
Pertemuan kali ini lain dari yang lain. Aku membawa Eli ke rapat di rumah Emil. Eli datang bersama temannya Fani.
Entah perasaanku saja atau apa, tapi Emil kelihatan sangat marah atau kesal dengan kehadirannya.
"Ini Eli, dia dari kelas X-4." Kataku pertama kali memperkenalkannya di depan mereka.
"Hai lama nggak ketemu!" sapa Leon.
"Oh ini ceweknya Angy." Aku tahu Reec pasti bilang semacam itu.
"Hai aku Alv!" Alv kekihatan lebih tertari pada temannya.
Emil hanya terdiam. Tapi kubiarkan dia.
"Lalu ini temannya, namanya Fani, dia teman dari korbannya Ryan." Lanjutku memperkenalkan mereka.
Fani juga terdiam. Dia seperti Emil versi cewek.
"Demi nama baik komunitas, kita perlu kerja sama dengan mereka." Kataku sebelum memulai pertemuan ini.
Setelah menyampaikan rencana-rencanaku, kita mulai diskusi. Kita bicara mengenai rencana wawancara dengan para korban yang tentu hanya bisa dilakukan sesama wanita, lalu mengenai pertemuan dengan ketua OSIS.
Aku harap semua bisa segera selesai dengan baik.
"Lalu bagaimana dengan tiga orang lain selain Ryan yang terlibat?" tanya Leon mengingatkan.
"Aku dapat kabar dari kak Gaby, untungnya mereka nggak terlibat langsung. Yang bermasalah hanya Ryan."
"Apa yang terjadi padanya sampai dia seperti itu ya?"
Aku pernah memikirkan hal yang sama seperti yang barusan dikatakan Leon. Pengalaman buruk apa yang pernah dia alami sampai bisa seperti sekarang ini?
"Saat aku bicara dengannya bersama kak Gaby dan kak Theo waktu itu, dia kelihatan biasa saja. Tapi saat kutanya alasan dia menjawab di kuesioner, dia tertawa dan bilang hanya bercanda."
"Serem amat ya, kayak gitu kok dianggap bercanda." kata Alv.
"Bagaimanapun juga, kita akan tunggu hasil wawancara dengan para korban. Eli, aku mengandalkanmu!"
"Serahkan padaku! Jangan lupa hadiahku ya!"
Kenapa dia harus bilang itu disini sih!!
"Wah hadiah apaan? Kencan ya?" goda Reec penasaran pada Eli.
Eli terlihat ingin menjawab, tapi ku bungkam mulutnya dengan menginjak kakinya.
Selesai pertemuan, kita pun pulang ke rumah masing-masing.
Saat mengantar Leon seperti yang biasa kulakukan, aku menanyakan keadaan Emil padanya.
"Kau tahu apa yang terjadi antara Emil dan Eli?"
"Entahlah, sebenernya aku juga penasaran. Emil lebih pendiam dari biasanya tadi. Kupikir sih karena ada orang baru. Kalau ingat aku coba tanyakan nanti."
"Thanks Leon."
__ADS_1
...****************...
Beberapa hari setelahnya, Eli memanggilku untuk memberi tahu hasil wawancaranya. Pulang sekolah aku makan dan menyelesaikan PR ku dulu sebelum ke rumahnya. Tapi ternyata dia belum pulang karena masih ada latihan basket.
"Tunggu di kamarnya aja Gy, nggak usah malu-malu!" kata ibunya yang sedang nonton sesuatu yang terlihat membosankan di TV.
Sudah lama sekali aku nggak ke kamarnya.
Sejak benar-benar membencinya, aku malas berurusan dengannya dan selalu berusaha menghindarinya.
Kamarnya nggak banyak berubah. Kamar pink norak yang cewek banget, lalu boneka-boneka binatang buruk rupa berjejeran di kasurnya. Yang berubah itu pialanya bertambah, hewan peliharaan reptil kesukaannya juga bertambah.
Aku mendekati salah satu terarium miliknya. Hanya cewek kelainan otak yang suka dengan hewan berdarah dingin!
Dulu dia hanya pelihara gecko, sekarang ada ular aneh berwarna oranye, sama hewan apaan nih kayak tokek albino tapi bisa berenang?
Aku mundur merinding melihat hewan-hewan pajangannya. Memang hanya nenek sihir yang bisa pelihara beginian.
Lama sekali dia belum juga pulang.
Aku akhirnya duduk di kursi belajarnya dan baru sadar dia memajang banyak foto yang dia hias dengan norak di atas mejanya. Bahkan ada foto diriku bersamanya saat masih SD.
Tunggu dulu, kapan ya ini? Aku bahkan lupa pernah foto dengan wajah riang gembira seperti itu sambil memeluknya.
Saat ku perhatikan lebih lanjut, ternyata banyak juga fotoku yang dia pajang di dinding kamarnya bersama foto teman-teman ceweknya yang lain.
Bahkan aku menemukan foto diriku yang dia laminating dan hias dengan gambar hati yang banyak.
Aku jadi tambah merinding membayangkan fotoku dipakai untuk santet.
"Ini minumlah." Ibunya membawa masuk segelas minuman dan cemilan yang dia taruh di atas meja belajar.
"Tante mau pergi jemput Tian dulu ya, sebentar lagi Eli pasti pulang dengan Ray."
Tian itu adik cowoknya. Kalau nggak salah dia masih SD kelas 4. Kadang aku temanin dia main game.
Nggak lama setelah ibunya pergi, Eli datang.
"Angy!!"
Seperti biasa suaranya selalu berisik, bahkan sebelum aku bisa melihat sosoknya.
Dia masuk ke kamarnya tapi berhenti sejenak di bingkai pintu.
Setelah melihatku dia lempar tasnya ke lantai dan pergi.
"Mau kemana?! Katanya mau kasih tahu hasil wawancaranya!!" kataku kesal dengan tingkahnya.
"Kamar mandi!!" teriaknya dari jauh.
Aku harus menunggunya lagi?! Yang benar saja! Tahu gitu aku suruh ke rumahku saja setelah dia siap!
Setelah setengah jam akhirnya dia kembali. Sepertinya dia habis mandi.
"Aku nggak mau membuang waktuku untuk menunggumu lebih lama lagi!!!" keaslku begitu melihatnya masuk.
__ADS_1
"Maaf deh..." katanya sedih.
"Udah cepetan mana hasilnya?!"
Dia membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah file dari dalam.
"Ini!" katanya menyerahkan file itu padaku. "Aku ketik sekalian. Sebenarnya mau kasih di sekolah, tapi karena ini bersifat pribadi jadi aku mau kasih ke kamu langsung. Nggak ada yang boleh baca ya!"
Aku membuka halaman pertama. Data lengkap korban dan hasil wawancara di bawahnya. Ada sekitar 7 cewek, bahkan dari sekolah lain.
"Gimana caranya kamu dapat ini semua?"
"Gampang sih, lewat koneksi. Lalu wawancara juga lewat telfon. Ada yang ingin namanya disamarkan, jadi aku hanya pakai inisial."
Hebat juga ya dia. Aku udah meremehkannya selama ini.
"Cewek itu mau cerita apa aja kalau dia percaya padamu. Aku bilang ini murni untuk menangkap bajingan itu, makanya mereka mau cerita. Bahkan korban pertama saat SMP juga berhasil aku hubungi! Ada di halaman terakhir."
Aku membuka halaman terakhir dan membacanya. Nama dan sekolahnya disamarkan, tapi ini bisa menjadi bukti untuk ku bawa ke kepala sekolah.
"Thanks Eli!" Dia sudah banyak membantu. "Terus kau mau aku ngapain?" Kali ini saja aku mau berbaik hati padanya.
"Nih!" katanya kelihatan malu menyerahkan kertas padaku.
"Apaan nih?!" tanyaku mengambil kertasnya dan membukanya.
Judulnya 'Daftar Yang Harus Dilakukan Angy!'. Dari judulnya aja aku udah ngeri, apalagi lihat daftar di bawahnya yang panjangnya melebihi struk belanjaan ibuku!
"Aku harus lakuin semua ini?!!"
"Iya dong kan udah janji!"
Memang benar dia udah banyak membantu. Jadi aku harus pasrah untuk menjadi budaknya selama seminggu.
"Menurutku ya," katanya tiba-tiba, "Ryan nggak sepenuhnya salah..."
"Apa maksudmu? Dia udah melecehkan banyak cewek lho!" Aku sedikit kaget mendengar diriku disini lebih membela cewek.
"Memang sih, tapi setelah aku wawancara mereka, sepertinya dilakukan antara suka dan suka. Jadi sebenarnya nggak bisa dikategorikan melecehkan."
Kata-katanya masuk akal.
"Bagaimana dengan kasus pelecehan cewek di sekolah kita? Ryan sampai ajak 4 cowok lain lho! Aku nggak yakin cewek mau dikeroyok cowok kayak gitu."
"Kata Fani sih cewek itu memang cewek centil. Dan saat ku interview, dia jawab dengan santai kalau mereka hanya iseng nggak serius. Jadi mungkin dia memang mau dipegang cowok banyak seperti itu."
"Kamu udah wawancara dia juga?"
"Udah, tapi dia nggak banyak cerita."
"Saksi korban ini aku serahkan ke ketua OSIS dulu. Masalah dia salah atau nggak udah bukan urusan kita."
"Ya udah. Kalau kamu berhasil balikin komunitas anehmu lagi, kita bertarung lagi saat UAS ya!"
"Oke, siapa takut?!"
__ADS_1
"Yang ketahuan nyontek bakal didis! Ingat ya!"
Misi berikutnya: Mendapat nilai UAS lebih tinggi dari kelompok anti cowok songong milik Eli