Adam Vs Eve

Adam Vs Eve
Cewek Gila


__ADS_3

Hari ini mendung.


Nggak lama setelah langit gelap gulita hujan mulai turun.


Walau di luar gelap seperti sore hari, aku tetap bangun pagi dan menyiapkan sarapan sekalian masak untuk siang. Libur nggak libur sama aja, karena manusia harus tetap makan tiap hari.


Selain aku, yang biasanya bangun pagi-pagi itu kak Sara. Dia selalu bangun cepat untuk make up dulu sampai dua jam lamanya. Biarpun nggak keluar dan hanya di rumah, dia tetap merias wajahnya seperti pengantin yang mau nikah.


Kalau nggak pergi kuliah atau nongkrong di mall, dia biasanya di kamar sepanjang hari dengan berselfie ria atau video call dengan banyak orang. Entah apa keuntungan yang dia dapat dengan melakukan itu semua masih misteri bagiku.


Ibuku akan bangun pagi kalau ada urusan di tokonya. Kalau nggak ada, biasanya dia akan mengurus segudang bisnis onlinenya yang lain di dalam kamarnya. Dia hanya keluar untuk makan atau ke kamar mandi.


Berbeda dengan mereka, kak Vira selalu bangun siang. Dia biasanya bikin skripsi semalaman atau pacaran semalaman. Pacarnya tinggal di sebelah tapi mereka seperti kurang waktu. Mereka pacaran sejak SD dan kelihatan sekali aku bakal jadi kakak ipar Eli.


Ugh, mikirinnya aja bikin merinding.


Seperti itu lah keadaan rumahku yang kurang komunikasi.


Setidaknya sejak ayahku meninggal semua berubah menjadi seperti ini.


Ayahku orang yang sangat humoris. Dia selalu memberi waktunya untuk kita dan selalu melibatkan dirinya dalam kehidupan kami.


Walau aku masih tinggal dengan ibu dan kedua kakakku, tapi kenangan bersama ayah tak bisa tergantikan.


Dia juga yang lebih sering urus rumah dibanding ibu. Bukan karena dia suka, tapi karena dia yang bekerja sebagai polisi bilang kalau dia tak ingin hanya mengabdi pada negaranya, tapi pada keluarganya juga. Karena itu dia selalu mengurus rumah dengan sukarela.


Mungkin aku memang mengikuti jejaknya tapi dengan alasan yang berbeda.


"Wah hari ini kamu masak apa gy-gy, baunya enak!"


Sepertinya kak Sara selesai dandan lebih cepat hari ini. Dia pun membuka tutup bekal makanannya dan mengintip sarapannya.


Aku memang menyajikan sarapan di dalam bekal makanan. Kadang ada yang nggak sempat makan jadi tinggal bawa bekal makannya.


"Harus habis ya! Awas kalau aku lihat ada yang sisa!"


"Iya adikku tercayang." katanya sambil mencubit pipiku. Dia sering melakukannya, bertingkah seolah aku masih bayi.


"Kalau masih berani melakukan itu lagi, bersiaplah untuk mati kelaparan!" Aku juga sering mengancam mereka kalau merasa terusik. Tapi mereka nggak pernah serius menanggapi terorku.


Kak Sara membawa sarapannya masuk ke kamar dan aku sendirian lagi.


Makanan untuk siang yang selesai aku masak, aku hidangkan di piring dan aku tutup dengan tudung saji di atas meja dapur.


Aku pun duduk dan mulai makan sarapanku sendirian.


Suara hujan di luar samar-samar terdengar dari dalam rumah saking sepinya.


Sambil makan aku teringat kenangan bersama ayahku. Sosoknya dari belakang yang sedang memperbaiki sepedaku yang rusak.


Nggak lama kemudian aku membayangkan sosok cewek berambut ikal panjang yang sedang memperbaiki motorku.


Tunggu dulu, aku membayangkan cewek?!


Untuk menyapu bersih otakku yang ternoda oleh wanita, aku menyalakan TV dan berhenti di acara berita dengan seorang reporter cewek yang berambut ikal panjang.


Aku mikirin dia lagi.


Segera ku mematikan TV dan masuk kamarku.


Melihat ponselku yang sepi, aku memutuskan untuk menyelesaikan PR libur semester dan membuka buku pemkot dan buku tulis.


Kembali lagi aku melihat wajah-wajah para pahlawan di pemkot sejarah semua berubah menjadi cewek itu dengan rambut ikalnya.

__ADS_1


Bahkan saat anjing Goldenku, Macho, masuk kamar, wajahnya berubah jadi cewek rambut hitam ikal panjang!


Ada yang salah dengan otakku.


Untuk memperbaiki otakku yang error in, aku masuk ke kamar kak Sara dan meminjam salah satu kalungnya. Saat kembali ke kamar aku berusaha memutar kalung itu di depanku seperti pendulum, berusaha menghipnotis diriku sendiri.


Tapi kenapa liontin yang bergerak ke kanan-kiri itu lama-lama berubah jadi cewek moge rambut hitam ikal panjang?!


Aku mematung memandang liontin dengan horror.


Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?!


"Angy? Lagi apa?"


Entah sejak kapan monyet betina masuk kamarku.


Dia berdiri dengan baju ala anak basket favoritnya dan terlihat sedikit basah. Nggak biasa rambutnya yang selalu diikat atau dicepol kali ini terurai ke samping.


Rambutnya hitam panjang dan lurus.


Aku menatapnya lekat-lekat.


"Apaan sih? Kok malah lihatin aku kayak ada yang bisa dibaca." Katanya risih.


Tatapanku yang mengernyitkan dahi mulai kembali normal.


Di hadapanku Eli, nggak ada yang berubah.


"Hah..." Aku menghela nafas panjang.


"Apaan sihh sekarang malah menghela nafas kayak om-om abis rokok! Mikirin yang porno ya?!"


"Ngapain kesini?"


"Di rumah sepi jadi aku kesini. Nggak boleh?"


"Libur masih panjang!" katanya sekarang merubah posisi dan seenaknya merebahkan diri di atas kasurku yang sudah ku rapikan tiap kusutan yang ada di seprei biru tuanya.


Tapi melihat hal menyebalkan itu semua terjadi di depan mataku, aku malah merasa lega.


Lega karena dia nggak berubah jadi cewek rambut ikal panjang itu.


Otakku masih normal.


"Hei! Angy! Kenapa dari tadi diam? Nggak biasanya."


Eli menggulingkan badannya ke samping. Posisinya sekarang tengkurap, tapi dia menyangga badannya dengan lengannya. Kakinya dia naik-turun kan.


Aku memandangnya dari kursi meja belajarku.


Dia belum berubah, syukurlah.


"Aneh banget sih kamu." Eli berlutut di atas kasur sekarang berusaha meraih keningku untuk mengukur suhu tubuhku dengan tangannya. "Nggak demam sih." Dia sekarang mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. "Kamu kenapa?"


Aku memandang wajahnya lekat-lekat.


Belum pernah kita saling pandang sedekat ini.


Semakin lama memandangnya aku malah membayangkan cewek moge itu dan langsung berdiri.


"Aku harus pergi." kataku.


"Kemana?"

__ADS_1


"Bengkel."


...****************...


Di luar masih hujan tapi aku tetap berangkat.


Kesimpulanku bukan aku yang gila, tapi pasti cewek itu!


Aku perlu memastikan sendiri alasan otakku aneh seperti ini. Bahkan Eli sendiri bilang aku aneh, tapi aku nggak mau percaya ucapannya.


Setibanya di bengkel yang untung saja sepi, aku membuka helm dan jas hujan ku masukkan ke dalam plastik. Walau sepi tapi aku bisa melihat sosoknya yang sedang duduk di lantai menghadap motor dan mengutak-atik sesuatu


Dia mengangkat mukanya dan tersenyum lebar melihatku.


Pipinya menghitam tercoreng oli atau kotoran lain yang berasal dari motor yang sedang dia kerjakan. Tapi bagiku dia terlihat lebih cantik dari cewek manapun yang selalu berdandan menor.


....


Aku terdiam beberapa detik.


Apa yang sudah kupikirkan?!


Sepertinya aku lah yang harus mengontrolkan diri ke rumah sakit jiwa!


Entah sejak kapan aku merasa seperti disantet olehnya.


Dari bangun tidur aku terus memikirkannya.


Saat masak aku juga memikirkannya.


Bahkan saat nonton TV, melihat buku sekolah, melihat anjing kesayanganku sampai Eli semua berubah jadi wajahnya!


"Kau kenapa berdiri disitu?"


Dia datang mendekatiku.


Suaranya yang serak-serak basah mulai tertanam di otakku. Rasanya aku ingin tiap hari mendengarnya.


Aku beneran sudah gila.


"Ayo duduk kalau nggak merasa enak badan!"


"Bukan itu. Motorku."


"Ada apa dengan motormu? Rusak lagi?"


"Ehm, bisa ganti akinya kan?"


Sekali lagi aku melihat sosoknya yang mengerjakan motorku. Dia kelihatan sangat terampil dan cekatan. Walau itu pekerjaan kotor tapi dia nggak peduli.


Aku sampai lupa kalau dia itu cewek.


"Kalau mau tipe aki yang sama, nanti bisa dipesan di toko lain."


"Berapa?"


"Berapa harganya? Nanti aku kasih tahu. Bisa bayar nanti kok!"


"Berapa lama harus tunggu pesanan?"


"Oh, lumayan lama sih, sekitar sejam. Mau ditungguin? Kalau pakai aki lain bisa langsung aku kerjain."


"Aku tunggu."

__ADS_1


"Oke, tunggu di ruang tunggu aja yuk! Hari ini lagi sepi karena hujan. Aku temanin!"


Dia mau temanin aku?


__ADS_2