Adam Vs Eve

Adam Vs Eve
Misi Balas Dendam 2


__ADS_3

Sebelum pelajaran dimulai, aku sudah mengirim SMS detail misi hari ini.


Rencananya, di jam istirahat pertama aku dan Reec akan menuju kelas XII-IPA 2 yang letaknya di lantai dua. Kita akan memastikan apakah target tetap ada di dalam atau keluar kelas. Leon dan Emil akan menunggu di kantin utama untuk menginformasikan bila target ke kantin.


Apabila target tetap di kelas, kita akan langsung mendekati target dan melakukan serangan.


Namun bila target keluar kita akan diam-diam mengikutinya dan melakukan serangan di jam istirahat kedua.


Rencanaku ini awalnya disetujui oleh mereka. Tapi tepat saat jam istirahat pertama berbunyi, aku mendadak dapat SMS dari Reec.


'Mungkin sebaiknya kita batalin misi kita aja ya, sorry.'


Aku baca ulang SMSnya.


Aku baca lagi.


Baca lagi...


DIA INI APA MAKSUDNYA SIH?! DASAR OTAK PLIN-PLAN!!


Nggak sengaja aku melempar pulpenku ke depan kelas.


Emil yang sadar dengan kelakuanku, memungut pulpen yang ku lempar tadi dan mengembalikannya padaku, "Ada apa?" tanyanya bingung.


"Si pemulung bawel itu!! Dia bilang mau batalin misi kita!"


"Mungkin dia masih sayang mantannya..."


"Dia pikir komunitas kita mainan?!"


Aku bangkit hendak menuju kelasnya.


"Kita tanya aja langsung sama orangnya."


"Itu niatku sekarang!"


Kelasnya di sebelah, dan aku nggak melihat batang hidungnya.


"Dia kabur?" tanya Emil setelah melihat isi kelas.


Dia itu kadang lebih menjengkelkan daripada cewek! Mungkin sebaiknya dia ganti kelamin aja!


"Kita ke kantin dulu temui Leon." Usul Emil.


Leon menyambut kita saat tiba di kantin.


"Mana Reec?" Tanyanya setelah kita gabung duduk di satu meja.


Aku hanya menyerahkan HPku menunjuk SMS terakhir yang kudapat darinya, udah malas bicara saking jengkelnya.


"Aku sudah curiga sih," kata Leon santai, "Saat kita mencari informasi darinya aja dia kelihatan berubah-ubah terus. Sepertinya emosinya belum stabil. Wajar sih kalau baru diselingkuhi bakal merasa seperti itu." tambahnya lebih lanjut.


Kalau nggak salah dulu Leon juga pernah diselingkuhi mantannya, jadi dia pasti bisa lebih bersimpati padanya.


"Mau dia siap atau nggak, kalau dia udah berani mengambil misi ini, seharusnya dia bisa bertanggung jawab dengan keputusannya!"


Aku masih belum bisa terima dengan tingkahnya yang seenak jidatnya itu!


"Sekarang dia kabur entah kemana." Kata Emil mengingatkan. Artinya tak ada yang bisa kita lakukan kalau si pemilik misi ini pun tak bisa ditemui!


"Gimana kalau kita sendiri yang mengamati ceweknya dulu? Nanti kita menyusun strategi ulang!" Usul Leon.


Aku sebenarnya malas sih mengamati seorang wanita. Maunya langsung aja melakukan serangan dan beresin masalah.


"Intinya mau deketin teman ceweknya kan? Kita bisa mewakilinya lalu mengatur waktu untuk mempertemukan mereka, lalu nanti istirahat kedua kita suruh Reec langsung ke kelasnya! Gimana?"


Boleh juga ide Leon...


"Gimana kalau dia kabur lagi?" Emil mengingatkan untuk kesekian kalinya..


Tapi aku nggak peduli.


"Kalau dia nggak muncul, kita bawa paksa dia kesana!"


Sepertinya aku terlalu fokus pada menyelesaikan misi.


Saat lomba 17an kemarin, aku sudah mempersiapkan segala hal untuk bisa menang! Bahkan aku mengajar Emil cara memasak nasi kuning yang enak dengan warna yang bagus. Setiap hari aku ke rumahnya, dan setiap hari kita makan nasi kuning. Semua lauk dan hiasan juga udah kusiapkan semua!


Sayangnya Emil tertukar antara garam dengan gula karena kurang fokus, yang mengakibatkan rasanya kurang sesuai dan kita tidak bisa memenangkan lomba itu. Tapi sebenarnya yang terpenting itu bukan menang kalahnya, tapi usaha yang kamu lakukan dalam melakukan sesuatu!


Bukannya langsung menyerah di tengah jalan tanpa usaha dulu seperti si mulut besar Reec ini!


"Dia baru gabung sih, kita maklumin aja Gy. Misi bisa kita tunda, kita bisa siapkan hal lain untuk pertemuan berikutnya."


Kata-kata Leon sedikit meredakan amarahku.


"Ayo kita ke atas!" kataku berdiri mengajak mereka.


"Ayo! Kelas XII-IPA 2 ya?" Kata Leon mengikutiku di samping dan Emil di belakang. "Nama ceweknya Sakura. Aku lupa ciri-cirinya..."

__ADS_1


"Kita tanya aja langsung! Lalu tanya nama temannya sekalian!"


Selama sekolah disini, aku belum pernah naik ke wilayah kelas XII. Tapi aku cuek aja biarpun pada memelototi kita, yang penting segera selesaikan misi!


Emil kelihatannya kurang nyaman berjalan di lingkungan baru. Dia berjalan pelan di belakang Leon. Walau dia kelihatan tenang, tapi dari tadi dia melihat sekeliling dengan sudut matanya.


Sebenarnya kemanapun dia pergi, dia selalu jadi bahan tontonan. Entah aku harus bersyukur tidak seganteng dirinya, atau kasihan padanya. Tapi aku kesal pada orang-orang, yang sebagian besarnya adalah cewek-cewek bermata jelalatan itu!


Lihat cowok ganteng itu vitamin mata dari hongkong?!!


Emil itu bukan televisi berjalan! Apa mereka juga nggak bisa mikir kalau dia itu nggak merasa nyaman dilihatin?!


Beda dengan kaum hawa yang pada dasarnya pasti suka dilihatin, dengan bukti selalu berdandan dan pake baju mencolok, pamer kulit atau wajah menor, kita cowok itu nggak suka jadi pusat perhatian!


Ya memang ada juga cowok metrosexual yang dengan sengaja berkostum nyentrik atau berpenampilan heboh untuk mencari perhatian, tapi cowok yang pada dasarnya udah tampan tanpa melakukan usaha apapun, kenapa mereka ikut jadi bahan tontonan?!


Aku berbalik menghadap Emil, "Kau boleh tunggu di bawah." kataku sedikit berbisik.


Dia memandangku heran.


"Kalau kau nggak merasa nyaman, kau boleh menunggu kita di bawah."


Ujung bibirnya sedikit naik. "Aku nggak apa." katanya sedikit tersenyum.


"Angy, aku udah tanya!" seru Leon memanggil. Sepertinya kita sudah sampai di kelas XII-IPA 2.


Aku dan Emil mendekati Leon.


"Lalu?"


"Katanya nggak ada yang namanya Sakura."


"Apa dia salah kelas?" tanyaku hera.


"Katanya sih nggak ada cewek yang namanya Sakura di kelas XII."


SI PENIPU KELAS IKAN PAUS KEPARAT KURANG AJAR!!


"Mungkin itu panggilan sayangnya. Seharusnya kita tanya nama lengkapnya sih." Leon malah menyalahkan diri. Dia selalu berpikir positif.


"Hahh..." Aku menghela nafas.


Nggak nyangka anggota baru yang kita rekrut menyusahkan seperti ini.


"Apa boleh buat, kita tanya aja lagi nanti!" kataku.


Rasanya udah malas berurusan dengannya.


"Tetap saja yang bermasalah itu dia! Kabur dari misinya sendiri!"


"Ayo, udah mau bel!" ajak Emil. Dia kelihatan sekali ingin balik kelas.


Aku lihat beberapa cewek memandangi Emil sambil berbisik-bisik.


"Ngapain lihat-lihat?!!" marahku menakuti mereka.


Rasanya kepalaku sudah mendidih.


Leon menepuk pundakku "Tenang aja, Reec nggak bisa kabur lama-lama. Kita bisa tunggu depan kelasnya sebelum bel!" katanya menenangkanku lagi.


Mendengar itu aku mempercepat langkah. "Ayo!"


Entah sejak kapan aku sering naik darah seperti ini! Aku selalu berpikir kalau saja dunia ini nggak diisi oleh kaum hawa tak berotak, hidupku mungkin bisa jadi lebih damai.


Kalau saja ada mesin canggih yang bisa menggantikan alat reproduksi wanita, fungsi mereka pasti sudah nggak ada!


Tapi daripada mikirin hal gila yang mustahil seperti itu, aku mulai saja dari hal kecil seperti komunitas ini! Rasanya kata wanita udah seperti racun bagi otakku!


"Angy! Sepertinya itu Reec!" Kata Emil sambil menunjuk sosoknya.


Dia sedang berjalan masuk kelasnya bersama temannya. Tak lama dia sadar aku sedang menatapnya dengan penuh amarah dan dia langsung lari menjauhi kami.


...****************...


Istirahat kedua aku pastikan dia ikut naik ke lantai dua. Emil dan Leon tunggu di kantin bawah sesuai rencana awal.


Setibanya di depan kelas XII-IPA 2, langkahnya tiba-tiba terhenti.


Dia sedang menatap seseorang yang sedang berada di dalam kelas lewat jendela. Mulutnya yang sedikit terbuka dan mata sayunya itu, kelihatan sekali dia seperti melihat orang yang sangat dicintainya.


Aku berusaha mengikuti arah pandangnya.


Nggak banyak orang di dalam kelas. Dari matanya sih sepertinya dia sedang melihat cewek berambut pendek yang sedang duduk di atas meja. Cewek itu sedang berbicara dengan seorang cowok tinggi agak gemuk yang berdiri di hadapannya. Kelihatan sekali mereka asik bercerita sesekali tertawa bersama.


Reec masih memandangi mereka.


"Gimana? Jadi balas dendam nggak?" Aku menepuk pundaknya.


Sedikit kurang aku ngerti sih perasaannya. Dia pasti sangat menyayangi ceweknya itu. Dia pasti merasa kecewa telah dikhianati orang yang dia sayangi.

__ADS_1


Aku belum pernah jatuh cinta sih, tapi aku pernah sangat sedih saat ditinggal mati ayahku. Mungkin rasanya seperti itu. Walau aku kurang paham kenapa seorang cewek nggak jelas bisa menggantikan kehadiran ayah yang pasti jauh lebih berpengaruh.


Kalau putus cinta kan tinggal cari yang lain. Tapi kalau ayah mana ada yang lain?


Reec tetap memandangi mereka. Tapi dibanding sedih, dia lebih kelihatan kagum, atau bahagia?


"Kau kenapa?" tanyaku heran.


"Dia jadi tambah cantik ya..."


Sepertinya otaknya udah nggak beres.


"Cewekmu itu selingkuh di depan mata lho! Kau nggak kesel apa? Malah memujinya..."


"Setelah selingkuh dia jadi tambah cantik... Atau karena udah lama nggak melihatnya dia jadi tambah cantik..."


Sekarang dia malah menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangannya. Aku bisa melihat wajahnya sedikit memerah.


Dia diselingkuhi, tapi wajahnya seperti orang baru jatuh cinta. Aku belum pernah diselingkuhi, tapi aku nggak yakin ini reaksi yang wajar.


"Lupakan misinya, sepertinya dia bahagia."


Reec berbalik dan mulai berjalan menjauh, sesekali melihat balik.


Aku mengikutinya dari belakang.


Sepertinya dia nggak bisa membenci ceweknya itu. Walau dia pasti kecewa sampai ingin balas dendam, tapi nyatanya dia lebih menghargai pilihan ceweknya. Cowok baik seperti dia, apa yang dia lakukan sampai ceweknya selingkuh?


...****************...


"Hai, namaku Alv! Aku teman Ricky sejak SMP!"


Hari ini kita mendapat anggota baru.


Mengingat kejadian waktu itu, aku kira Reec bakal keluar dari komunitas ini. Tapi dia justru mengajak temannya untuk gabung.


"Aku nggak gitu benci cewek sih, tapi cewek yang lagi aku deketin cuek banget bikin kesel! Kalau di chat jawabnya pelit banget!"


"Isi dulu kuesioner ini ya, nanti kita akan menjalani misi khusus sesuai dengan kuesioner yang sudah diisi," jelas Leon sambil menyerahkan kertas padanya.


"Oke!"


Dengan cepat dia menjawab semua pertanyaan dan mengembalikannya pada Leon. Sekilas aku melihat jawabannya, tapi nggak bisa baca tulisan cakar ayamnya.


"Kudengar kalian waktu itu menjalankan misinya Ricky ya? Emang misi apa?" tanya Alv penasaran.


Reec tiba-tiba kelihatan serius banget baca buku pemkot Bahasa Indonesia yang jelas-jelas terbalik.


"Jangan bilang misi melamar cewek yang dia taksir? Hahaha... Tapi kalian kan komunitas anti cewek bukan biro jodoh!"


"Apa katamu?" Entah aku salah dengar atau gagal paham dengan apa yang barusan dikatakannya.


Cewek yang dia taksir? Bukan pacar??


"Itu lho, kakak kelas wanita pujaannya! Dari SMP dia itu tergila-gila sama cewek itu padahal nama aja nggak tahu! Kalo dia lewat depannya aja langsung mati kutu kayak lihat sundel bolong lewat."


Mendengar itu kita semua menyerangnya saking kesalnya.


Dia sudah membohongi kita semua!


...****************...


Nama: Alvin Romeo


Kelas: X-2


Hobby: HPan



Sebutkan alasan kalian membenci perempuan!


Judes


Tuliskan pengalaman paling menyebalkan yang kalian dapatkan dari perempuan!


Di-ghosting


Apakah kau pikir perempuan pantas hidup? Sebutkan alasannya!


Gatau


Apa ide kalian untuk membuat mereka menyesal hidup sebagai perempuan?


Ghosting balik


Berikan contoh cara menghancurkan hidup mereka!


- // -

__ADS_1



__ADS_2