luar dugaanku! Kalau dia beneran ke luar negeri, berarti aku nggak akan bertemu dengannya lagi?!


"Kalo itu memang keputusan orang tuamu, mungkin itu yang terbaik untuk keluargamu." kataku sok tabah.


"Selama ini aku gak dianggap anaknya, aku gak mau hidup bersamanya."


"Mungkin dengan adanya ini kamu akan menyukainya."


Sebenarnya aku ingin menahannya agar tetap tinggal disini, tapi ini urusan keluarganya jadi aku nggak berhak untuk ikut campur.


"Kupikir kau kenapa selama ini selalu menghindari kami... Aku malah dengar kamu jadian sama cewek..."


"Jadian sama cewek?"


"Salah ya?"


"Aku benci cewek, kenapa jadian dengan mereka?"


"Benci? Baru kali ini aku dengar kamu mengakui secara langsung begini."


Dia kelihatan ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya itu.


"Apapun itu kau harus cerita ya! Kalau nggak, apa gunanya sahabat?!"


Aku nggak ingin mengungkit lebih jauh lagi tentang masalah pribadinya. Tapi aku sungguh berharap dia nggak akan meninggalkan kita.


"Besok kamu mau hadir kan di komunitas? Kalau nggak salah kita akan kedatangan Ketua OSIS. Udah dari kemarin kita persiapkan untuk hari itu."


Emil kemudian setuju untuk datang besok. Kita kemudian main game bersama sampai malam.


Sepertinya dia sudah kembali menjadi dirinya semula.


"Ingat ya, kalau ada sesuatu cerita aja! Kamu nggak sendiri!"


Dia terdiam lagi seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi lagi-lagi dia mengurungkan niatnya.


"Ini bukan masalah Eli kan?"


"Bukan." Dia langsung jawab.


Aku tahu dia bohong.


"Kamu harus ingat ya, kamu itu anggota anti cewek! Jangan biarkan zombie betina manapun memakan otakmu!"


Aku lega karena dia tersenyum seperti biasanya.

__ADS_1


"Sampai besok!" kataku sebelum mengendarai motorku.


...****************...


"Kak Gaby hanya datang untuk lihat kegiatan kita. Jadi kita beraktifitas seperti biasanya." kataku sebelum memulai kegiatan.


Mereka belum pernah bertemu ketua OSIS secara langsung, dan aku yakin mereka pasti kaget mendengarku memanggil ketua dengan nama panggilan yang terdengar imut.


Kak Gaby itu idolanya para cewek kelas XI. Dia ganteng, ramah, modis, berkarisma, serba bisa, IQnya juga di atas rata-rata.


Apalagi dia punya saudara kembar, kak Theo, yang jadi wakil ketua OSIS, kepopuleran mereka jadi dobel!


Mereka berdua bagai pinang dibelah dua, tapi karakternya bertolak belakang. Kak Theo kelihatan lebih kutu buku dan culun, tapi dia itu dingin, galak, suka marah, dan selalu seenaknya sendiri.


Luar dan dalam mereka bertolak belakang.


Kalau sang ketua covernya badboy tapi isinya marshmallow, wakilnya itu covernya goodboy tapi isinya cabe rawit.


"Hari ini Leon akan melatih kita cara menjahit yang benar." lanjutku.


"Aduh, hari ini aku absen dulu deh!" Alv langsung berdiri setelah mendengarnya.


Dia orang yang sangat plin-plan. Kalau dia sukses ajak jalan gebetannya, dia akan absen komunitas. Tapi kalau dia dicuekin gebetannya lagi, dia akan rajin datang.


Wajahnya cantik dan mungil seperti cewek, tapi dia paling anti dengan hal-hal yang berbau cewek seperti warna pink atau kegiatan masak dan menjahit.


Aku sebenarnya penasaran seperti apa gebetannya. Apa mungkin cewek rocker atau cewek tomboy?


"Kalau sudah masuk kelas nggak boleh keluar!" Kataku sedikit mengancam.


Dia pun duduk kembali.


"Apa ada pertanyaan?" tanyaku lebih lanjut. "Kalau nggak ada kita langsung mulai, Leon!"


Leon mengambil tas kertas yang berisi peralatan menjahit yang sudah dia persiapkan atas permintaanku dan mulai membagikannya pada mereka.


Setelah membagikan kain perca, benang dan jarum, Leon ke depan untuk mulai menjelaskan.


"Yah mungkin yang pernah dapat pelajaran tata busana kurang lebih tahu caranya. Dan kupikir cara memasukkan benang ke dalam lubang jarum nggak perlu kuajarkan." Katanya sebagai pembukaan.


Dia kemudian menulis lima macam tusuk dasar beserta gambarnya di papan tulis.


"Kalau sudah memasukkan benang ke dalam jarum, kita bisa mulai mencoba untuk menjahit dengan tusuk paling gampang yang namanya adalah tusuk jelujur. Caranya begini." jelasnya sambil memperagakan caranya.


"Tunggu dulu! Aku belum bisa masukin benangku!" Alv kesulitan.


"Sini biar kubantu." Reec duduk di sebelahnya. "Ada cara gampang! Nih, tinggal dililit aja ke jarum, tarik, masuk kan?"


"Wow ajaib! Aku baru tahu ada cara semudah itu!"


Memang Reec yang orang tuanya punya butik bisa diandalkan.


"Wah wah, baru tahu ternyata kegiatan komunitas anti cewek kayak banci gini."


Tiba-tiba terdengar suara dari arah jendela belakang kelas. Semua menoleh.


"Silahkan lanjutkan! Anggap aja aku nggak ada."


Leon kelihatan khawatir dan melirikku. Tapi karena aku nggak merespon dan tetap menjahit, dia melanjutkan penjelasannya.


"Kalau benangnya sudah masuk ke jarum, jangan lupa mengikat ujungnya agar saat kita mulai menjahit..."


"Nggak bisa jelasin dengan lebih menarik?!" sela wakil ketua.


"Lalu kita mulai menjahit tusuk jelujur. Caranya begini." lanjut Leon memperagakan cara menjahit sambil berpikir bagaimana cara mengajar yang seru. "Masuk dan keluar seperti ini..."


"Masuk keluar gimana?! Yang jelas dong kasih penjelasannya!"


Dia menyela lagi.


"Apaan sih dia, tadi katanya suruh cuekin dirinya. Gimana bisa cuek kalau ngoceh terus!" bisik Alv pelan, tapi aku bisa mendengarnya.


BRAK!!


Bunyi daun jendela dihantam.


"Kalau ada yang keberatan bisa langsung bicara menghadapku! Bukan bisik-bisik di belakang! Ngerti nggak?!!"


Suasana ruang kelas jadi tegang.


Si ketua, kak Gaby, menutup HP lipatnya dan menatap kita dengan tatapan yang lebih mematikan.


Mereka kemudian berjalan masuk ke kelas dan si ketua yang kelihatan lebih menyeramkan tiba-tiba memperkenalkan diri.


"Hai, namaku Gabriel Clementine, ketua OSIS kalian," Katanya tersenyum. "Panggil aja Gaby."


Dia berubah 180°. Gosip mengenai karakter luar dan dalam yang bertolak belakang memang benar adanya.


"Lalu ini wakil ketua OSIS, Theodor Victoria, biasa dipanggil Theo." Lanjutnya. "Mungkin kalian sudah dengar dari ketua kalian Angy, bahwa kami akan kemari."


Setahuku hanya kak Gaby yang datang, kenapa wakil iblis juga datang?


"Sepertinya kalian sedang jahit-menjahit ya? Kupikir kalian komunitas anti cewek, kenapa jadi komunitas tata busana?" tanyanya heran.


Leon yang masih berdiri di depan mati kutu.


Aku pun berhenti menjahit dan mulai maju ke depan.


"Saya sebagai ketua komunitas berterima kasih atas perhatian dan waktu kalian untuk menghadiri komunitas kami." kataku santai padahal di hadapanku ada dua orang top sekolah yang galak.


Tapi aku cuek aja.


"Kami sedang latihan untuk bertahan hidup tanpa cewek, yang hari ini adalah menjahit." lanjutku dengan PD.


Aku kemudian membuka tasku yang ada di depan dan mengambil sebuah file. File itu kuserahkan pada ketua OSIS.


"Seperti yang tertulis dalam file itu, terdapat latihan-latihan bertahan hidup tanpa cewek, yang sebagian besar adalah keahlian cewek pada umumnya. Selain itu ada juga misi-misi yang sudah dan akan kita jalankan untuk melawan mereka."


Anak kembar itu membuka-buka file dan melihat isinya. Aku sudah menyiapkan secara detail semua visi, misi, kegiatan, dan struktur dari komunitas ini yang ku ketik dan print agar terlihat rapi.

__ADS_1


"Wah hebat sekali kamu sudah memprogram kegiatan komunitasmu sampai setahun kedepan!" Kak Gaby memujiku. Tapi kak Theo hanya diam.


Paling tidak amarahnya sudah mereda.


"Baiklah, silahkan lanjutkan kegiatan kalian! Maaf kami sudah mengganggu."


Mereka berdua pun duduk di barisan paling belakang untuk mengamati kami.


Aku memberi mereka alat menjahit dan meminta mereka untuk ikut berpartisipasi.


Mengajari anak cowok menjahit mirip seperti mengajar anak bebek terbang. Tangan mereka kaku dan jahitan mereka berantakan.


Tapi yang membuatku kagum mereka bisa fokus sampai selesai tanpa banyak mengeluh.


Karena sudah selesai menjahit, aku membantu Leon untuk membantu mereka yang kesulitan.


Aku memang nggak mahir menjahit seperti Leon, tapi aku biasa melakukannya. Semua bisa dilakukan bila kita terbiasa.


"Lihat nih! Jahitanku paling rapi!" seru kak Theo bangga memamerkan hasil jahitannya di depan.


Biasanya Reec yang suka berisik dan pamer tentang sesuatu yang nggak jelas. Tapi dia sepertinya sungkan dengan kehadiran kakak kelas, terlebih ketua OSIS.


"Kau cepat juga Theo!" Jari-jari sang ketua sudah penuh hansaplas akibat tusukan-tusukan jarum. Tapi dia tetap berusaha menyelesaikan jahitan kelimanya.


Setelah semua selesai, kak Gaby memberi salam pada Angy.


"Komunitasmu membuka mataku betapa susahnya menjahit itu. Aku akan mengenang ini untuk menghargai usaha mamaku yang selalu menjahit bajuku yang sobek!" kata kak Gaby sok puitis.


"Daripada komunitas anti cewek, lebih pantas disebut komunitas menghargai usaha wanita!" tambah kak Theo.


Aku terdiam.


Komunitas menghargai wanita, jidatmu?!


Tanpa banyak bicara aku mengeluarkan kuesioner dan meminta mereka untuk mengisi.


"Asal kalian tahu, komunitasku bukan untuk meninggikan derajat mereka!" kataku tegas.


Leon kelihatan tidak setuju denganku. Dia pasti takut pandangan positif yang sudah kita dapat bisa hancur dengan isi dari kuesioner ini!


Peduli amat.


"Menarik juga pertanyaan-pertanyaanya." Kata kak Theo menyerahkan kertas yang sudah diisinya.


"Maaf aku melupakan visi utama komunitasmu." Kak Gaby juga mengisi dan mengembalikan padaku sebelum mereka meninggalkan kelas.


...****************...


Nama: Gabriel Clementine


Kelas: XI-IPA 5


Hobby: Belanja, Baca



Sebutkan alasan kalian membenci perempuan!


Gak bisa diem, bawel.


Tuliskan pengalaman paling menyebalkan yang kalian dapatkan dari perempuan!


Dimarahin habis-habisan padahal nggak salah.


Apakah kau pikir perempuan pantas hidup? Sebutkan alasannya!


Pantas aja kok!


Apa ide kalian untuk membuat mereka menyesal hidup sebagai perempuan?


Mengajarkan cara hidup cowok yang gak seribet mereka.


Berikan contoh cara menghancurkan hidup mereka!


Silent is Gold



Nama: Theodor Victoria


Kelas: XI-IPS 3


Hobby: Nyanyi, karaoke, game



Sebutkan alasan kalian membenci perempuan!


BOROS


Tuliskan pengalaman paling menyebalkan yang kalian dapatkan dari perempuan!


Kartu Credit dipake diam-diam untuk belanja yang gak penting.


Apakah kau pikir perempuan pantas hidup? Sebutkan alasannya!


Sepertinya gak pantas.


Apa ide kalian untuk membuat mereka menyesal hidup sebagai perempuan?


Membiarkan mereka hidup di pulau gak berpenghuni! Aku gak yakin mereka bisa survive!


Berikan contoh cara menghancurkan hidup mereka!


Memiskinkan mereka. Lihat aja, bisa hidup tanpa uang gak?!



__ADS_1


__ADS_2